
***Mansion Nyonya Meli***
Lusi sudah berlalu pergi bersama si kembar ke lantai atas mansion menuju ke kamar Nathalia.
Bryan dan yang lainnya masih menunggu di ruang tamu mansion, saat Bryan akan duduk di sofa matanya menangkap sebuah photo keluarga berukuran besar di ruang tamu tersebut, dimana ada sepasang suami istri yang menggendong Dua bayi mungil.
Yang membuat Bryan bertambah terkejut adalah photo wanita yang ada di sana.
"Lusi." ucap Bryan memandang wajah wanita yang ada di photo tersebut, sangat mirip dengan wajah Lusi.
Bryan mengalihkan pandangannya ke arah Ardian yang berdiri di sampingnya.
"siapa wanita yang ada di photo itu?" tanya Bryan seraya menunjuk ke arah photo keluarga tersebut.
Ardian ikut mengalihkan pandangannya ke arah photo keluarga yang di tunjuk Bryan.
"wanita itu Lidya, istriku." jawab Ardian memandang teduh wajah sang istri yang ada di photo.
Ardian mengingat photo itu di ambil pada saat si kembar berumur 6 bulan, photo pertama dan terakhir mereka berempat.
"Lidya? berarti itu bukan Lusi?" tanya Bryan kembali kerena dia ingin memastikan siapa wanita yang ada di dalam photo tersebut.
"itu Lidya istriku, bukan Lusi." jawab Ardian yang memandang datar ke arah Bryan.
'tapi aku tidak tahu kepastiannya, apakah Lusi adalah Lidya? atau Lidya adalah Lusi?' gumam Ardian dalam hati, masih menatap Bryan datar.
"di mana istri mu sekarang Ardian? mengapa malah Lusi yang di anggap mama oleh si kembar?" tanya Bryan heran, kalau si kembar memiliki mama mengapa malah mereka memanggil Lusi mama mereka?
"Lidya sudah lama meninggal dunia, sekitar 5 tahun lebih." jawab Ardian dengan nada sedih.
Bryan terkejut mendengar jawaban Ardian. 'istri Ardian sudah meninggal dunia sekitar 5 tahun lebih'.gumam Bryan di dalam hatinya, seraya melihat lagi ke arah photo Lidya.
"maaf bukan maksudku mengingatkan...apa mereka bersaudara?"
"tidak, karena akulah kakak perempuan Lidya satu satunya." kali ini Rania yang menjawab pertanyaan Bryan, dan Bryan pun melihat ke arah Rania.
"kalau mereka bukan saudara? bagaimana mereka bisa sangat mirip seperti saudara kembar?" tanya Bryan yang bertambah bingung.
Mereka semua diam tidak ada yang menjawab pertanyaan Bryan.
Bryan kembali berpikir dan mengingat kejadian saat di depan kamar hotel Lusi, di mana Bryan bertemu dengan Ardian dan juga anak kembarnya Nathan dan Nathalia.
Nathalia mamanggil Lusi dengan sebutan 'mama' yang membuat Bryan terkejut, dan Lusi mengatakan padanya untuk mempercayainya, karena ada alasan di balik semua ini, apakah ini alasannya?
Bryan sekarang mengerti dan berpikir kenapa Lusi tidak keberatan si kembar memanggilnya mama? pasti si kembar tidak tahu kalau ibu kandung mereka sudah meninggal dunia, karena si kembar masih kecil saat ibu mereka meninggal dunia.
Sehingga saat si kembar melihat Lusi yang wajahnya mirip dengan sang ibu kandung, mereka pasti mengira kalau Lusi adalah mama mereka.
Bryan sangat tahu bagaimana sifat dari Lusi yang baik dan perperasaan halus, tidak akan tega membuat anak kecil seperti si kembar kecewa dan sedih, sehingga Lusi rela di panggil mama oleh si kembar yang baru saja dia kenal.
__ADS_1
'sayang ku kau memang wanita baik dan sangat berperasaan pada sesama, aku bangga padamu dan aku semakin jatuh cinta padamu, I Love You sayang dan aku akan terus percaya padamu apapun yang terjadi.' gumam Bryan di dalam hati yang tersenyum tipis, tanpa ada yang melihat.
"mari tuan Bryan Aldevaro, silahkan duduk dulu, kita bisa berbicara dengan santai." kali ini nyonya Meli yang bersuara.
Tanpa pikir panjang lagi mereka duduk di sofa kecuali asisten Gavin yang masih berdiri di belakang tuannya.
"maaf sebelumnya, apa kalian sudah memastikan kalau mereka bukanlah saudara kembar?" tanya Bryan ingin memastikan lagi.
"sudah ku katakan, kalau aku adalah satu satunya saudara perempuan Lidya, dan kami tidak memiliki saudara lagi." Rania menjawab dengan tegas karena tidak rela bila Lusi menjadi saudara menggantikan adiknya Lidya.
'enak saja wanita itu ingin menjadi saudaraku menggantikan Lidya, sudah cukup Lidya saja yang membuat kacau hidupku dan tidak ada yang boleh lagi mengacaukan hidup yang aku jalani sekarang.' gumam Rania dalam hati dengan tatapan tajam melirik sekilas ke arah photo Lidya.
"kalau memang mereka bukan saudara, bagaimana wajah mereka bisa sangat mirip?" tanya heran Bryan yang memandang Ardian dan photo Lidya secara bergantian.
"mungkin saja wanita itu yang meniru wajah adikku." jawab sinis Rania.
"tidak mungkin, mana ada seseorang yang bisa meniru wajah orang sembarangan."
Bryan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"bisa saja dia operasi plastik." jawab cepat Rania.
"operasi plastik juga tidak akan mungkin bisa sangat mirip seperti itu, pasti ada sedikit perbedaan dari mereka berdua, apa kau bisa melihat perbedaan itu nona Rania? kau saudara kandung nyonya Lidya pasti tahu bila ada perbedaan dari mereka berdua?" tanya Bryan memicingkan matanya menatap Rania.
Dari baru datang sampai mereka berkenalan, Bryan bisa menangkap sikap dan bicara Rania yang tidak menyukai keberadaan Lusi.
Rania hanya bisa diam dan menggeleng karena dia sadar saat dia melihat teliti wajah Lusi tidak menemukan adanya perbedaan sedikitpun, mereka benar-benar mirip sempurna.
"apa jangan-jangan Lusi yang memiliki saudara kembar yang tidak dia ketahui?" kali ini nyonya Meli yang menengahi.
"tidak mungkin nyonya Meli, saya sangat mengenal Lusi, dia anak semata wayang jadi tidak mungkin dia memiliki saudara kembar." jawab Bryan melihat ke arah nyonya Meli yang nampak lesu mendengar jawaban Bryan.
Ardian hanya diam melihat dan menyimak pembicaraan mereka tanpa ikut bicara menimpali.
"apa kau begitu sangat mengenal Lusi dan keluarganya?" kini Ardian buka suara karena sangat tidak suka mendengar Bryan mengatakan 'sangat mengenal lusi'.
"iya tentu saja aku sangat mengenal Lusi dan keluarganya, karena aku kekasihnya jadi aku tahu semua tentang Lusi." jawab tegas Bryan melihat ke arah Ardian yang menatapnya tajam dan dingin yang membuat ngeri orang yang melihatnya.
Tetapi tidak dengan Bryan, dia tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam dan dingin Ardian.
Sedangkan nyonya Meli, Rania dan asisten Gavin terkejut mendengar jawaban Bryan yang menyatakan bahwa Lusi adalah kekasihnya.
'pantas tuan Bryan Aldevaro memanggil sayang pada Lusi.' gumam nyonya Meli dalam hati melihat ke arah Bryan yang sedang bertatapan dengan putranya.
'woow kejutan, Lusi adalah kekasih tuan Bryan, tapi sepertinya tuan Ardian sudah tahu, karena dia sangat tenang dan tidak terkejut seperti ku.' gumam asisten Gavin dalam hatinya yang melihat Bryan yang sedang besitatap dengan tuannya.
'apa...?? wanita itu kekasih tuan Bryan Aldevaro?' gumam Rania terkejut melihat ke arah Bryan yang sedang menatap Ardian.
"apa kau yakin sangat mengenal Lusi, sehingga kau tahu wanita macam apa dia?" tanya Ardian dengan masih tatapan tajam dan dinginnya ke arah Bryan.
__ADS_1
"apa maksudmu? Lusi wanita macam apa?" tanya Bryan geram dengan kata-kata Ardian.
Sedangkan ada seseorang yang senang mendengar kata-kata Ardian, nada bicara Ardian menyatakan tidak suka akan keberadaan Lusi, tidak lain dia adalah Rania sang kakak ipar perempuan Ardian Adhitama.
"bila kau ingin tahu, kau cari tahu sendiri siapa sebenarnya kekasihmu itu." ucap Ardian tersenyum mengejek dan menaikkan alisnya sebelah.
Bryan yang melihat senyum mengejek Ardian bertambah geram, dengan gerakkan cepat dia bangkit dan mencengkram kerah jas Ardian, sampai Ardian ikut bangun dari duduknya kerena tarikkan tangan Bryan pada kerah jasnya."apa maksudmu? kalau bicara yang jelas?" geram Bryan.
Asisten Gavin yang melihat, ingin melerai mereka tetapi di cegah oleh Ardian.
Nyonya Meli dan Rania pun ikut berdiri karena takut akan pergerakkan Bryan yang sedang marah.
'wanita sialan itu bisa membuat dua pria ini sampai besitegang hanya karena membicarakannya.' gumam Rania melihat Bryan yang masih mencengkram kerah jas Ardian.
"aku memberitahu mu agar kau tidak tertipu olehnya, tetapi sepertinya kau sudah sangat percaya padanya, cintamu membuat matamu buta, sehingga kau tidak mencari tahu dirinya yang sebenarnya." jawab Ardian yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Bryan.
Tangan Bryan bertambah kuat mencengkram kerah jas Ardian.
"jaga bicaramu, kau yang tidak tahu apapun tentang Lusi, lebih baik tutup mulutmu."
"hahahaha...."tertawa Ardian mendengar ancaman Bryan.
"kita lihat saja siapa yang benar, kau atau aku?" tantang Ardian menunjuk wajah Ardian.
"apa apaan kalian?" tanya Lusi yang tiba-tiba datang dan berdiri di hadapan Bryan dan Ardian.
Merekapun menoleh ke arah suara, Lusi mengerutkan alisnya menatap Bryan yang mencengkram kerah jas Ardian.
Lusi melangkah mendekati mereka berdua "Ryan lepaskan." titah Lusi menarik tangan Bryan agar cengkramannya bisa lepas.
Bryan pun melepaskan cengkramannya dan Ardian merapikan kembali jasnya.
Lusi menarik nafasnya yang berat karena melihat kejadian ini dua kali, 'apa saja yang mereka ributkan?' gumam Lusi dalam hati.
Lusi memang tidak menyukai dan membenci Ardian karena tingkah laku Ardian padanya, tetapi dia juga tidak suka melihat Bryan yang selalu saja terlihat marah bila berhadapan dengan Ardian, entah karena apa? lusipun tidak tahu.
Lusi mengenal Bryan adalah sosok pria baik dan tidak cepat emosi, dia sangat penyabar dan ramah pada setiap orang, sehingga Lusi nyaman bila bersamanya walaupun dia belum memiliki rasa sayang dan cinta pada Bryan.
'Tapi mengapa Bryan akan selalu emosi bila bertemu dengan Ardian? apa karena mereka adalah rival bisnis?' gumam Lusi masih memandang Bryan dan Ardian yang menatapnya.
Sedangkan Rania sangat tidak suka melihat Lusi yang dapat perhatian dari dua pria hebat dan sukses yang menjadi incaran banyak wanita.
Apa yang akan terjadi pada mereka?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.