Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 43 Kebiasaan Yang Tidak Pernah Berubah.


__ADS_3

***Mansion Nyonya Meli***


Rania mencoba mendekati Ardian.


"kau baik-baik saja Ardian?" tanya Rania menyentuh dan mengusap pelan pundak Ardian dari arah sampingnya.


Ardian melihat tangan Rania yang berada di atas pundaknya, dia beralih melihat ke arah Rania yang tersenyum manis padanya.


Ardian mencoba menghindar melangkah ke samping lalu menghadap ke depan Rania. "aku baik-baik saja, maaf aku lelah..aku istirahat dulu." ucapnya melihat datar Rania.


Rania dengan perlahan menurunkan tangannya yang tadi terangkat memegang pundak Ardian, Rania mencoba tersenyum ramah pada Ardian, tetapi tetap saja Ardian tidak peduli pada Rania.


"mama...tolong katakan pada Gavin untuk kembali besok, aku sangat lelah hari ini." kata Ardian melihat ke arah mamanya.


"baiklah." jawab pasrah nyonya Meli melirik sekilas pada Rania yang tersenyum kaku padanya.


Ardian segera berlalu meninggalkan Rania yang masih diam memandangnya pergi.


"yang sabar ya Rania." bujuk nyonya Meli.


Nyonya Meli tahu kalau Rania menyukai Ardian sudah sejak lama, tetapi tidak ada respon apapun dari Ardian.


"iya Tante." jawab Rania seraya tersenyum sedih yang di buat-buat nya.


"kalau begitu Rania permisi pulang ya Tante, besok saja Rania lihat si kembar."


"iya sayang, hati hati di jalan."


Rania dengan segera pulang ke apartemen mewah nya, karena dia sudah lama tidak tinggal di mansion kedua orang tuanya.


Rania tinggal di apartemen agar bebas melakukan apa saja yang dia inginkan.


......................


…Lusi dan Bryan…


Sedangkan di dalam mobil, Bryan mulai bersuara membuka pembicaraan di antara mereka.


"sayang kau baik baik saja?" tanya Bryan menoleh ke arah Lusi yang duduk di sampingnya .


Lusi menarik nafasnya."apa aku terlihat baik baik saja?" tanya balik Lusi tanpa menoleh pada Bryan, dia masih melihat lurus ke depan, pada pemandangan malam jalan raya.


"sejak kapan kau tahu? kalau wajahmu mirip dengan wajah istri dari Ardian?"


"semenjak sehari aku di rumah sakit."


"apa Ardian yang memberitahukanmu?"


Lusi hanya menganggukkan kepalanya.


"apa kamu ingin aku mencari tahu tentang masalah ini?" tanya Bryan, Lusi melihat ke arahnya.


"terima kasih aku tidak ingin merepotkan mu."


"tidak ada yang merepotkan kalau itu untukmu."


Bryan mencoba menggenggam telapak tangan Lusi yang ada di atas pangkuan Lusi, Bryan menarik dan menciumnya sekilas.


Lusi hanya diam melihat apa yang Bryan lakukan, dia tidak keberatan kalau Bryan hanya mencium punggung tangan, kening ataupun pipinya selama tidak memeluk dan mencium bibir Lusi, sebab Lusi memiliki trauma berat akan pelukkan dan ciuman bibir.


Dan lusi pun tidak mengerti, mengapa ingatan trauma itu selalu muncul disaat dia mendapatkan pelukkan dan ciuman di bibirnya? badan Lusi akan gemetar seperti orang ketakutan, sampai sekarang dia tidak mengerti akan hal itu? dan belum mendapatkan jawabannya.


Prilaku ini sudah sangat di pahamin oleh Bryan sejak dulu, saat mereka menjalin hubungan asmara dan dia tidak pernah melampaui batasannya, sifat Bryan yang sopan dan bisa mengerti dirinya yang membuat Lusi nyaman bersama Bryan.


"aku percaya padamu apapun yang terjadi, jadi cobalah untuk percaya padaku !" titah Bryan tersenyum pada Lusi yang masih menggenggam tangan Lusi.


"terima kasih Ryan kau sudah mau percaya padaku, dan aku akan coba percaya padamu juga." balas Lusi tersenyum lega pada Bryan.

__ADS_1


"aku sangat lelah hari ini, bisa aku tidur sebentar?"


"tentu sayang tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan." balas Bryan yang melepaskan tangan Lusi dari genggamannya.


Bryan membelai sayang kepala Lusi seraya terseyum pada Lusi yang mulai memejamkan matanya.


Benar saja tidak lama terdengar nafas Lusi yang teratur, menandakan bahwa dia sudah tertidur.


'aku akan selalu menjaga dan melindungi mu sayang, tidak akan ku biarkan Ardian berbuat sesuatu padamu.' gumam Bryan dalam hatinya yang memandang Lusi tengah tertidur pulas bersandar pada sandaran kursi mobil.


......................


…Rania Kiandra…


Lain halnya yang terjadi di dalam kamar apartemen mewah milik Rania, yang sudah berantakan seperti kapal pecah.


"brengsek kau Ardian..."teriak histeris Rania membuang geser semua alat dan Make up yang ada di meja riasnya.


"sampai kapan kau akan menolak ku? Lidya sudah lama mati dan kau tidak juga melihatku?!" ucapnya yang memandang pantulan dirinya di cermin meja rias.


"apa kekuranganku aaaa...apa yang di miliki Lidya sampai aku tidak bisa menggantikan posisinya...apaaaa....???" histeris Rania yang mulai menangis prustasi.


"aku harus mendapatkanmu Ardian bagaimanapun caranya? hahahaha...kau harus menjadi milikku..hanya milikku." ucap Rania yang sesekali menangis, sesekali tertawa dan tersenyum ke arah pantulan dirinya di cermin.


"dan kau wanita sialan...jangan pernah kau dekati Ardian, Ardian hanya milik ku...dan kau akan tahu akibatnya bila berani melawanku." ucap Rania yang mengingat kehadiran Lusi.


Rania sudah benar-benar gila bila itu menyangkut prihal Ardian Adhitama sang pujaan hatinya, yang tidak pernah dia dapatkan dan Ardian tidak pernah sekalipun melirik atau melihatnya.


Rania akan berbuat apa saja untuk mendapatkan Ardian, dia tidak akan membiarkan wanita manapun memiliki Ardian, karena Ardian hanya untuknya, miliknya, dan hanya untuknya seorang.


Rania dengan cepat meminum obat depresinya agar sedikit tenang.


......................


…Lusi dan Bryan…


Bryan menundukkan sedikit badannya, tangan kirinya berpegangan pada pintu mobil dan tangan kanannya membelai lembut pipi Lusi.


"eeemmmm....."erang Lusi merespon belaian lembut Bryan pada pipinya.


Lusi membuka perlahan matanya.


"apa kita sudah sampai?" tanya Lusi dengan suara serak khas baru bangun tidur.


"sudah sayang, ayo keluar..aku antar kamu sampai kamar!" ajak Bryan lembut.


Lusi melihat kearah samping, dimana Ardian menundukkan badannya agar sejajar dengan Lusi, dia membenarkan letak duduknya dulu.


Lusi memandang ke arah Bryan.


"ada apa sayang?" tanya Bryan yang melihat Lusi hanya duduk dan tidak beranjak keluar dari mobil.


Lusi menarik nafasnya dan menatap mata Bryan. "bagaimana aku keluar kalau kamu masih menghalangi jalanku?" ucapnya yang masih menatap lembut mata Bryan.


Bryan malah tersenyum melihatnya. "maaf aku terlena memandang wajah mu yang baru bangun."


"ada apa? apa aku ileran?" tanya cepat Lusi dan langsung mengarahkan wajahnya pada kaca spion depan mobil.


Bryan seketika tertawa melihat tingkah panik Lusi.


Lusi yang melihat pantulan wajahnya yang tidak terdapat apapun, menoleh dengan cepat ke arah Bryan yang tertawa.


"kenapa kamu tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Lusi heran, mengapa Bryan tertawa.


'cup..cup..'


Bryan malah mencium pipi kiri Lusi dua kali, yang membuat Lusi melototkan matanya terkejut akan ciuman mendadak Bryan.

__ADS_1


"kamu yang lucu." jawab Bryan seraya berdiri tegak.


"iiihh kamu apa apa sih...? inikan tempat umum." protes Lusi yang mengusap pipinya yang di cium Bryan.


Lusi segera keluar dari dalam mobil melihat ke kiri dan ke kanan, takut ada orang melihat mereka, takut kalau mereka di kira berbuat mesum di dalam parkiran mobil.


Bryan semakin tertawa gemas melihat Lusi yang panik.


"kenapa kamu tertawa terus?" kesal Lusi yang menutup pintu mobil sedikit keras.


Lusi yang takut malah Bryan yang tertawa.


"kamu lucu kalau lagi panik, tenang sayangku ini parkiran VIP mana ada orang lewat, apalagi jam segini?" jawab Bryan yang membuat Lusi geleng-geleng kepala.


"ayo aku antar kamu sampai kamar." kata Bryan mengulurkan tangannya, yang juga membuat mata Lusi melotot tidak percaya.


"sampai kamar ?" ucap Lusi terkejut dan mundur selangkah sehingga badannya menabrak pintu mobil depan.


"sampai depan pintu kamar, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku masih bisa mengontrol diriku." jawab Bryan yang berdiri tegak.


"apa jangan-jangan malah kamu yang tidak bisa mengontrol dirimu?" tanya Bryan yang memainkan mata.


"apa apaan sih kamu." jawab Lusi kesal karena dia mulai malu akan pertanyaan Bryan.


"aku cuma bercanda, ayo kamu pasti lelah, apalagi besok harus bangun pagi." ajak Bryan dengan cepat menggenggam telapak tangan Lusi dan menariknya ke arah lift.


Lusi hanya berjalan mengikuti seraya memalingkan wajahnya yang mulai menghangat.


Bryan yang tahu wajah lusi memerah karena malu, hanya tersenyum melihat salah tingkah Lusi.


Mereka berjalan bergandengan tangan sampai di depan pintu kamar, Lusi dengan segera mengambil kunci di dalam tas yang di bawanya dan segera membuka pintu kamar.


"terima kasih, selamat malam Ryan." ucap Lusi berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka dan melihat Bryan tersenyum manis padanya.


"sama sama sayang, terima kasih kamu mau kembali padaku." balas Bryan dengan masih tersenyum manis pada Lusi.


"apa aku boleh memberikan kecupan selamat malam padamu?"


Lusi yang malu akan perkataan Bryan hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, karena begitulah Ardian dari dulu kalau sudah mengantar Lusi pulang, dia akan meminta izin dulu sebelum memberikan kecupan selamat malamnya.


kebiasaan Bryan tidak pernah berubah.


Bryan memajukan langkahnya, kedua tangan Bryan memegang kedua pipi Lusi lalu dengan perlahan Bryan mendaratkan sebuah kecupan selamat malam pada kening Lusi, Bryan sedikit menekan kecupannya menyalurkan rasa sayang dan cintanya pada Lusi.


Lusi memejamkan kedua matanya untuk meresapi kecupan Bryan pada keningnya, tetapi dia lagi-lagi belum bisa merasakan getaran di dalam hatinya, lusipun menyembunyikannya agar Bryan tidak kecewa.


Secara perlahan Bryan melepaskan kecupannya, dia lalu Menatap intens wajah Lusi yang dia pegang, Bryan membelai halus pipi putih mulus Lusi dengan kedua ibu jarinya.


Bryan tersenyum bahagia bisa melihat dan dekat kembali dengan Lusi. "selamat malam sayang."


"selamat malam."


"masuklah." titahnya yang melepaskan tangannya dari kedua pipi Lusi.


Lusi masuk ke dalam kamar setelah melihat dan tersenyum pada Bryan, yang di balas sama oleh Bryan.


setelah Lusi menutup pintu kamarnya, Bryan segera berbalik pergi dari sana dan menuju ke kamarnya yang dia sewa di hotel itu juga, tanpa sepengetahuan Lusi.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2