
***Rumah Sakit***
Pandangan matanya tidak lepas dari wajah sang istri yang terlihat masih sangat pucat, namun tetap terlihat cantik. Ardian duduk di samping ranjang perawatan Lusi, genggaman tangan Ardian yang lembut dan hangat dapat Lusi rasakan.
"Selamat datang kembali, sayang…!!" Sapa Ardian memandang lembut wajah sang istri.
Lusi tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya. Sebuah kekosongan yang selama ini dia rasakan dan pendam di dalam hatinya, kini telah terisi akan cintanya, rindu serta cinta dari Ardian untuk mengisi penuh hatinya saat ini.
Tentu saja Lusi sangat bahagia akan hal itu, sudah lama rasanya ia menantikan situasi seperti ini.
"Terima kasih, sayang. Senang bisa berjumpa dengan mu lagi." Balas Lusi dengan lembut serta tersenyum manis.
Mata Ardian berkaca-kaca, dia bahagia akhirnya Lusi istrinya dapat mengatakan kata-kata sayang kepadanya lagi. Harapan untuk istrinya kembali lagi telah menjadi kenyataan.
Ardian dengan perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu, ia perlahan mencium punggung tangan kanan Lusi dengan lembut dan hangat. Lusi memandang intens wajah Ardian yang kini tengah menikmati kecupan pada punggung tangan kanannya.
"Maafkan aku yang terlalu lama pergi darimu." Ucap Lusi tulus, hatinya sedih melihat cinta, kerinduan serta kebahagiaan yang di tunjukkan oleh Ardian padanya saat ini. Lusi dapat merasakan betapa tersiksanya Ardian selama kepergiannya, Lusi juga dapat merasakan betapa besar kasih sayang serta cinta Ardian untuknya selama ini.
"Maafkan aku Ardian, maafkan aku sayang." Ucap Lusi kembali, karena Ardian hanya diam dengan getaran badannya menahan rasa haru yang akan berubah menjadi isak tangisannya
"Maafkan aku." Ucap Lusi, sembari perlahan menyentuh pucuk kepala Ardian yang masih tertunduk untuk meresapi kecupannya pada punggung tangan kanan Lusi.
Sebuah gelengan kepala dari Ardian mendengar ucapan maaf dari Lusi, dia juga dapat merasakan sentuhan Lusi pada pucuk kepalanya. Ardian dapat merasakan sebuah dukungan serta ketulusan yang kuat di berikan oleh sentuhan tangan Lusi.
Perlahan Ardian mengangkat kepalanya, pandangan matanya yang basah kini menatap intens ke arah wajah Lusi.
"Tidak sayang, kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak memiliki kesalahan yang mengharuskan mu untuk meminta maaf padaku." Balas Ardian terdengar tulus, matanya penuh akan air mata yang mengalir pada kedua pipinya.
Lusi ikut menangis melihat betapa rapuhnya seorang Ardian Adhitama yang terkenal angkuh, kejam dan dingin pada orang lain. Kini terlihat lemah dan rapuh di hadapannya.
"Sayang…!!" Hanya panggilan itu yang bisa keluar dari mulut Lusi.
Ada kelegaan di dalam hati Ardian, diapun beranjak dari duduknya. Memeluk tubuh rapuh sang istri adalah hal yang ingin ia lakukan saat ini. Mencurahkan semua perasaan hatinya, rasa cinta, sayang, dan rindu yang sudah lama terpendam. Begitupun Lusi melakukan hal yang sama, keduanya larut dalam pelukan hangat dan sayang mereka. Saling mendukung, memberikan dan menerima.
"Aku sangat mencintai mu, sayangku, istriku." Ucap Ardian di sela-sela pelukkan dan isak tangisnya.
"Aku juga sangat mencintai mu sayangku, suamiku." Balas Lusi di sela-sela pelukkan dan isak tangisnya.
Mereka berdua menikmati sejenak pelukkan hangat mereka dalam kerinduan yang teramat dalam. Hingga di rasa cukup dan ingin melanjutkan kebersamaan mereka selanjutnya.
Tatapan penuh cinta kini ada pada mata mereka masing-masing, karena terbawa akan suasana perlahan Ardian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Lusi. Sentuhan bibir menyapu lembut bibir Lusi, mata mereka saling terpejam untuk meresapi dan menikmati ciuman mereka.
Perlahan tapi pasti Ardian mengabsen dan mengecapi setiap sudut rasa bibir Lusi. Pagutan yang lembut kini berubah menjadi pagutan yang meminta lebih. Lusi yang mendapatkan ciuman penuh akan cinta dan rindu dari Ardian, sangat menerima dan membalas setiap ciuman tersebut, hingga di rasa cukup karena nafas keduanya yang terengah-engah kehabisan pasokan oksigen.
Keduanya tersenyum puas akan apa yang mereka berikan dan dapatkan dari pasangan mereka masing-masing. Terlebih lagi Ardian yang begitu bahagia karena tidak mendapatkan perlawanan dari Lusi, itu artinya Lusi benar benar telah kembali.
Pandangan matanya dan belaian lembut jemari Ardian pada pipi Lusi begitu lembut.
__ADS_1
"Apa kamu mengingat segalanya sekarang, sayang?" Tanya Ardian ingin tahu.
"Iya." Balas Lusi singkat dengan sebuah anggukan kepala darinya. Pandangan matanya tidak lepas dari sorot binar mata Ardian, begitu penuh akan cinta dan kerinduan.
Ardian tersenyum, apa yang ia yakini? adalah benar. Tatapan mata Lusi padanya tadi, adalah keyakinan jika istrinya telah kembali, dan itu benar. Dia bahagia semua itu akhirnya terjadi.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Ardian dengan tatapan lembut dan hangatnya yang tidak ingin lepas dari wajah cantik Lusi.
"Aku juga merindukanmu." Balas Lusi tersenyum bahagia.
"Tapi aku ingin kamu merahasiakan ini semua. Biarlah hanya antara kita berdua yang tahu." Ucap Lusi terlihat memohon.
"Ada apa sayang? Mengapa hal bahagia seperti ini harus di rahasiakan?" Tanya Ardian tidak mengerti.
"Aku mohon, ada alasan yang belum bisa aku katakan saat ini padamu. Tolong mengertilah." Ungkap Lusi memohon.
Wajah memelas sang istri membuat Ardian tidak dapat mengabaikan permintaannya.
"Baiklah. Tapi kamu hutang penjelasan padaku."
"Terima kasih sayang." Ucap tulus Lusi dengan senyum yang juga tulus dan merekah. Wajah pucat itu terlihat sangat cantik alami.
"Tentu. Apapun yang kamu inginkan? Akan aku penuhi, selama kamu berada di sisiku." Ucapnya lembut dengan sedikit getaran pada suaranya.
Ardian masih takut kehilangan lagi, ia masih ingat bagaimana tersiksanya kehilangan orang yang sangat berharga dan berarti baginya. Wanita di hadapannya ini adalah separuh jiwanya, dunianya untuk pulang.
"Sayang aku haus, bisa aku minta air." Ucap Lusi merasa tenggorokannya kering. Apalagi sudah lama sekali dia tertidur pulas.
Begitu di rasa cukup untuk membasahi tenggorokan dan dahaganya, Lusi mengakhiri minumnya. Kini tatapan mata mereka kembali bertemu. Ardian tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah Lusi.
"Sayang, bagaimana anak anak?" Tanya Lusi mengingat kedua anak kembarnya yang menggemaskan dan tentu saja sangat ia rindukan.
"Anak anak baik. Apa kamu ingin melihat mereka?" Jawab dan tanya balik Ardian.
"Iya, aku sangat ingin melihat dan memeluk mereka. Apakah bisa mereka datang ke sini?"
Raut wajahnya memohon dengan penuh harap, dan Ardian dapat mengerti itu.
"Baiklah, akan aku hubungi mereka agar datang ke sini." Balas Ardian yang sukses membuat Lusi tersenyum manis dan bahagia.
Sungguh pemandangan yang sangat indah bagi Ardian. Pemandangan yang selama ini ia harapkan untuk membasahi dan memenuhi hatinya.
Ardian merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya, kemudian menghubungi sebuah nomer yang akan membawa kedua anak kembarnya datang ke sana.
Begitu selesai dengan panggilan yang di buat Ardian, ia kembali lagi pada sosok sang istri. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih takut kehilangan wanita yang sangat ia cintai sepenuh hati. Ia takut jika ini hanyalah mimpi yang tiba-tiba akan berakhir di saat ia bangun dari tidurnya.
Namun itu hanyalah ketakutan Ardian semata, Lusi yang ada di hadapannya benar benar nyata dan akan kembali menjadi istri untuknya seperti dulu lagi. Ardian berharap takdir atau hidupnya akan adalah kebahagiaan yang nyata untuk selamanya.
__ADS_1
...------------------------------------------------...
***Apartemen Rania Kiandra***
Di lain tempat pada sebuah apartemen mewah milik Rania Kiandra, ia sedang duduk bersandar pada sandaran ranjang empuknya. Setelah beberapa jam yang lalu melakukan aktivitas panas dan menyenangkan baginya.
Seorang pria yang menjadi bodyguard nya selama ini, cukup terlihat tampan dengan tubuhnya yang kekar dan putih bersih. Pria yang akan selalu setia pada seorang Rania Kiandra, pria yang diam diam memiliki perasaan khusus untuk wanita yang menjadi majikan untuk nya selama ini.
Pria itu adalah Andi, bodyguard yang cukup tampan dengan tubuh atletis nya. Tanpa rasa malu ia yang baru saja selesai mandi membersihkan dirinya dari aktivitas panasnya bersama sang majikan, kini ia sedang menggunakan pakaian santai yang sudah tersedia untuknya di hadapan Rania.
Rania masih menatapnya lapar, ia sungguh gila jika berhubungan dengan hal intim seperti itu. Bertahun tahun lamanya ia bersama dengan Andi sang bodyguard, namun ia hanya menganggap hubungan mereka berdua hanya sebatas majikan dan bawahan yang saling membutuhkan dan menerima.
"Apakah nona menginginkan saya lagi?" Tanya Andi karena melihat tatapan lapar dari Rania terus memandangnya.
Rania tersenyum tipis, lalu berkata.
"Tidak. Untuk hari ini sudah cukup, aku hanya ingin melihat mu lebih lama lagi. Kemarilah…!!" Panggil Rania dengan suara yang terdengar lembut dan manja. Tangannya melambai ke arah sang bodyguard yang ada tidak jauh di hadapannya.
Andi yang memang sangat menghormati dan memiliki perasaan khusus pada sang majikan hanya tersenyum, diapun melangkah mendekati dan naik ke atas ranjang untuk meraih wajah cantik Rania dengan kedua tangannya.
Dengan sangat lembut Andi memberikan sebuah kecupan pada bibir Rania yang ranum dan terasa manis untuknya. Begitu Rania mendapatkan kemanjaan yang di berikan oleh Andi, dengan sepenuh hati Rania mengikuti permainan Andi pada bibirnya.
Pagutan demi pagutan mereka berdua nikmati, hingga terengah-engah karena kekurangan oksigen. Kedua kening mereka menempel dengan tangan Rania memeluk erat pinggang Andi, sedangkan Andi duduk menekuk kedua kakinya sembari mencakup wajah Rania dengan kedua tangannya.
"Apa kau menikmatinya Andi?" Tanya pelan Rania memandang Andi intens.
Dalam lubuk hatinya, Andi begitu sangat mencintai sang majikan. Namun ia masih sadar jika dia dan Rania berada pada dunia yang berbeda, mereka sebatas tuan dan bawahannya, mereka tidak akan pernah bisa bersatu.
Andi hanya bisa melakukan semua yang terbaik untuk sang majikan, apapun yang bisa ia lakukan untuk menyenangkan Rania , pasti akan Andi lakukan. Bahkan jika harus membunuh seseorang sekalipun, akan Andi lakukan untuk Rania. Nyawanya pun akan ia berikan, begitu besar cinta Andi pada Rania yang tidak akan pernah terbalaskan.
"Tentu nona. Terima kasih anda sudah mempercayai saya untuk membuat anda senang dan bahagia." Balas Andi ingin menyenangkan sang majikan.
"Kau begitu penurut, aku suka." Ucap Rania dengan kecupan ringan pada bibir Andi.
Andi hanya bisa tersenyum dan menatap Rania dengan binar cinta. Rania sebenarnya tahu bagaimana perasaan Andi kepadanya? Namun ia hanya menganggap Andi sebagai hiburan sekaligus anak buah yang akan selalu setia dan menurut kepadanya.
"Aku ingin kau selalu ada di sisi ku dan tidak akan membuat aku kecewa. Cintai aku sepuas yang kau mau, aku tahu kau sangat mencintai diriku. Apa aku salah Andi?" Tanya Rania ingin menjerat Andi dengan pesonanya.
Andi begitu senang mendengar perkataan Rania, yang mengizinkan nya untuk mencintai Rania sepuasnya. Itu lebih dari cukup bagi Andi, walaupun tidak memiliki balasan cinta dari wanita yang sangat ia cintai.
Andi yang terlena dan bahagia akan perkataan Rania, begitu terbuai. Ia pun mulai memanjakan Rania dengan sepenuh hati, hingga Rania merasa terpuaskan dan tidak akan rela meninggalkan dia untuk salamanya. Hubungan terlarang yang begitu panas pun mereka lakukan kembali, kedua insan yang telah di buai oleh hawa n*fs* saling memberi dan menerima kenikmatan surgawi.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.