
***Aula Hotel R.W.C***
Nico berjalan mendekati sang ketua mafia Balck Lion yang sedang menodongkan senjatanya ke arah tuan Erick, bebarapa anak buah mafia Balck Lion pun menodongkan senjata mereka mengikuti arah Nico berjalan, semua anak buah dari dua anggota mafia tersebut masih siaga saling menodongkan senjata mereka pada lawan masing-masing.
Nico diam dan hanya berdiri beberapa langkah di hadapan sang ketua Black Lion, dia menatap tajam dan dingin pada sang ketua Black Lion yang selalu mengincarnya dengan tujuan bisa mendapatkan tuan R.M.
Sang ketua Black Lion menatap tajam dan tersenyum devil pada Nico yang ada tidak jauh beberapa langkah di depannya.
"lama tidak bertemu !" sapa sang ketua Black Lion dengan senyum devilnya.
"apa tidak lelah kau bersembunyi?" tanya sang ketua Black Lion yang masih setia menodongkan senjata ke arah tuan Erick.
"lepaskan mereka yang tidak ada hubungannya dengan urusan kita dan hadapi aku tanpa melibatkan orang lain." balas Nico tegas dan berusaha membuat kesepakatan karena Nico tidak ingin ada korban yang tidak bersalah dengan pertikaian mereka.
"hahahaha.....kenapa…ini menyenangkan?!!" balas ketau Black Lion tertawa lepas atas permintaan Nico.
"apa kau hanya berani menghadapi ku dengan cara licik dan menyandra seseorang yang tidak bersalah, kau tidak berani menghadapi ku langsung?" tantang Nico.
bukannya menjawab pertanyaan Nico, sang ketua mafia Balck Lion malah tertawa lepas.
"hahahaha…" tawa sang ketua mafia.
"sebaiknya kau katakan dimana tuan R.M ? bila kau tidak ingin ada korban lagi, apa dia tidak lelah bersembunyi terus dariku?" ucapnya tersenyum devil.
"tidak ada lelahnya kau terus mengejarnya?" tanya Nico menatap tajam.
"sepertinya kau tidak bisa di ajak bekerjasama sama sekali." ucap ketua Black Lion menatap kesal dan tajam pada Nico.
__ADS_1
Ardian, Bryan, Radhika dan yang lainnya sudah mulai siaga sejak Nico turun dari atas panggung dan mereka sudah berdiri menyebar untuk mengatasi dan menghindari serangan dari 10 anggota Black Lion yang masih tersisa.
Radhika diam-diam memerintahkan asisten Ari untuk menolong dua petugas operator yang sedang di sandra.
Dengan gerakan cepat tuan Erick menembak sang ketua mafia Black Lion, tetapi dengan cepat juga sang ketua mafia menghindari tembakan tersebut dan berusaha membalas, mereka sama-sama dengan gerakan cepat menghindar dan menembak satu sama lain, dan terjadilah baku tembak di antara anak buah dua anggota mafia tersebut, sedangkan yang lainnya bersembunyi untuk menghindari agar tidak terkena tembakan lawan.
Semua yang ada di dalam ruangan mencari tempat yang aman untuk berlindung dan mencari celah untuk melakukan penyerangan, Ardian, Bryan, Radhika dan para asisten mereka membantu Nico untuk melumpuhkan mafia Black Lion, mereka juga mengeluarkan senjata yang biasa di bawa oleh asisten mereka masing-masing untuk menjaga diri dari kemungkinan orang yang ingin berbuat jahat pada mereka.
Semua yang ada di sana berusaha untuk melumpuhkan musuh masing-masing, sedangkan Lusi, Dewi dan juga Zia masih bersembunyi di samping panggung, Lusi dan Zia masih tetap siaga dan membaca situasi yang ada, sadangkan Dewi sudah pingsan sedari tadi saat tuan Erick mulai menembak terlebih dahulu, Lusi dan zia menyembunyikan tubuh Dewi di bawah meja yang tertutup dengan kain putih di samping panggung agar tidak ada yang tahu dan Dewi aman.
Lusi dan Zia segera mencari tempat yang aman untuk menghindar dari serangan musuh dan juga agar bisa membantu melumpuhkan musuh, mereka berdua berpencar.
Lusi bersembunyi di balik meja tamu tidak jauh dari meja tempat Ardian dan Bryan bersembunyi, Ardian yang berada di sebelah kiri Lusi, sedangan Bryan ada di sebelah kanan Lusi pun melihat ke arah Lusi yang sedang bersembunyi.
"Lusi apa yang kamu lakukan di sana, kenapa tidak bersembunyi saja di samping panggung?" tanya khawatir Bryan yang ada di sebelah kanan Lusi.
Lusi melihat ke arah Bryan yang bertanya, belum sempat Lusi menjawab Ardian terlebih dahulu bertanya.
Lusi melihat ke arah Ardian yang bertanya, Lusi yang ingin fokus ikut membantu menyerang musuh malah terganggu oleh teguran ke dua pria yang ada di sampingnya, Lusi sejenak melihat Ardian dan Bryan yang juga memegang pistol di tangan mereka masing-masing, Lusi hanya tersenyum ke arah dua pria tersebut secara bergantian.
"fokuslah pada musuh, aku bisa menjaga diriku." balas Lusi pada mereka seraya membuka resleting yang ada di celana panjangnya dan mengambil satu set pisau tembak yang terikat melingkar di betis kakinya dari balik celana panjang yang ia kenakan.
Ardian dan Bryan masih melihat terkejut Lusi dengan apa yang di lakukannya, di gunakan dan di keluarkan Lusi dari balik celana panjangnya yang sudah di modifikasi.
Lusi memegang pisau tembaknya dan melihat tersenyum devil pada Ardian dan Bryan secara bergantian.
"let's go to play…!!" seru Lusi setelah melihat ke arah Ardian dan Bryan secara bergantian, senyum devilnya berubah menjadi tatapan tajam ke arah sasarannya.
__ADS_1
Lusi membidik musuh yang ingin dia lumpuhkan, dalam hatinya dia marah saat melihat Nico tertembak, dan dia bertekad untuk berani menyerang dan membunuh musuhnya, ini saatnya memilih pilihan yang di ucapkan oleh tuan Erick, 'di bunuh atau membunuh'.
Lusi memfokuskan bidikannya ke arah salah satu anak buah Black Lion, dengan cepat dan kuat ia melempar pisau tembaknya ke arah musuh dan tepat mengenai dada musuh, seketika musuhpun tumbang.
Lusi tersenyum senang melihat musuh yang dia tembak tumbang, sedangkan Ardian dan Bryan masih melihat terkejut dan heran dengan apa yang di lakukan oleh Lusi.
"apa kalian hanya akan melihat ku saja dan tidak akan menyerang?" tanya Lusi menyadarkan keterkejutan Ardian dan Bryan melihat tindakannya.
"Lusi apa yang kamu lakukan? kamu membunuhnya." ucap Bryan tidak percaya bahwa Lusi berani untuk membunuh orang.
"kamu sadar kita ada dalam kondisi apa saat ini? ayolah Ryan jangan banyak tanya dulu, saat ini yang lebih penting adalah membantu tuan Nico untuk menyingkirkan musuhnya, kalau kamu hanya diam saja kita bisa saja terbunuh lebih dulu, jadi bila kamu tidak membunuh kamu yang akan terbunuh." balas Lusi menoleh sekilas pada Bryan seraya mengarahkan kembali pisau tembaknya ke arah musuh.
Lusi membidik lalu dengan gerakan cepat dan kuat melempar kembali pisau tembaknya ke arah musuh, pisaunya tepat mengenai kepala musuh dan musuhpun tumbang.
Lusi senang bidikannya kembali berhasil melumpuhkan musuh, dan lagi-lagi Ardian dan Bryan yang melihatnya terkejut dan heran pada Lusi, karena mereka baru tahu kalau lusi pandai menggunakan dan melempar pisau tembak.
Tetapi keterkejutan mereka buyar saat ada peluru yang melesat ke arah meja di mana Lusi bersembunyi, rupanya musuh sudah menyadari perbuatan dari Lusi yang sudah berhasil melumpuhkan dua teman mereka, repleks Lusi menghindar dan bersembunyi agar tidak kena tembakan peluru.
Ardian dan Bryan terkejut melihat Lusi hampir terkena tembakan dari musuh, dengan segera mereka berdua membalaskan tembakan musuh yang mengincar Lusi, entah siapa yang berhasil melumpuhkan musuh yang menembak Lusi? karena mereka menembak secara bersamaan dan bertubi-tubi sampai musuh tumbang dan mati.
Lusi hanya melihat dalam diam saat dia bersembunyi ke arah Ardian dan Bryan secara bergantian yang sedang menembaki musuh hingga musuh tumbang dan mati.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.