Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 54 Hasil Tes DNA.


__ADS_3

*** Rumah Sakit Sinar Mulia***


flashback on…


Dokter Rio membuka amplop dan mengeluarkan dua lembar kertas hasil tes DNA, yang beberapa hari lalu Lusi dan si kembar lakukan.


Dengan perasaan tak menentu dan degup jantung yang berdebar cepat, Lusi melihat dokter Rio dengan intens yang sedang membaca tulisan dalam kertas.


Dokter Rio melihat pada Lusi dan Ardian secara bergantian setelah membaca kedua kertas hasil tes DNA tersebut.


"ini hasil tes yang dilakukan dengan Sampel darah dan ini tes yang dilakukan dengan sampel rambut." ucap dokter Rio menunjukkan dua kertas yang dia pegang secara bergantian.


Lusi dan Ardian melihat penasaran pada dokter Rio.


"apa hasilnya dokter?" tanya Lusi lirih.


Ardian melihat ke arah Lusi yang bertanya.


"kedua tes ini hasilnya sama." ucap dokter Rio melihat ke arah Lusi dan Ardian secara bergantian.


Mereka semakin penasaran dengan kedua hasil tes yang sama.


dokter Rio yang melihat ke arah Lusi dan Ardian menarik dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"kedua tes ini sama-sama hasilnya positif, hasil tes Lusi dan si kembar 100% ibu dan anak kandung." jawab dokter Rio melihat Lusi dan Ardian yang terkejut secara bergantian.


'deg deg'


Lusi terkejut sampai mulutnya menganga karena tidak percaya akan apa yang di dengarnya.


"tidak mungkin." ucap Lusi sedikit berteriak sembari bangkit dari duduknya.


dokter Rio, Ardian dan Gavin melihat ke arah Lusi yang berdiri dan sedikit berteriak karena tidak percaya akan hasil tes yang di bacakan.


"tidak mungkin itu dokter? tidak mungkin aku dan si kembar adalah ibu dan anak kandung." jawab Lusi geleng-geleng kepala.


Lusi benar-benar tidak percaya dengan hasil tes tersebut.


"hasil itu pasti salah, atau dokter yang salah baca...coba baca sekali lagi dokter." ucap Lusi dengan suara yang sudah bergetar karena ingin menangis.


Ardian melihat Lusi yang mulai panik dan mulai bergetar menahan tangisnya, terlihat matanya sudah berkaca-kaca, Ardian pun bangkit dari duduknya yang di ikuti pandangan mata dari dokter Rio dan Gavin.

__ADS_1


"Lusi tenang dulu." ucap Ardian pelan sembari mengulurkan tangannya ingin menyentuh Lusi.


"jangan sentuh aku." bentak Lusi pada Ardian yang sudah mengangkat tangannya kedepan untuk menghentikan langkah Ardian yang ingin mendekatinya.


Lusi melangkah mundur dan mendekati dokter Rio yang bangun karena mendengar bentakan dari Lusi.


Lusi menarik paksa kedua kertas yang di pegang oleh dokter Rio, dan membacanya dengan seksama, dia ingin memastikan sendiri hasil tes tersebut.


"tidak...ini tidak mungkin..." ucap Lusi geleng-geleng kepala saat membaca kedua kertas tersebut secara bergantian.


Air mata Lusi yang dari tadi dia tahan-tahan akhirnya luruh juga jatuh ke pipi mulusnya, tangan yang memegang kertas tersebut gemetar dan badannya menegang, pandangan matanya yang berair melihat intens kertas yang dia pegang di tangannya.


Ardian melihat khawatir ke arah Lusi yang diam menegang, dia mencoba melangkah maju untuk mendekati Lusi, tetapi belum dua langkah Lusi berteriak ke arahnya.


"jangan mendekat." teriak Lusi dengan mengangkat tangannya untuk menghentikan langkah Ardian.


Ardian yang melihat isyarat tangan dan mendengar teriakkan Lusi pun menghentikan langkahnya.


"ini pasti salah satu rencana busukmu kan Ardian Adhitama." tunjuk Lusi ke arah Ardian dan memanggil Ardian dengan tidak memakai panggilan 'tuan' pada Ardian.


"tidak Lusi, ini bukan rencanaku, ini kenyataannya." jawab pelan Ardian melihat khawatir Lusi yang semakin terlihat shock.


Lusi sudah tidak peduli lagi dengan sikap sopan santun pada seorang Ardian Adhitama, dia terus melangkah mundur secara perlahan.


Dalam pikirannya hanya ingin meninggalkan ruangan tersebut.


"tidak Lusi, tolong tenang dulu, aku tidak ada niat membalas atau menjebakmu." ucap Ardian bertambah khawatir pada Lusi yang semakin terlihat shock.


"tenang kau bilang, tidak ada niat membalas dan menjebakku? apa kau pikir aku sebodoh itu yang tidak mengerti dengan ketidak sukaan dan kebencianmu padaku?" ucap Lusi sedikit keras dan menekan setiap kata-katanya.


"tidak Lusi kau salah paham..." ucap Ardian terpotong.


"salah paham katamu...? kau menghinaku sebagai wanita murahan yang tidak mempunyai harga diri dan menuduh ku ingin mendekatimu dengan berbagai cara dan salah satunya kau menuduh ku meniru wajah istrimu, apa kau pikir itu salah paham?" ucap Lusi menekan setiap kata-katanya.


Ardian mengingat kembali bagaimana dia sudah menghina dan menuduh Lusi? hanya karena wajah Lusi mirip dengan Lidya, saat pertama kali melihat Lusi yang mirip Lidya dia sudah mulai curiga pada Lusi, bahwa Lusi memiliki niat mendekatinya seperti semua wanita-wanita yang selama ini ingin mendekatinya dengan berbagai cara.


Dari kecurigaan itu Ardian mulai menanamkan rasa tidak suka dan benci pada Lusi di dalam hatinya, di balik semua itu dia juga membangun benteng agar tidak dengan mudah tertarik pada Lusi yang mengingatkannya akan sosok istri tercinta.


Tetapi setiap kali Ardian melihat Lusi, dia merasakan getaran lain dalam hatinya selain rasa benci dan ketidak sukaan yang dia paksakan, tanpa dia sadari bila lama tidak melihat keberadaan Lusi dia meras rindu akan sosok Lusi, tetapi bila dia sudah berada dekat dan melihat Lusi bermain dengan si kembar, tanpa sadar Ardian tersenyum bahagia melihat Lusi dan si kembar bahagia.


Karena mulai merasakan rasa nyaman dan suka akan keberaan Lusi, Ardian menentang hati dan dirinya sendiri untuk bersikap egois dan memaksakan diri agar lebih membenci dan tidak suka akan keberadaan Lusi.

__ADS_1


Tetapi buktinya sebelum mengetahui hasil dari tes tersebut, hatinya yang egois telah kalah, hati dan benteng pertahanan yang di bangun Ardian telah runtuh oleh sikap Lusi yang berani melawannya, membuat bahagia anak-anaknya, mengisi kekosongan yang ia rasakan akan kehadiran sang istri dan sikap tangguh serta sabar Lusi yang menghadapi semua sikap arogannya.


Saat Ardian telah menyadari itu semua, menyadari hatinya yang memiliki rasa terhadap Lusi, itu semua ternyata sudah terlambat, karena Lusi sudah terlanjur membenci dan tidak suka akan sikap Ardian padanya, Ardian menyesal dan ingin menebusnya.


"tenanglah Lusi...ayo duduk dulu, kita bicara baik-baik, aku menyesal, aku minta maaf bila sikapku sudah membuatmu marah padaku."


"tenang katamu? kau minta maaf dan menyesal." ucap Lusi seraya tertawa sedih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Lusi terus mengusap air matanya yang tidak mau berhenti keluar.


"segampang itu kau meminta maaf dan menyesal setelah kau menghina dan menuduhku sembarangan?" ucap Lusi menatap tajam Ardian dengan matanya yang terus mengeluarkan air mata.


"ingat tuan Ardian Adhitama, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu, dan ingat semua perjanjian kita sudah selesai sampai di sini, karena hasil tes yang kau mau sudah kau dapatkan, aku harap kita tidak akan bertemu lagi dan jangan pernah kau mengusik hidupku lagi, kau mengerti?" ucap Lusi yang mengingatkan sekaligus mengancam Ardian.


Ardian yang mendengar semua ucapan dan ancaman Lusi padanya diam terpaku melihat sorot mata kebencian dan ketidak sukaan Lusi padanya, hati Ardian jatuh hancur akan tatapan mata Lusi, dalam pikirannya 'semua sikapnya dulu pada Lusi berbalik arah padanya.'


Ardian masih diam terpaku sampai tidak sadar Lusi pergi berlari meninggalkan ruangan tersebut, Ardian tersadar setelah dokter Rio terus memanggil Lusi yang pergi berlari, dan Gavin menyentuh pundaknya seraya memanggil namanya.


Ardian melihat sekeliling, mencari keberadaan Lusi, tetapi Lusi sudah pergi menghilang dari ruangan itu.


"kemana lusi?" tanya Ardian pada dokter Rio dan Gavin setelah tidak melihat keberadaan Lusi.


"dia sudah pergi." jawab dokter Rio.


Tanpa banyak bicara Ardian segera berlari ingin mengejar Lusi, yang di susul oleh dokter Rio dan Gavin dari belakang, tetapi Lusi sudah terlanjur masuk ke dalam lift, dia berusaha memencet tombol lift yang satunya lagi yang ada di sebelah lift yang di masuki lusi agar cepat terbuka, setelah pintu lift terbuka Ardian segera masuk.


Ardian keluar dari lift dan berusaha mengejar Lusi yang berlari keluar rumah sakit, dia sudah tidak memperdulikan semua orang yang melihatnya berlari yang sesekali menambrak orang yang dia lewati, tapi sayangnya Lusi lebih cepat menaiki ojek online yang kebetulan baru menurunkan penumpang di depan rumah sakit.


Ardian berbalik mencari Gavin dan memerintahkannya cepat mengambil mobil untuk mengejar Lusi, sayang Lusi sudah tidak di temukan pergi ke arah mana, Ardian kesal dan kecewa tidak menemukan Lusi dimanapun sepanjang jalan.


flashback off…


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2