
…Lusi Arsinta…
Hubungan asmaraku dan Bryan Aldevaro telah berakhir, beban dalam hatiku sedikit berkurang. Setidaknya aku bisa berada di jalan yang seharusnya, keluarga kecil yang kini aku miliki adalah di atas segalanya. Demi kebahagiaan anak-anak ku, aku bisa melakukan apapun? menjadi orang tua yang baik bagi mereka berdua, aku masih perlu banyak belajar.
Hanya kata maaf yang bisa aku katakan pada Bryan, pria yang selama ini telah mengisi hari-hariku, di saat aku mengalami rasa trauma bila berdekatan dengan seorang pria. Pria baik yang selalu tulus mencintai dan menyayangi ku, walaupun perasaannya tidak pernah aku balas sama sekali. Pria tampan yang selalu bersikap sopan dan hormat padaku sebagai pria sejati, yang selalu menghormati seorang wanita yang di cintanya.
Kelegaan dalam hatiku membawaku pulang, untuk menemui anak-anak dan tentunya Ardian yang pasti menanti semua jawaban dariku. Di dalam perjalanan pulang aku tidak lepas dari bayang-bayang mata sedih Bryan, ini pasti sangat menyakitkan baginya. Masih sangat berat baginya menerima keputusan dariku.
Sesampainya di mansion, aku telah di sambut oleh putri cantik dan menggemaskan yang akan menjadi kekuatanku dalam menjalani semua cobaan dalam hidup ini. Kedua putra dan putri kembarku yang lucu, cantik dan tampan. Mereka adalah segalanya bagiku saat ini.
"mama…!!" sambut Nathalia dengan senyum bahagianya menyambutku.
"hai sayang, putri mama yang cantik." balasku sembari mengangkat tubuhnya untuk ku gendong.
"mama dari mana?" tanya Nathalia dengan mata bulat lucunya memandangku intens.
"mama dari bertemu seorang taman di luar."
"mama…apa papa tidak akan pulang?" tanya Nathalia.
Beberapa hari ini Ardian memang tidak pernah menemui mereka, karena ada pekerjaan penting yang sangat menyita waktunya, sehingga sering pulang sampai larut malam karena lembur. Ardian memilih pulang dan tidur di apartemennya yang berada dekat pada kantornya, Ardian tidak datang ke mansion Lusi, dengan alasan tidak ingin mengganggu di tengah malam.
"ada apa sayang, apa Adek kangen sama papa?" tanyaku karena tahu, kalau putriku ini sangat dekat pada papanya.
"iya mama…" jawab Nathalia dengan anggukan kepalanya.
Aku tidak tega melihat kerinduan yang amat sangat pada sorot mata bulat putriku, dengan senyum yang ceria aku ingin sedikit mengurangi kerinduan Nathalia pada papanya yang sedang sibuk. Sebenarnya aku juga tidak ingin mengganggu Ardian, tapi demi senyum putri kecilku, aku akan mencoba menghubungi Ardian.
"bagaimana kalau kita telepon papa, apa Adek setuju?" tanyaku yang membuat senyum merekah mengembang di bibir kecil Nathalia.
"iya mama…ayo kita telepon papa." setuju Nathalia dengan girangnya, sembari memelukku sayang untuk berterima kasih.
Kami pun duduk pada sofa yang ada di ruang tamu mansion, dengan segera aku mengeluarkan ponselku yang ada di dalam tas yang aku bawa tadi. Aku segera mencari dan menghubungi nomer telepon Ardian. Terdengar jelas nada sambungan dari speaker yang aku aktifkan pada ponselku.
"hallo sayang…!" sapa Ardian menerima sambungan telepon, dia terdengar senang menerima telepon dariku.
"hallo Ardian." balasku pada sapaan telepon Ardian.
"iya sayang, kamu apa kabar?"
"kabarku baik Ardian, kamu sendiri apa kabar?" tanyaku sekedar untuk basa basi, aku hanya ingin mulai belajar dekat pada Ardian, bagaimana juga? dia adalah suami sahku.
"aku baik sayang, ada apa kamu menghubungiku, apa kamu kangen padaku?" tanya Ardian menggodaku yang berhasil membuatku membulatkan mataku karena malu sekaligus terkejut akan perkataannya.
Nathalia yang ada duduk di sampingku tersenyum senang mendengar ucapan papanya itu, aku hanya meliriknya sekilas dan berusaha menetralkan mimik wajahku.
"Ardian…Nathalia yang kangen padamu, ini dia ingin bicara padamu." balasku ingin mengalihkan pembicaraan kami.
Ardian sepertinya mengerti maksudku, sehingga diapun tidak melanjutkan untuk menggodaku.
"iya sayang…aku juga kangen pada anak-anak, apa mereka baik?"
"mereka baik dan sehat. Apa kamu tidak ingin berbicara pada Nathalia? saat ini dia sedang ada di sampingku." ucapku sembari melihat pada Nathalia yang juga memandang ke arahku.
"tentu saja, mana putri kecil papa?"
Aku segera mengarahkan ponselku di hadapan wajah Nathalia, untuk mempermudahkannya berbicara pada Ardian.
"hallo papa…" panggil Nathalia dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
"hallo sayang…apa kabar adek…papa kangen banget."
"adek juga kengen banget sama papa…kapan papa pulang?"
"sebentar lagi papa pulang sayang, apa Adek mau papa bawakan sesuatu?"
"iya papa…ice cream coklat, dan es cream vanilla buat kakak." ucap Nathalia yang tidak lupa memesan untuk kakak kembarnya, Nathan.
"iya sayang, nanti papa bawain es cream coklat dan vanilla buat kalian, apa mama juga mau papa bawain sesuatu juga?" tanya Ardian yang membuat Nathalia melihat ke arahku.
Aku diam, tidak bisa menjawab apapun?
"mama mau apa? papa mau bawain lo…?" tanya Nathalia melihat ke arahku.
"mama sedang tidak ingin apapun." jawabku apa adanya, karena saat ini aku memang sedang tidak ingin apapun?
Ardian dapat dengan jelas mendengar ucapan dari jawabanku.
"apa kamu tidak suka pemberianku?" tanya Ardian tiba-tiba dengan nada lesunya.
"bukan begitu Ardian…!"
"bahkan kamu tidak bisa mengucapkan panggilan sayang padaku." ucap Ardian, ada nada kecewa dari ucapannya.
Aku tahu Ardian sedang kecewa padaku, karena aku belum terbiasa mengucapkan panggilan sayang padanya seperti yang sudah kami sepakati, dan terlebih lagi aku menolak niat baiknya yang ingin membawakanku oleh-oleh.
Aku menghela nafasku perlahan sebelum menjawab ucapan Ardian.
"bukan begitu papa, baiklah…bisakah papa belikan mama coklat? sepertinya mama ingin makan coklat bersama kalian." balasku untuk mengurangi rasa kecewa sekaligus membuat senang Ardian dan Nathalia.
"baiklah sayang, papa akan belikan coklat yang banyak. Kita akan makan coklat bersama." balas Ardian dengan nada bahagia.
"sama-sama sayang."
"baiklah, sampai ketemu di mansion." ucap Ardian pamit.
"iya papa, hati-hati." balasku ingin membiasakan diri akan panggil sayang tersebut pada Ardian.
"hati-hati papa…bye bye papa…" balas Nathalia ikut pamit pada papanya.
"bye sayang…" balas Ardian, dan sambungan telepon pun terputus.
Aku melihat ada kepuasan dan kebahagiaan pada wajah putri kecilku, bahagianya adalah bahagiaku juga.
"apa Adek senang?" tanyaku pada Nathalia.
"iya mama, terima kasih." balas Nathalia dengan senyum bahagianya.
"nah sekarang…karena sudah sore, ayo kita mandi dulu."
"iya mama." angguknya setuju.
"kakak di mana?" tanyaku, karena sedari tadi aku datang tidak melihat putra tampanku itu.
"kakak lagi sama opa, mama."
"kakak sama opa…!! sedang apa mereka?" tanyaku heran, karena akhir-akhir ini mereka pasangan cucu dan opa, selalu lengket dan bermain bersama.
"lalu…kenapa Adek ngk ikut kakak sama opa bermain?"
__ADS_1
"mereka ngk bermain mama, mereka sedang asyik belajar."
"kenapa Adek ngk ikut belajar bersama juga?"
"opa dan kakak bilang, Adek belum cukup umur untuk ikut pelajaran kakak dan opa. Itu kata kakak." balas Nathalia dengan polosnya.
Aku mengerutkan alisku heran, dengan penuturan Nathalia.
'sedang belajar apa sih mereka berdua?' gumamku dalam hati curiga dengan putra dan ayahku, yang sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan.
"memang kakak dan opa lagi belajar apa sih?" tanyaku ingin tahu.
"adek ngk tahu mama…kakak dan opa belajar di ruang kerja opa."
Aku masih meliat intens wajah Nathalia.
"lalu Oma kemana? apa Oma tahu kalau kakak dan opa sedang belajar bersama?"
"tidak, Oma ngk tahu. Oma lagi sibuk buat kue di dapur." jawab Nathalia sembari menggelengkan kepalanya.
'ini sangat mencurigakan, sedang apa sih mereka berdua? ' gumamku lagi, dan benar-benar curiga tingkat tinggi.
Aku yang baru saja merasakan menjadi seorang ibu, sangat sensitif bila sudah berurusan dengan putra dan putriku, sekalipun mereka sedang bersama dengan opa dan omanya.
"baiklah, ayo kita coba lihat…sedang apa kakak dan opa? sampai tidak mau mengajak Adek belajar bersama." ucapku yang di balas anggukkan kepala oleh Nathalia.
Nathalia nampak antusias dengan ideku, aku semakin curiga pada putra dan ayahku. Sebenarnya sedang melakukan dan belajar apa sih mereka? sehingga merahasiakannya dari Nathalia.
Kamipun beranjak dan melangkah menuju ruang kerja ayah, yang berada dekat dengan kamar tidur untuk tamu. Sesampainya di sana aku berpikir sejenak, apakah aku gedor dulu pintunya? ataukah aku mengintip dulu di balik pintu? ataukah aku langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja ayah, untuk memergoki mereka berdua sedang melakukan apa di dalam?
Aku memberikan isyarat jari telunjukku di depan bibir, agar kami tidak melakukan gerakan yang membuat orang di dalam tahu. Untungnya Nathalia tahu maksud dari isyarat dariku. Putriku melakukan hal yang sama, sembari menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Perlahan aku menggerakkan handle pintu, membuka pintu secara perlahan sembari mengintip dari balik celah pintu yang terbuka. Dapat aku lihat, ayahku yang sedang memangku Nathan duduk pada kursi kebesarannya. Mereka berdua terlihat serius pada layar laptop, dengan sesekali anggukkan kepala tanda mengerti dari Nathan.
Aku semakin penasaran akan mereka berdua, penasaran dengan apa yang di lakukan oleh pasangan opa dan cucunya tersebut. Sayang sekali aku tidak bisa melihat, apa yang mereka sedang lihat di dalam layar laptop? yang ada di hadapan mereka berdua.
Rasa penasaran yang sangat tinggi membuatku terus bertahan mengintip di balik celah pintu. Hingga aku tidak sadar, akan kedatangan ibu yang mengejutkanku.
"sedang apa kalian?" tanya ibu yang berhasil membuat aku tersentak kaget.
Aku dan Nathalia langsung berbalik badan, kami yang terkejut karena kepergok mengintip, memasang mimik wajah gugup. Aku menatap ibu, yang juga melihat ke arahku dan Nathalia secara bergantian.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan ibu, terdengar pintu ruang kerja ayah, yang ada di belakang punggungku terbuka lebar. Menampilkan sosok ayah dan putraku yang berdiri melihat ke arah kami.
"ada apa?" tanya ayah melihat kami secara bergantian.
"tidak tahu, ini Lusi dan Nathalia terus berdiri di depan pintu, ibu hanya bertanya pada mereka." jawab ibu, sedangkan aku dan Nathalia saling memandang.
Aku dan Nathalia benar-benar merasa seperti maling yang sudah ketahuan oleh tuan rumah, dan sudah tertangkap basah sedang melakukan kesalahan. Entah ibu tahu aku sedang mengintip apa tidak? aku dan Nathalia hanya bisa pasrah dan terus saling memandang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? akupun tidak tahu. Yang pastinya, aku harus tahu apa yang sedang di lakukan oleh ayah dan putraku sendiri?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1