
*****Hotel Wirajaya*****
Lusi sudah berada di lobby hotel Wirajaya melihat ke sekitar untuk mencari keberadaan Bryan.
"katanya nunggu di lobby mana orangnya?" gumamnya pelan yang terus mencari keberadaan Bryan.
"sudah ku tebak dia pasti malu karena penampilanku seperti saat ini." gumamnya lagi karena tidak melihat Bryan di manapun sekitar lobby.
"aahh bodo amat, mumpung sudah di luar kenapa tidak jalan-jalan aja dulu, kebetulan di depan hotel ada cafe yang jual minuman dingin, aku haus." katanya seraya berjalan keluar hotel menuju cafe minuman yang ada di seberang jalan depan hotel Wirajaya.
......................
Lusi berjalan keluar dari cafe membawa minuman dingin yang di inginkannya, Lusi menyeruput minumannya seraya tersenyum puas karena dahaganya hilang seketika akan kesegaran dari minuman tersebut.
Ponsel Lusi berdering saat dia sedang asyik menyeruput minumannya lagi, dia pun mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang erat minumannya.
"hallo..!" sapa Lusi pada yang menelponnya.
"kau dimana Lusi ? aku mencarimu di lobby tapi kau tidak ada, apa kau belum turun ?" tanya Bryan dari seberang telpon.
"aku sudah turun dari tadi, kau saja yang tidak ada di lobby, aku mencarimu di sekitar lobby tapi kau yang tidak ada."
"sekarang kau ada di mana ?"
"aku ada di depan cafe yang ada di seberang hotel Wirajaya."
"tunggu aku di sana, jangan kemana-mana."
"memangnya kau akan ke sini ?" tanya Lusi yang mengira kalau Bryan tidak akan datang.
"iya aku akan ke sana, kau tetap di sana oke."
"oke..." kataku dan hubungan telpon pun terputus.
Lusi menatap ponselnya sembari menggerakkan kedua pundaknya ke arah atas, diapun memasukkan ponselnya ke dalam tas, Lusi diam berdiri tak bergerak kemana pun sembari asyik menyeruput minuman di tangan kirinya.
Terdengar suara seseorang memanggil namanya dan segera dia menoleh ke arah suara tersebut.
"Lusi..." panggil Bryan dari jauh saat dia menyebrang jalan.
ini visual saat Lusi menoleh ke arah Bryan yang memanggilnya.
bisa bayangin yang lain ya menurut selera.
Lusi heran melihat penampilan Bryan yang sudah lain, dari memakai setelan jas mahalnya berubah memakai celana jeans panjang dan Hoodie putih dengan kaos dalaman putih, dia nampak tampan dan santai dengan pakaiannya.
ini visual Bryan saat memanggil Lusi.
__ADS_1
bisa bayangin yang lain ya menurut selera.
Maksud Bryan mengganti pakaiannya agar dapat menyesuaikan dengan penampilan Lusi yang santai, dia juga tidak ingin menjadi pusat perhatian nanti saat bersama Lusi yang akan pasti membuat Lusi tidak suka akan hal itu.
"kenapa tidak menungguku di lobby saja." kata Bryan saat sampai di hadapan Lusi.
"kenapa dengan pakaianmu ?" tanya Lusi yang masih heran Bryan mengganti pakaian super mahalnya dengan pakaian santai yang ia kenakan kini.
"ada apa dengan pakaianku ? apa tidak cocok ya ?" tanyanya ikut heran dan melihat penampilannya sendiri.
"bukan tidak cocok, kemana setelan jas mahalmu ? kapan kau mengganti pakaianmu ?"
"oooo itu...aku menggantinya saat setelah dari kamarmu, ini kan di luar jam kerja, masa iya aku terus memakai setelan jas." jawabnya sembari mengusap belakang lehernya dan tersenyum pada Lusi.
Lusi hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"ayo kita masuk ke cafe itu, sepertinya nyaman untuk berbicara di sana." ajak Bryan.
"kau yakin mau duduk di dalam cafe itu ?" tanya Lusi karena tidak percaya Bryan mau di ajak ke dalam cafe.
"memangnya kenapa ?" tanya Bryan heran.
"kau lihat saja di sekelilingmu, dari kau menyebrang jalan kau sudah menjadi pusat perhatian, apa kau juga yakin mau masuk ke dalam cafe itu yang pengunjungnya lumayan rame ? kau sadar sendiri kan siapa dirimu ?" tanya Lusi menjelaskan.
Memang benar dari Bryan menyebrang jalan dan memanggil namanya, dia sudah menjadi pusat perhatian, orang yang tahu siapa Bryan langsung menyebutkan namanya dengan cara berbisik yang masih bisa di dengar oleh kuping Lusi, ada juga yang menyebutkan kalau dia tampan bila di lihat dari dekat dan secara langsung, 'pangeran bisnis Bryan Aldevaro.'
' siapa wanita itu ?'
'apa dia kekasih tuan Bryan Aldevaro ?'
' tidak mungkin wanita itu kekasih tuan Bryan ? lihat penampilan wanita itu ?'
' duh wanita itu tidak pantas dekat dengan Bryan Aldevaro yang tampan.'
Dan lain sebagainya, begitu komentar berbisik dari mereka yang melihat, dan Lusi hanya cuek pura-pura tidak mendengar, dia masih asyik menyeruput minumannya sembari mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Lain halnya Bryan yang sangat kesal mendengar komentar mereka terhadap Lusi, yang menurut mereka Lusi tidak pantas menjadi kekasih Bryan Aldevaro.
Tanpa pikir panjang lagi, Bryan dengan cepat menggenggam telapak tangan Lusi dan menariknya masuk ke dalam cafe tersebut tanpa aba-aba dari Lusi.
Lusi yang terkejut karena di tarik paksa oleh Bryan, hanya diam mengikutinya dengan terpaksa masuk ke dalam cafe dan duduk di meja sudut cafe yang masih kosong.
"ada apa denganmu ?" tanya Lusi yang heran melihat tingkah laku Bryan.
"maafkan aku Lusi, aku hanya kesal mendengar komentar mereka tentang mu." Jawabnya dengan sorot mata tajam keluar jendela cafe, ke arah orang-orang yang melihatnya dari luar jendela.
"kan sudah aku katakan kamu itu sudah menjadi pusat perhatian, makanya aku bertanya apa kau yakin akan berbicara denganku di cafe ini ?"
__ADS_1
"aku sangat yakin karena aku tahu dan masih ingat kau paling suka suasana cafe seperti ini, makanya aku mengajakmu kesini."
"terserah padamu, tapi sepertinya kau yang tidak nyaman dengan suasananya."
"aku hanya tidak ingin kau yang tidak nyaman bersama ku."
"sebenarnya sih begitu, tapi sudah terlanjur, ya sudah lah..." kata Lusi yang mengalihkan pandangannya pada sekeliling cafe.
"maafkan aku bila kau tidak nyaman bersamaku, tapi aku akan berusaha membuat kau nyaman bersama ku."
"itu tidak akan mudah, kau harus sadar siapa dirimu Bryan Aldevaro." ucap Lusi memandang tajam Bryan.
"atau kau ingin kita pindah dan mencari tempat yang nyaman bagi mu ?" usul Bryan mencondongkan badannya menatap Lusi.
"tidak usah, dimana pun kau berada akan tetap menjadi pusat perhatian, lebih baik cepat katakan apa yang ingin kau jelaskan, agar kita bisa cepat pergi dari sini."
"maaf kan aku bila benar-benar buat kau tidak nyaman bersama ku, lain kali aku akan membawamu ketempat yang tidak akan ada yang memperhatikan kita."
"apa akan ada lain kali ?" tanya Lusi pada Bryan yang berarti akan ada pertemuan lagi.
"apa kau tidak suka dan tidak mau bertemu denganku lain kali ?"
Lusi menarik nafasnya "aku tidak tahu, siapa yang akan tahu kedepannya bisa bertemu lagi atau tidak ?" jawab Lusi yang memainkan sedotan diminumannya.
Bryan sangat kecewa dengan apa yang di ucapkan Lusi, dan dugaannya benar bahwa Lusi sangat tidak suka dengan situasi seperti itu, Bryan pun memanggil seorang pelayan untuk bertindak.
"permisi mas bisa ke sini !" panggil Bryan pada pelayan laki-laki yang ada di dekat meja kasir, pelayan yang di panggil dengan berjalan cepat menuju ke arah meja Lusi dan Bryan.
"bisa kau bantu aku buat membubarkan mereka yang memandangi kami dari luar sana ? kami sangat terganggu." perintah Bryan pada pelayan itu dengan menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Pelayan tadi bersama dua temannya dengan segera melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Bryan tadi, semua yang melihat kami satu-satu membubarkan diri, dan tak ada lagi yang melihat kami dari luar cafe, hanya sesekali orang yang ada di dalam cafe melirik ke arah kami, tetapi mereka tidak ada yang berkomentar dan mengganggu pendengaran kami.
"semua sangat mudah bila kita banyak uang." ucap Lusi sembari mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.
"apa pun akan aku lakukan agar kau bisa nyaman bersama ku."
"terserah kau saja, sebaiknya cepat kau katakan apa yang ingin kau jelaskan." kata lusi yang memandang datar Bryan.
Bryan menarik nafas panjangnya menatap Lusi yang sangat tidak nyaman bersama nya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan situasi ini.
Ini akan di jadikan suatu pelajaran untuknya kedepan agar lebih memperhatikan kenyamanan Lusi saat bersamanya di depan umum seperti ini, karena dia sadar bila tidak ada yang tidak mengenal siapa dirinya, salah satu pembisnis sukses yang kaya raya dan terkenal, semua majalah, koran dan televisi hampir semua akan memasang dan menayangkan wajah dan beritanya.
Berita beserta wajah tampan Bryan Aldevaro dan sang rival Ardian Adhitama sangat terkenal sampai mengalahkan gosip Sorang artis di ibu kota, semua yang melihat akan kagum melihat kedua pria tampan nan sukses yang di juluki 'sang pangeran bisnis masa kini'.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.