
***Perusahaan Wirajaya Group***
…ruang meeting…
Semua yang ada di ruang meeting melihat pada Ardian dan Lusi, yang saling memandang dengan tatapan mereka masing-masing, Ardian dengan tatapan tajam dan dinginnya memandang Lusi, sedangkan Lusi dengan tatapan dan senyum misteriusnya memandang Ardian.
Bryan tidak sadar mengepalkan tangannya yang ada di atas meja untuk meredam emosi nya melihat Ardian dan Lusi saling memandang, hanya asisten pribadinnya Leo yang tahu atasannya mengepalkan tangan untuk meredam emosinya, melihat sang rival dan kekasihnya Lusi saling memandang.
Radhika tidak curiga akan maksud Ardian, dia berpikir 'masuk akal kalau hanya Lusi yang bisa membantunya karena sudah pernah bekerja bersama Ardian beberapa hari yang lalu, jadi wajar Ardian meminta Lusi untuk membantunya membuat ringkasan karena Lusi tahu aturan Ardian bekerja.' itu yang ada di pikiran Radhika saat ini.
Tanpa menunda waktu lagi, mereka mulai pertemuan mereka.
Semua berjalan dengan lancar tidak ada masalah apapun, semua sudah setuju dan sepakat akan bekerjasama termasuk Ardian yang tidak ada lagi pertanyaan sama sekali, seminggu lagi mereka sepakat akan menanda tangani kontrak kerjasama mereka di ruang aula R.W.C hotel, salah satu hotel besar milik Wirajaya Group.
Mereka juga akan mengundang beberapa perwakilan dari anggota direksi, direktur perusahaan, dan relasi mereka masing-masing guna menyaksikan penandatanganan berkas kontrak kerjasama tiga perusahaan besar.
Beberapa reporter stasiun televisi juga akan di undang untuk dokumentasi dan mempublikasikan kerjasama tiga perusahaan besar tersebut.
Acara penandatanganan kontrak kerjasama akan di adakan di R.W.C hotel ( Radhika Wirajaya club ), mengapa di katakan 'club' dan tidak 'group' ? karena hotel ini memiliki sistem kartu member untuk menginap atau tinggal jangka lama di hotel tersebut, R.W.C hotel juga menerima tamu untuk menginap biasa tanpa kartu seperti hotel-hotel lainnya.
R.W.C hotel juga di peruntukkan untuk para relasi bisnisnya yang berasal dari luar kota maupun luar negeri, khusus untuk menginap atau tinggal selama berada di kota tersebut saat melakukan kerjasama dengan perusahaan Wirajaya group, tetapi untuk relasi mereka tidak memakai kartu member, hanya menginap biasa tanpa bayar karena ini salah satu fasilitas khusus untuk mereka.
R.W.C hotel memiliki sistem kartu member yang mengeluarkan 3 kartu member berbeda tingkatan, kartu member tersebut juga bisa di gunakan untuk ke semua hotel, rumah sakit dan klinik yang di miliki Wirajaya group di dalam negeri maupun di luar negeri, adapun tingkatan kartu membernya seperti ini.
Kartu member berwarna VIP Gold dengan harga 20 milyar.
Kartu member berwarna VIP silver dengan harga 10 milyar.
Kartu member berwarna VIP putih hitam dengan harga 5 milyar.
__ADS_1
Sistem transaksi kartu member R.W.C hotel sama seperti sistem transaksi kartu ATM bank yang tidak memiliki batas waktu, kecuali nominal dana dalam kartu sudah habis dan harus di isi lagi baru bisa di gunakan kembali.
Kartu member ini hanya di miliki oleh beberapa orang tertentu yang berani membayar dengan harga yang sudah di tentukan.
Ardian dan Bryan juga memiliki kartu member berwarna VIP gold, yang khusus mereka pakai di saat berada di kota atau negara dimana tidak terdapat hotel milik mereka.
Bryan yang menginap di hotel Wirajaya juga menggunakan kartu membernya, sehingga dia mendapatkan fasilitas presiden suite room, Bryan menginap di sana tanpa sepengetahuan Lusi yang bertujuan agar selalu dekat dengan Lusi yang menginap di sana.
Pertemuan mereka sudah selesai dengan kesepakatan yang di harapkan oleh ketiga perusahaan besar tersebut, para Presdir di arahkan ke ruang transit Wirajaya group yang terletak di lantai dasar dekat lobby untuk jamuan makan siang.
Selain dari dua sekretaris yang sedang mengetik laporan ringkasan pertemuan hari ini untuk dua Presdir tersebut, mereka semua makan siang bersama di ruang transit yang sudah di siapkan.
Ardian, Bryan dan Rahdika duduk di meja yang sama, sedangkan para asisten pribadi mereka juga satu meja.
Ardian dan Bryan saling menatap tajam dan dingin, Radhika pun menyadari suasana yang mencekam ini.
"mari Presdir Ardian di nikmati hidangan yang kami suguhkan." sapa Radhika ramah melihat pada Ardian.
"terima kasih." jawab singkat Ardian yang melihat sekilas pada Radhika dan kembali memandang tajam Bryan.
"Presdir Bryan silahkan di nikmati hidangannya." sapa Radhika pada Bryan yang juga melihatnya sekilas.
"terima kasih." jawab Bryan pada Rahdika.
'ada apa dengan mereka berdua? mereka memang rival bisnis tapi ini seperti sedang bermusuhan merebutkan sesuatu.' gumam Radhika dalam hatinya sembari memandang ke arah Bryan dan Ardian secara bergantian.
ya...Ardian mengatakan bahwa Lusi wanita yang tidak benar dan bisa saja menipunya, dalam pikiran Bryan pun mengingat perkataan Ardian semalam, 'bila kau ingin tahu, kau cari tahu sendiri siapa sebenarnya kekasihmu itu.' itu kata-kata Ardian padanya semalam yang terniang di ingatannya.
"sekali aku katakan akan percaya padanya, aku akan tetap percaya padanya apapun yang terjadi, apa kau mengerti ?" jawab Bryan yang membuat Ardian kesal dalam hati karena dia tidak berhasil mempengaruhi Bryan agar menjauh dari Lusi.
karena menurut Ardian akan sangat sulit memberi Lusi pelajaran dan ganjaran kalau Bryan masih dekat dengan lusi.
"begitu percayanya kau padanya, sampai kau tidak bisa berpikir logis." kata Ardian tersenyum meremehkan.
Radhika hanya diam melihat perdebatan mereka karena memang tidak mengerti.
Bryan malah tersenyum menjawab pertanyaan Ardian.
"katakan yang sebenarnya apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Bryan.
Bryan curiga kalau Ardian ada maksud tersembunyi pada Lusi, dia terus membuat masalah untuk Lusi dan berusaha untuk membuat dia tidak percaya lagi pada Lusi.
"menurutmu apa?" tanya singkat Ardian yang memandang dingin pada Bryan.
"siapa yang tidak mengenalmu yang tidak tersentuh, apa dia pernah berbuat salah padamu? atau sudah menyinggungmu?" tebak Bryan tepat sasaran.
__ADS_1
Radhika semakin tidak mengerti arah pembicaraan Ardian dan Bryan, sedangkan asisten Gavin dan asisten Leo yang mengerti sudah tetap waspada dengan apa yang akan terjadi pada atasan mereka masing-masing.
Ardian yang mendapat pertanyaan dari Bryan yang sangat tepat sasaran pun hanya tersenyum memandang Bryan.
"bila jawabannya iya? apa menurutmu?"
"ku pastikan kau tidak akan bisa menyentuhnya sedikitpun."
"apa kau yakin?"
"sangat yakin, karena dia milikku dan apa yang sudah menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku dan tidak akan pernah ku biarkan kau menyakitinya sedikitpun."
jawaban Bryan membuat Ardian mengepalkan tangannya, dia kesal dengan ucapan Bryan saat mengatakan 'milikku' .
"bila kau mampu lindungi dia, apa kau yakin dia akan menjadi milikmu?"
"apapun yang terjadi dia tetap milikku, dan ku pastikan kau akan menyesal sudah berbuat kejam padanya, dan saat itu terjadi kau sudah terlambat untuk meminta maaf dan ampunan darinya."
"kau mengancamku?"Ardian menatap tajam kesal pada Bryan.
"aku tidak mengancammu aku hanya memperingatkanmu agar berhati-hati bila melakukan sesuatu pada seseorang, jangan sampai kau menyesalinya seumur hidupmu yang tidak bisa kau kembalikan lagi ke semula." sindiran keras untuk Ardian.
"jangan sampai kebencianmu berbalik arah."ucap Bryan.
Ardian yang sudah sangat kesal karena dia tidak berhasil membuat Bryan jauh dari Lusi bangun dari duduknya, asisten Gavin pun ikut bangun dari duduknya mengikuti sang atasan.
"apa yang sudah menjadi target mangsaku tidak akan lepas dari tanganku, kau harus ingat itu Bryan Aldevaro, dan kau tidak akan bisa menghalangiku." tunjuk Ardian pada Bryan dengan berdiri tegak di hadapan Bryan.
bryanpun ikut bangkit dari duduknya yang di ikuti oleh Radhika dan juga para asisten pribadi mereka, mereka sudah waspada dengan apa yang akan terjadi dengan keributan mereka selanjutnya.
Bryan tesenyum dan berkata. "apa yang sudah menjadi milikku tidak akan ku lepaskan dari tanganku, kau harus ingat itu Ardian Adhitama, dan kau tidak akan bisa menyentuh dan merebutnya dariku." tunjuk Bryan pada Ardian yang berdiri di hadapan mereka.
Lusi hanya berdiri diam melihat mereka berdebat dari awal, Lusi berdiri di balik pintu kaca ruang transit transparan, Lusi mendengar semua percakapan mereka yang Lusi yakin itu semua menyangkut dirinya.
'lagi lagi mereka berdebat dan kali ini aku tahu apa yang menjadi perdebatan mereka, begitu benci dan tidak sukanya anda padaku tuan sok kuasa, apa kau pikir aku juga akan tinggal diam bila kau berani menyentuh dan menyakiti ku, ku pastikan kau akan membayarnya dua kali lipat dan kau akan menyesali itu semua, dan saat semua itu terjadi maaf dan ampunan dariku sudah tidak ada lagi.' gumam Lusi dalam hati.
Lusi benar-benar membenci Ardian, karena Ardian tidak suka dan membenci tanpa alasan yang tidak masuk akal pada Lusi, yaitu hanya karena dia mirip dengan sang istri Ardian Adhitama, menuduh Lusi wanita penipu dan wanita gila harta, Lusi benar-benar sakit hati pada Ardian sampai dia mengepalkan tangannya yang membuat buku-buku jarinya memutih.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya.....
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.