
***Aula Hotel R.W.C***
Dua kubu anggota mafia masih saling menembak dan menyerang musuh masing-masing, aula hotel R.W.C sudah berubah menjadi Medan perang, tidak ada yang saling mengalah dan menghentikan serangan mereka.
Satu persatu anak buah Black Lion tumbang dan tersisa hanya beberapa saja, ketua mafia Balck Lion tidak menyangka bahwa semua rencana yang telah di susun rapi semua gagal total di luar perkiraannya, dia tidak menyangka bila ketiga pemimpin perusahaan yang bekerjasama dengan Faresta Group, yang di anggapnya lemah dan tidak bisa melawan serangan anggota mafianya ikut menyerang dirinya.
Ketua mafia Black Lion kini telah kualahan menghadapi serangan lawan yang sudah tidak sebanding dengan anggotanya yang sudah banyak terluka dan mati.
"sit…sialan mereka ikut membantu Nico untuk melawanku." umpat ketua Black Lion yang bersembunyi di balik pilar besar, dia kehabisan peluru dan mengganti pistolnya dengan yang baru.
"Lion 3 apa kau masih di sini…"panggil ketua Black Lion pada asisten nya melalui earphone bluetooth yang terpasang pada telinganya.
"aku masih di sini bos…"balas sang asisten Lion 3.
"kita kalah jumlah, buat serangan untuk kita kabur dan mundur kali ini, segera perintahkan anak buahmu yang ada di luar segera siapkan mobil." perintahnya lagi dan mencoba mencari celah untuknya kabur, dia belum mau mati sebelum menemukan keberadaan tuan R.M.
"baik bos." balas singkat.
Tak jauh darinya bersembunyi dia melihat Zia sedang bersembunyi sambil mencoba mengganti peluru pistolnya yang habis, dia mendapatkan ide dan segera melepaskan topi, masker wajahnya dan jaket kulit hitamnya, dia memakai jas hitam milik salah satu anak buah Bryan Aldevaro Group yang sudah tewas, dia melihat ada pin perusahaan Aldevaro Group pada jas hitam tersebut, dan dia tahu lambang pin tersebut.
Banyak yang tidak tahu bagaimana wajah asli dari ketua Black Lion, jadi dia ingin mencoba mendekati Zia dengan menyamar menjadi salah satu anak buah mereka, karena dominan semua anak buahnya memakai jaket kulit berwarna hitam, ketua Black Lion berharap Zia tidak mencurigainya, dia ingin menjadikan Zia Sandra untuk keluar dari sini.
"Lion 3 alihkan semua tembakan dari tempatku bersembunyi, aku ingin menyandra salah satu anak buah King Dragon, agar kita bisa keluar dari sini." perintah ketua Black Lion pada anak buahnya yang ada di pilar sampingnya dekat dengan musuh.
"baik bos." ucapnya, dan terlihat dia berlari cepat berpindah tempat bersembunyi di dekat pilar depan dekat tuan Erick bersembunyi.
Saat semua tembakan mengarah pada Lion 3, dengan segera ketua Black Lion berlari menuju ke arah Zia yang tidak melihatnya, saat ini Zia sedang fokus menembak salah satu anak buah Black Lion, dan Zia tidak tahu sama sekali bila ada yang mendekatinya.
Sang ketua mafia Balck Lion mendekat dan berpura-pura bertanya pada Zia.
__ADS_1
"hai aku kehabisan peluru." ucapnya saat sudah ada di belakang Zia.
Zia yang mendengar ada suara di belakangnya langsung menoleh pada pemilik suara, dengan cepat dia menodongkan pistolnya.
"tunggu dulu aku teman lihat bajuku." ucap sang ketua mafia Balck Lion yang sudah merubah penampilannya dengan menggunakan jas hitam yang bertanda mereka adalah teman, sedangkan musuh memakai jaket kulit berwarna hitam.
Zia yang menodongkan senjatanya langsung melihat teliti pada yang sudah memanggilnya, benar dia memakai jas berwarna hitam milik salah satu anak buah Bryan karena ada pin perusahaan Aldevaro pada jas tersebut.
"aku kehabisan peluru." ucapnya karena Zia hanya diam seraya masih menodongkan pistol padanya.
Zia masih diam memandang wajah dari sang ketua mafia Balck Lion yang terlihat tegas, tampan dan berwibawa, Zia benar-benar tidak tahu bahwa orang itu adalah sang ketua mafia Balck Lion yang sedang menyamar,karena memang Zia tidak pernah melihat wajah asli dari sang ketua mafia Black Lion.
"pakai ini." balas Zia seraya melemparkan salah satu pistolnya pada sang ketua mafia.
"terima kasih." ucapnya menangkap pistol yang di lemparkan karena Zia tidak curiga padanya, sang ketua mafia pun mendekati Zia.
"tidak ada sama sekali, karena aku hanya menembak untuk mengalihkan perhatian musuh dan mencoba melindungi diri." jawab Zia apa adanya, karena dia tidak ahli dalam menembak jarak jauh apalagi dalam bersembunyi begini, dia tidak bisa fokus untuk membidik sasaran musuhnya.
"ooooo…" jawab singkat sang ketua mafia, dan dia teringat pada salah satu anak buah musuh yang seorang wanita, yang menggunakan pisau tembak dan melemparkan pisau tembak pada dua anak buahnya hingga tewas, sang ketua mafia tidak terlalu melihat wajah si pelempar pisau, yang dia tahu dan lihat adalah rambut panjang yang di ikat dan terlihat sekilas wajah wanita saat melepaskan bidikan pisau tembaknya.
"tapi bukannya tadi kau yang sudah melepaskan pisau tembak pada dua anak buah Black Lion hingga mereka tewas?" tanya selidik sang ketua.
"bukan aku, itu anak buah dari Wirajaya Group." jawab Zia seraya melepaskan tembakannya yang kali ini mengenai lengan musuhnya, dan itu terlihat oleh sang ketua mafia, dia menahan amarahnya melihat anak buahnya terkena tembakan.
"Oya berarti di sini ada dua orang wanita yang ahli menembak juga?" tanya sang ketua mafia mengalihkan perhatian Zia.
"iya…cepatlah kau jangan banyak tanya…ayo bantu menyerang musuh." ajak Zia yang mulai tidak suka karena terlalu banyak di ajak bicara.
"di mana dia sekarang?" tanya penasaran sang ketua mafia, karena dia ingin melumpuhkan si wanita penembak itu dulu, karena dia tahu orang yang ahli dalam memakai pisau tembak pasti seorang penembak jitu, karena terus tepat sasaran sekali membidik, setelah dia melumpuhkan si penembak baru dia akan pergi dari sini, dia tidak mau gagal untuk melarikan diri saat ini.
__ADS_1
Zia kembali melihat ke arah sang ketua mafia yang sedang menyamar, Zia mulai curiga dan tidak suka pada sang ketua mafia karena banyak tanya.
"dia sudah terluka dan sudah di lumpuhkan musuh, kenapa kau banyak bertanya?" jawab Zia berbohong dan bertanya balik seraya mengerutkan keningnya melihat sang ketua mafia yang menyamar.
"tidak ada, aku hanya suka melihat dia melemparkan pisau tembak tepat sasaran, sayang sekali dia sudah terluka." balas sang ketua mafia mencoba tersenyum tipis dan palsu.
Zia mengalihkan perhatiannya kembali kepada musuh, sedangkan sang ketua mafia hanya melihat apa yang di lakukan oleh Zia, dia memperhatikan kemampuan Zia agar tidak salah menjadikannya sandra, karena wanita si penembak jitu itu sudah terluka dia bisa bergerak sekarang untuk kabur dan mundur.
"kenapa kau diam saja dan tidak ikut untuk menyerang?" tanya Zia pada sang ketua mafia yang hanya diam saja.
"aku masih melihat situasi dan menunggu info dari temanku." jawabnya.
"info pada yang lain aku sudah siap." ucap sang ketua mafia melalui earphone di telinganya memberitahukan pada Lion 3 kalau dia sudah siap dengan Sandranya untuk keluar dari gedung ini, sang ketua mafia sengaja tidak menyebut nama Lion 3 di hadapan Zia.
Sedangkan Zia sudah mulai melihat curiga pada sang ketua mafia atas semua tingkah laku dan bicaranya, dan sang ketua mafia hanya berpura-pura tersenyum tipis pada Zia, dia sangat tahu tatapan mata Zia yang sudah mulai mencurigai dirinya.
"baik bos kami sudah siap untuk keluar dari sini dan kami akan segera mendekati anda bos." balas Lion 3 padanya.
Dengan gerakan cepat sang ketua mafia merebut pistol yang di pegang oleh Zia lalu mencekik leher Zia dengan lengannya dan menodongkan pistol ke arah pelipis Zia. Zia yang belum siap dan tidak bisa membaca gerakkan cepat sang ketua mafia pun lumpuh atas cekikan lengan pada lehernya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1