
*****Mansion Ardian Adhitama*****
*Di ruang kerja pribadi Ardian*
"Gavin, coba kau putar cctv di area teras depan, aku mau lihat kronologi kejadian tadi sore !" perintah Ardian yang masih pada posisi duduk di balik meja kerja dengan wajah yang masih datar dan dingin, tak ada perubahan sama sekali, walaupun bersama dengan asisten pribadinya yang sudah hampir 10 tahun setia melayaninya.
Dengan sigap dia mengecek laptop yang ada di depannya, setelah apa yang di inginkan tuannya dia dapatkan, Gavin menyerahkan laptop yang dia pegang kepada sang tuan.
Ardian dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah, dari datar, dingin, mengerutkan dahinya dan mulai tampak senyum tipis yang malah terlihat lebih menyeramkan dari pada wajah dinginnya, Gavin bergidik ngeri karena melihat ekspresi tuannya saat menyaksikan tayangan video yang di putar dalam laptop di depannya.
Entah video seperti apa yang tuannya lihat, Gavin pun tidak tahu karena memang dia belum melihatnya.
"coba kau lihat video ini !" perintah Ardian yang masih tersenyum tipis, Gavin hanya mengikuti perintah yang di berikan, dia mengambil laptop dan mulai memutar isi video cctv yang memutar tayangan di mana Lusi melumpuhkan ketiga penjaga yang ada di teras depan, dengan gerakan yang lincah, cepat dan kuat serta akal permainan bela diri yang sepertinya sudah terlatih sangat baik dan sering Lusi lakukan, tidak membutuhkan waktu banyak Lusi bisa melumpuhkan ketiga penjaga tanpa adanya gerakkan dari penjaga yang sengaja mengalah.
ketiga penjaga tersebut terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam menyerang lusi, tapi sayang pukulan mereka sama sekali tidak ada yang mengenai tubuh Lusi.
Lusi terlihat sangat lihai dalam semua gerakkannya, bela diri Lusi sangat bagus kalau di katakan untuk pemula apalagi dia seorang wanita. Semua gerakkan bela diri Lusi sangat terlihat terlatih sudah lama.
"apa pendapatmu Gavin ?" tanya Ardian saat Gavin selesai menonton video dan melihat ke arah tuannya.
"gerakkan bela diri nona Lusi sangat bagus, cepat,lincah dan kuat, terlihat dia sangat lihai dan terbiasa dengan bela diri bertahan tubuhnya." jawab apa adanya Gavin.
"aku tidak percaya seorang wanita yang terlihat lemah bisa mengalahkan ke tiga penjaga laki-laki, apa mungkin ke tiga penjaga itu hanya mengalah pada Lusi, agar Lusi tidak terluka ?" tanya Ardian yang mencondongkan badannya ke depan.
"sepertinya tidak tuan, disini terlihat semua penjaga dengan gerakan kuat menyerang Lusi, dan tidak ada celah gerakkan dari semua penjaga yang terlihat mengalah atau lemah pada setiap serangan mereka !" kata Gavin yang terus menilai dan mengamati video di depannya.
__ADS_1
Ardian menghela nafas berat dan panjang.
"kau tahu Gavin itu membuktikan bahwa Lusi bukanlah Lidya yang seperti perkiraan ku, dan aku merasa bodoh benar-benar berharap bahwa Lusi adalah Lidya yang masih hidup, Lidya sama sekali tidak bisa bela diri." katanya yang mengenang dirinya yang sering menyiksa badan dan batin Lidya bila Lidya membuat kesalahan di saat awal pernikahan mereka.
"kalau Lusi bukan Lidya lalu siapa dia ? tidak ada di dunia ini orang yang memiliki wajah dan postur tubuh yang sangat mirip terkecuali mereka kembar atau melakukan operasi plastik." Ardian mulai geram karena semua pertanyaannya belum satupun ada yang terjawab.
"tidak mungkin mereka kembar tuan, karena nyonya Lidya hanya memiliki kakak perempuan satu dan wajah mereka tidak sama sakali mirip, kalaupun nona lusi melakukan operasi plastik tidak mungkin bisa semirip itu tuan." penjelasan Gavin pada tuannya.
"kau benar Gavin, kau kirim orang ke Surabaya untuk mencari tahu kebenaran tentang Lusi, beri informasi alamat rumah Lusi yang sudah kita dapatkan dari KTP nya, cari tahu semua tentangnya, aku ingin tahu dia manusia asli atau hanya manusia hasil operasi plastik." perintah Ardian yang segera di lakukan oleh Gavin.
Gavin menghubungi anak buah andalannya untuk menyelidiki tentang Lusi, melalui ponselnya dia mengirim dan memberikan informasi alamat dan juga gambar photo Lusi yang dia dapat dari isi dompet Lusi, yang tadi siang dia geledah atas perintah tuannya.
"aku tidak ingin kecolongan dan di tipu olehnya, aku yakin kalau dia bukan Lidya, dia pasti ada tujuan tersembunyi untuk mendekati ku dan anak-anak ku, dengan memanfaatkan wajah Lidya, jangan sampai kita masuk perangkapnya, yang mungkin di lakukan oleh salah satu musuh atau rival Bisnisku yang bekerja sama dengannya, aku tidak ingin keluargaku dalam bahaya juga, cukup aku kehilangan Lidya." katanya sedih.
"sebelum semua rencana dan maksud darinya yang kita tidak tahu berhasil, kita harus lebih dulu tahu apa rencananya ? mencegah dan menggagalkannya, kau mengerti Gavin.."
"tapi tuan...." kata Gavin menggantung.
"ada apa ?"
"bagaimana kalau nona Lusi tidak ada maksud apa-apa terhadap tuan dan keluarga ? dia hanya kebetulan mirip Nyonya Lidya dan tidak tahu sama sekali tentang anda dan keluarga, apalagi selama ini nyonya Lidya tidak di ketahui oleh publik kecuali hanya keluarga anda dan keluarga nyonya Lidya yang tahu."
"kalaupun dia tidak ada maksud apapun, aku tidak rela dia memiliki wajah yang sama dengan Lidya, aku akan buat dia merasakan pelajaran yang sudah berani menyinggungku, seharusnya dia tidak hadir di hadapan anak-anak ku." ancamnya dengan tatapan tajam pada Gavin.
'semoga di kemudian hari anda tidak akan menyesal tuan, karena sudah memberikan banyak pelajaran dan masalah yang membuat nona Lusi bisa saja membenci dirimu nantinya tuan.' gumam Gavin di dalam hati karena dia sudah berusaha untuk membujuk tuannya agar tidak terlalu membuat masalah dengan nona Lusi, yang mungkin tidak bersalah dan tidak sengaja bertemu si kembar.
__ADS_1
'bukannya seharusnya anda berterima kasih kepada nona Lusi yang sudah menolong anak-anak anda dari orang yang berniat jahat, tapi ini sebaliknya Anda malah mencurigai nona Lusi ada niat buruk pada anda dan keluarga, sehingga nona Lusi harus mendekati si kembar.' gumam Gavin terus berpikir kalau tuannya terlalu berprasangka buruk pada nona Lusi.
Gavin sudah terus berusaha, membuat tuannya sadar dan membujuknya agar tidak melakukan kesalahan yang akan dia sesali di kemudian hari bila semua pertanyaan tuannya terjawab.
Tapi apa daya, Gavin tidak bisa berbuat apa-apa, sama halnya saat rencana makan malam yang ingin mengetes nona Lusi.
Tuan Ardian memerintahkan koki dan pelayan memasak makanan seafood untuk makan malam, yang bertujuan untuk mengetahui apakah Lusi juga ada memiliki alergi dengan makanan seafood, seperti halnya nyonya Lidya yang alergi dengan makanan seafood.
Gavin sudah berusaha agar niat tuannya itu di urungkan, karena setahu Gavin bila nyonya Lidya kumat alerginya akibat makan makanan seafood, dia akan mengalami gatal-gatal pada kulit nya, terkadang kepalanya pusing dan sakit, lebih parahnya lagi bermasalah dengan pernafasannya itu bila terlalu banyak mengkonsumsi makanan seafoodnya.
Tapi apa daya perintah tuannya adalah mutlak perintah yang tak bisa di bantah dan di lawan lagi, dengan harap-harap cemas Gavin melihat ekspresi wajah nona Lusi yang terpaksa memakan udang yang di sendokkan ke atas piringnya oleh tuan Ardian.
Gavin terus siaga memperhatikan bila nona Lusi juga memiliki alergi dengan makanan seafood, biasanya seperti kejadian nyonya Lidya, 15 menit setelah memakan makanan seafood kulitnya langsung gatal-gatal.
tapi lebih dari 15 menit dan udang yang dimakan nona Lusi lumayan banyak, tidak nampak ada alergi apapun sampai mereka selesai makan malam dan nona Lusi masuk ke kamarnya.
Gavin sedikit lega karena rencana tuannya untuk nona Lusi tidak menjadi kenyataan dan tidak menjadi masalah untuk nona Lusi, karena nona Lusi terlihat tidak alergi seafood sama sekali.
Pembicaraan yang dilakukan untuk malam ini pun sudah selesai dan mereka ingin kembali untuk beristirahat di kamar masing-masing, karena untuk sementara Ardian dan Gavin juga akan tinggal di mansion itu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....
Jangan lupa vote dan like nya.