
***Perusahaan Aldevaro Group***
Bryan masih menatap tajam asisten Ari yang dengan berani menyentuh kening Lusi di hadapannya, sedangkan yang di tatap tidak merasa sama sekali, karena merasa hanya perhatian terhadap rekan kerjanya yang memiliki masalah dengan tubuhnya.
Sedangkan Lusi dan asisten Leo getar getir melihat tatapan tajam Bryan pada asisten Ari, karena mereka tahu kalau Bryan tidak suka melihat asisten Ari menyentuh kening Lusi, mereka berpikir entah apa yang akan terjadi pada asisten Ari sekarang?
"sekretaris Lusi… apa sebaiknya anda istirahat dulu sebentar bila kondisi tubuh anda kurang enak badan?" ucap Bryan melihat pada Lusi.
Bryan berniat untuk membuat Lusi menjauh dari perhatian asisten Ari padanya, dia juga melihat ada yang tidak beres pada wajah Lusi yang tiba-tiba memerah tanpa alasan yang jelas, dia juga mempunyai niat agar bisa berdua saja dengan Lusi karena rasa rindu yang sangat.
"tidak presdir Bryan, saya baik-baik saja." jawab Lusi melihat ke arah Bryan.
"tapi terlihat jelas dari wajahmu yang tiba-tiba memerah dan ucapan asisten Ari yang menyentuh kening mu, yang terasa hangat…" ungkap Bryan menekan setiap kata-katanya seraya melirik sekilas pada asisten Ari.
"saya hanya perlu ke toilet sebentar saja, permisi…" ungkap Lusi seraya beranjak dari duduknya dan dengan cepat berlalu dari sana.
Mereka bertiga hanya bisa melihat Lusi yang dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan tersebut, padahal Bryan ingin memberitahukan bahwa ada toilet di ruangan tersebut tetapi Lusi tanpa bisa di cegah sudah keluar berlalu dari dalam ruangan.
......................
Beberapa menit telah berlalu tetapi Lusi masih betah berada di dalam toilet, dia masih meruntuki dirinya yang memalukan karena wajahnya malu dan memerah hanya melihat wajah tampan Bryan secara diam-diam, ini sebenarnya bukan untuk pertama kalinya Lusi seperti ini bila diam-diam melihat wajah Bryan, sudah sangat sering wajahnya akan malu bila melihat dan mengagumi ketampanan Bryan, tapi ini untuk pertama kalinya dia kepergok oleh seseorang.
"kenapa aku selalu malu dan sedikit berdebar bila melihat dan mengagumi wajah Bryan ya? apa ini reaksi biasa seorang wanita yang melihat wajah tampan seorang pria …?" tanya Lusi seraya melihat pantulan dirinya di dalam kaca di depan wastafel toilet.
"tidak mungkin kan, aku mulai ada rasa cinta pada Bryan?" ungkapnya kembali berbicara pada dirinya sendiri.
"ini tidak boleh terjadi, aku harus memastikan hatiku, aku tidak ingin ada yang tersakiti, apalagi sekarang status ku masih lah istri dari Ardian Adhitama walaupun aku masih tidak ingat apapun tentangnya, apakah dulu aku juga mencintainya apa tidak?" ungkap Lusi masih melihat pantulan dirinya di dalam kaca.
Lusi dengan segera membasuh wajahnya agar terlihat segar dan merah pada wajahnya bisa menghilang, dia pun dengan cepat memakai riasan wajahnya yang biasa dia bawa di dalam tas tangannya, riasan sederhana tetapi Lusi tetap terlihat cantik.
Setelah selesai dia pun segera ingin kembali ke dalam ruangan presdir untuk menyelesaikan urusannya agar bisa cepat pergi dari kantor ini, saat akan keluar dari dalam toilet Lusi mendapat pesan W.A dari ponselnya, dengan segera Lusi membuka dan membacanya dan itu dari Bryan.
"apa kamu baik-baik saja? apa perlu aku kesana? cepat balas pesan ku kalau tidak, akan aku dekati kamu terang-terangan di depan umum, aku tidak peduli lagi akan pendapat orang yang melihat kita berdua dekat.!!!" isi pesan Bryan yang sedikit mengancam Lusi agar mau membalas pesan nya.
"apa-apa sih…!!!" ucapnya setelah membaca pesan Bryan.
"aku baik-baik saja, jangan pernah lakukan itu, atau tidak aku tidak akan bicara padamu lagi." balas Lusi pada pesan Bryan.
"baiklah…aku hanya tidak ingin kamu abaikan, apa kamu benar sehat? kenapa dengan wajahmu yang memerah?" tanya Bryan mengingatkan Lusi akan kejadian tadi.
"tidak ada, hanya kurang tidur saja semalam, saat tadi aku menguap ngantuk, mataku perih dan wajahku memerah." balas Lusi berbohong mencari alasan yang masuk akal.
Tidak mungkin Lusi harus jujur pada Bryan kalau wajahnya memerah karena malu melihat wajah tampan Bryan secara diam-diam.
"apa sekarang kamu sudah membaik? apa perlu aku mintakan izin agar kamu bisa pulang cepat untuk istirahat, dan pekerjaan mu akan di selesaikan oleh asisten Ari disini.…?"
__ADS_1
"tidak usah, ngantuk ku sudah agak mendingan, karena aku sudah membasuh wajahku, Oya apa kamu berbuat sesuatu pada asisten Ari?" tanya Lusi curiga akan tatapan tajam Bryan pada asisten Ari.
"mengapa? kau khawatir kalau aku akan berbuat sesuatu pada asisten Ari?"
"aku tahu kamu tidak suka melihat asisten Ari menyentuh keningku dan perhatian padaku, itu kan wajar karena aku rekan kerjanya."
"tetap saja siapapun itu aku tidak suka."
"andaikan dia orang lain sudah aku hajar." balasnya kembali pada pesan yang belum sempat Lusi balas.
"jangan pernah lakukan itu pada asisten Ari, karena itu akan membuatnya tahu tentang hubungan kita."
"itu yang aku mau, jadi…??"
"jadi apa…jangan macam-macam aku tidak suka…"
"tapi aku suka…!!!"
"suka apa…???"
"suka dan cinta padamu, I Love you sayang, muuaach…" balasnya yang membuat Lusi melototkan matanya karena terkejut membaca balasan W.A gombal dari Bryan.
"aku kangen dan rindu sekali padamu." balas Bryan lagi pada W.A nya.
Lusi masih diam membaca pesan dari Bryan yang gombal sekaligus ungkapan perasaannya yang sesungguhnya dia rasakan saat ini, perlahan Lusi tersenyum karena membaca pesan dari Bryan, hati Lusi merasa senang dan bahagia atas gombalan dan ungkapan Bryan padanya, hatinya memang selalu nyaman bersama Bryan.
Lusi tidak membalas pesan dari Bryan, karena dia tidak tahu harus menjawab apa? Lusi belum bisa memutuskan bagaimana sebenarnya perasaan hatinya kepada Bryan, dia harus memastikannya terlebih dahulu baru bisa mengambil keputusan, banyak perasaan yang saat ini harus dia jaga dan hargai agar tidak ada yang merasa terluka.
Lusi hanya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas kerjanya dan berjalan menuju ke ruangan presdir, tetapi belum beberapa langkah dia mendapatkan panggilan dari ponselnya, dengan cepat Lusi menerima panggilannya karena itu dari sang ibu.
"hallo ibu…!!!" sapa Lusi menerima panggilan dari sang ibu.
"hallo sayang, kamu di mana nak…?" balas ibu Lusi dari seberang telepon.
"aku ada di luar kantor ibu, ada dinas keluar sebentar, ada apa ibu?"
"Lusi…anak-anak ada acara di sekolahnya, mereka berharap kamu bisa datang, ibu, ayah, dan ibu Meli sudah mau ke sana, apakah kamu tidak bisa izin sebentar saja nak…? kasihan anak-anak berharap kamu bisa datang."
"bagaimana ya buk…? Lusi tidak berani janji karena pekerjaan ini sangat penting." ungkap Lusi meragu sekaligus sedih dalam hatinya, karena sebenarnya semenjak Ardian memeberitahukan acara si kembar padanya dia ingin juga datang, tetapi tidak tahu akan di beri izin apa tidak.
"nak…kalau bisa coba minta izinlah sebentar, agar anak-anak senang, tolong lah usahakan, ibu sedih melihat mimik wajah mereka kurang semangat karena berharap mama papa nya datang melihat pertunjukan mereka."
"aku tahu ibu, aku juga ingin datang ke sekolah untuk melihat mereka." ungkap Lusi terdiam sejenak untuk menghela nafasnya.
"sayang ibu mengerti kondisi mu saat ini, baiklah…ibu dan ibu Meli akan berusaha membujuk dan memberikan pengertian untuk mereka, agar mereka bisa mengerti dan bersemangat kembali." ungkap ibu Lusi yang sangat mengerti perasaan sang putri.
__ADS_1
"terima kasih ibu, akan aku usahakan untuk izin sebentar."
"baiklah sayang…semoga kamu dapat izinnya."
Sambungan telepon pun terputus, Lusi lalu berpikir apa yang di katakan ibunya benar? Si kembar pasti sangat sedih dan ingin mama papanya ada untuk mereka, Lusi ingin mencoba meminta izin dari asisten Ari dan semoga dia mengerti.
"apa yang harus aku katakan untuk meminta izin darinya ya…ngk mungkin kan aku bilang mau menemani si kembar di sekolahnya, masalah ku ini tidak ada yang tahu, kecuali Bryan…?! apa aku minta bantuan Bryan aja ya?" gumamnya pelan seraya melangkahkan kakinya di lorong ke arah ruangan presdir.
Lusi pun memantapkan hatinya demi si kembar, untuk meminta bantuan dari Bryan, dia pun mencoba menghubungi nomer Bryan yang dengan cepat di angkat oleh Bryan.
"hallo sayang…apa kamu baik-baik saja?" tanya terburu Bryan karena khawatir Lusi lama membalas pesan dari Bryan.
"hallo…aku baik, Ryan…aku ingin minta tolong boleh……?" ungkap Lusi ragu-ragu.
"minta tolong apa sayang…? katakan aku pasti akan membantu mu sebisa aku"
"Ryan hari ini ada pertunjukan si kembar di sekolahnya dan mereka berharap aku bisa datang melihat mereka, aku berniat meminta izin pada asisten Ari sebentar, apakah kamu bisa bantu aku agar izin ku lancar?"
"tentu sayang aku akan bantu…tapi ada syaratnya…!?"
"apa syaratnya?" ungkap Lusi perlahan, dia takut syarat dari Bryan tidak bisa dia kabulkan.
"aku yang harus antar kamu ke sekolah anak-anak, apa kamu mau…?"
"tapi bagaimana caranya kita bisa pergi berdua saja di hadapan banyak orang? apa kata semua karyawan mu yang melihatnya?" ungkap Lusi yang masih tidak ingin hubungannya dengan Bryan terlihat oleh publik.
"itu bisa di atur, yang penting kamu mau tidak?"
Lusi nampak berpikir sejenak, ini demi anak-anak agar mereka tidak kecewa dan bahagia melihat kedua orang tuanya ada datang ke sekolah.
"baiklah."
"oke aku tunggu." ungkap Bryan lalu Lusi memutuskan sambungan telponnya.
Lusi terpaksa mau di antar pergi ke sekolah anak-anak oleh Bryan demi bisa menghadiri acara pertunjukan si kembar, Lusi dengan cepat menuju ke dalam ruangan presdir agar cepat bisa meminta izin pada asisten Ari, semoga izinnya bisa di lancarkan.
Sedangkan Bryan tersenyum bahagia akhirnya bisa berduaan saja dengan Lusi, dia akan melakukan apapun agar bisa bersama Lusi? untuk melepaskan kerinduannya selama beberapa hari ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.