Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 28 Lusi vs Ardian (bagian 1).


__ADS_3

*****Apartemen Royal Queen*****


Setelah Lusi menutup telpon sepihak, Bryan mengulangi panggilannya berkali-kali, tapi Lusi tetap tidak menjawab panggilan darinya.


Bryan menggenggam erat ponselnya dan memukul sandaran sofa untuk meluapkan kekecewaan karena Lusi menolak untuk membicarakan hal pribadi dengannya.


"aku akan terus berusaha agar kita bisa seperti dulu lagi, aku menyesal karena terlalu terburu-buru dan gegabah sehingga aku pergi tanpa pamit padamu, andaikan kau tahu Lusi hati dan perasaanku padamu masih sama bahkan aku sangat mencintaimu dan akan ku buktikan itu padamu, aku akan terus bersabar dan berusaha mendapatkanmu lagi." Bryan berkata dan berjanji pada dirinya sendiri.


......................


*Kamar VIP Rumah Sakit Sinar Mulia*


Saat Lusi membenarkan letak selimut Nathalia dia pun teringat akan janji penjelasan Ardian padanya.


Lusi kembali menggeret besi gantungan botol infusnya mendekati sofa dan berdiri di hadapan Ardian dan Gavin.


"tuan Ardian, anda berhutang penjelasan pada saya." ucap Lusi memandang wajah Ardian yang menatapnya heran.


"penjelasan apa lagi ?" balas Ardian yang membuat Lusi tertawa ringan.


"anda benar-benar lupa atau berpura-pura lupa ?" ucap Lusi yang masih berdiri berkacak pinggang di hadapan Ardian.


"bicara yang jelas ?!" tegas Ardian yang benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Lusi.


"penjelasan tentang putri anda." jawab Lusi yang menoleh ke arah belakang di mana Nathalia tertidur dan beralih lagi menatap Ardian tajam, apa Ardian tidak mengerti juga apa yang dia maksudkan ?


"kenapa dengan putriku ?" tanya Ardian bingung.


Lusi mulai habis kesabaran dan menghela nafas panjang dan beratnya, Lusi melangkah duduk di sofa kosong yang ada di hadapan Ardian.


"baiklah tuan Ardian yang terhormat !" ucapnya mengatur nafasnya. "saya ingin penjelasan, mengapa Putri anda memanggil saya mama ?" tanya Lusi yang mulai di mengerti oleh Ardian penjelasan apa yang dimaksudkan oleh Lusi ?


Ardian dan Gavin saling memandang sekilas, dalam benak mereka 'mungkin ini waktunya untuk mengungkap semuanya.'


"itu karena putriku menganggap dirimu adalah mamanya." kata Ardian yang membuat Lusi heran dan mengerutkan keningnya.


"apa maksud anda tuan ? mengapa aku yang di anggap mamanya, kemana mama mereka ?" tanya Lusi yang tidak peduli lagi kalau itu adalah pertanyaan privasi, karena ini menyangkut dirinya.


"mama mereka sudah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu." ucap santai Ardian yang membuat Lusi terkejut.


"maaf tuan bukan maksud saya untuk mengingatkan." balasnya merasa bersalah.


"tapi kau tanpa sadar sudah mengingatkannya."


"maksud anda tuan ?"


"kau sudah mengingatkan mereka akan sosok mama mereka karena wajahmu yang sangat mirip dengan istriku."


"apa....wajah saya mirip dengan istri anda ?" tanya Lusi tak percaya.


"anda jangan bercanda tuan." kata Lusi yang benar-benar tidak percaya akan jawaban Ardian, Lusi pun mengingat kejadian saat Direktur Salim mengatakan kalau dia pernah bertemu dirinya bersama Ardian di hotel tempatnya bekerja, dan pelayan sita yang meragukan namanya.


"apa anda juga meragukan nama saya Lusi ?" tanya Lusi yang membuat Ardian dan Gavin heran.


"maksud kau ?"


"sebelum anda, ada orang yang juga mengatakan bahwa saya mirip seseorang dan meragukkan nama saya adalah Lusi ."


"siapa ?" tanya Ardian penasaran.


"Direktur Salim dari R.W.C hotel, dia bilang kalau pernah bertemu saya datang bersama anda ke hotel itu."


"lalu kau menjawab apa ?"

__ADS_1


"saya menjawab kalau saya tidak mengenal anda dan tidak pernah datang ke hotel yang di sebutkan, lagi pula ini untuk pertama kalinya saya datang ke kota ini, mana mungkin saya bisa mengenal orang hebat dan sukses seperti anda ."


"kau memang tidak mengenalku, tapi kau tahu aku kan dari majalah bisnis, semua orang juga tahu."


"tidak tahu tuan, saya benar-benar tidak tahu tentang anda karena saya tidak pernah membaca majalah bisnis, koran atau pun menonton gosip tentang anda di televisi." jawab Lusi enteng yang membuat Ardian tidak percaya akan ucapan Lusi, sedangkan Gavin hanya tersenyum tipis karena masih ada yang tidak tahu dan mengenal tuannya.


"aku tidak percaya " Ardian tertawa mengejek.


"benar tuan, kemarin di ruang meeting kantor Wirajaya adalah pertama kalinya saya melihat anda dan tahu bagaimana wajah seorang Ardian Adhitama."


"sudah jangan berbohong lagi, sebutkan apa motif kau mendekatiku dan anak-anak ku dan siapa yang mengutusmu ? sampai kau berani meniru wajah istriku yang sudah meninggal." tanya Ardian langsung tanpa basa basi lagi yang membuat Lusi terkejut akan tuduhan Ardian.


"maaf tuan semua tuduhanmu itu tidak benar, saya tidak ada motif apapun terhadap anda karena saya benar-benar tidak mengenal anda, masalah anak-anak anda, saya tidak pernah ingin mendekati mereka, saya kebetulan ada di taman pada saat kejadian itu, saya tidak pernah ada niat untuk meniru wajah istri anda, dan tidak ada yang mengutus saya untuk mendekati Anda, kan anda sendiri yang meminta pada Presdir Maria agar saya menjadi perwakilan Wirajaya group dengan Adhitama group, apa anda lupa ?" kata Lusi panjang lebar yang membuat Ardian tercengang tidak percaya akan penjelasan Lusi, sedangkan Gavin menahan senyum nya karena Lusi berani melawan Ardian Adhitama.


"aku tidak percaya akan penjelasan mu, mana ada orang yang tidak ada hubungan darah bisa semirip itu kecuali dia kembar atau melakukan operasi plastik."


"hai tuan...saya sudah menjelaskan semuanya pada anda, anda mau percaya atau tidak itu urusan anda, satu lagi saya tidak punya kembaran karena saya anak tunggal, dan saya tidak pernah melakukan operasi plastik, anda puas ?" kata Lusi menatap tajam mata Ardian tanpa ada rasa takut.


"hai nona... mana ada pencuri yang mau mengaku."


"tuan jangan sembarangan ya...apa tuan punya bukti atas semua tuduhan tuan itu ?"


"aku memang belum punya bukti atas apa motifmu yang meniru wajah istriku, tapi semua itu pasti akan terungkap cepat atau lambat."


"tuan Ardian saya benar-benar tidak meniru wajah istri tuan, dan ini wajah asli saya tuan."


"apa kau bisa membuktikan nya bahwa itu wajah aslimu yang memang tidak meniru wajah istriku ?" tantang Ardian agar Lusi terpancing.


"bisa...anda bisa bertanya pada kedua orang tua saya, bahwa wajah ini adalah wajah asli saya." jawab Lusi tegas dengan menunjuk wajahnya sendiri.


"apa anda juga bisa membuktikan bahwa wajah istri anda benar-benar mirip dengan wajah saya tanpa ada perbedaan sama sekali ?" tanyanya yang benar-benar penasaran seperti apa wajah istri tuan Ardian Adhitama, dan dia juga tidak percaya di dunia ada orang yang tidak ada hubungan darah bisa sangat mirip, 'mungkin tuan Ardian salah mengenali wajahnya yang sekilas mungkin mirip mendiang istrinya.'


"kau pikir aku yang berbohong ?" tanyanya marah karena Lusi balik tidak mempercayai nya.


Gavin dengan segera melakukan perintah tuannya, setelah apa yang dia cari ketemu di layar laptopnya diapun memutar arah layar laptop ke hadapan Lusi.


Lusi terkejut tidak percaya akan apa yang dia lihat di layar laptop di depannya, Lusi seketika duduk bersimpuh di lantai di depan meja sofa di mana laptop itu di letakkan, dia benar-benar tidak percaya dengan photo seorang wanita yang benar-benar mirip dengannya, Lusi melihat semua photo wanita itu dari photo sendiri sampai photo pernikahan wanita itu dengan Ardian dan juga photo wanita itu menggendong dua bayi dalam dekapannya, tanpa dia sadari air mata sudah turun meleleh di pipinya yang pucat.


"apa ini istri tuan ?" tanya Lusi yang memandang ke arah Ardian dengan air mata yang berlinang.


"iya dia istriku Lidya Kiandra Adhitama." jawab Ardian tegas dan heran melihat Lusi yang tiba-tiba menangis.


Lusi kembali lagi melihat pada photo-photo tersebut, dia berusaha mencari perbedaan antara wajah di photo itu dengan wajahnya.


"ini mustahil..ini tidak mungkin...kemiripan kami tidak ada perbedaan sama sakali.." gumam Lusi yang masih bisa di dengar oleh Ardian dan Gavin, Lusi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lusi yang terkejut sudah tidak bisa berpikir apa apa lagi, dia berdiri dan duduk di sofa, Lusi


menghapus air matanya, dia memandang ke arah Ardian.


"tuan saya masih tidak percaya, apa tuan tidak ada melihat perbedaan dari kami, maksud saya perbedaan antara istri tuan dan saya, mungkin saja ada perbedaan, coba tuan perhatikan?" tanyanya yang masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"tidak ada kalian benar-benar mirip tanpa perbedaan sama sekali." jawab Ardian yang masih melihat Lusi yang sangat terkejut.


"ya Tuhan apa ini ? tidak mungkin ada 2 orang yang sangat mirip tanpa adanya hubungan darah sama sekali." gumamnya dengan tatapan nanar memandang ke arah photo Lidya yang ada di layar laptop.


'pasti ada jawaban dari semua ini, tidak mungkin kami bisa sangat mirip tanpa adanya hubungan darah, bila aku bertanya pada kedua orang tuaku pasti mereka juga sangat terkejut dan tidak akan percaya, aku harus menyelidikinya sendiri atau aku minta bantuannya ? ya aku bisa minta tolong dia untuk membantuku mencaritahu ini semua.' katanya di dalam hati.


Ardian dan Gavin melihat Lusi hanya diam dengan tatapannya yang nanar ke arah layar laptop, mereka tidak ada yang tahu pikiran Lusi yang akan melakukan sebuah rencana penyelidikan dengan seseorang.


"tuan apa boleh saya minta di kirimkan photo istri tuan ke ponsel saya ?" tanya Lusi hati-hati.


"untuk apa ?"

__ADS_1


"saya ingin menunjukkannya kepada orang tua saya, kalau ada yang mirip dengan saya."


"maaf aku tidak bisa, itu privasi, dan aku tidak ingin photo istriku di tahu siapapun."


Lusi hanya menghela nafasnya dan segera beranjak dari duduknya ingin kembali ke ranjang, tapi belum sempat dia melangkah Ardian mengatakan sesuatu.


"aku bisa mengirim photo istriku ke ponselmu, dengan dua syarat." kata Ardian yang membuat Lusi berbalik badan ke arah Ardian.


"syarat apa tuan ?" tanya Lusi penasaran.


'akal licik apa lagi yang akan di lakukan tuan sok kuasa ini, kenapa aku harus terus mengikuti apa kemauannya ya..??' gumam Lusi dalam hati.


"satu...lakukan tes DNA bersama anakku."


"untuk apa tuan ?" tanya Lusi tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"untuk mengetahui apakah kau dan istriku ada hubungan darah atau tidak melalui tes DNA bersama anakku."


"tidak mungkin tuan, kan sudah saya katakan kalau saya ini anak tunggal tuan."


"tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau belum di coba, apa kau tidak penasaran dengan semua ini ?"


Lusi berpikir sejenak 'iya tidak ada salahnya di coba, walaupun melakukan tes DNA berulang kali pun hasilnya akan tetap sama, tidak cocok karena kami bukan sedarah ! biar tuan sok kuasa ini puas.' katanya dalam hati.


"baiklah tuan tapi dengan satu syarat juga dari saya."


"beraninya kau mengajukan syarat padaku." kata Ardian dengan tatapan mata tajam dan wajah dinginnya.


"kalau anda tidak setuju saya juga tidak mau melakukan tes DNA." tantang Lusi.


Ardian berpikir sejenak dan memandang Lusi yang tidak ada rasa takut padanya " baiklah apa syaratmu ?"


"nanti saya katakan, saya pikirkan dulu."


"katakan sekarang atau tidak sama sekali ! kau setuju atau tidak melakukan tes DNA aku masih tetap bisa melakukannya." ancam balik Ardian.


"tapi itu kan privasi saya tuan."


"kau ingat satu hal apapun bisa aku lakukan, selagi aku baik hati, kau katakan sekarang syaratmu atau tidak sama sekali ?!?" ancamnya lagi.


'dasar licik...ok aku ikuti permainanmu, kita lihat siapa yang akan berhasil dalam permainan ini, toh aku tidak ada ruginya, malah mendapatkan satu bantuan untuk mengungkap semua ini.' gumam Lusi lagi dalam hati yang memandang tajam Ardian tanpa rasa takut.


"baiklah tuan, saya akan mengatakan syarat saya setelah tuan mengatakan syarat tuan yang kedua." tantang balik Lusi.


"beraninya kau...." tunjuk Ardian pada Lusi yang menatapnya tajam.


"hai tuan...hidup itu perlu seimbang, anda memberi saya menerima, sebaliknya saya memberi anda menerima, jangan karena anda kaya raya semua bisa anda beli dengan uang, kekayaan dan kekuasaan yang anda miliki."


"apa ada yang tidak bisa di beli oleh uang, kekayaan dan kekuasaan yang aku miliki ?"


"ada tuan...cinta, takdir, hidup dan nafas seseorang, cinta yang tulus hanya bisa dirasakan oleh hati bukan karena uang, takdir seseorang sudah mereka dapatkan sejak di lahirkan, hidup dan nafas seseorang hanya bisa dibunuh dan kematian yang akan merenggutnya, apa tuan akan menjadi seorang penjahat yang suka merenggut dan merampas hak seseorang ?"


"kau...pandai sekali bersilat lidah..." kata Ardian yang membuat Gavin tersenyum karena melihat ada wanita yang berani melawan setiap kata-kata tuannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2