
***Aula Hotel R.W.C***
Zia berusaha untuk melawan sang ketua mafia tetapi dia kalah tenaga dan todongan pistol pada pelipisnya membuat dia tidak bergerak untuk melawan kembali.
"diam atau ku tembak kau.…!" perintah dari sang ketua mafia.
"siapa kau…?" tanya Zia yang tidak bisa bergerak karena cekikan lengan yang begitu kuat pada lehernya.
"kau tidak perlu tahu, kau akan menjadi sandra ku untuk membantu ku keluar dari sini." ucapnya dengan nada tegas.
"Lion 3 cepat kesini." teriak sang ketua mafia memanggil.
"Hentikan tembakkan atau ku bunuh dia !" teriak sang ketua mafia seraya berdiri dari persembunyiannya , yang masih mencekik leher Zia dengan lengannya.
Semua lawan menghentikan gerakkan dan tembakan saat mendengar teriak peringatan dari sang ketua mafia yang kini telah melepaskan topi, masker wajah, dan jaket kulit hitamnya yang sudah di gantikan dengan jas hitam milik anak buah Aldevaro Group.
Semua keluar dari persembunyiannya masing-masing dan berdiri melihat ke arah sang ketua mafia yang menyandra Zia dengan todongan pistol di pelipis Zia.
Semua yang melihat termasuk Lusi terkejut dan marah melihat Zia di jadikan sandra oleh sang ketua mafia Black Lion, mereka berusaha menahan amarah masing-masing dan tetap siaga dengan menodongkan senjatanya ke arah sang ketua mafia.
"ku peringatkan jangan ada yang menembak atau dia akan mati." ancamnya seraya menekan ujung pistolnya pada pelipis Zia.
Zia memejamkan matanya saat pelipisnya di tekan oleh sang ketua mafia, sedangkan sisa anak buah Black Lion melangkah mendekati bos mereka dan berdiri di sampingnya, salah satu anak buah Black Lion di perintahkan mengambil alih tubuh Zia dan menodongnya agar bos mereka dapat leluasa untuk melarikan diri.
"tembak mereka… jangan hiraukan aku…" teriak Zia tidak peduli akan ancaman sang ketua mafia yang berdiri di depannya, Zia tidak ingin menjadi beban bagi anggotanya.
"diam kau…" ancam sang ketua mafia seraya berbalik badan dan menampar wajah Zia hingga mengeluarkan darah di ujung bibirnya, sang ketua tidak suka akan keberanian Zia yang siap mati untuk anggotanya.
"apa yang kalian pikirkan… aku tidak takut mati…cepat tembak mereka" teriak Zia kembali dengan menatap tajam pada ketua mafia Black Lion yang baru saja menampar pipinya.
Yang lainnya hanya bisa saling melirik dan tetap waspada, sedangkan Deo kakak laki-laki dari Zia menahan amarahnya seraya mengepalkan tangannya kuat melihat adik satu-satunya di jadikan sandra oleh musuh.
__ADS_1
"tahan semua tembakkan, jangan ada yang menembak." ucap Nico memberi perintah.
"lepaskan dia." perintah Nico pada sang ketua mafia.
"hahahaha......." ketawa lepas sang ketua mafia mendengar perinta Nico padanya.
"aku akan melepaskannya bila kau mau menggantikannya." ucap sang ketua mafia seraya tersenyum devil, kali ini mereka bisa dengan jelas melihat wajah dan senyum devil sang ketua mafia Black Lion.
Nico dan ketua mafia Black Lion saling menatap tajam, sang ketua mafia Black Lion senang mendapatkan sandra yang membuat semua anggota King Dragon tidak bergerak sama sekali, dia berpikir untuk menukarkan posisi Zia dengan Nico.
Sedangkan semua anggota mafia King Dragon dan yang lainnya geram dengan akal licik dari sang ketua mafia Black Lion, Lusi yang melihatnya pun tidak bisa apa-apa, dia masih diam bersembunyi di pilar sebelah kanan tidak jauh dari tempat Zia di sandra dan sepertinya tidak ada yang memperhatikannya.
Lusi ingin menolong Zia tanpa membuatnya terluka, dia berusaha membaca situasi yang ada dan membuat strategi untuk menyerang tanpa melukai Zia.
Lusi melihat masih tersisa 4 musuh, 3 anak buah dan satu bos mereka, bila saja dia menembak dengan pisau tembaknya, hanya bisa mengenai dua antar mereka, apa harus dia menggunakan pistolnya juga kali ini?
Lusi punya ide tetapi rencananya harus di bantu oleh seseorang untuk bisa melindunginya saat dia menyerang 4 musuh yang tersisa, dia pun memasang earphone di telinganya, lusi ingin menghubungi tuan Erick dan meminta bantuannya untuk bekerjasama.
Lusi melihat isyarat dari tuan Erick.
"dengarkan, saya bersembunyi di pilar tidak jauh dari tempat Zia di sandra, saya punya rencana menyerang mereka, tetapi saya hanya bisa melumpuhkan dua di antara mereka, saya akan mencoba menembak orang yang menyandra Zia dan orang disamping kanannya, apa anda bisa membantu saya untuk menembak dua orang lagi dari samping kiri Zia? kalau anda setuju kedipkan mata anda dua kali." tanya dan jelas Lusi pada tuan Erick.
Namun tuan Erick tidak memberikan respon jawaban apapun, tuan Erick hanya diam untuk mencerna apa yang di rencanakan Lusi kali ini, Lusi masih melihat tuan Erick yang hanya diam tanpa memberikan isyarat jawaban apapun.
"tuan Erick apa anda tidak percaya pada saya?" tanya Lusi pada tuan Erick yang hanya diam saja.
"baiklah, aku akan sedikit mendekat pada Deo, saat kau menyerang aku akan melindungi mu, tunggu aba-aba dari deo."
"baik tuan Erick." balas Lusi mengerti.
Lusi segera mengeluarkan pistol yang sudah di modifikasi oleh anggota mafia King Dragon untuk pemula sepertinya, dan sisa dua pisau tembak yang dia punya, Lusi menarik dan menghembuskan nafasnya untuk menenangkan dirinya agar saat menembak akan tepat sasaran, saat ini Lusi sudah siap dengan pistol dan dua pisau tembak di kedua tangannya.
__ADS_1
Tuan Erick melangkah mendekati Nico dan Deo yang berdiri berdampingan, tuan Erick diam berdiri di samping Deo.
"Deo… Lusi akan mencoba menyerang yang memegang Zia dan yang berdiri di sebelah kanannya, lindungi Lusi saat menyerang." ucap tuan Erick sedikit berbisik yang masih bisa di dengar oleh Deo.
Deo hanya diam tanpa menjawab tetapi dia mengerti dengan apa yang di perintahkan oleh tuan Erick, Deo segera mengokang senjatanya untuk siap-siap menyerang.
Lusi yang masih bersembunyi sudah siap dengan pistol di tangan kirinya dan satu pisau di tangan kanannya, sedangkan satu pisau dia selipkan di balik lengan jasnya.
Posisi Zia saat ini berdiri tepat di apit oleh dua anak buah Black Lion, sedangkan ketua mereka dan Lion 3 ada di sebelah kirinya, Lusi hanya akan fokus menyerang pada yang mengapit Zia karena posisi Lusi sangat mudah untuk menyerang dari sebelah kanan.
"tuan Erick saya sudah siap." ucap Lusi siap menyerang.
"Deo beri aba-aba." ucap tuan Erick pada Deo.
"Zia gunakan tameng kanan." teriak Deo memeberikan aba-aba untuk Lusi mulai menyerang.
Lusi keluar dari balik pilar lalu dengan cepat dan kuat melemparkan pisau tembaknya pada orang yang memegang dan menodong Zia, tembakan pisau Lusi tepat sasaran pada kepala anak buah tersebut, dengan gerakan cepat Lusi menembak anak buah sebelah kanan Zia, sedangkan Zia yang mengerti aba-aba dari sang kakak segera berlindung di balik tubuh anak buah sebelah kanannya yang sudah di lumpuhkan oleh Lusi.
Karena gerakan cepat dari Lusi tidak bisa di prediksi oleh musuh, Deo dan tuan Erick segera mambantu Lusi menembak ke arah sang ketua mafia dan Lion 3 agar mengalihkan perhatian mereka saat Lusi menyerang dan mempertahankan diri dengan terus menembak ke arah musuh.
Sang ketua mafia Black Lion dan Lion 3 kelabakan akan serangan dadakan dari musuh, mereka tidak tahu bila Lusi akan menyerang mereka secara mendadak, semua rencana penyanderaan gagal total dan dalam pikiran mereka hanya akan menyerang untuk mempertahankan diri dan lari dari sana.
Nico, Ardian, Bryan dan Radhika yang tidak tahu akan rencana mereka hanya mengkhawatirkan Lusi yang ikut menyerang musuh, Lusi sudah bersembunyi kembali di balik pilar, sedangkan Zia sudah lari dan berlindung pada pilar yang ada dekat padanya, sedangkan ketua mafia Black Lion dan Lion 3 sudah berhasil kabur keluar dari Aula.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.