Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 74 Perasaan Lusi dan Pesan Video.


__ADS_3

***Aula Hotel R.W.C***


Lusi terduduk lemas di persembunyiannya, dia tidak menyangka akan dirinya sendiri yang sudah membunuh sasaran 4 orang, ini untuk pertama kalinya dia membunuh orang walaupun mereka orang jahat.


Zia segera berlari ke arah Lusi ingin melihat keadaannya.


"nona Lusi....apa anda baik-baik saja?" tanya Zia duduk bersimpuh di depan Lusi yang sudah duduk lemas di lantai.


Lusi melihat wajah Zia yang baik-baik saja, setidaknya Lusi merasa lega karena sudah menyelamatkan nyawa Zia, tangannya yang masih memegang pistol sedikit gemetar.


Yang lainnya pun segera mendekat pada Lusi dan Zia yang sudah duduk di lantai, saat Ardian dan Bryan ingin mendekati Lusi di cegah oleh tuan Erick. Tuan Erick berjalan mendekati Lusi dan ikut duduk bersimpuh di depan Lusi dan Zia.


"nona…semua sudah selesai, semua sudah baik-baik saja." ucap tuan Erick menyentuh bahu Lusi, Lusi pun melihat ke arah tuan Erick.


Tuan Erick tahu bagaimana perasaan Lusi saat ini? ini untuk pertama kalinya Lusi membunuh seseorang dan sekaligus 4 orang, tuan Erick tahu bila Lusi saat ini merasa takut dan gemetar dan tidak menyangka bila dirinya bisa membunuh orang walaupun orang tersebut adalah orang jahat, Lusi sudah menentukan pilihannya, 'di bunuh atau membunuh'.


"tuan Erick, terima kasih kau sudah percaya padaku." ucap Lusi lirih menatap tuan Erick, air matanya pun tidak bisa di cegah untuk tidak keluar.


"tentu nona terima kasih sudah menjadi kuat dan bisa mengambil keputusan yang benar." balas tuan Erick tersenyum seraya membelai lembut punggung Lusi untuk menenangkannya.


"Zia apa kau baik-baik saja?" tanya Lusi dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya, dia ingin memastikan keadaan Zia.


"aku baik-baik saja nona....terima kasih sudah mau menyelamatkan ku nona." balas Zia tersenyum untuk menenangkan perasaan Lusi.


Lusi yang mendengar jawaban Zia yang baik-baik saja pun lega dan tangisnya terisak-isak seraya melihat Zia yang baik-baik saja.


Zia segera memeluk dan membelai lembut punggung Lusi yang menangis akibat situasi yang mengharuskannya membunuh seseorang, Zia berharap pelukkannya bisa sedikit menenangkan perasaan Lusi.

__ADS_1


Lusi yang mendapatkan pelukkan dan belaian lembut dari Zia pun membalasnya, hati dan perasaannya yang takut dan tubuhnya yang gemetar pun berangsur-angsur membaik dan Isak tangisnya berkurang.


"semua baik-baik saja nona, semua akan melakukannya bila ada di posisi anda nona, anda sudah melakukan yang terbaik." ucap Zia membelai lembut punggung Lusi dan memberikannya kekuatan agar tidak terlalu terbawa perasaan bersalah karena sudah membunuh orang.


Lusi hanya menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya, dia mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Zia, semua yang di katakan oleh Zia benar karena Lusi ada pada pilihan 'di bunuh atau membunuh' , jadi bila Lusi tidak membunuh orang dia yang akan di bunuh, apalagi mereka orang jahat jadi pantas untuk di hukum mati.


Lusi sekarang sudah lega, dia mengatur nafasnya agar perasaannya baik-baik saja, Lusi menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, dan perasaannya kini sudah lebih membaik.


"terima kasih Zia, aku sudah baik-baik saja." ucap Lusi melepaskan pelukkannya dan menghapus air mata di pipinya.


"iya nona, terima kasih juga." balas Zia tersenyum manis pada Lusi dan di balas juga oleh Lusi.


Tuan Erick dan Zia membantu Lusi untuk bangun dan berdiri, Lusi melihat pada Nico dengan tatapan mata yang berharap Nico mengerti akan posisinya, dan Nico hanya membalas dengan senyuman dan anggukkan kepala mengerti pada Lusi.


Kini Lusi menatap pada Bryan dan Ardian secara bergantian, terlihat jelas dari tatapan mata mereka yang sama-sama khawatir akan keadaan Lusi, tetapi Lusi segera memalingkan wajahnya pada asisten Deo.


"iya nona, terima kasih juga anda sudah menyelamatkan adik saya." balas Deo tersenyum tipis pada Lusi, karena Deo juga tidak ingin ada yang curiga bahwa mereka mengenal Lusi.


"baiklah....mari kita istirahat dulu." ajak Radhika untuk mencairkan suasana haru dan sedikit menegangkan yang sudah terjadi.


Mereka pun setuju dan melangkah pada meja jamuan, para asisten mereka mengatur meja dan kursi menjadi satu agar semua dapat duduk bersama untuk istirahat dari kelelahan dan ketegangan yang sudah terjadi.


Sisa para pengawal dari masing-masing perusahaan di perintahkan mengumpulkan semua yang tewas agar dapat segera di bawa ke keluarganya masing-masing dan di kebumikan, kecuali mayat dari anak buah Black Lion mereka akan di serahkan pada polisi yang sudah di hubungi oleh pihak Wirajaya Group untuk mengusut kasus ini.


Sebelum Lusi dan Zia ikut kumpul dengan atasan mereka, terlebih dahulu Lusi dan Zia malangkah menuju meja di mana mereka menyembunyikan Dewi saat dia pingsan, Dewi dengan cepat sadar saat di bangunkan oleh Lusi dan Zia, mereka bertiga pun ikut bergabung dengan para atasan mereka.


Bryan, Ardian dan Nico tidak lepas untuk mendang Lusi dari jauh, mereka tetap diam dan bisa menahan diri untuk tidak memeluk Lusi di depan semua orang karena mengkhawatirkan keadaan Lusi saat ini.

__ADS_1


Lusi yang tahu bahwa dirinya di tatap terus oleh tiga pria yang duduk tidak jauh darinya, Lusi hanya bisa berpura-pura tidak tahu dan tidak melihat balik ketiga pria tersebut, Lusi memalingkan tatapan matanya ke arah lain dan mencoba fokus pada Dewi dan Zia.


beberapa menit kemudian…


Radhika dan asisten Ari kembali ke meja di mana yang lainnya berkumpul setelah selesai memberikan keterangan pada polisi dan mempersilahkan polisi melakukan tugasnya, untuk sementara hotel R.W.C di tutup dan para tamu selain tamu undangan di persilahkan untuk meninggalkan hotel karena insiden penyerangan tersebut, pihak Wirajaya Group memberikan polisi kesempatan untuk menyelesaikan tugas penyelidikannya tentang kasus penyerangan ini.


Radhika mengajak semua yang ada di sana untuk menuju ke restauran hotel agar lebih nyaman untuk istirahat, berbincang dan menyantap makan siang yang sempat tertunda akibat penyerangan tersebut.


Mereka semua duduk pada meja yang sudah di jadikan satu oleh karyawan restauran agar semuanya bisa kumpul makan siang bersama, tanpa suara mereka hanya bisa menyantap makan siang bersama dengan tenang dan pikiran mereka masing-masing, yang merasakan risih dan tegang pada situasi tenang ini adalah Lusi dan dua asisten yang sedang menjadi rival bersaing mendapatkan Lusi, yaitu asisten Gavin dan asisten Leo.


Tidak ada pembicaraan yang menyangkut tentang Lusi, hanya Radhika yang memberikan informasi tentang pembicaraannya dengan pihak kepolisian, bahwa mereka akan di panggil oleh pihak kepolisian untuk di mintai keterangan menjadi saksi mengenai insiden penyerangan tersebut, semua yang berkumpul disana mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Radhika?


Tidak lama kemudian ponsel Lusi pun berdering tanda pesan masuk ke dalam ponselnya, Lusi segera melihatnya dan ternyata ada tiga pesan masuk yang masing-masing dari nomer Ardian, Bryan dan Nico, Lusi tidak ada niat untuk membuka dan membaca pesan tersebut, Lusi hanya melihat sekilas ponselnya dan meletakkannya kembali ke atas meja.


Sedangkan ketiga pria yang mengirim pesan tersebut, yang merasa tidak di pedulikan oleh Lusi pun mengerutkan kening mereka melihat Lusi yang hanya melihat sekilas ponselnya, Lusi meletakkan kembali ponselnya ke atas meja, jangankan untuk membalas pesan membacanya pun Lusi tidak ada niat sama sekali.


Lagi-lagi ponselnya berdering tanda pesan masuk dan Lusi yakin pasti itu pesan dari ketiga pria yang tadi mengiriminya pesan, Lusi melihat malas pada pesan di ponselnya dan dia tertarik pada pesan video yang di kirim oleh nomer tidak di kenal, Lusi pun membuka pesan video itu dan segera berdiri dari duduknya karena terkejut setelah melihat pesan video tersebut.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2