
Seminggu sudah berlalu, seminggu juga si kembar Nathan dan Nathalia menginap di mansion tempat tinggal Lusi. Hanya Ardian yang tidak menginap, dia lebih memilih tidur di apartemennya agar lebih dekat ke mansion tempat tinggal Lusi.
Mama Ardian sangat marah dan tidak terima kalau kedua cucunya menginap pada mansion tempat Lusi tinggal, itu di sebabkan karena masih percaya pada ucapan dan hasutan Rania Kiandra beberapa hari yang lalu.
Tetapi itu bisa di atasi oleh Ardian yang lebih berhak atas putra dan putrinya. Bagaimana juga Lusi adalah mama kandung si kembar? yang memiliki hak penuh untuk mengasuh kedua anaknya. Ardian meminta pada mamanya untuk berpikir jernih dan menyelidiki lebih mendalam tentang apa yang di ucapkan oleh Rania?
Agar nyonya Meli bisa membuktikan mana yang benar dan mana yang salah antara Rania dan Lusi. Ardian juga mengutus Gavin untuk menyelidiki apa yang terjadi pada hari itu? dan mendapatkan bukti untuk di perlihatkan pada nyonya Meli.
Lusi yang sudah menemui Presdir Maria dari perusahaan Wirajaya group, sudah resmi mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Walupun sangat di sayangkan sekali oleh nyonya Maria, karena Lusi adalah sekretaris yang sangat pintar dan dapat di andalkan.
Karena itu sudah keputusan mutlak dari Lusi, nyonya Maria juga tidak bisa berkata apa-apa lagi? dia hanya mengucapkan pada Lusi, kalau Lusi selalu akan di terima kapanpun Lusi ingin kembali bekerja.
Lusi merasa sedih dan sangat tidak nyaman harus mengundurkan diri dan meninggalkan nyonya Maria yang begitu baik padanya? tetapi apa boleh buat itu adalah keinginan dan keputusannya sendiri.
Kini Lusi sudah bekerja bersama Nico, tanpa sepengetahuan Ardian, sebab Ardian hanya tahu Lusi masih bekerja pada perusahaan Wirajaya group, dan tidak tahu sama sekali kalau Lusi sudah bergabung pada perusahaan Faresta group. Lusi tidak pernah berbicara apapun?
Lusi yang sudah mulai bekerja bersama Nico, merasa kalau ada yang salah dalam pekerjaannya. Nico memberikannya tugas untuk mempelajari semua tentang perusahaan Faresta group tersebut. Lusi tidak banyak tanya walaupun dia merasa curiga.
Lusi hanya berpikir positif saja tentang itu, mungkin karena Lusi orang baru, jadi harus di mulai dari mengenal semuanya tentang perusahaan tersebut , Lusi di perintahkan untuk mempelajari semua berkas-berkas penting perusahaan yang di berikan oleh Nico, tanpa banyak bertanya.
Secara perlahan Lusi mempelajari semuanya, agar memudahkannya saat nanti mendampingi Nico menjadi sekretarisnya. Dalam benak Lusi berpikir kembali, apakah keputusannya sudah benar? mereka yang bekerja sama dengan perusahaan Faresta group pasti akan sangat terkejut melihat Lusi menjadi sekretaris dari Nico, wakil presdir Faresta group.
Apa yang akan mereka pikirkan? apakah Lusi akan di anggap seorang penghianat oleh pihak Wirajaya group? Lusi harap keputusannya ini tidak membuat masalah bagi siapapun? Lusi hanya ingin menjadi lebih baik lagi, Lusi ingin lebih berkembang, dengan ikut bergabung pada perusahaan raksasa, seperti Faresta group.
Duduk sendiri di taman belakang mansion, menikmati sore hari yang di iringi hembusan angin sepoi-sepoi. Lusi memandang taman bunga yang sangat terawat.
"apa yang kamu lakukan Lusi…?" tanya ayah Lusi tiba-tiba datang dan duduk di samping Lusi.
"ayah…" sapa Lusi yang sadar dia sempat melamun, hingga tidak tahu sang ayah datang.
"apa ada masalah sayang? tidak biasanya kau akan duduk sendiri dan termenung?" tanya ayah Lusi yang sangat tahu bagaimana putrinya?
"tidak ayah…tidak ada masalah apapun?" geleng Lusi dengan senyum tipisnya melihat pada sang ayah.
"kamu tahu nak…kamu tidak pandai dalam berbohong. Ayah tahu itu…"
Lusi sangat menyadari, tidak akan bisa dengan mudah membohongi ibu atau ayahnya yang sangat mengenal baik dan mengerti dirinya dari siapapun? Lusi menghela nafasnya sebelum membalas ucapan sang ayah.
"ayah…!" ucap Lusi memandang jauh pada taman bunga di hadapannya.
__ADS_1
"apa keputusan Lusi sudah benar?" tanya Lusi yang masih kepikiran akan kepindahannya ke perusahaan Faresta group, dan meninggalkan perusahaan Wirajaya group.
Ayah Lusi sangat tahu, apa yang di maksudkan oleh putrinya ini?
"untuk menjadi lebih baik dan berkembang pesat, kita harus berani mengambil keputusan dan meninggalkan semua yang menurutmu sudah pantas untuk di tinggalkan, walupun itu berat, masa depanmu…hanya kamu yang bisa menentukannya nak… bukanlah orang lain. Kenali hatimu? cari tahu apa yang di inginkan hatimu sendiri?" balas ayah Lusi dengan tatapan teduh melihat sang putri.
Lusi memandang mata teduh sang ayah yang memandangnya dengan penuh kasih sayang.
"kau tahu sayang…hidup ini panjang, penuh perjuangan, dan bahkan menguras semua emosimu. Semua hasil yang terbaik tidak bisa di raih tanpa perjuangan dan usaha kita. Untuk menjadi lebih baik kita perlu usaha yang bahkan menguras semua emosi dan perasaan kita. Jadi ayah harap kamu bisa menyikapi dan menjalaninya dengan apa yang sudah di takdirkan padamu, semua akan menjadi lebih baik bila kamu bisa yakin semua akan baik-baik saja." ungkap ayah Lusi, dia ingin sang putri tidak mudah putus asa akan apa yang Lusi pilih saat ini.
Lusi mencoba mencerna semua yang di katakan oleh sang ayah, Lusi tersenyum senang. Lusi bersyukur di saat sulitnya dalam dilema pilihan, masih ada ibu dan ayahnya yang akan selalu hadir dan ada di sisinya, untuk memberikan kekuatan dan saran baik, agar Lusi tidak mudah tersesat serta masuk dalam pemikirannya sendiri.
"kuatlah nak…ayah akan selalu ada dan mendukung mu, pilihanmu untuk keluar dari perusahaan Wirajaya group, dan bergabung pada perusahaan Faresta group adalah pilihan yang sudah bagus menurut ayah. Lagi pula kamu tidak ada masalah apapun pada perusahaan Wirajaya group? yang mengharuskanmu merasa bersalah keluar dari sana. Berkembanglah nak…itu hak mu, jangan memikirkan apapun yang orang bicarakan tentang mu…" ungkap ayah Lusi yang masih berusaha, membantu perasaan Lusi yang tidak nyaman dan takut di anggap penghianat pada perusahaan Wirajaya group hilang, agar Lusi bisa merasakan kenyamanannya bekerja pada perusahaan Faresta group.
Lusi dapat mengerti maksud dari sang ayah, Lusi merasa lebih baik setelah berbicara dan mendapatkan nasehat dari sang ayah.
"terima kasih ayah, ayah selalu ada untuk Lusi." ungkap Lusi yang langsung memeluk sayang ayahnya.
Begitu pula ayah Lusi, merasa senang bila putrinya bisa bangkit kembali dan bersemangat lagi. Ayah Lusi akan melakukan apapun untuk putri satu-satunya, bahkan menghancurkan semua yang menghalangi jalan sang putri.
Dalam hati sang ayah yang melihat perkembangan sang putri, dia ingin segera memutuskan untuk menceritakan segalanya. Siapa sebenarnya dia? siapa Sebenarnya sang ayah? dia ingin sang putri bisa dengan cepat menerima takdirnya dalam hidup ini.
Lusi sudah cukup kuat untuk menghadapi semua musuh, yang ingin menghancurkannya dan seluruh keluarganya.
"iya ayah…!!" balas Lusi melepaskan pelukannya dan menatap mata sang ayah.
"ada yang ingin ayah katakan, dan ayah harap kamu bisa menerima semuanya." ucap ayah Lusi menatap teduh mata Lusi.
"iya ayah katakan saja…Lusi pasti menerima semua yang ayah katakan."
"tapi tidak di sini…ayo kita masuk ke ruang kerja, di sana sudah ada yang lainnya menunggu kita." ungkap sang ayah dengan mimik seriusnya pada Lusi.
Lusi sangat mengenal mimik serius dari wajah sang ayah, dan Lusi tahu…apa yang ingin di katakan oleh sang ayah kali ini? pastilah sangat serius dan sangatlah penting.
"iya ayah tentu saja." balas Lusi dengan menganggukan kepalanya setuju.
Mereka berdua beranjak dari duduknya, melangkah masuk kedalam mansion. Menuju ke ruang kerja di mana sang ayah selalu berada?bila tidak ada kesibukkan bermain dengan kedua cucu kembarnya.
Di dalam ruang kerja yang lumayan luas, sudah ada ibu, Nico dan tuan Erick yang duduk pada sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Menunggu kedatangan Lusi dan ayahnya.
__ADS_1
Lusi seketika merasakan, bahwa saat ini akan ada sesuatu yang sangat penting akan terjadi. Dengan perlahan Lusi ikut bergabung, duduk di samping ibunya, dengan senyum tipisnya Lusi menatap sang ibu yang juga tersenyum padanya.
"baiklah…sudah saatnya kita mengatakan kebenaran ini pada Lusi." ungkap ayahnya membuka pembicaraan mereka.
Nico dan tuan Erick tidak kalah dengan sang ayah yang memasang wajah seriusnya. Lusi menelan salivanya karena seketika tegang sekaligus gugup.
'ada apa ini…? kenapa aku yang berdebar begini?' gumam Lusi dalam hati dengan tubuhnya yang tegang.
Mimik wajah Lusi ikut-ikutan serius, karena melihat ketiga pria yang berbeda umur di hadapannya, memasang wajah seriusnya.
"sayang…kamu harus tahu ini semua…!" ucap ayah Lusi melihat pada Lusi.
Lusi diam tanpa membalas.
"ayah sebenarnya adalah Presdir dari perusahaan Faresta group." ucap tegas sang ayah.
Lusi diam masih mencerna apa yang baru saja di ucapkan oleh sang ayah?
"ayah adalah tuan R.M yang bekerja di balik layar, kamu hanya tahu nama ayah Rama Mahendra. Itu hanyalah nama samaran yang selama ini ayah pakai." ungkap ayah Lusi.
Lusi masih diam dengan mimik wajah datarnya.
'apa yang ayah katakan? dia tuan R.M dari Faresta group…ayah Presdir Faresta group… nama Rama Mahendra adalah nama samaran…!!' gumam Lusi dalam hatinya. dia mencoba mencerna semua perkataan sang ayah, dengan mengulangnya di dalam hati.
"apa ini lelucon ayah…?" hanya pertanyaan itu yang bisa di ucapkan oleh Lusi saat ini.
Ayah Lusi, Nico dan tuan Erick saling melempar pandangannya, karena Lusi nampak jelas tidak percaya dengan apa yang dia dengar? dengan apa yang ayahnya katakan?
"tidak sayang…ayah adalah Presdir dari Faresta group, nama ayah yang sebenarnya adalah Resvan Melviano atau sering di sebut tuan R.M." ungkap ayah Lusi, dan itulah yang sebenarnya.
Presdir Faresta group yang sering di panggil tuan R.M, menyembunyikan dirinya dan jati dirinya beserta keluarga sejak peristiwa penembakan sang putri pertamanya. Lusi Arsinta Melviano yang sebenarnya telah tiada. Kini namanya di pakai oleh saudari kembarnya yang sejak kecil hilang di culik.
(Ceritanya ada pada episode 86, 87, dan 88.)
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.
Jangan lupa vote dan like nya.