
***Hotel R.W.C presiden suite room***
Setelah satu jam melakukan pelacakan pada nomer si penculik nyonya Meli, mereka mulai menemukan titik temu di mana tempat nyonya Meli di sekap? dan di mana nomer tersebut berada saat ini?
Saat itu juga nomer si penculik menghubungi ponsel Lusi, mereka saling memandang melihat ponsel Lusi berdering dan tuan Erick memerintahkannya dengan isyarat untuk menerima sambungan telpon tersebut.
"hallo…!" sapa Lusi menerima panggilan dan melakukan speaker.
"di mana kau…jangan coba-coba untuk menipuku." ucap si penculik rada membentak.
"aku masih berusaha menemukan alamat tempat mu ini, kau pikir aku asli orang dari kota ini, sehingga dengan mudah aku menemukannya?" balas Lusi tidak mau kalah.
"kau bisa share lokasi agar dengan mudah menemukan alamat kami." balas sengit si penculik.
"apa kau pikir aku bodoh dengan jebakkanmu? tempatmu sangat terpencil dan tidak ada kendaraan taksi manapun yang mau kesana dan mau mengantarkan ku, jadi aku masih berusaha menyewa kendaraan sendiri." balas Lusi ingin mengelabui si penculik dan tidak ingin ketahuan kalau dia sudah tahu di mana alamat penyekapan mereka.
Deo yang memang sangat hafal dengan peta kota ini memberitahukan bahwa tempat mereka adalah tempat di pinggiran kota yang sangat jarang penghuni, dengan cepat Lusi pun bisa memanfaatkan itu untuk alasan agar sang penculik tidak menyalah gunakan ketidak tahuan Lusi.
"kau cerdik juga..." balas si penculik.
"bukannya cerdik tuan…tapi memang kenyataannya semua supir taksi menolak untuk mengantarkan ku." ucap Lusi sedikit berbohong.
"aku tidak mau tahu alasanmu, kalau selama dua jam lagi kau tidak datang, aku tidak akan segan-segan menghabisi nyonya Meli." kata si penculik mengancam Lusi.
"baik aku akan usahakan…"
"dua jam sudah cukup lama waktu yang aku berikan, kau mengerti?" peringatan si penjahat.
"baik aku mengerti." balas Lusi.
sambungan telpon pun terputus, mereka masih saling memandang.
"bagaimana tuan Erick apa kau mempunyai rencana strategi untuk masalah ini?" tanya Nico yang duduk seraya menatap ke arah tuan Erick.
"aku tidak tahu jumlah dari lawan kita, apakah anak buah kita cukup untuk menghadapinya atau tidak." balas tuan Erick.
Tampak semua mata memandang ke arah tuan Erick yang ingin mengutarakan semua pendapatnya.
"nona harus membawa Zia masuk ke dalam ruang penyekapan untuk negoisasi dan usahakan negoisasi berjalan dengan cepat, begitu Zia bisa membawa keluar nyonya Meli kami akan membantu menyerang dari belakang, sebelumnya anak buah kami yang tersisa akan mengepung seluruh lokasi untuk antisipasi terjadi hal-hal yang tidak di inginkan bila mereka berbuat curang, apa bisa seperti itu?" tanya tuan Erick melihat ke arah Lusi dan menunggu respon dari Lusi atas semua saran darinya.
"apa bisa dengan semudah itu kita membuat mereka cepat untuk melepaskan nyonya Meli?" tanya Lusi yang masih ragu.
"aku tahu semua tidak ada yang mudah apalagi kita tidak tahu musuh macam apa yang kita hadapi dan apa tujuan mereka? kita harus tetap waspada dan pandai-pandai membaca situasi di sekitar yang mereka rencanakan, karena aku curiga ini hanya jebakan untuk anda nona." ungkap tuan Erick atas apa yang di pikirkannya?
__ADS_1
"aku juga mereasa ada sesuatu yang aneh dari ini semua? jika benar ada kaitannya dengan nona Rania Kiandra, dari awal bertemu tatapannya sangat berbeda padaku, dan aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan." balas Lusi yang merasa curiga atas penculikan nyonya Meli.
"baiklah kita tidak ada waktu lagi, anda dan Zia bersiap-siaplah, tetaplah gunakan baju itu karena di balik jas hitam itu ada rompi anti peluru yang bisa melindungi anda nona Lusi, hanya saja anda harus menambah senjata yang nantinya bisa anda gunakan." ungkap tuan Erick memandang serius Lusi.
"jadi anda yang sudah memberikan semua senjata yang di pakai Lusi saat penyerangan di Aula?" kali ini pertanyaan datang dari Nico yang memang sudah curiga Lusi menyerang menggunakan senjata milik mafia King Dragon.
"itu terpaksa aku berikan untuk melindungi diri nona Lusi, dan itu sangat berguna melatih semua yang sudah nona pelajari karena aku yakin nona sangat pandai dan sudah berusaha melindungi dirinya." jawab tuan Erick menatap ke arah Nico yang menatapnya tajam.
Nampak Nico menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"baiklah…ku harap kali ini kau tidak shock lagi setelah membunuh seseorang." ucapnya melihat ke arah Lusi yang juga memandang Nico.
"akan aku usahakan, karena aku membunuh orang jahat, dan aku hanya ada pada dua pilihan membunuh atau di bunuh, jadi aku lebih memilih membunuh untuk bertahan hidup."balas Lusi mantap pada pilihannya.
"baiklah…mari segera bersiap." balas Nico dan nampak ada kelegaan dari raut wajahnya melihat pilihan dan jawaban Lusi yang sangat mantap tanpa ragu sedikitpun.
Mereka pun melakukan persiapan dan segera berangkat dengan semua peralatan dan sisa anak buah King Dragon, Lusi sengaja turun lebih dulu bersama dengan Zia melalui tangga darurat menuju ke parkiran basement agar tidak ada yang mengenali mereka, Lusi dan Zia menggunakan mobil yang di pakai Deo kemarin untuk menjemput Lusi dari hotel Wirajaya.
Perjalanan pun di lakukan ke lokasi penyekapan nyonya Meli dengan kendaraan yang berbeda dan mereka menjaga jarak agar tidak ada yang curiga, tetapi masih saling terhubung oleh ponsel mereka yang sudah di modifikasi.
...----------------...
Sementara di lain tempat Ardian sedang mengamuk di mansionnya pada ke tiga anak buah yang tidak becus mengawal sang mama, Ardian mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya bahwa mamanya telah di culik saat perjalanan ke acara pertemuan di hotel R.W.C.
"kami kalah jumlah tuan." jawab sang ketua pengawal yang mengawal nyonya Meli.
"kenapa kalian tidak mengejar mereka?" tanya murka Ardian dengan wajah yang sudah merah padam karena marah.
"kunci mobil kami di rampas dan kami tidak bisa mendapatkan kendaraan lain." jawab sang ketua pengawal dengan menahan rasa sakit di wajahnya.
Ardian menahan amarahnya seraya melihat kembali ponsel dari salah satu anak buah yang menerima rekaman video penyekapan nyonya Meli, dan video itu dikirim oleh nomer salah satu anak buahnya di mana salah satu dari ponsel mereka di rampas oleh si penculik.
"bagaiman Gavin apakah sudah kau siapkan segalanya?" tanya Ardian pada Gavin yang berdiri di belakangnya.
"sudah tuan semua anak buah kita sudah siap menuju ke tempat penyekapan." jawab Gavin.
Dengan bersamaan terdengar bunyi dering dari ponsel yang menerima kiriman video tersebut, dan panggilan tersebut datang dari nomer ponsel anak buahnya yang di rampas.
"hallo…" ucap kasar Ardian menerima telponnya.
"uuuppp…tuan anda sedikit tidak ramah…" balas dari seberang.
"apa maumu?" tanya Ardian secara langsung pada poinnya.
__ADS_1
"tuan…anda tidak sabaran rupanya!" balas si penculik.
"jangan banyak berbelat Belit, cepat bicara!" perintah mutlak Ardian yang menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya kuat.
Tatapan mata Ardian tajam menusuk dan sangat terlihat aura gelap akan amarahnya.
"hahahaha…baiklah, baiklah…cepat datang dengan uang tebusan 20 milyar yang saya minta, dan jangan coba-coba melapor pada polisi ataupun membawa serta anak buah anda, bila anda melanggarnya aku tidak akan segan-segan menembak nyonya cantik ini." ungkap si penculik dengan nada santai seraya terus tertawa akan nada amarah Ardian.
Ardian benar-benar menahan amarahnya, dia tidak ingin kehilangan orang tercintanya lagi dengan cara penculikkan yang berbuntut kehilangan nyawa.
Ardian kembali teringat saat sang istri di culik dan meregang nyawa akibat dia melanggar semua yang di katakan sang penculik, Ardian tidak ingin kejadian ini terulang kembali dan cukup istrinya yang menjadi korban penculikkan.
Ardian benar-benar menahan rasa kecewa dan amarah yang datang secara bersamaan di hatinya, dia pun memutuskan untuk mengambil jalan aman untuk menyelamatkan mamanya.
"baiklah, kau tenang saja aku akan datang hanya bersama asisten ku saja." balas Ardian mengalah mencari keamanan untuk sang mama.
"bagus…aku pegang omonganmu tuan Ardian Adhitama." balas si penculik.
Sambungan telpon pun terputus begitu saja, Ardian menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya kuat sehingga buku-buku jarinya memutih, dan tatapan tajam menatap ke arah semua anak buahnya yang tidak becus dalam penjagaan.
"gavin cepat kau siapkan uang 20 milyar dan hanya kita yang akan berangkat ke lokasi penyekapan, dan terus perintahkan anak buahmu menyelidiki dan memantau tempat itu melalui nomer ponsel ini." perintah Ardian seraya menyerahkan ponsel anak buahnya kepada Gavin.
"siap tuan." jawab Gavin menerima perintah dan segera berlalu menyiapkan apa yang di perintahkan tuannya.
Ardian melihat sekilas ketiga anak buahnya yang duduk bersimpuh di hadapannya, dia memerintahkan pada anak buahnya untuk pergi dari hadapannya.
Lalu Ardian berbalik badan menghadap ke arah photo kedua orang tuanya yang terpajang di ruangan tersebut, dia lama memandang wajah sang mama yang tersenyum manis dan terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda.
"mama… maafkan Ardian yang tidak bisa menjaga mama dengan baik, mama Ardian mohon bertahanlah, tunggu Ardian akan menyelamatkan mama bagaimanapun caranya." gumam Ardian seraya masih memandang wajah sang mama pada photo.
Mata yang tadi tajam menusuk seketika berubah berkaca-kaca menahan air matanya karena merasa sedih mama yang sangat dia cintai dalam bahaya, dan kecewa pada dirinya sendiri yang tidak becus menjadi seorang putra yang tidak bisa menjaga sang mama dengan lebih baik lagi.
Ardian bersumpah pada dirinya sendiri, kali ini akan menyelamatkan mamanya dan tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu menimpa sang istri tercinta.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1