
***Mansion Keluarga Melviano***
Lusi dan Ardian berada di dalam kamar tidur pribadi mereka yang ada pada mansion keluarga Melviano. Sementara waktu, lusi menginginkan tinggal bersama kedua orang tuanya di sana, dan tentunya Ardian menyetujui keinginan istrinya.
Ardian dan Lusi tengah duduk berselojor manja saling merangkul saat ini, di atas ranjang mereka. Ardian ingin meminta penjelasan terkait kejadian yang ada di perusahaan Kiandra grup.
"Sayang…kau hutang penjelasan padaku mengenai kejadian siang ini?" Ungkap Ardian sembari memainkan lembut rambut panjang hitam Lusi.
"Seperti yang kamu lihat. Tuan R.M adalah nama papa yang sebenarnya yaitu Resvan Melviano. Papa menyembunyikan identitasnya untuk melindungi ku dari setiap musuh kami yang menginginkan kehancuran keluarga kami." Balasnya mulai menjelaskan dari awal.
"Aku cukup terkejut mendengar kebenaran ini. Kau presdir dari perusahaan raksasa yang cukup memiliki pengaruh besar pada beberapa perusahaan besar yang ada di dalam dan di luar negeri. Aku tidak pernah menyangka, jika istriku ini memiliki pengaruh yang berada di atasku."
Lusi melihat ke arah wajah Ardian, dia sedikit mendongak untuk dapat melihatnya.
"Mengapa kamu berkata seperti itu? Aku tetap istri yang akan selalu mengikuti semua aturan mu. Di antara kita tidak boleh memiliki aturan di bawah atau di atas. Aku istrimu dan kamu adalah suami ku. Kamu mengerti sayang?" Ucapnya terlihat sedih.
Ardian tahu, jika istrinya itu cukup kecewa akan perkataannya. Dia pun memberikan sebuah kecupan pada bibir sang istri.
"Baiklah…maafkan aku. Kita akan tetap menjadi pasangan suami istri pada umumnya. Aku tidak bermaksud apapun. Lagi pula untuk mengelak takdir hidup mu yang sudah terjadi dan di gariskan. Itu tidak akan mungkin dapat kau dan aku tolak begitu saja."
"Kamu benar sayang. Aku tidak pernah membayangkan jika memiliki jalan hidup dan takdir hidup seperti ini. Ini sebuah keajaiban untuk ku. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan, telah memberikan aku kesempatan hidup untuk kedua kalinya."
"Jadi apa kau akan mulai menceritakan? Apa yang sebenarnya terjadi padamu beberapa hari ini?" Tanya Ardian sembari mengecup sayang pucuk kepala Lusi.
Lusi pun menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana ia bisa bertemu kembali dengan papa dan mama kandungnya setelah kecelakaan yang terjadi 5 tahun yang lalu. Bagaimana kedua orang tuanya berusaha untuk memulihkan kondisinya yang sempat koma selama 5 bulan lebih. Bagaimana kedua orang tuanya selalu mendukung setiap apa yang Lusi ingin lakukan di dalam persembunyian mereka dan hilangnya ingatan Lusi.
Lusi juga menceritakan, jika kedua orang tuanya tidak mengetahui kalau Lusi yang dulu sudah menikah dan memiliki anak kembar. Kedua orang tuanya hanya fokus menjaga Lusi, menjaga satu satunya keturunan dari keluarga Melviano. Sehingga saat mama dan papa Lusi mengetahui jika putrinya memiliki seorang suami dan sepasang anak kembar, mereka begitu bahagia. Hingga memutuskan untuk membuka rahasia keluarganya yang mereka simpan.
Lusi menceritakan semuanya tanpa ada yang di lewatkan sedikitpun. Hanya saja kejadian dan siapa dalang di balik kecelakaan yang terjadi padanya 5 tahun yang lalu, Lusi belum siap untuk menceritakannya. Ingatan itu sungguh menyakitkan baginya.
"Ada apa sayang? Apa ada yang kau sembunyikan dariku selain jati dirimu yang sebenarnya?" Tanya Ardian merasakan kegelisahan Lusi.
"Sayang…sebenarnya…!" Ragunya untuk mengatakan masalah kecelakaannya.
"Ada apa sayang…Katakanlah, jangan ada masalah lagi yang mengganjal hatimu. Aku suami mu yang selalu akan mendukung dan membantu mu kapanpun. Aku ada untukmu sayang!" Ucap Ardian meyakinkan istrinya tersebut.
Lusi menyiapkan hatinya terlebih dahulu. Ia menghela nafasnya perlahan sebelum menceritakan kejadian naas dan mengerikan itu kepada Ardian.
"Kecelakaan ku 5 tahun yang lalu, adalah ulah dari seseorang." Ucapnya dengan mencoba bersikap tenang, pada kenyataannya saat Lusi mengingat kejadian mengerikan itu. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Ardian dapat merasakan tubuh Lusi bergetar.
"Apa kau takut? Jika terlalu mengerikan bagimu untuk di ceritakan. Jangan menceritakannya. Sudah cukup untuk di kuburan dan di lupakan saja." Ungkap Ardian ingin mengerti perasaan Lusi.
"Tidak sayang. Untuk mengubur dan melupakan itu semua, aku tidak bisa. Sebelum dalamg di balik kecelakaan itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah ia perbuat padaku." Balas Lusi tidak setuju jika harus di lupakan begitu saja.
Walaupun sangat mengerikan bagi Lusi. Dia mencoba untuk menerima dan berteman dengan masa lalunya yang kelam dan mengerikan.
"Kamu harus tahu, jika Rania Kiandra dalang di balik semua ini." Pada akhirnya ia mengucapkan nama itu. Tubuh Ardian seketika duduk tegak dan menatap wajah Lusi dengan teliti. Melihat ke dalam sorot mata wanita itu apakah ada kebohongan di sana. Tentunya semua itu benar.
__ADS_1
"Rania dalang di balik semua ini!!" Ulangnya untuk memperjelas semuanya.
"Iya. Rania memakai jasa organisasi mafia untuk mencelakai ku. Saat detik detik terakhir kecelakaan itu, sebelum aku jatuh. Dia mengatakan sesuatu sehingga nekat berbuat seperti itu padaku." Ucapnya. Kejadian itupun berputar kembali di ingatan Lusi.
Flashback on…
…Lima tahun yang lalu…
Lusi di culik ketika dia sedang berjalan sendiri saat pulang berbelanja dari mini market yang ada di dekat bungalow yang mereka sewa.
Lusi di sekap dan di siksa selama tiga hari penuh, tanpa rasa ampun dan juga tidak di berikan makan sama sekali. Kondisi tubuhnya penuh luka akan pukulan, tendangan, dan cambukan dari anak buah Rania yang ia sewa.
Kondisi tubuhnya semakin melemah karena tidak di berikan makan dan minum selama tiga hari, sebelum ia di buang ke dalam jurang yang cukup tinggi dan dalam. Malam terakhir ia bertemu Rania Kiandra.
Saat tubuhnya akan di bawa ke pinggir jurang oleh tiga orang. Tubuhnya yang lemah tidak terikat sama sekali. Mereka menantikan kedatangan Rania sebelum membuang tubuh Lusi masuk ke dalam jurang.
"Apa kalian sudah siap untuk membuangnya?" Ucap Rania bertanya pada tiga anak buahnya.
"Sudah nona. Tubuhnya yang lemah dan penuh luka tidak akan dapat melawan. Ini akan terjadi seolah-olah seperti sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja." Balas salah satu anak buahnya.
"Di mana dia…aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya."
"Di sana nona. Mari saya tunjukkan."
Rania melangkah mendekati tubuh Lusi yang sudah terkapar di tanah dengan kondisi yang mengenaskan penuh luka. Rania menggunakan kakinya untuk menguncang tubuh lemah Lusi.
"Baik nona." Balas pria bertubuh besar itu. Pria itu menggunakan sebotol air yang di siramkan ke wajah Lusi, sehingga wanita malang itu bangun dan sadar.
Lusi yang merasakan sensasi segar pada wajahnya yang lama tidak menyentuh air, bangun dengan perlahan dan kini dapat melihat jelas siapa yang ada di depannya.
"Rania…!" Panggilnya dengan lemah. Lusi yang tidak tahu apapun tersenyum ke arah Rania. Ia mengira jika Rania datang untuk menolongnya, tetapi itu salah besar.
"Rania, kau datang untuk menolongku." Ucapnya sembari menyentuh kaki Rania dan berusaha bangkit dengan berpegangan pada kain celana panjang yang Rania gunakan.
Rania tersenyum puas melihat bagaimana menderitanya Lusi saat ini. Wanita jahat itu menendang keras wajah Lusi, hingga tubuh Lusi yang lemah terjungkil ke belakang.
"Aku datang bukan untuk menolong mu, adikku…!" Ucapnya dengan tatapan jijik dan senyum jahatnya ke arah Lusi yang melihatnya tidak percaya.
"Aku datang ingin menyingkirkan mu untuk selamanya." Ungkapnya yang cukup membuat Lusi terkejut tidak percaya.
"Menyingkirkan ku untuk selamanya. Apa maksudmu…?" Tanya Lusi dengan nada lemahnya.
Perasaannya tidak nyaman akan perkataan dan raut jahat Rania. Lusi tidak dapat mempercayai itu semua, air matanya jatuh luluh begitu saja.
"Aku ingin kau menghilang dari hidupku dan juga hidup Ardian. Kau tidak pantas bersama dengannya. Ardian adalah milikku." Ungkapnya. Lusi terkejut dan meremas kuat rumput yang ada di sana.
"Kau tega melakukan ini, karena ingin bersama Ardian."
"Iya, karena sejak awal Ardian adalah milikku."
__ADS_1
"Jika sejak awal Ardian milikmu. Mengapa kau menolak perjodohan itu…" Kini suara tinggi Lusi terdengar, mengeluarkan semua sakit hati dan rasa marahnya terhadap perbuatan Rania.
"Kau hanya aku jadikan kambing hitam untuk melihat seberapa pantasnya Ardian untukku. Namun ternyata, kambing hitam ini begitu serakah untuk menjadi seorang Ratu di keluarga Adhitama." Ungkapnya dengan senyum yang meremehkan Lusi.
"Kau bahkan tidak tahu diri dan terus menjadi dan memakai trik murahan untuk menjerat Ardian pada rencana licikmu, agar dapat menguasai kekayaan Ardian."
"Tidak. Aku tidak seperti itu. Kami saling mencintai." Elaknya.
Rahang Rania mengeras mendengarkan kata cinta dari mulut Lusi. Ia pun melangkah mendekati Lusi, kemudian menampar keras pipi Lusi hingga ujung bibir wanita malang itu mengeluarkan darah segar.
"Saling mencintai…Kau tidak pantas mendapatkan cinta dari Ardian. Cintanya hanya untukku." Histeris Rania.
Lusi melihat tajam Rania yang ada di hadapannya itu. Dia pun tertawa keras karena merasa lucu akan sikap Rania yang sangat menginginkan Ardian, suaminya.
Rania tidak suka mendengar suara ketawa Lusi, seakan mengejek dirinya.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Rania.
"Kau…aku menertawakan dirimu yang malang." Ucap Lusi menekan setiap kata-katanya.
"Kau sungguh malang. Kau tidak tahu malu, karena telah mencintai suami adiknya sendiri. Wanita malang yang mengharapkan cinta dari pria yang bahkan tidak melihatmu sama sekali." Balas Lusi dengan tatapan mata yang meremehkan Rania.
Tamparan keras kembali melayang ke arah wajah Lusi, kali ini tiga kali. Lusi terkapar akan pukulan yang membuat pipinya kebas dan telinganya yang berdengung.
"Enyah kau dari muka bumi ini. Cepat singkirkan wanita murahan ini…!" Histeris Rania marah akan perkataan Lusi yang menghina dirinya.
Rania bahkan melayangkan beberapa kali tendangan kakinya ke arah tubuh Lusi yang hampir tidak sadarkan diri. Kondisi tubuh Lusi yang mengenaskan, bahkan tidak membuat Rania merasa puas sama sekali.
Dialah wanita kejam psikopat yang tidak memiliki hati nurani. Membunuh adiknya sendiri hanya untuk mendapatkan suami adiknya yang sudah lama ia cintai.
Dua anak buah Rania mengangkat tubuh lemah Lusi, dan segera membuang tubuh itu ke dalam jurang yang tinggi dan dalam. Jatuhnya tubuh Lusi di iringi oleh tawa jahat dari Rania. Lusi hanya dapat pasrah dan memejamkan matanya, berharap ia tidak merasakan rasa sakit saat ajal menjemputnya.
"Selamat tinggal Ardian, Nathan, Nathalie.... Mama mencintai dan menyayangi kalian. Maafkan mama harus pergi…!" Gumam lusi sebelum ia benar-benar tidak sadarkan diri saat tubuhnya masih jatuh ke bawah jurang dan masuk ke dalam laut yang dalam, dingin dan gelap.
Itulah cerita Lusi tentang kejadian naas yang menimpanya. Kecelakaan yang di rekayasa oleh Rania dan anak buahnya. Kenangan yang sangat mengerikan bagi Lusi. Kenangan yang tidak ingin di ingatnya lagi. Namun kenangan itulah yang akan menjadi hukuman untuk Rania. Wanita kejam itu, harus mendapatkan hukuman yang setimpal akan perbuatannya terhadap Lusi.
Flashback off…
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
"
__ADS_1