Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 101 Perasaan Cinta Ardian Adhitama.


__ADS_3

***Apartemen Ardian Adhitama***


Dua insan yang sedang terbakar api asmara, sudah tidak bisa menahan gejolak panas yang mereka berdua rasakan. Ardian terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada setiap inci tubuh Lusi, tak satupun dia lewatkan.


Lusi menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Ardian, Lusi menggeliat nikmat pada setiap kecupan yang di lakukan Ardian pada tubuhnya. Lusi terbakar api asmara, yang ingin segera di tuntaskan dan mencapai suatu kenikmatan.


"sayang…!" bisik Ardian lembut pada telinga Lusi, yang membuat Lusi merinding akibat nafas Ardian.


"Ardian…" balas Lusi berbisik seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Ardian.


"apa boleh aku melakukannya?" ucap Ardian menatap lembut serta mesra Lusi yang ada di bawahnya.


Lusi hanya membalas dengan tatapan lembutnya, dan anggukkan kepalanya dengan wajah yang merona malu. Lusi tidak dapat menolak permintaan Ardian, karena diapun menginginkannya juga.


Ardian yang mendapatkan izin dari Lusi, begitu bahagia dan tersenyum senang menatap Lusi. Ardian mencium kembali kening Lusi, kedua matanya, pipi dan bibir yang sangat terasa lembut dan manis baginya.


Ciuman kedua bibir mereka semakin panas saling menyambut, kecupan dan pagutan mereka terus memanas. Ardian dengan lembut membawa tubuhnya lebih dalam lagi pada pelukkan Lusi, dengan sempurna dan kenikmatan yang tiada tara. Hanya satu yang mereka harapkan, menjadi satu irama dalam satu tujuan menuju puncak kenikmatan.


Ardian maupun Lusi sama-sama seirama memberikan apa yang mereka inginkan? Hawa dinginnya ruangan, tidak mempengaruhi mereka berdua yang telah basah seluruh tubuh, akan keringat yang terus bercucuran.


Malam ini begitu indah untuk mereka lewati, dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang begitu sempurna. Ardian begitu bahagia bisa bersama Lusi malam ini, harapan yang besar dalam hatinya, agar tidak terpisahkan lagi dari wanita yang sangat ia cintai.


Lusi lupa akan segalanya saat ini, akal sehatnya tidak bekerja baik akan gairah yang telah memuncak dalam tubuhnya. Lusi hanya merasakan apa yang dia lakukan malam ini? suatu kewajaran dan kewajiban bagi sepasang suami-istri. Apalagi mereka telah lama berpisah? wajar bagi Ardian menginginkannya, karena terlalu lama memendam hasrat dalam tubuhnya.


Rengkuhan dan pelukkan erat keduanya saat sama-sama mencapai puncak yang mereka inginkan, begitu lembut ciuman Ardian pada bibir Lusi, dan tatapan matanya penuh akan cinta dan kasih sayang.


"terima kasih sayang…!" ucap Ardian menatap dalam dan penuh cinta mata Lusi.


Lusi tidak bisa menjawab apapun? dia hanya bisa tersenyum untuk menanggapi ucapan Ardian.


Perlahan Ardian merebahkan tubuhnya di samping Lusi, Ardian menggiring tubuh Lusi agar menghadap padanya.


"terima kasih kamu telah memberikan aku kesempatan kembali, aku tidak akan melepaskan mu untuk siapa pun? karena kamu hanyalah milik ku, hanya istriku satu-satunya." ucap Ardian menatap penuh cinta dan membelai lembut pipi Lusi.


Lusi hanya bisa diam menatap mata Ardian, tetapi dalam hatinya masih tidak merasakan apapun untuk Ardian? Lusi masih bimbang tentang perasaannya saat ini, ia tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk selanjutnya? ini terjadi begitu cepat dan tidak bisa di hindari.


"apa yang kamu pikirkan…?" tanya Ardian melihat Lusi hanya diam menatapnya.


"tidak ada…maafkan aku, tapi hatiku belum bisa merasakan apapun untuk mu…?" jawab Lusi jujur, karena dia tidak ingin bohong akan perasaan hatinya.


"aku tahu dan aku mengerti…aku akan menunggumu sampai hatimu siap menerima cintaku, hanya satu yang aku minta, jangan pernah menghindar dan menjauh dariku." ucapnya dan Lusi masih hanya diam.


"aku mencintaimu dengan tulus, dan tidak ingin kehilanganmu lagi, tetapi aku tidak bisa memaksamu untuk harus membalas mencintai ku. Kamu jadilah dirimu sendiri, jalani apa yang ingin kamu jalani, dan rasakan apa yang ingin kamu rasakan. Aku yakin suatu hari nanti, saat kamu mengingat semuanya, kamu akan tahu rasa cinta itu ada diantara kita berdua."


"bagaimana kalau ingatanku tidak kembali?" tanya Lusi masih meragukan ucapan Ardian.


"aku akan menerima takdir itu. Aku hanya akan percaya, Tuhan akan memberikan takdir atau hidup kita yang terbaik, semua sudah di gariskan. Kita hanya bisa berusaha menerima dan menjalaninya. Apapun aku akan terima? dengan terus berusaha membuat mu kembali padaku." balas Ardian dengan masih membelai lembut pipi Lusi dan menatapnya penuh cinta.


"aku tidak tahu…kenapa takdir begitu kejam padaku? dari kecil hingga sekarang pun hidupku penuh dengan lika-liku, saat kebahagian akan datang padaku, sesuatu juga pasti akan terjadi padaku." ucap Lusi sedih dengan menundukkan tatapan matanya, karena merasakan matanya yang sudah menghangat.


Lusi hanya tidak mengerti mengapa hidupnya penuh akan lika-liku dan rintangan?


"sayang…aku akan selalu ada untuk mu, kamu tidak sendiri. Aku, anak-anak, dan kedua orang tua kita selalu bersama mu." ucap Ardian meyakinkan Lusi, seraya mengangkat kembali pandangan Lusi, agar mereka bisa saling menatap.


"terima kasih…" ucapnya bersamaan dengan tetesan air mata yang meluncur di pipinya.

__ADS_1


"jangan pernah merasa kalau kau sendiri." balas Ardian dengan lembut menghapus air mata Lusi.


Ardian dengan penuh kasih sayang mengecup kening Lusi, menekan ciumannya untuk menyalurkan rasa cinta di dalam hatinya. Lusi dapat merasakan cinta Ardian padanya tulus, Lusi masih memiliki harapan bila semua akan baik-baik saja. Takdir atau hidupnya akan berakhir bahagia.


Di saat Ardian menikmati kecupannya, dia pun berniat merengkuh manisnya bibir Lusi. Tetapi Lusi menghentikannya, yang membuat Ardian heran dan merasakan takut dalam hatinya, apakah Lusi sudah mulai menolaknya lagi? apakah Lusi akan bersikap dingin kembali padanya?


"ada apa sayang…?" tanya heran Ardian di sela-sela mulutnya yang di tutupi oleh jari-jari Lusi.


"Ardian…aku lapar…" balas Lusi dengan tatapan memelasnya.


Adrian masih mencerna apa yang di katakan oleh Lusi? Lusi tidak menolaknya kan? itu pertanyaan dalam hatinya.


"apa sayang…?" tanya Ardian meyakinkan lagi.


"aku lapar…dari tadi sore aku tidak makan, apakah bisa kita makan dulu? baru melanjutkan pembicaraan kita?"


"tentu saja sayang…baiklah kau bersihkan dirimu, aku akan meminta Gavin untuk membawa makanan kesini."


"tidak… jangan…!"


"kenapa…ada apa…?"


"jangan suruh Gavin datang…!"


"kenapa…?" tanya Ardian heran.


"aku malu bila dia tahu aku ada di sini dan bersamamu." ucap Lusi pelan dengan mata sendunya.


"kenapa mesti malu, toh dia juga sudah tahu, kamu datang bersamaku ke sini, karena dia supirnya."


"ada apa?"


"kenapa dia bisa tahu?"


"karena saat kamu menghubungi ku, saat itu aku dan Gavin akan menemui rekan bisnis dekat hotel tersebut, ya otomatis gavinlah yang menjadi supirnya."


"ooo…tidak…aku tidak melakukan apapun kan dalam perjalanan…?" tanya Lusi dengan mimik wajah penasaran.


Adrian diam dan berpikir sejenak.


"Ardian…kenapa diam?"


"bagaimana aku menjelaskannya ya…?" balas Ardian berpura-pura berpikir.


"apa aku melakukan sesuatu yang memalukan…?" tanya Lusi cemas.


Karena dia sangat tahu bila seseorang berada dalam pengaruh obat perangsang, mereka akan bertindak liar karena efek obat, yang menginginkan sentuhan dan berhubungan badan, jadi akan terlihat liar tanpa sadar.


"kamu hanya terus memeluk ku dan berusaha menciumiku di depan Gavin…" ungkap Ardian, yang membuat mata Lusi membulat sempurna karena terkejut akan tindakannya yang tanpa sadar.


Ardian tidak akan mengatakan, bila Lusi berusaha membuka semua bajunya di hadapanku dan Gavin, yang otomatis membuat Gavin tidak berani melihat ke arah kami berdua. Ardian akan merahasiakan sebagian dari tindakan liar Lusi, agar dia tidak merasa malu padanya dan Gavin.


"apa separah itu aku…?"


"itukan karena kamu dalam pengaruh obat perangsang." balas Ardian seraya mentoel hidung mancung Lusi.

__ADS_1


"Oya masalah obat perangsang, kamu dapat darimana?" tanya Ardian yang dari tadi penasaran. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Lusi?


"ada seseorang yang berusaha menjebak ku, dan aku akan membuat perhitungan padanya." ucap Lusi dengan tatapan devilnya yang membuat Ardian takut dan ngeri melihatnya.


"siapa…?"


"Rania Kiandra." ucap tegas Lusi masih menatap tajam Ardian.


"Rania Kiandra, bagaimana bisa? kenapa kau bertemu dengannya?"


"dia yang menghubungi ku dan ingin bertemu, dan aku datang tanpa rasa curiga sama sekali padanya, tetapi dia sudah berani berbuat ini padaku."


"apa yang dia inginkan? sehingga kamu mau bertemu dengannya?"


Lusi melihat intens Ardian, Lusi masih bisa mengingat semua apa yang dirinya dan Rania bicarakan, Rania berbuat jahat padanya semata-mata karena Ardian.


"kamu…!" ucap Lusi yang membuat Ardian mengerutkan alisnya melihat Lusi heran.


"kamu yang dia inginkan dariku." jawab jelas Lusi.


Lusi tahu akan tatapan Ardian padanya, Ardian seakan meminta jawaban darinya.


"aku…apa maksudmu…?"


"Rania menyukaimu, Rania Kiandra mencintai mu Ardian."


"oya…!" jawab singkat Ardian yang malah membuat Lusi mengerutkan alisnya, melihat heran pada Ardian.


"ternyata kamu sudah tahu, kalau Rania menyukai dan mencintai mu Ardian?" tanya Lusi yang terkejut karena Ardian tahu akan perasaan Rania padanya.


"iya…sudah lama aku perhatikan, kalau Rania memiliki perasaan suka padaku, dan mama juga tahu." jawab santai Ardian, yang membuat Lusi memicingkan matanya melihat Ardian.


"lalu kamu bagaimana?" tanya curiga Lusi, ada perasaan tidak suka dan tidak rela melihat Ardian bersama Rania dalam hatinya.


"bagaimana? maksudmu?"


"perasaan mu pada Rania bagaimana?" tanya Lusi dengan tatapan intensnya pada Ardian dia ingin melihat mimik wajah Ardian.


"tidak ada apa-apa, aku tidak memiliki rasa apapun padanya, karena aku hanya mencintai satu orang wanita saja, yaitu istriku, Kamu." ucap Ardian seraya mengecup bibir Lusi sekilas.


"kau berbohong…apa karena ada aku, kau mengatakan tidak memiliki perasaan apapun pada Rania?"


"tidak sayang…aku jujur…tatap mataku !! apakah aku bohong…?" tanya balik Ardian dengan tatapan jujur dari matanya.


Lusipun dapat melihat kejujuran itu dari sorot mata Ardian padanya. Lusi merasa lega di dalam hatinya, hati Lusi senang Ardian bisa setia di saat dirinya menghilang.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2