Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 86 Kebenaran Mulai Terungkap.


__ADS_3

Deo datang menjemput dengan tepat waktu, Ardian dan Gavin sangat mengenal siapa Deo? karena Deo adalah asisten sekaligus supir pribadi dari wakil presdir Faresta Group, yaitu Nicole Richie.


Tetapi Lusi hanya mengatakan Deo adalah kakak kandung dari Zia teman wanitanya, sedangkan Lusi hanya mengatakan kalau ibu dan ayahnya ada di rumah seorang teman kenalan sang ayah, Lusi belum tahu kalau Nico ada apa tidak bersama dengan kedua orang tuanya? karena dia takut salah bicara.


Lusi mengenal Nico karena sang ayah yang lebih dulu kenal dengan Nico, sebab dulu ayah Lusi pernah bekerja bersama dengan Nico, tetapi tidak tahu nama perusahaannya apa? hanya saja ayah mengatakan Nico adalah teman kerjanya dulu sebelum mengelola restauran milik keluarganya.


Ardian tidak banyak tanya lagi tentang Deo, Ardian hanya fokus agar bisa cepat bertemu dengan kedua orang tua Lusi, banyak yang ingin Ardian tanyakan pada mereka tentang jati diri Lusi yang sebenarnya.


Dalam perjalanan menuju ke rumah teman kedua orang tua Lusi. Ardian, Lusi dan si kembar satu mobil dengan di kendarai oleh Ardian sendiri, Lusi dan si kembar duduk di bangku belakang mobil, mereka asyik bercerita tentang kegiatan sekolah si kembar dan teman-teman si kembar.


Tidak ada pembicaraan sama sekali di antara Lusi dan Ardian, mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing saat itu, sampai tiba pada tujuan mereka.


Ardian dan Lusi sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat di depannya, mereka memasuki mansion yang lebih besar dan megah dari mansion Ardian Adhitama.


'apa benar ini alamatnya? apa benar ibu dan ayah ada di sini?' gumam Lusi dalam hati dan tidak percaya akan apa yang dia lihat.


Sebuah mansion yang sangat indah, besar, megah, dan mewah, seperti sebuah istana kerajaan, mereka semua keluar dari dalam mobil dan merasa kagum pada mansion yang mereka lihat.


"silahkan masuk nona Lusi, ayah dan ibu anda sudah menunggu di dalam." ungkap Deo berdiri di depan Lusi dan Ardian.


Lusi dan Ardian hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, mereka semua masuk ke dalam mansion besar tersebut dengan mengikuti petunjuk jalan dari Deo, terlihat Deo sangat kenal dan paham akan mansion tersebut.


Lusi pun menebak pasti ini mansion milik Nico atau tuan Erick, karena tidak menutup kemungkinan mereka bisa memiliki mansion sebesar ini, mereka bekerja pada perusahaan raksasa Faresta Group, yang memiliki gaji dua kali lipat dari perusahaan lainnya.


Sedangkan hati dan pikiran Ardian mengatakan kalau pemilik mansion ini sangatlah kaya raya, bahkan bisa sangat melebihi kekayaan dirinya, dan Ardian semakin penasaran dengan pemilik rumah ini, yang di katakan oleh Lusi adalah salah satu teman kenalan dari ayah Lusi.


Sampailah mereka di dalam ruang tamu mansion yang tidak kalah besar dan mewah, nampak ibu Lusi yang langsung berdiri dari duduknya melihat sang putri datang bersama tamu mereka.


"selamat datang putriku...!" sapa ibu Lusi tersenyum manis dan merentangkan kedua tangannya menyambut Lusi.


"ibu.!" balas Lusi membalas pelukkan sang ibu.


"putriku…" sapa sang ayah yang juga langsung memeluk dan mencium pipi sang putri tercinta.


"ayah…"balas Lusi juga memeluk dan mencium pipi sang ayah.


"apa kabar sayang?" tanya sang ibu yang berdiri di samping Lusi dan sang ayah.


"Lusi baik ibu." balas Lusi tersenyum senang karena sudah lama tidak melihat kedua orang tuanya.


Saat Lusi dan kedua orang tuanya saling melepaskan kerinduan mereka, yang lainnya hanya bisa melihat adegan tersebut.

__ADS_1


Ardian melihat teliti kedua orang tua Lusi yang memiliki aura berbeda, apalagi ayah Lusi yang terlihat masih gagah dan tampan di usianya yang tidak lagi muda, sedangkan ibu Lusi terlihat anggun dan cantik walupun hanya memakai pakaian yang sederhana, wajah kedua orang tua Lusi seperti wajah para bangsawan kaya.


Ibu Lusi pun melihat ke arah si kembar dan Ardian yang berdiri tidak jauh dari mereka, si kembar dan Ardian hanya bisa diam memandang adegan tersebut.


"mereka?" tanya ibu Lusi melihat Lusi dan si kembar secara bergantian.


"mereka si kembar ibu… Nathan, Nathalia sini…" panggil Lusi pada si kembar.


Dengan perlahan si kembar pun melangkah dengan di dampingi oleh Ardian.


"ibu ini si kembar Nathan, dan ini Nathalia." ucap Lusi memperkenalkan si kembar satu per satu.


"sayang ayo kenalkan…ini ibu dan ayahnya mama…" ungkap Lusi sedikit malu menyebut dirinya mama di depan kedua orang tuanya.


"hallo oma… hallo opa…" sapa si kembar secara bersamaan dengan mengulurkan tangannya Salim pada ibu dan ayah Lusi.


"hallo sayang…" sapa balik ibu Lusi yang duduk bersimpuh di hadapan si kembar.


Ibu Lusi menatap intens satu per satu wajah si kembar yang ada di hadapannya, dengan perlahan ibu Lusi menyentuh kedua pipi si kembar dan membelainya dengan senyum di bibirnya tetapi ada air mata haru yang keluar dari matanya.


Seketika ibu Lusi langsung memeluk si kembar dengan air mata haru karena senang bisa melihat mereka dari dekat.


"oooo…cucu oma…" ucap ibu Lusi seraya mencium kepala si kembar secara bergantian.


"ayah ini cucu kita…" ucap ibu Lusi dengan senyum haru melihat sang suami memperkenalkan si kembar pada suaminya.


Semua yang ada di sana sedikit terkejut dan merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh ibu dari Lusi, mereka mengakui si kembar sebagai cucu mereka, dalam hati Lusi dan Ardian pun bertanya-tanya, apakah ibu Lusi hanya senang dengan anak kecil? ataukah ibu Lusi mengakui si kembar cucu mereka karena Lusi menyayangi si kembar?


Ayah Lusi pun ikut duduk bersimpuh di samping sang istri dan di hadapan si kembar, ayah Lusi tersenyum senang melihat si kembar ada di hadapannya, ayah Lusi pun ikut memeluk dan mencium si kembar secara bergantian.


"cucu cucu opa sudah besar." sapa ayah Lusi tersenyum bahagia pada si kembar yang juga ikut tersenyum.


"ibu… ayah…" sapa Lusi yang ingin membuat ibu dan ayahnya sadar dengan ucapan mereka yang mengakui si kembar sebagai cucu mereka.


Ayah dan ibu Lusi pun melihat pada sang putri yang memanggil mereka.


"jangan seperti itu, tidak enak pada papa mereka." ucap Lusi yang melirik kan matanya pada Ardian.


Ayah dan ibu Lusi pun mengerti apa yang di maksudkan oleh sang putri, mereka pun berdiri dan melihat ke arah Ardian yang berdiri di belakang si kembar.


"maafkan kami yang lupa untuk menyapa anda tuan, saya ayahnya Lusi.…!" sapa ayah Lusi pada Ardian dengan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"tidak apa-apa tuan." balas Ardian yang menyambut uluran tangan ayah Lusi.


"mari silahkan duduk, jangan berdiri saja." ungkap sang ayah mempersilahkan tamu mereka untuk duduk.


"ayah, ibu…jangan begitu, pemilik rumahnya mana, tidak sopan Lusi belum menyapanya." ucap Lusi yang tidak enak langsung duduk, sedangkan sang pemilik rumah tidak terlihat batang hidungnya.


"duduklah dulu, nanti Lusi juga akan tahu, dan untuk kalian…" balas ibu Lusi yang menyuruh putrinya duduk dan melihat ke arah si kembar.


"sini duduk sama Oma dan opa, kami masih kangen sama kalian." ucap ibu Lusi duduk berdampingan dengan sang suami seraya memanggil si kembar untuk duduk bersama mereka.


Si kembarpun dengan segera berjalan menuju ke arah ibu dan ayah Lusi yang sudah duduk di atas sofa, Nathan duduk di samping ayah Lusi, sedangkan Nathalia duduk di samping ibu Lusi, posisi si kembar ada di tengah-tengah ibu dan ayah Lusi, mereka duduk berempat di sofa panjang.


"kenapa kalian hanya berdiri saja, ayo silahkan duduk." perintah dari ibu Lusi yang melihat Lusi, Ardian dan yang lainnya masih berdiri.


"ibu apa Lusi bisa bertemu pemilik rumah dulu untuk menyapanya, tidak enak main duduk saja." ungkap Lusi melihat ke arah ibunya yang santai duduk seperti di rumah sendiri.


"duduklah dulu, nanti baru berkenalan dengan pemilik rumah, kita bicarakan dulu kesalah pahaman di antara kalian berdua agar semuanya jelas." ucap ayah lusi mempersilahkan Ardian duduk.


Tanpa banyak bertanya lagi mereka pun duduk di sofa yang masih kosong, Lusi dengan berat hati ikut duduk juga dengan melihat keseluruhan dari suasana ruang tamu.


Lusi mencari sebuah petunjuk untuk mengetahui siapa pemilik mansion ini, tetapi Lusi tidak mendapatkan petunjuk apapun.


"aku tidak akan banyak basa basi lagi pada kalian berdua."ucap ayah Lusi melihat ke arah Lusi dan Ardian secara bergantian.


Ardian dan Lusi pun hanya melihat balik ke arah ayah Lusi, mereka akan mendengarkan dengan teliti dan serius penjelasan kedua orang tua Lusi mengenai jati diri Lusi yang sebenarnya.


Lusi merasakan hatinya terjepit dan sesak, dia merasa deg degan dengan apa yang akan ayahnya katakan mengenai siapa dia sebenarnya? atau ada suatu kebenaran yang akan terungkap, dengan tulus hati Lusi akan menerima apapun kebenaran yang akan terungkap?


Lain halnya dengan apa yang di pikirkan Ardian tentang kebenaran yang akan terungkap? Ardian akan menerima apapun jati diri Lusi yang sebenarnya, dan seandainya Lusi bukan lah Lidya, Ardian akan tetap menerima da membuat Lusi menjadi miliknya dengan apapun caranya.


"tuan Ardian Lusi ini adalah putri kandung kami berdua, dan kami juga punya bukti tes DNA, yang menyatakan Lusi adalah putri kami berdua." ungkap ayah Lusi yang membuat Lusi lega mengetahui kalau dirinya adalah putri kandung ibu dan ayahnya.


Tetapi sekaligus membuat Lusi kecewa karena berarti dirinya dan si kembar bukanlah ibu dan anak kandung.


Ardian pun merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh Lusi, Ardian merasa kecewa akan ungkapan ayah Lusi yang menyatakan Lusi adalah putri kandungnya dan memiliki bukti tes DNA Lusi dengan kedua orang tuanya, tetapi apapun hasil yang membuat Ardian kecewa dia akan tetap menerima dan menjadikan Lusi sebagai istri serta ibu dari anak-anaknya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2