
***** Perusahaan Wirajaya group *****
" Lusi ayo ke kantin, sudah waktunya makan siang!!" ajak mbak Dewi yang menyadarkan ku dari lamunan masa laluku.
"eeehhh mbak Dewi..." cengirku karena kaget.
"kamu melamun?"
"aahhh ngk lah mbak..." jawabku bohong karena tidak enak di tahu melamun saat bekerja.
"ayooo...kamu ngk lapar ?"
"lapar lah mbak,tapi ibu...eehhh maksudku Presdir Maria masih di dalam ruangan." kataku karena tidak enak meninggalkan Presdir Maria yang belum keluar ruangan buat makan siang.
"tuuu...kan tadi pasti melamun...sampai suara telpon aja kamu ngk denger... Presdir Maria tadi udah nelpon bilangin kalau kita boleh istirahat makan siang, dan beliau bilang akan makan siang di luar, karena tadi pagi anak anak Presdir Maria baru saja datang dari luar negeri.Jadi Presdir Maria agak siangan baliknya."kata mbak Dewi menjelaskan padaku, aku hanya tersenyum malu ketahuan melamun.
"iiii....malu ya ketahuan melamun.." ledek mbak Dewi.
"iii ngk kok..."
"itu buktinya pipi kamu merah." aku langsung memegang pipiku yang terasa menghangat.
"iii mbak Dewi..."
"tapi biar merah, tambah cantik kok..kamu cocok jadi artis Lusi...cantik, wajah mulus tanpa cela, kulit putih bersih, badan aduhai dan tinggimu mendekati model profesional." puji mbak Dewi padaku, yang membuat aku bertambah malu.
"iii mbak Dewi pintar ngegombal..."
"beneran lo Lusi... kamu beneran cantik, manis lagi."
"udah ah...ayo udah lapar nie...!!" ajak ku karna mbak Dewi terus saja memujiku. Mbak Dewi hanya tertawa ringan sambil menggandeng tanganku, kami berjalan beriringan menuju lift ke lantai dasar, karena kantin kantor ada di lantai dasar bagian paling belakang gedung.
Banyak orang yang melihatku pasti mengatakan aku cantik dan manis, tidak sedikit dari mereka akan bertanya,apakah aku ini model ? aku memang cantik dengan wajah hampir sempurna, kata orang yang melihatku, tapi aku merasa biasa saja.
ini visual dari Lusi Arsinta. ( bisa bayangin menurut selera).
......................
Di kantin perusahaan Wirajaya group.
Kami menikmati makanan dengan tenang, sesekali berbincang seputar pekerjaan kami. Sebenarnya ada sedikit suasana yang buat aku kurang nyaman, karena dari sepanjang jalan kami ke arah kantin sampai duduk di kursi kantin, setiap karyawan yang berpapasan dengan kami selalu memandang kami, rasanya risih di lihatin terus, tapi aku hanya bisa tersenyum dan berusaha tidak grogi atau salah tingkah.
Tidak berselang berapa lama, dari arah pintu kantin aku melihat asisten Ari berjalan menuju ke arah kami duduk, di sertai beberapa karyawati yang bersikap seolah mencari perhatian dari asisten Ari, tapi orang yang di maksudkan hanya mamasang wajah cuek dan dinginnya, dia tetap melangkah dengan tegap sampai ke meja kami.
"Lusi...!!" sapa asisten Ari.
"iya asisten Ari, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ramah setelah meletakkan sendok makan yang tadi aku pegang di atas piring.
"apa kamu sudah selesai makan ?"
"ini baru saja selesai !."
"ikut aku pergi ke hotel Rose, buat meninjau permasalahan disana."
"baik asisten Ari, tunggu sebentar saya minum dulu..." kataku yang langsung menghabiskan minumanku. " mari !" ajakku pada asisten Ari seraya bangun dari duduk. "mbak Dewi aku duluan ya!" pamitku.
"tunggu Lusi...kita bareng..!!"jawab mbak Dewi seraya bangun dari duduknya.
"mbak Dewi ikut ke hotel..??"
__ADS_1
"ngak..!"jawabnya geleng kepala, sedangkan aku dan asisten Ari mengkerutkan alis kami heran.
"terus bareng kemana ??"
"ya bareng naik ke atas, lantai 20..!" jawabnya. "emang kamu ngak ambil tas kamu dulu??"
"aa...iya aku lupa..!" kataku sambil menepuk keningku.
"kalau begitu aku tunggu di depan lobby." kali ini asisten Ari yang mengeluarkan suara.
Kami berjalan beriringan keluar dari kantin kantor, semua mata memandang iri kepadaku dan mbak Dewi karena bisa berjalan beriringan dengan asisten Ari, orang kepercayaan Presdir Maria. Pria tampan berkulit putih, badan kekar dengan tinggi 178 cm, siapa yang tidak tertarik , hanya saja terkadang memasang wajah cuek dan dingin, tapi banyak wanita yang pasti ingin menjadi pasangannya.
Ini visual asisten Ari.
...****************...
*****Dalam mobil asisten Ari*****
Di dalam mobil kami duduk berdampingan, karena asisten Ari yang membukakan pintu mobil depan untukku, asisten Ari sendiri yang mengendarai mobilnya.
" Lusi bisa kamu masukkan nomer telepon kamu ke ponselku." kata Asisten Ari memecah keheningan di dalam mobil yang menuju ke 'hotel Rose' seraya menyerahkan ponselnya kepadaku.
" aaa..iya..bisa ." jawabku langsung mengambil ponsel asisten Ari dan memasukkan nomer teleponku ke ponselnya.
Walaupun aku mengenal asisten Ari sudah hampir 3 tahun, tetapi kami tidak pernah saling menukar nomer telpon, dikarenakan kami tidak sering bertemu, karena Presdir Maria jarang datang kekantor cabang, hanya sesekali waktu bila ada masalah dan ada rapat penting, itupun aku tidak pernah ada dinas luar yang mengharuskan asisten Ari sebagai orang kepercayaan Presdir Maria harus repot-repot menelponku.
"ini sudah." sambil mengembalikan ponsel asisten Ari.
"sudah kamu misscall ke ponsel kamu?" tanyanya menoleh kepadaku.
Dengan segera aku misscall ke posnselku menggunakan ponselnya.
"nanti kalau kamu ada masalah apapun di Jakarta bisa telpon aku."katanya memulai obrolan kami di dalam mobil.
"iya asisten Ari, terima kasih."
"sama-sama."
"Oya...asisten Ari, anda pergi sama saya,terus Presdir Maria siapa yang mendampingi ?"tanyaku karena biasanya kemana Presdir Maria pasti disana ada asisten Ari, aku pikir Presdir Maria akan pergi bersama kami.
"Presdir sudah lebih dulu pergi bersama asisten Bayu."
"asisten Bayu?"
"asisten Direktur Radhika Wirajaya, putra sulung dari keluarga Wirajaya, yang baru datang dari New York tadi pagi." jawabnya dan aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
"mmm... asisten Ari saya boleh bertanya?"
"mau tanya apa?"
"itu...soal tadi pagi di ruang meeting ?"
"yang mana?" tanyanya balik.
"soal direktur Salim ? yang bilang pernah bertemu denganku."
"nanti aku coba cari tahu soal itu. Tapi apa kamu yakin tidak pernah datang ke Jakarta sebelumnya?" tanyanya yang membuat alisku mengerut memandang ke arahnya.
"apa asisten Ari juga tidak percaya sama saya?"
__ADS_1
"bukan begitu...? soalnya direktur Salim tidak pernah seperti ini sebelumnya, saya sangat mengenal karakternya, jadi saya juga tidak tahu direktur Salim berbohong atau tidak."
"sumpah asisten Ari, ini untuk pertama kalinya saya datang ke Jakarta." kataku dengan wajah sedih sambil mengangkat tanganku bersumpah karena tidak berbohong.
Asisten Ari yang melihat tingkahku malah tertawa ringan, yang membuat alisku mengerut heran.
"kok malah ketawa...???"
"hahaha...kamu lucu Lusi !! "
"asisten Ari saya bukan lagi melawak." kataku dengan wajah cemberut.
"iya aku tahu...tenang nanti aku akan cari tahu soal itu, Presdir Maria yg menyuruh ku, beliau juga heran dengan sikap direktur Salim, dan beliau bukannya tidak percaya denganmu, kita hanya harus berhati-hati, supaya tidak bermasalah atau menyinggung Presdir Ardian Adhitama seperti kata direktur Salim."
"Presdir Ardian Adhitama... Presdir Adhitama group???"
"kamu bener ngak kenal sama dia ?"
"saya tidak kenal, dan untuk pertama kalinya hari ini saya mendengar namanya."
"kamu ngak kenal, tapi kamu tahu diakan ?"
"emang dia siapa...? sampai aku harus tahu dia ? apa selain dia pengusaha dia itu artis, model atau pejabat..??" tanyaku yang membuat asisten Ari terkejut.
"kamu ngak pernah baca majalah, koran atau nonton televisi soal berita atau gosip tentang dia ?" aku menggelengkan kepala, karena memang aku jarang baca majalah atau koran apalagi menonton televisi untuk gosip atau berita, aku hanya sibuk kerja Sampai sore, pulang ke rumah istirahat dan tidak pernah menonton televisi berita atau gosip, aku lebih suka nonton Drakor Korea atau Chinese, lebih fresh buat mataku yang lelah sepanjang hari di depan layar komputer.
"saya tidak suka nonton gosip dan berita, buat otak pusing, saya tidak sempat baca majalah atau koran karena sibuk mengetik terus di depan layar komputer." kataku menghela nafas .
" terus kamu suka nonton apa?" tanyanya sambil tersenyum.
"nonton Drakor Korea atau Chinese, buat otak dan mata lebih fresh." jawabku memandang ke depan, sedangkan asisten Ari tertawa ringan mendengar jawabanku.
"takku sangka orang yang berwajah serius saat bekerja suka nonton Drakor."
"saking seriusnya asisten Ari saya harus mencari hiburan supaya ngk gampang stress." jawabku sambil tersenyum manis ke arahnya.
'deg'
'cantik...' gumam asisten Ari didalam hati.
"ya bener juga..!!" jawabnya tersenyum padaku.
"apa saya harus cari tahu juga tentang Presdir Adhitama itu ?"
"ya terserah kamu sih..!! tapi yang jelas aku pasti akan memecahkan masalah ini, untuk kepentingan perusahaan dan kenyaman kamu bekerja, juga mencari tahu maksud dari ucapan direktur Salim."
"terima kasih asisten Ari, semoga tidak ada masalah." kataku memandang ke arah asisten Ari yang sibuk mengendalikan setir kemudi mobil. Asisten Ari hanya menganggukan kepala.
Aku sangat berharap ini hanya salah paham saja dan direktur Salim salah mengenali wajah ku, semoga yang di lihat direktur Salim bukan lah aku, mungkin wajah kami hanya sekilas mirip.
karena banyak di dunia ini orang yang memiliki wajah hampir mirip atau sama bila terlihat sekilas.
Semoga semuanya akan baik-baik saja.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik....
Jangan lupa vote dan like nya ya....