Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 33 Penjelasan Bryan.


__ADS_3

*Di Dalam Cafe*


Setelah Bryan memesan minuman cappucino dan beberapa cemilan, Lusi yang sudah lama menunggu Bryan untuk berbicara pun bertanya padanya.


"apa yang ingin kau jelaskan padaku ?" tanya Lusi yang menatapnya datar.


"aku ingin menjelaskan tentang kepergian ku yang tanpa kabar padamu." jawab Bryan yang menatap Lusi dengan sorot mata lembutnya.


Lusi hanya diam menatapnya tetap datar, Bryan berkata lagi.


"maaf karena dulu aku pergi tanpa pamit padamu dan tidak ada kabar sama sekali." kata Bryan menyesal masih dengan sorot mata yang lembut, Lusi masih diam tanpa merubah ekspresi wajah nya.


"aku pergi ke Inggris untuk mengurus perusahaan yang hampir mengalami kebangkrutan karena ulah paman ku, papa meminta ku untuk mengambil alih perusahaan itu dan menyelamatkannya, karena banyak karyawan yang akan berhenti bila perusahaan itu bangkrut dan itu perusahaan pertama keluarga yang di rintis dari awal, dengan terburu-buru aku segera berangkat ke Inggris, saat aku ingin memberikanmu kabar tentangku, ponselku hilang dan aku tidak mengingat nomermu, aku berusaha untuk mendapatkan nomer mu dari orang yang aku utus ke Surabaya, mereka mendapatkannya setelah sebulan tetapi nomermu sudah tidak aktif, aku berusaha terus mencari dan bertanya melalui Dion, tapi sayang Dion tidak tahu nomer barumu, aku minta tolong padanya untuk bertanya pada kekasihnya, tapi Dion menolak dengan alasan tidak ingin ikut campur terlalu jauh sebab kau sudah terlanjur kecewa pada sikap ku yang menghilang tanpa kabar, aku benar-benar menyesal Lusi, karena terlalu fokus untuk menyelamatkan perusahaan aku sampai lupa untuk memberitahukan padamu, aku benar-benar menyesal." kata Bryan menjelaskan apa yang ada dalam hati dan pikirannya.


Lusi masih tetap dengan ekspresi wajah datarnya, Bryan yang melihat tidak ada perubahan pada lusipun berkata lagi.


"apa kau hanya akan diam saja ?" tanya Bryan sedih karena Lusi tidak menjawab atau memberikan komentar apapun tentang penjelasannya.


"apa sudah semua penjelasan mu padaku?" tanya Lusi balik masih dengan wajah datarnya.


"iya itu saja penjelasan ku karena menghilang tanpa pamit."


"apa yang kau harapkan setelah aku mendengar penjelasan mu ini ?"


"aku berharap kau dapat mengerti posisiku dan kita bisa kembali seperti dulu lagi." jawabnya hati-hati dan berterus terang kerena tidak ingin Lusi salah paham lagi.


"Dulu aku sangat berharap kau bisa menepati janji yang kau minta padaku, memberikanmu kesempatan 'untuk membuat hatiku bisa merasakan apa yang hatimu rasakan padaku', agar aku bisa membalas cinta dan kasih sayangmu padaku, karena dulu aku tidak mengerti dengan isi hati dan perasaanku sendiri padamu." kata Lusi menatap sendu pada Bryan yang masih menatapnya lembut penuh kasih.


"mungkin itu karena kita tidak lama saling mengenal, jadi aku belum tahu pasti bagaimana isi hati dan perasaanku padamu, saat kau tiba-tiba melamarku untuk menikah, kau pasti masih ingat itukan ?" tanya Lusi yang dijawab anggukkan kepala oleh Bryan.


"saat itu aku terkejut dan belum siap, kau tahu karena apa ?" tanya Lusi lagi yang di jawab menggelengkan kepala oleh Bryan.


"karena hati ku merasakan rasa takut, sakit, sedih, dan kecewa. Aku tidak mengerti dengan hati dan diriku sendiri Ryan ? aku tidak tahu mengapa diriku seperti itu ? jujur dulu aku merasa takut untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, entah karena apa aku pun tidak tahu ?" kata Lusi sedih yang menggeleng dan menundukkan kepalanya.


Bryan yang melihat perubahan wajah Lusi nampak sedih, memberanikan diri untuk meraih dan menggenggam lembut tangan kanan Lusi yang sedang memegang gelas minumannya, tangan kiri Bryan bisa merasakan dinginnya telapak tangan kanan Lusi akibat Lusi terlalu lama memegangi gelas minuman dinginnya.

__ADS_1


Lusi yang merasakan genggaman lembut di tangannya pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Bryan yang tersenyum lembut padanya.


"aku tahu dan mengerti perasaan mu saat itu, kerena itu aku tidak ingin memaksamu untuk menerima lamaranku padamu, aku meminta dan berharap kau memberikan aku kesempatan untuk membuat mu merasakan apa yang aku rasakan, dan aku senang karena kau mau memberikan aku kesempatan itu, tapi malah aku yang pergi darimu dan tidak ada kabar." kata Bryan sedih.


"sungguh aku tidak ada niat untuk pergi darimu tanpa kabar, itu jauh di luar keinginanku dan aku tidak bisa mengabaikan tanggung jawabku pada perusahaan dan semua nasib karyawan ku, salahku karena kehilangan ponselku dan tidak ingat kontakmu untuk segera menghubungimu." katanya sedih dan penuh harap agar Lusi bisa mengerti keadaannya pada saat itu.


Lusi membalas genggaman lembut Bryan yang nampak sedih.


"dulu aku tidak tahu siapa dirimu Ryan, aku merasa kecewa kau pergi tanpa kabar di saat aku memiliki harapan padamu untuk bisa membantuku merasakan rasa cinta dan kasih sayang, saat kau pergi tanpa kabar dan lama tidak kembali, aku merasa kalau kau mungkin kecewa dan marah akan penolakan ku, dan aku mengerti itu."


"tidak Lusi....aku tidak marah pada penolakkan mu hanya sedikit kecewa karena wanita yang aku lamar dan aku sayangi menolak lamaranku. Tapi aku mengerti itu, mungkin aku terlalu cepat untuk melamarmu tanpa bertanya akan kesiapanmu." kata Bryan yang cepat memotong bicara Lusi agar Lusi tidak salah paham padanya, dan apa yang di utarakan Bryan adalah jujur dari dalam hatinya.


"aku senang kau memilih untuk pergi karena tanggung jawabmu pada perusahaan dan nasib semua karyawan mu itu lebih penting, dari pada kau mengabaikannya untuk hal perasaan pribadi, keputusanmu sudah benar dan aku senang melihatmu berhasil dan sukses sekarang." kata Lusi tersenyum dan menambah erat genggamannya.


Bryan merasa lega dan senang karena Lusi dapat mengerti keadaannya.


"apa setelah kau mendengar penjelasan ku kau mau menerima hubungan kita kembali ?" tanya Bryan tersenyum.


Lusi mendengar pertanyaan Bryan seketika meredupkan senyuman dari wajahnya, merenggangkan genggaman dan menarik pelan tangannya dari genggaman tangan Bryan.


Lusi menarik dan menghembuskan nafasnya pelan. "maafkan aku Ryan, aku tidak bisa." jawab Lusi menatap mata Bryan yang terkejut.


"tapi kenapa Lusi ? apa kau sudah memiliki kekasih yang lain sebagai pengganti ku ?" tanya Bryan sedih dan kecewa karena Lusi menolak berhubungan kembali dengannya.


"bukan seperti itu Ryan." jawab Lusi menggeleng.


"lalu apa Lusi ?" tanya heran Bryan .


Lusi menatap sorot mata kecewa dan sedih Bryan padanya, Lusi senang bisa bertemu dan melihat Bryan berhasil dan menjadi sukses, tetapi Lusi tidak bisa menerima hubungannya bersama Bryan lagi seperti dulu, karena perasaannya untuk Bryan tetap sama seperti dulu tidak berubah sama sekali, tidak ada perasaan apapun untuk Bryan, apa lagi sekarang dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun untuk Bryan, jadi dia tidak bisa menjalin hubungan asmara kembali dengan Bryan tanpa perasaan apa pun padanya.


"bukan itu Ryan, aku tidak memiliki seorang kekasih apalagi pengganti dirimu, aku masih tetap sendiri seperti terakhir sebelum kita berkenalan." jawab Lusi jujur sembari menggelengkan kepalanya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi cafe.


"kalau kau tidak memiliki kekasih lain, kenapa kau tidak ingin hubungan kita kembali lagi ?" tanya Bryan lega karena tahu Lusi masih sendiri dan dia tidak memiliki saingan, tetapi dia heran karena Lusi tidak ingin kembali padanya.


"karena aku tidak memiliki dan merasakan perasaan apapun padamu sama seperti dulu, maafkan aku Ryan." kata Lusi jujur dan dia tidak ingin menutupi apapun apa lagi masalah perasaan hati.

__ADS_1


"aku masih bisa mengerti, menunggu dan membantumu untuk bisa menumbuhkan perasaan cinta dan sayang di dalam hatimu untukku, berikan aku kesempatan seperti dulu, aku mohon Lusi." kata Bryan berusaha agar Lusi luluh.


"maafkan aku Ryan aku lebih senang kita seperti ini dekat seperti teman, karena kita bisa bebas leluasa untuk berbicara." kata Lusi berusaha tersenyum.


"menjadi sepasang kekasih kita juga bisa leluasa dan bebas untuk berbicara." Bryan masih berharap akan keputusan Lusi untuk menerimanya kembali.


"itu lain Bryan, aku lebih nyaman kita seperti teman."


"apa kau benar-benar tidak bisa memberikan kesempatan pada hubungan kita dan padaku lagi ?"


Lusi lagi lagi menarik nafasnya pelan. "maafkan aku Ryan, aku lebih nyaman kita berteman."


"tapi aku tidak mau kita berteman, aku mau kita menjadi sepasang kekasih." kekah Bryan.


Lusi mengerutkan alisnya heran melihat Bryan sedikit kesal padanya, dan itu wajar karena dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, saat Lusi ingin berbicara lagi Bryan mendahului Lusi.


"dan kau harus ingat, di antara kita berdua tidak ada yang mengatakan kata putus, jadi kita tetap sepasang kekasih." tegas Bryan pada Lusi mengacungkan jari telunjuknya.


'maafkan aku harus egois dan sedikit keras padamu sayang, karena aku tidak ingin kehilanganmu dan berjauhan lagi denganmu.' gumam Bryan dalam hati.


"kau tidak bisa seperti itu dong Ryan, itu namanya memaksakan kehendakmu sendiri." jawab Lusi yang juga mulai kesal karena Bryan mengambil keputusan sendiri.


"aku tidak memaksakan kehendak ku sendiri, karena memang kenyataannya seperti itu ? kapan kita berdua mengucapkan kata putus ?" tanya tegas Bryan yang membuat Lusi benar-benar heran.


'mengapa Bryan berubah egois begini dan tidak bisa menerima kenyataan ?' gumam Lusi dalam hati, memang benar dari dulu sampai bertemu saat ini mereka berdua tidak pernah mengucapkan kata putus dalam hubungan mereka.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2