Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 34 Dua Pria Yang Berbeda.


__ADS_3

*Di dalam cafe*


…episode sebelumya…


"aku tidak memaksakan kehendak ku sendiri, karena memang kenyataannya seperti itu ? kapan kita berdua mengucapkan kata putus ?" tanya tegas Bryan yang membuat Lusi benar-benar heran.


'mengapa Bryan berubah egois begini dan tidak bisa menerima kenyataan ?' gumam Lusi dalam hati, memang benar dari dulu sampai bertemu saat ini mereka berdua tidak pernah mengucapkan kata putus dalam hubungan mereka.


…episode selanjutnya…


"oke...kita memang tidak pernah mengucapkan kata putus." kata Lusi berhenti sejenak yang membuat Bryan tersenyum tipis di bibirnya.


"tapi karena kau sudah lama pergi tanpa kabar, jadi itu sudah menandakan kita putus dan berpisah karena tidak ada kejelasan darimu yang menghilang tiba-tiba tanpa kabar."


"kan aku sudah menjelaskannya sekarang kenapa aku pergi tanpa kabar ? aku mencarimu dan meminta kita kembali pada hubungan kita dan aku minta maaf karena sudah lama meninggalkan mu tanpa kabar, aku serius untuk hubungan kita yang dulu sampai sekarang, apa itu kurang cukup untuk kita bisa seperti dulu lagi ?" tanya Bryan terus berharap agar Lusi merubah keputusannya dan mau kembali pada hubungan mereka lagi.


"Ryan itu dulu, aku tidak ada memiliki perasaan apapun padamu, apa kau tidak mengerti ?" tanya Lusi mamajukan badannya dan mengerutkan alisnya.


"aku mengerti dan aku akan terus menunggumu agar bisa membuka hatimu lagi untukku seperti dulu, ayo kita mulai dari awal." Bryan terus berharap Lusi bisa membuka hatinya lagi.


"mengapa kau tidak memberikan wanita lain kesempatan untuk ini, mengapa kau terus berharap padaku yang belum tentu pasti, apa aku bisa membuka hatiku untukmu ?"kata Lusi mulai habis kata-kata.


"berikan aku kesempatan Lusi."


"sampai kapan ?"


"sampai aku yang lelah berharap padamu dan sampai kau mempunyai pilihan hatimu."


Lusi menatap mata Bryan yang tulus tanpa ada kebohongan dan keraguan di sana, dia menghela nafas panjang, 'dia pun masih tidak mengerti akan dirinya sendiri, mengapa sulit sekali baginya membuka hatinya untuk laki-laki ? apa dia harus mencobanya lagi secara perlahan-lahan ? tapi apa tidak akan ada yang tersakiti nantinya ?' gumam Lusi di dalam hati.


"Ryan...berikan aku waktu untuk menjawabnya, aku takut kita akan lebih tersakiti oleh kesempatan ini." ucap Lusi sendu.


"biarlah kesempatan itu jalan dari sekarang apa adanya seperti dulu, mari kita coba bersama saling dekat dan mengenali hati kita sampai menemukan jawaban nya, bila kau mulai tidak nyaman, aku akan berusaha membuatmu nyaman, cobalah buat kau membuka hatimu."ucap Bryan dengan tatapan lembutnya.


Lusi menarik nafasnya."baiklah aku akan mencobanya, tapi jangan ada paksaan di antara kita, bila kau sudah bosan menunggu biarlah kita menjadi teman."


"terima kasih" Bryan tersenyum senang karena Lusi mau memberikan ia kesempatan.


"apa pembicaraan kita sudah selesai ? aku harus kembali ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"ayo kita makan malam." ajak Bryan .


"tapi ini masih sore."


"nanti malam aku jemput kamu ya, kita makan malam di restoran hotel saja supaya kamu nyaman." ucap Bryan yang sudah memanggil Lusi dengan sebutan kamu, agar terlihat dekat.


"baiklah, kalau begitu aku kembali ke hotel dulu." jawab Lusi setuju sembari bangun dari duduknya.


"ayo aku antar kamu." jawab Bryan yang langsung bangun dari duduknya.


setelah membayar tagihannya di kasir, mereka keluar dari cafe dan kembali ke dalam hotel, Lusi sudah tidak ambil pusing dengan tatapan mata orang-orang yang melihatnya berjalan beriringan dengan sang pangeran bisnis masa kini, entah sampai kapan Lusi akan bisa bertahan dengan situasi ini, dia coba akan jalani karena lusi tahu Bryan adalah pria baik, sabar dan sopan terhadap wanita, itu yang membuat Lusi terkadang nyaman padanya, tapi entah mengapa dia pun belum bisa membuka hatinya untuk Bryan, dan semoga kesempatan ini baik untuk mereka berdua.

__ADS_1


Bryan dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya berjalan beriringan dengan Lusi, dia bahagia dengan kesempatan yang di berikan oleh Lusi, dan dia akan berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia dengan sabar akan menunggu Lusi bisa membuka hati untuknya, dan semoga hal baik akan mereka dapatkan.


Bryan pulang setelah Lusi masuk ke dalam kamar hotelnya, tanpa Lusi sadari bahwa Bryan juga tinggal di hotel tersebut di kamar president suite agar bisa dekat dengan Lusi dan bisa menjaganya, karena Lusi baru di kota ini, dia tidak ingin Lusi mengalami kesulitan.


......................


Lusi menyelesaikan pekerjaan sebelum malam, Lusi merenggangkan tubuhnya yang sedikit pegal, saat selesai merapikan berkas dokumen dan laptop nya di atas meja, terdengar pintu kamar ada yang mengetuk.


"belum juga waktunya makan malam, Ryan sudah datang." gerutu Lusi menghela nafasnya dan berjalan untuk membuka pintu, tanpa melihat ke lubang pintu dulu Lusi langsung membuka pintu kamar karena dia pikir itu pasti Bryan yang datang.


"mama..."panggil si kembar yang langsung berhamburan memeluk Lusi.


"kalian...." kata Lusi terkejut mendapati si kembar dan Ardian yang datang, bukannya Bryan yang sudah membuat janji dengannya.


"mama...Adek kangen."kata Nathalia yang masih memeluk pinggang Lusi.


"kakak juga kangen mama" Nathan berucap yang masih memeluk pinggang Lusi.


"kenapa kalian datang ke sini, Adek kan harus istirahat." balasku yang duduk bersimpuh untuk mensejajarkan tinggi mereka.


"Adek mau bobok di sini sama mama." ucap Nathalia tersenyum pada Lusi, sedangkan Lusi terkejut akan ke mauan Nathalia.


"kakak juga mama"


Lusi diam tak menjawab, dia alihkan pandangannya pada Ardian yang masih berdiri di belakang si kembar, mereka hanya bertiga saja karena tidak nampak kedua babysister si kembar.


"tapi anak-anak..." ucap Lusi tertahan memandang ke arah Ardian, Lusi seakan meminta bantuan Ardian untuk menjelaskan bagaimana mungkin si kembar tidur dengannya di sana, sedangkan Ardian pura-pura tidak mengerti dengan menggerakkan bahunya ke atas sedangkan kedua tangannya dia lipat di depan dadanya.


"anak-anak kalian tidak bisa tidur di sini, karena besok mama mau kerja pagi-pagi sekali, nanti kalian siapa yang jaga."


"papa...papa juga ikut tidur disini." jawab Nathalia polos, yang tambah membuat Lusi terkejut.


"apa..." ucap Lusi terkejut yang langsung bangkit dari duduk bersimpuhnya.


"anak-anak kalian masuk dulu, mama mau bicara sama papa dulu ya."


"iya mama.." jawab si kembar serempak yang langsung berlari masuk kedalam kamar, sedangkan Lusi berdiri di depan Ardian dengan tatapan tajamnya, yang di balas Ardian dengan tatapan dinginnya.


"apa-apa ini tuan...?" tanya Lusi.


"itu maunya mereka, mereka merengek minta bertemu mamanya, apalagi Nathalia yang terus menangis minta kesini." balas Ardian dengan tatapan datarnya.


"tidak kah bisa tuan mengatasi ini ? saya juga perlu istirahat tuan."


"kenapa tidak kau yang mengatasinya, kau saja yang beri anak-anak pengertian." balasnya angkuh dengan wajah dinginnya.


Lusi menghela nafas, 'percuma saja berdebat dengan tuan sok kuasa ini, tidak akan ada benarnya.' gumam Lusi dalam hati.


Lusi masuk dan menutup pintunya, belum sempat melangkah pintu di ketuk lagi, Lusi lagi-lagi menghela nafasnya dan berbalik membuka pintu kamar.


"ada apa lagi ?" tanya Lusi geram pada Ardian yang tidak mau membantunya sama sekali.

__ADS_1


"beraninya kau menutup pintu di depanku." balas Ardian marah, karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang berani menutup pintu di hadapannya yang menurut dia itu tidak sopan.


"ini kamar saya tuan, saya berhak mau melakukan apa saja." jawab Lusi kesal.


'mulai lagi arogannya.' gumam Lusi.


Tanpa permisi Ardian menerobos masuk ke dalam kamar Lusi, dengan angkuh melewati tubuh Lusi yang sedikit di senggol ke samping oleh Ardian, sehingga badannya sedikit terbentur pintu.


Lusi membelalakkan matanya tajam ke arah Ardian yang menerobos masuk ke dalam kamarnya.


"tuan...!" panggil Lusi pada Ardian yang sudah duduk di sofa yang ada disudut kamar tersebut.


"tuan silahkan keluar, biarkan anak-anak saja yang ada di dalam." kata Lusi menahan kesalnya berdiri di hadapan Ardian.


"beraninya kau mengusirku, kau tidak sopan sekali." balas Ardian kesal karena Lusi menyuruhnya keluar kamar.


"tuan...ini kamar hotel dan saya tinggal sendiri di sini, apa kata orang bila ada yang melihat." Lusi berusaha memberikan pengertian kepada Ardian agar bisa mengerti posisinya.


"tinggal bilang kau itu istriku dan mamanya anak-anak, bereskan." jawab Ardian seraya tersenyum tipis, membuat Lusi tambah kesal.


"jangan sembarangan tuan."


"sembarangan bagaimana, kau kan sudah setuju menjadi ibu kontrak anak-anak, jadi kalau kau mamanya anak-anak otomatis kau istriku juga." kata Ardian tersenyum mengejek.


"tuan jangan sembarangan, selagi saya masih baik tolong hargai saya sedikit."


"seberapa harga mu, aku bisa membayarnya." kata Ardian yang duduk santai bersandar di sandaran sofa.


Lusi sudah habis kesabaran menghadapi ucapan Ardian yang menyinggung harga dirinya, tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih, kalau saja tidak ada anak-anak di sana dia pasti sudah menghajar Ardian habis-habisan.


"saya tahu anda kaya raya tuan Ardian Adhitama, tapi saya tidak tahu kalau anda suka merendahkan seseorang apalagi seorang wanita, apa kau pikir aku wanita murahan yang mudah kau beli." jawab Lusi yang sudah tidak tahan akan kekesalannya pada Ardian.


"apa wanita seperti mu masih memiliki harga diri ?" tanya Ardian sembari tertawa mengejek.


"hati-hati dengan ucapan anda tuan Ardian Adhitama." tunjuk Lusi yang sudah geram pada Ardian.


"bukankah kau bertujuan mendekati ku dengan cara meniru wajah istriku, sampai begitu kau berusaha agar bisa mendekatiku ? melakukan segala cara, wanita apa yang seperti itu kalau bukan wanita murahan !" tuduh Ardian yang benar-benar membuat Lusi marah sampai wajahnya memerah menahan amarah.


"tuan..." teriak Lusi yang membuat si kembar melihat ke arahnya.


Lusi sudah tidak peduli lagi akan keberadaan si kembar.


Perkataan Ardian yang menginjak dan menghina harga dirinya, membuat Lusi bertambah benci kepada sosok Ardian yang tidak memiliki hati sedikitpun, dia sangat-sangat membenci Ardian dan akan selalu mengingat apa yang di katakannya, dan tidak akan mau memaafkan penghinaan Ardian padanya sampai kapan pun.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya...


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.-


__ADS_2