
***Perusahaan Kiandra Group***
Apa yang sudah di rencanakan oleh Ardian Adhitama? di buktikan secara nyata. Ardian melakukan sambungan video call yang di perbesar pada alat proyektor, agar semua dapat melihat dan mendengar secara nyata, siapa yang akan Ardian hubungi?
Sambungan di terima langsung oleh Lusi Arsinta atau yang mereka kenal sebagai Lidya Kiandra.
"hallo…" sapa Lusi pada sambungan video callnya pada sambungan yang di lakukan oleh Ardian padanya.
"hallo sayang." jawab Ardian dengan senyum bahagia dan nada yang terdengar penuh akan kasih sayang.
"iya, ada apa papa?" tanya Lusi dengan nada sama seperti yang di lakukan oleh Ardian tadi.
Lusi yang sudah mendapatkan informasi siapa saja yang berada di sana? sangat suka membuat seseorang akan merasa marah, kesal dan juga bertambah benci padanya. Lusi melakukan itu dengan sengaja. Itu Lusi lakukan untuk di tujukan kepada Rania yang pasti mendengarkan percakapan mereka, karena Lusi tahu Rania ada di sana.
"aku ingin memperkenalkan mu pada beberapa orang yang mungkin kamu kenal di masa lalu." balas Ardian.
"oiya…di mana mereka…?"
"mari aku tunjukkan padamu satu persatu orang-orang yang pasti kamu kenal dengan baik." ucap Ardian.
Ardian dengan segera mengarahkan ponselnya pada pengacara Chico Alessio.
"Seharusnya kamu tahu ini siapa sayang?" tanya Ardian saat menampilkan wajah pengacara Chico Alessio pada kamera ponselnya.
Pengacara Chico Alessio sungguh tidak percaya apa yang dia lihat dan dengar? itu benar benar Lidya Kiandra, dan suaranya juga sama. Sebuah tatapan yang penuh akan arti dari pengacara Chico Alessio, dapat di lihat oleh Lusi dan semua orang yang ada di sana.
Tatapan mata pengacara Chico Alessio saat melihat wajah yang ada di dalam video, penuh akan arti. Terlihat jelas ada kesedihan, bahagia dan juga kekecewaan di dalam sorot matanya.
Lusi dapat melihat jelas ada sorot ketulusan di dalam mata pengacara Chico Alessio, yang dia ketahui menjadi pengacara Lidya untuk mengatur semua warisan yang Lidya miliki, dari seseorang yang menjadi tuan dari pengacara Chico Alessio. Entah itu siapa? tidak satu orangpun tahu siapa dia?
"hai tuan Chico Alessio, apa kabar anda tuan pengacara." sapa Lusi dengan lambaian tangan dan senyum tulusnya pada sang pengacara.
Terlihat ada senyum kelegaan pada wajah pengacara Chico Alessio, saat Lusi menyapanya. Sudah sangat lama dia tidak mendengar panggilan itu untuknya dari Lidya. Tuan pengacara, itulah panggilan khusus yang di gunakan oleh Lidya seorang.
"kabarku baik nak Lidya." balas pengacara Chico Alessio dengan senyum lega sekaligus ada rasa haru yang dia tahan.
"senang berjumpa lagi denganmu tuan pengacara, sudah lama sekali aku tidak melihat wajah tampanmu itu." ucap Lusi. Mengikuti cara dan gaya Lidya berbicara.
Itu semua petunjuk, informasi dan ajaran langsung dari Ardian. Ardian banyak tahu tentang kebiasaan istrinya dulu. Ardian sengaja dalam beberapa hari ini memberikan sekaligus mengajarkan Lusi untuk tahu siapa saja yang dulu sering berinteraksi dengan Lidya?
Semua ajaran dan bimbingan Ardian sudah Lusi hapalkan dengan baik. Itulah yang sangat berguna hari ini, semua sikap, dan gayanya bicara tidak membuat curiga sedikitpun. Atau akan membuatnya terlihat jelas sedang lupa ingatan untuk saat ini.
Jika pengacara Chico Alessio percaya, orang yang ada di dalam video itu adalah Lidya. Tidak dengan satu orang yaitu Rania. Dia tahu pasti itu adalah Lusi Arsinta yang beberapa hari lalu dia ajak berseteru dan coba untuk dia jebak, namun semua itu gagal total.
Kepalan kuat tangan Rania terlihat jelas, jika Rania sangat geram dan menahan amarahnya hari ini. Tindakan Rania tidak luput dari pandangan Ardian dan juga Nico. Kedua pria tampan dan berpengaruh itu sangat menikmati sikap Rania yang sedang menahan amarahnya agar tidak meledak.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang sangat menarik bagi kedua pria tampan itu. Mereka yang sudah tahu siapa Rania? tentu saja tidak ingin melepaskan Rania begitu saja. Rania harus membayar semua perbuatan yang dia lakukan kepada banyak orang, terutama Lusi atau Lidya.
"senang berjumpa lagi dengan mu nyonya Adhitama." balas Chico Alessio dengan senyum yang sungguh terlihat menahan rasa harunya.
"apakah tuanmu baik baik saja? tuan pengacara." tanya Lusi, dan itulah perintah dari Ardian. Ada yang sedang Ardian rencanakan.
"tuan baik nyonya, beliau pasti senang sekali jika mengetahui anda masih hidup dan sehat." balas Chico Alessio.
"apakah sudah sekian lama? masih juga beliau tidak ingin bertemu denganku?"
"tidak nyonya, mungkin beliau akan sangat senang jika bisa bertemu denganmu. Tuan sangat merindukanmu nyonya, tuan masih berharap anda masih hidup, dan semua keinginannya terwujud. Beliau pasti bahagia."
"apakah benar aku bisa bertemu dengannya, tuan pengacara?"
"iya tentu saja nyonya, aku akan mengatur jadwal pertemuan kalian." ucap pengacara Chico Alessio, dengan janji yang terlihat jujur dari sorot matanya.
"baiklah, terima kasih tuan pengacara." balasnya dengan menampilkan senyum yang sangat terlihat cantik pada wajah Lusi.
Ardian lalu mengalihkan kameranya ke arah Satrio dan Seto Kiandra, yang terlihat terkejut sekaligus tidak percaya. jika wajah wanita yang ada pada video itu adalah Lidya. Mereka berdua masih sangat mengingat cerita dari Rania. Jika ada seorang wanita yang sangat mirip dengan Lidya. Sehingga itulah mereka harus berhati-hati.
Lusi terpaku diam melihat kedua pria yang berbeda umur yang ada di dalam videonya. Lidah Lusi sungguh kaku saat harus menyapa mereka. Hati Lusi tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang sakit dan perih di dalamnya.
Entah mengapa? Lusi bisa merasakan rasa sakit saat melihat kedua pria berbeda umur tersebut. Lusi menahan kuat kepalan tangannya, untuk meredam rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya. Lusi berusaha keras untuk menahan air mata yang ingin jatuh dari pelupuk matanya.
Satrio dan Seto yang di sapa hanya diam, mereka masih memandang tidak percaya aka apa yang mereka lihat saat ini?
"apa kabar kalian?" sapa Lusi berusaha menahan gejolak yang tiba-tiba timbul di dalam hatinya.
Satrio dan Seto masih diam, seperti tidak ada niat untuk membalas atau menjawab sapaan dari Lusi.
"sepertinya kalian tidak suka melihat Lidya masih hidup? bahkan untuk menyapa balik putri dan cucu kalian pun enggan." ucap Ardian tahu sikap tidak peduli Satrio dan Seto pada Lusi.
Ardian tidak suka sikap mereka berdua, mereka seakan benar benar tidak peduli pada Lusi.
Satrio dan Seto masih diam, mereka tidak ada yang ingin di ucapkan lagi.
"bukankah itu Lusi…? wanita itu bukan Lidya." kini Rania yang membuka mulutnya untuk berbicara.
Ardian dan yang lainnya, begitu juga Lusi melihat ke arah Rania. Mereka pasti dapat menebak jika Rania pasti akan keberatan tentang ini semua.
"dia memang Lusi, yang dulunya adalah Lidya." jawab Ardian dengan sikap yang terlihat santai.
"semua bukti yang aku tunjukkan adalah bukti nyata dan tidak ada rekayasa sama sekali." balas Ardian lagi.
"ingat di dunia ini, banyak hal yang bisa di lakukan. Bahkan untuk memalsukan identitas seseorang." ucap Rania dengan menekan kata kata terakhirnya.
__ADS_1
"apa secara tidak langsung, kau menuduhku telah memalsukan identitas istriku sendiri, nona Rania?" tanya Ardian dengan sikap tegas dan dinginnya.
"tidak ada yang tahu, tuan Ardian." jawab Rania dengan tatapan sama dinginnya.
"jika memang bukti yang aku perlihatkan padamu tidak benar, silahkan anda sendiri yang membuktikannya." tantang Ardian.
"bagaimana sayang, apakah kamu keberatan?" tanya mesra Ardian kepada Lusi.
"tidak sama sekali. Silahkan di lakukan. Berapa kalipun di lakukan tes, semua hasilnya akan tetap sama." jawab Lusi dengan jawaban pasti tanpa keraguan sama sekali dari nada bicaranya.
"bagaimana nona Rania, kami siap melakukan tes ulang, dan menunggu bukti lain yang kau bawa untuk kami." tantang Ardian pada Rania yang terlihat sangat menahan amarahnya.
Rania terlihat menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, lalu dia menatap Lusi yang ada di dalam video yang ada di hadapannya.
"aku ingin bertemu langsung dengan penyelamatmu, yang sekaligus mengaku sebagai kedua orang tua kandungmu." tantang balik Rania kepada Lusi dengan tatapan yang terlihat meremehkan.
Terlihat jelas aura tidak suka Rania melihat ke arah Lusi. Lusi hanya membalas Rania dengan senyuman yang sangat terlihat tenang.
"tentu saja. Ayah dan ibuku pasti akan sangat senang bertemu dengan kalian semua yang telah mengasuhku sejak bayi. Terutama melihat dirimu kakak ku tersayang." balas Lusi dengan menekan kata kata terakhirnya.
"hahahaha…" tawa Rania merasa lucu akan ucapan yang baru saja di katakan oleh Lusi.
"simpan dulu ucapanmu, belum tentu kau itu adalah adikku." ucap Rania dengan senyuman yang benar benar meremehkan Lusi.
"Aku akan sangat senang menunggu pembuktian darimu, kakakku tersayang." balas Lusi tidak kalah dengan senyum yang membuat Rania kesal akan sikap tenang Lusi.
Dua wanita yang seakan sedang melakukan perang dingin. Terlihat dua wanita yang tidak akan mau mengalah, dua wanita yang akan tetap pada pendirian mereka masing-masing. Tatapan mata mereka berdua sama tajamnya.
"bagaimana sayangku, apakah kehadiran ku di sana masih di harapkan? ataukah aku harus kembali di lain waktu?" tanya Lusi kini beralih melihat ke arah Ardian.
Tatapan mata Lusi teduh dan hangat, seakan penuh akan kasih sayang dan cinta di dalamnya. Ardian dengan setengah mati menahan tawa gelinya melihat acting Lusi saat ini, sungguh sangat meyakinkan.
Lusi yang biasanya akan bersikap dingin dan terkadang acuh padanya, kini seakan Lusi sangat mencintai dan menyayanginya. Lusi sungguh pandai mempermainkan perasaan orang lain. Terutama perasaan Rania yang tidak menyukainya dan juga perasaan Ardian yang sangat mencintainya.
Sedangkan Lusi yang masih hilang ingatan, belum merasakan perasaan apapun untuk Ardian? terkadang Lusi masih bersikap dingin dan cuek terhadapnya. Ardian sangat menikmati perhatian cinta dari Lusi saat ini. Jika bisa Ardian menginginkan mereka tetap seperti ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1