Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 105 Pertengkaran Kecil Tetapi Manis.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Ardian Adhitama***


Sambungan telepon Bryan pada ponsel Ardian masih berjalan, mereka terus membahas tujuan dan maksud Rania datang bersama nyonya Meli ke apartemen Bryan, untuk mencari keberadaan Lusi.


"apa ada lagi yang mereka katakan?" tanya Lusi ingin memperjelas kecurigaannya.


"tidak ada lagi, Rania hanya yakin melihat mu bersamaku di hotel tempat dia berada. Sehingga dia juga yakin untuk mencarimu ke apartemen ku." jawab Bryan.


"apa dia juga bilang? sedang apa dia berada di hotel itu saat melihatku?"


"iya, kebetulan pada saat itu Rania sedang bertemu rekan bisnisnya."


Lusi terdiam, karena dia tahu kalau Rania sudah berbohong, Rania sudah mengarang cerita pada Bryan tentangnya.


"apa dia tidak bilang bertemu dan berbicara denganku? dan bukan rekan bisnisnya?" tanyaku masih melihat pada Ardian yang masih menatapnya.


"tidak, Rania hanya bilang melihatmu saja bukan bertemu ataupun berbicara denganmu."


"dia bohong, Rania bukan melihatku saja, tetapi dia memang membuat janji denganku, berbicara dan berusaha menjebakku."


"apa…?!" ucap Bryan terkejut. "apa yang dia lakukan padamu sayang?"


"nanti akan aku ceritakan, ini tidak bisa kita bicarakan di telepon Ryan."


"baiklah…kapanpun kamu mau bertemu dan siap menceritakan apa yang terjadi? aku selalu ada untukmu sayang."


"terima kasih Ryan, kamu selalu mau mengerti keadaan ku.…!"


"iya sayang…yang peting saat ini kamu baik-baik saja, aku sudah lega dan senang."


"baiklah Ryan, sudah malam kamu istirahatlah… terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"tentu sayang…aku tidak akan tenang kalau tidak mendengar kabar darimu."


"selamat malam Ryan."


"selamat malam sayang. I love you." ucap Bryan membalas yang membuat Ardian mengeraskan rahangnya karena cemburu.


Dengan segera Ardian merampas ponselnya dan mematikan sambungannya langsung. Dia tidak ingin mendengar Lusi juga membalas ucapan cinta Bryan padanya.


Lusi hanya diam saja dan melototkan matanya, Lusi juga kesal akan sikap Ardian, karena merampas ponselnya sedikit kasar.


Tanpa berbicara apapun Lusi segera melangkah masuk ke dalam kamar, dia berniat pulang saja malam ini. Dia urungkan niatnya untuk menginap dan tidur bersama Ardian malam ini.


Ardian ikut menyusul dan sangat tahu, kalau saat ini Lusi kesal padanya yang sedikit kasar pada Lusi. Tetapi itu karena Ardian merasakan cemburu pada percakapan Bryan dan Lusi.


Suami yang mana bisa melihat? istri sendiri berbincang akrab dengan kekasihnya. Ardian pun begitu saat ini.


Saat dia sudah ada di dalam kamar, dia melihat Lusi membawa tas dan sudah memakai sepatunya, hanya pakaiannya saja yang tidak berganti.


"mau kemana kamu?" tanya Ardian melihat pada Lusi.


"aku mau pulang." jawab Lusi ketus.


"kenapa mau pulang? bukannya kamu sudah berjanji tidur di sini malam ini, dan memberikan kesempatan untuk hubungan kita?"


"aku tidak pernah berjanji padamu mau tidur di sini. Kau yang sudah memaksaku karena sudah meminta izin lebih dulu dari kedua orang tuaku." balas Lusi dengan tatapan datarnya.


"tapi kamu tadi sudah setuju untuk tidur di sini, sekarang kenapa malah berubah pikiran?"


"aku tidak suka sikap kasar dan semaumu tadi."


"wajar karena aku tidak suka dan merasa cemburu pada Bryan, kekasih mu itu." balas Ardian menatap Lusi tajam.


"tetapi cemburu mu sudah kelewatan, dan melampiaskannya padaku."

__ADS_1


Ardian terdiam, dengan cepat Lusi menambahkan apa yang dia pikirkan.


"apa aku yang minta Bryan menghubungiku? apa aku yang minta ponsel mu saat Bryan menghubungi ponsel mu?" tanya Lusi.


Dan itulah kebenarannya, Lusi bahkan tidak tahu siapa yang ingin berbicara dengannya melalui telepon. Ardian pun baru menyadari, kalau dia sudah cemburu dan kesal pada Bryan, tetapi melampiaskannya pada Lusi.


"maafkan aku sayang…!" ucap Ardian mendekati Lusi dengan cepat dan memegang kedua pundak Lusi.


"lepaskan aku." balas Lusi tajam, seraya menepis kedua tangan Ardian pada bahunya.


"sayang aku mengaku, aku terbawa emosi karena cemburu pada Bryan, dan aku minta maaf." ucap Ardian dengan mencakupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya, dengan wajah yang memelas.


"aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji akan berusaha menahannya." ungkap Ardian kembali, karena Lusi hanya diam dan menatapnya tajam.


Lusi masih menatap Ardian tetapi kali ini, tatapannya sudah tidak sedatar tadi. Lusi sadar kalau siapapun bisa cemburu? sama seperti Ardian sekarang, suami mana yang akan tahan melihat dan mendengar istri sendiri? berbincang dengan kekasih istrinya, apalagi di hadapannya langsung.


Perlahan Lusi menghela nafasnya dan melempar kembali tas yang dia pegang ke atas sofa kamar, Lusi mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan melepaskan satu persatu sepatunya.


"kamu mau memaafkan aku kan?" tanya pelan Ardian melihat Lusi.


"maafkan aku, aku terbawa emosi." balas Lusi melihat pada Ardian yang masih berdiri di hadapannya.


"tidak sayang…kamu tidak salah, aku yang salah karena emosi tidak jelas dan cemburu berlebihan." ungkap Ardian dengan pelan melangkah mendekati Lusi.


Ardian duduk bersujud di hadapan Lusi dan memegang kedua tangan Lusi yang ada di pangkuannya.


"terima kasih kamu mau memaafkan aku."


Lusi menghembuskan nafasnya perlahan.


"aku mengerti kalau kamu cemburu pada Ryan, tetapi jangan berlebihan begitu, sampai harus kesal padaku. Aku kan sudah katakan kalau aku akan berusaha mengerti isi hati kalian berdua, dan tidak ingin pilihanku ke depannya salah jalan Ardian. Jadi tolong tunggu dan bersabarlah sampai aku bisa menyelesaikan hubunganku dengan Ryan." ucap jelas Lusi.


"kamu bahkan memiliki panggilan sayang padanya." gumam Ardian pelan yang masih bisa di dengar oleh Lusi.


"kamu mulai lagi Ardian?" tanya Lusi seraya memicingkan sebelah matanya melihat Ardian.


Lagi-lagi Lusi menghela nafasnya, seraya menggelengkan kepalanya. Tetapi Lusi mengerti maksud Ardian apa?


"baiklah…agar kalian berdua seimbang, selain panggilan sayang, kamu mau aku panggil apa?" tanya Lusi ingin mengalah, karena sudah tidak ingin ribut akan masalah kecil.


"benar sayang…?" tanya girang Ardian.


"iya." angguk Lusi.


"sebenarnya aku lebih senang di panggil 'sayang', tetapi kamu tidak mau memanggil ku begitu, jadi apa yang bagus dan terdengar romantis?" ungkap Ardian seraya berpikir dengan mengelus dagu menggunakan tangannya.


"dulu aku memanggil mu apa?"


"sayang." jawab cepat. Tetapi Lusi hanya menatap Ardian tanpa menjawab, Ardian pun tahu maksud diam Lusi.


"kamu saja yang cari panggilan untuk ku. Aku takut salah lagi." ucap Ardian sedikit murung.


"karena kamu sudah mempunyai dua anak, bagaimana kalau aku panggil 'papa' saja?"


"papa…" ulang Ardian melihat Lusi.


"iya papa nya anak-anak. PAPA." perjelasan Lusi lagi.


"baiklah, panggil aku papa." balas Ardian senang.


"dan aku akan memanggilmu 'MAMA'. ucap Ardian lagi.


"mama…? ngak jadi sayang?" tanya Lusi memperjelas.


"keduanya, aku akan memanggilmu dengan dua sebutan itu, sayang dan mama. Tergantung suasana hatiku."

__ADS_1


"baiklah, suka-suka kamu saja lah." ucap Lusi melihat Ardian terseyum senang padanya.


"susah juga menghadapi dua pria manja sekaligus." ucap Lusi lagi, yang membuat Ardian mengerutkan alisnya melihat Lusi.


"dua pria manja…? kamu samain aku sama Bryan?" tanya Ardian dengan sedikit nada kesalnya.


"kamu mau mulai lagi?" tanya Lusi menekan setiap kata-katanya.


"tidak sayang, tidak…!!" balas Ardian dengan cepat, karena dia tidak ingin Lusi marah lagi padanya.


"sudah malam, ayo istirahat." ajak Lusi pada Ardian.


"ayo."


"tapi jangan macam-macam, awas saja kalau kau melanggar batasan saat ini, aku tidak akan memaafkanmu untuk waktu yang lama." ancam Lusi menunjuk ke arah Ardian.


"tidak sayang, aku tidak akan macam-macam. Kita hanya akan tidur, cuma…!!" ucap Ardian terdiam.


"cuma apa…?" curiga Lusi.


"cuma, aku hanya ingin memelukmu saja, agar tidur ku nyenyak." jawab Ardian pelan dan takut-takut.


"cuma memeluk saja?"


"iya, cuma peluk saja." angguk patuh Ardian.


Lusi menghela nafasnya lagi. "baiklah." jawab pasrah Lusi.


"Ardian terseyum bahagia, karena mendapatkan izin oleh Lusi, untuk memeluknya saat tidur.


Dalam hati Lusi, hanya ingin menguji hatinya, dan memberikan Ardian kesempatan, bagaimana juga Ardian adalah suami sahnya. Apakah akan ada perasaan terjadi saat Ardian bersikap hangat dan memeluknya?


Mereka pun beranjak naik ketempat tidur, mereka tertidur dengan posisi miring berhadapan, dengan tangan Ardian merangkul tubuh Lusi ke dalam pelukannya. Lusi hanya meraskan rasa nyaman dan hangat saat ini dan yakin bahwa itu bukanlah rasa cintanya.


Beberapa menit kemudian, keduanya tertidur cepat dengan lelapnya, karena pengaruh tubuh yang juga lelah.


......................


…Bryan Aldevaro…


Aku masih terpaku melihat photo Lusi pada wallpaper ponselku, senyuman yang manis dan aku tidak ingin kehilangannya.


Sebenarnya dalam hatiku, sangat kecewa dan cemburu dengan kebersamaan Ardian dan Lusi malam ini, mendengar pertengkaran dan cara bicara mereka, yang sangat terdengar hangatnya sebuah keluarga. Membuatku sakit di dalam hatiku.


Tetapi aku bisa apa saat ini? perlahan mataku terasa menghangat akan pemikiran di otakku saat ini. Pemikiran seandainya Lusi pergi meninggalkanku, kembali pada Suami dan anak-anak mereka.


Lalu bagaimana denganku? apa aku akan kuat melihat kebersamaan dan kebahagiaan mereka? tidak aku tidak akan sanggup melihatnya.


Hatiku terasa sakit memikirkan kemungkinan itu? perlahan air mataku mengalir, sembari terlintas pemikiran tentang kebahagiaan Lusi bersama keluarga kecilnya.


Aku harus cepat sadar, dan harus berusaha belajar dari sekarang untuk menerima bila suatu saat nanti Lusi lebih memilih suami dan anak-anaknya. Aku harus belajar mempersiapkan hatiku untuk hal itu. Walaupun berat dan tidak sanggup aku terima.


Inilah takdir hidupku saat ini, takdir dari hubunganku bersama Lusi, dan hidup yang harus aku jalani dengan usaha sebaik mungkin.


Semoga semua bisa aku jalani, dengan kekuatan dan keteguhan dari Tuhan. Hanya Tuhanlah sang kuasa segalanya dan maha tahu.


Hanya takdir hidup dari Tuhan yang akan terjadi kedepannya, dan akan aku terima dengan tulus ikhlas, tanpa berbuat sesuatu yang bisa membuatku menyesal di kemudian hari.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2