
***Perusahaan Wirajaya Group***
Lusi sedang mencuci tangannya setelah selesai buang air kecil, saat berada di dalam toilet ponselnya pun berdering, dan telpon tersebut dari nomer sang ibu yang menghubunginya, Lusi menerima dan mengangkat terponnya.
"hallo ibu..." sapa Lusi.
"hallo sayang, apa kabar hari ini?" balas ibu Lusi.
"Lusi baik ibu, ibu dan bapak apa kabar?"
"kami baik, sudah makan siang nak..?"
"sudah ibu.."
"Lusi sayang kapan kerjaanmu selesai di sana? ibu kangen kamu nak.."
"Lusi juga kangen ibu, segera ibu beberapa hari lagi Lusi akan selesai bekerja dan balik." jawab Lusi yang ingat kalau akan menyerahkan surat pengunduran dirinya setelah acara penanda tanganan kontrak kerjasama.
"betul nak...Lusi akan segera pulang?"
"iya ibu Lusi akan segera pulang, dan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu."ucap Lusi lirih yang merasa sedih mendengar suara ibunya bahagia.
Lusi mengingat lagi akan kejadian yang di alaminya di rumah sakit.
'apa aku harus cerita ya sama ibu?' gumamnya dalam hati.
'tidak...tidak...apa yang akan ibu pikirkan kalau aku cerita masalah tes DNA dan ada wanita yang wajahnya mirip denganku yang ternyata adalah aku, kalau aku mengakui hasil tes yang menunjukkan bahwa aku ibu kandung si kembar?' gumamnya dalam hati.
'bagaimana mungkin ibu akan percaya bila aku sudah mempunyai dua anak kembar yang sedarah denganku.' gumam Lusi lagi dalam hatinya.
"Lusi...kamu baik baik nak...?" tanya ibu yang menyadarkan Lusi.
"aaa..iya... ibu Lusi baik!" balas Lusi gagap.
"kenapa suaranya lemas dan gagap begitu?"
"tidak apa-apa ibu, Lusi sedikit lelah karena banyak kerjaan."
"tetap jaga kesehatan ya nak..kalau emang ngak enak badan minta izin supaya ngak sakit, ibu jadi khawatir karena kamu dulu sering dan gampang sakit." ucap ibu Lusi khawatir.
"iya ibu, ibu tenang aja."
"baiklah ibu nanti kita sambung lagi, Lusi harus lanjut kerja." balasnya ingin menyudahi pembicaraannya, karena Lusi takut ibunya yang sensitif akan tahu Lusi punya masalah.
__ADS_1
"iya nak...kalau ada apa-apa ingat telpon ibu ya nak." ucap ibu Lusi.
"iya ibu, salam sama bapak."
"iya nak."
Sambungan telpon pun terputus dan Lusi memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, saat baru keluar dari toilet ponselnya berdering lagi, Lusi dengan segera menekan tombol merah untuk menolak panggilan dari nomer Ardian, Lusi masih tidak ingin berbicara padanya.
Baru akan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya ponsel tersebut berdering lagi, Lusi menarik dan menghembuskan nafasnya seraya melihat layar ponselnya, dan ternyata panggilan itu dari Nico dengan segera Lusi menekan tombol hijau untuk menerimanya.
"hallo kak Nico..!" sapa Lusi.
"hallo Lusi..!kau di mana sekarang?" balas Nico.
"aku masih di kantor, ada apa kak?"
"aku sudah di Indonesia baru saja sampai, ini masih di bandara, mau ke hotel dulu."
"kakak nginep di mana? nanti aku akan kesana."
"aku menginap di hotel W.R.C, kau pindahlah kesini aku sudah pesankan kau satu kamar lagi."
"kenapa menginap di sana kak?"
"kenapa Lusi, bukannya ini salah satu hotel milik perusahaan Wirajaya group?"
"justru ada pertemuan di sini, makanya aku menginap di sini karena aku salah satu yang masuk ke daftar tamu undangan pertemuan itu."
"bagaimana bisa kak?"
"nanti sore akan ku jelaskan saat kita bertemu, ok nanti sore aku jemput ke hotel wirajaya dan kau pindah ke hotel R.W.C bersamaku."
"tapi kak..."
"tidak ada tapi tapi....pulang kerja kau berkemas dan pindah lah, ok Lusi?
"baiklah, nanti akan ku telpon setelah aku selesai berkemas." ucap Lusi pasrah.
"baiklah sampai jumpa nanti sore."
"iya kak Nico, sampai jumpa nanti sore." ucap Lusi menutup sambungan telponnya.
Lusi melangkah kembali ke arah meja kerjanya dan melihat Dewi yang sibuk dengan empat cangkir kopi di atas nampan yang dia bawa,Lusi menghampirinya.
__ADS_1
"mbak Dewi ada tamu ya?" tanya Lusi saat ada di samping Dewi.
"iya Lusi, Oya tolong dong bawakan buku agenda itu dan kertas daftar tamu itu sekalian." tunjuk Dewi dengan dagunya yang dia angkat dan mata melirik ke atas meja kerjanya.
"baiklah." balas singkat Lusi yang segera mengambil buku agenda dan kertas daftar tamu.
Lusi mengetuk pintu ruang presdir lebih dulu, setelah terdengar suara direktur Radhika menyuruhnya masuk, segera Lusi membukakan pintu untuk Dewi masuk terlebih dulu yang membawa nampan minuman untuk tamu yang datang.
Lusi yang fokus menahan daun pintu untuk Dewi tidak menyadari ada dua orang yang melihat dirinya dengan tatapan mata yang berbeda yaitu Ardian dan Bryan, yang datang dengan tujuan dan alasan yang sama.
Ardian dan Bryan datang ke perusahaan wirajaya dengan alasan dan tujuan yang sama yaitu, sama sama dengan tujuan datang membawa daftar tamu undangan mereka sebagai alasan dan kedok untuk bertemu dengan Lusi.
Saat Lusi melangkah masuk, dia melihat dua tatapan mata yang melihat ke arahnya, Lusi memperlambat langkahnya, Bryan tersenyum bahagia melihat Lusi sang pujaan hatinya, sedangkan tatapan Ardian terlihat lega dan sendu melihat ke arah Lusi yang melangkah mendekati mereka.
'aduh sudah usaha menghindari mereka, kenapa malah ketemu di saat aku sedang tidak ingin untuk melihat mereka.' gumam Lusi dalam hati melihat Bryan dan Ardian datar secara bergantian.
Lusi memilih berdiri di samping asisten Ari, sedangkan Dewi masih sibuk menyuguhkan minuman ke atas meja kaca di depan para tamu, setelah Dewi selesai direktur Radhika mempersilahkan Bryan dan Ardian untuk menikmati minuman hangat mereka.
Bryan dan Ardian pun meraih cangkir mereka masing-masing dan meminumnya, mereka berdua masih menatap Lusi yang berdiri di samping asisten Ari, arah tatapan Lusi tidak tentu arah, terkadang menunduk dan terkadang melihat ke arah lain, agar tidak bertemu tatap dengan mata Ardian dan Bryan.
'bertahan Lusi, jangan sampai kau terlihat lemah, kau kuat Lusi, kau lakukan seperti biasanya anggap mereka tidak ada di sini.' gumam Lusi dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri.
"sekretaris Dewi bisa kamu serahkan daftar tamu kita pada presdir Ardian dan presdir Bryan." perintah Radhika pada Dewi, dengan segera Dewi mengambil kertas daftar tamu undangan yang di pegang dan di serahkan oleh Lusi.
Dewi dengan cepat membagikan kertas daftar tamu undangan pihak wirajaya group kepada Ardian dan Bryan.
"silahkan anda lihat, apa ada nama tamu yang tidak berkenan di hati anda presdir Ardian, Presdir Bryan?" tanya Radhika pada para tamu.
Mereka membaca semua daftar tamu yang ada di sana, sesekali melirik ke arah Lusi yang siap dengan buku agenda dan pena di tangannya untuk mencatat apa yang akan di katakan oleh Ardian dan Bryan.
Tidak ada yang curiga akan lirikan mata Ardian dan Bryan pada Lusi.
"daftar tamu undangan nomer satu." ucap Ardian dan Bryan secara bersamaan yang membuat mereka semua yang ada di dalam ruangan memandang Ardian dan Bryan secara bergantian.
Radhika segera melihat nama undangan yang di maksudkan, nama itu adalah nama tamu undangan terhormat Wirajaya Group, 'Faresta Group' yang berasal dari Indonesia tetapi
berkembang pesat di beberapa negara di tiga benua seperti, Amerika, Eropa dan Asia.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya.....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.