
***Taman Bunga Dan Padang Rumput***
Aku duduk terpaku di atas batang pohon yang sudah mati dan mengering. Sendiri dengan hanya di temani oleh aneka bunga yang terlihat indah di hadapan mataku. Angin yang tertiup dingin menerpa seluruh kulitku yang hanya berbalut gaun putih panjang yang sangat tipis, ingin rasanya mendekap tubuh dengan kedua tanganku, namun kedua tanganku tidak dapat bergerak sama sekali.
Air mataku menetes dengan terasa dingin di atas pipiku, Hatiku terasa sedih, sakit dan rindu yang menyiksa Batin dan hatiku. Aku dapat mendengar suara sedih dari Ardian dan juga Bryan, mengharapkan aku kembali dan bangun lagi. Namun untuk menggerakkan tubuhku saja aku tidak bisa.
Bibirku juga seakan setia pada katupnya yang tidak ingin mengeluarkan suaranya, walaupun aku berusaha untuk teriak. Hanya suara hatiku saja yang dapat berbicara, namun tidak dapat terdengar oleh siapapun? Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin melangkah dan mencari keberadaan Ardian dan Bryan yang memanggilku, aku ingin membalas semua panggilan dari mereka tetapi aku tak kuasa untuk melakukan itu semua.
Ya Tuhan tolong hamba, katakan di mana sekarang hamba berada kini? Apa yang telah terjadi pada hamba? Berikan hamba petunjuk atas semua yang terjadi? Hanya doa dan beberapa pertanyaan yang dapat hatiku katakan. Berharap semuanya terjawab dan aku dapat mengerti apa yang terjadi?
Air mata yang begitu saja keluar dari pelupuk mataku, tanpa bisa aku menghentikannya. Hatiku sakit, sedih dan rindu yang aku rasakan secara bersamaan. Siapapun tolonglah aku, teriakku di dalam hati? Berharap semua ini dapat jawaban yang dapat mengakhirinya, rasa tersiksa dan terluka itulah yang aku rasakan.
Aku hanya bisa pasrah dan berserah diri.
"Pejamkan matamu, dan rasakan semuanya dengan ikhlas. Semua yang terjadi akan menjadi sebuah takdir dari hidupmu saat ini. Terima dengan ketulusan hatimu." Ucap suara seorang wanita berbicara padaku.
Namun untuk melihat sosoknya aku tidak bisa menggerakkan kepala dan tubuhku.
"Siapa, siapa itu?" Tanyaku di dalam hati, berharap wanita itu bisa mendengar suara hatiku.
"Lakukan apa yang aku katakan? Lusi, Kamu akan bisa melihat dan mengenali siapa aku?" Balasnya. Itu artinya dia bisa mendengarkan suara hatiku. Ada sebuah harapan yang timbul di dalam hatiku saat ini.
"Baiklah, akan aku lakukan." Balasku. Aku pun mengikuti apa yang wanita itu katakan?
Aku pasrah, ikhlas dan tulus menerima semua takdir ku di dalam hidup. Aku percaya di balik mendungnya hujan, akan ada langit yang cerah dan pelangi cantik mewarnai. Begitu pula semua cobaan yang terjadi padaku selama ini, pasti akan berlalu dan kebahagiaan akan aku raih.
"Lusi…!!" Panggil dan sebuah sentuhan pada pundak kananku terasa hangat.
Aku membuka mata dan kepalaku dapat bergerak melihat ke arah kanan, di mana seorang wanita yang sangat mirip denganku, seakan aku seperti sedang bercermin di hadapanku.
"Siapa kamu?" Tanyaku ingin tahu.
"Aku Lusi."
"Lusi…!" Ulangku karena tidak mengerti, aku mengerutkan keningku melihatnya.
Wanita ini tersenyum. "Aku Lusi saudara kembarmu, Kau Luna adikku." Ucapnya.
Aku masih terdiam untuk mencerna sejenak apa yang sedang dia katakan? Di saat itulah terlintas ingatan di mana ibu dan ayah mengakui siapa mereka yang sebenarnya? dan pada saat itu juga ibu menceritakan tentang siapa aku yang sebenarnya? aku anak kandungnya yang lama menghilang dan aku memiliki saudara kembar yang bernama Lusi, yang namanya kini aku gunakan sebagai identitas baruku.
Namaku yang sebenarnya adalah Luna, aku adik kembar dari Lusi. Lusi kakak kembarku telah meninggal dunia sewaktu masa kuliahnya dulu, Lusi meninggal karena tertembak oleh musuh dan saingan bisnis dari ayah. Kini aku dapat mengerti apa yang di bicarakan oleh wanita yang ada di hadapanku?
"Kakak." Panggilku. Dia hanya tersenyum.
__ADS_1
"Iya adikku. Lama sekali untuk kita bertemu seperti ini." Ucapnya tanpa melepaskan senyuman di wajahnya.
"Jika aku bertemu dengan kakak, berarti aku sudah meninggal?" Tanyaku tidak percaya.
Namun Lusi kakakku malah menggelengkan kepalanya sembari masih tersenyum.
"Kamu masih hidup adikku, kamu hanya koma karena jiwa, pikiran dan hatimu masih bingung dan bimbang dengan semua kehidupan yang pernah kamu alami. Bangunlah adikku, pulanglah dan kembali pada keluarga kecil yang kamu miliki saat ini. Jaga ibu dan ayah untukku." Balasnya dengan senyum namun sorot mata yang terlihat sedih.
"Apa benar aku masih hidup?"
"Iya adikku. Ini bukanlah tempatmu, ini tempat tinggal kakak. Kamu harus kembali dan menunjukkan semua kebenaran di dalam hidupmu. Jangan biarkan kejahatan dan kegelapan terus menghantuimu. Bangkit dan mulailah hidup barumu."
"Tapi bagaimana caranya aku kembali?" Tanyaku karena jujur aku tidak tahu caranya.
"Pejamkan matamu, ikuti kata hatimu dan dengarkan panggilan tulus dari orang orang yang menyayangimu. Kamu pasti akan kembali lagi ke duniamu yang seharusnya."
Aku kini mengerti maksud dari kak Lusi, Ini bukanlah tempat atau duniaku. Ini tempat tinggal dan dunia kakak. Aku terharu karena aku masih bisa melihat kakakku yang sudah lama terpisah dariku, kembaran dan belahan hatiku.
Aku memeluknya, dan menangis haru dalam pelukan kami. Aku bahagia serta haru akan pertemuan kami. Aku bahagia dan haru dapat berbicara dan memeluk sebagian dari hatiku yang hilang selama ini.
"Kakak bahagia di sini?" Tanyaku setelah melepaskan pelukan kami.
"Aku akan bahagia, jika kamu juga bahagia di sana." Balasnya dengan senyum yang sangat cantik di wajahnya.
"Sekarang aku akan bahagia, aku bahagia karena bisa bertemu dan memeluk kakak."
"Benarkah?"
"Iya." Angguknya mengiyakan.
"Apa kakak sudah terlahir kembali?"
"Iya. Nathalia putrimu adalah sebagian dari jiwaku terlahir padanya. Aku senang dan bahagia bisa berada bersama kalian lagi." Balasnya. Walaupun aku tidak begitu percaya, namun hukum reankarnasi dan terlahir kembali itu benar adanya. Aku hanya bisa tersenyum untuk menanggapinya.
"Baiklah, cepatlah kembali. Aku akan melihatmu dari sini. Tunjukkan kebenaran itu kepada mereka Lusi. Kamu pasti bisa memberikan keadilan pada keluarga kita. Setelah kamu sadar nanti, kamu akan bisa mengingat semuanya. Bahkan Tuhan berbaik hati padamu, bisa mendapatkan sedikit ingatan dariku karena kita ini sebenarnya satu hati dan pikiran." Ungkapnya.
"Baiklah kak, terima kasih sudah mau datang untuk menemui ku dan menunjukkan sebuah jalan padaku."
"Sama sama adikku, separuh jiwa dan belahan hatiku. Aku sangat mencintai dan menyayangimu, adik kecilku. Kembalikan." Ungkapnya dengan senyum.
Aku hanya mengangguk setuju, aku percaya pada kak Lusi. Kakak kembaran sekaligus separuh jiwa dan belahan hatiku. Aku tersenyum padanya yang perlahan memudar dan hilang dari hadapanku.
Kini aku dapat merasakan kehangatan angin dan cahaya yang ada di taman ini. Tiupan angin yang tadinya dingin menerpa tubuhku, kini perlahan menjadi hangat kembali. Akupun mulai bisa menggerakkan seluruh tubuhku, aku bisa berdiri dan melangkahkan kakiku, aku bisa membuka mulutku dan mengeluarkan suaraku. Aku menangis haru akan hal hangat yang aku rasakan di dalam hatiku.
__ADS_1
Aku berjanji akan melakukan semua yang kakak katakan, kebahagian yang ingin aku raih adalah kebahagian yang di inginkan oleh kakak juga. Aku berharap semuanya akan baik-baik saja, dan berjalan seperti yang kami harapkan.
Air mata yang hangat di atas pipiku, dapat aku rasakan. Aku menghapusnya sejenak, lalu memejamkan mataku bersamaan dengan sebuah cahaya yang terang dan hangat menghampiriku saat ini. Yang aku inginkan hanyalah bisa pulang dan kembali lagi kepada semua keluarga, teman dan orang orang yang menyayangiku selama ini.
...--------------------------------...
***Rumah Sakit***
Sedangkan di rumah sakit, Ardian dan Bryan masih menatap Lusi dengan kesedihan yang mereka rasakan dari lubuk hati terdalam mereka. Dua pria yang sangat dan tulus menyayangi Lusi Arsinta.
Jari jemari Lusi yang di genggam erat dan hangat oleh Ardian bergerak bersamaan dengan meluncurnya sebulir air mata dari pelupuk mata Lusi yang tertutup rapat. Ardian yang dapat merasakan gerakkan jemari Lusi pun melihat ke arah wajah Lusi, wajah yang kini mengeluarkan air matanya, di balik mata yang masih terpejam.
Ardian sontak melihat dan terkejut, karena ini adalah reaksi pertama setelah Lusi di nyatakan koma. Ardian ingin ini adalah reaksi baik dari Lusi, Ardian berharap itu tanda tanda Lusi akan sadar dan siuman kembali.
"Sayang, apa kamu bisa mendengarkan ku." Ucap Ardian lembut di samping wajah Lusi.
Bryan yang masih ada di sana pun dapat melihat itu semua.
"Sayang bangunlah. Kamu tahu sayangku, aku sangat mencintaimu, akan aku lakukan apapun yang kamu inginkan dariku? Bangunlah sayang." Ucap Ardian, kembali air mata Lusi meluncur begitu saja dari balik pelupuk matanya yang masih tertutup rapat. Gerakkan jemari Lusi semakin kuat.
"Ardian." Panggil Bryan karena dia juga melihat apa yang kini Lusi lakukan. Lusi tengah menerima rangsangan dari panggilan yang di lakukan oleh Ardian.
"Bryan, tolong panggilkan dokter. Semoga ini reaksi baik dari Lusi." Ungkap Ardian tersenyum haru melihat ke arah Bryan.
"Baiklah, kau tunggu di sini. Akan aku panggilkan dokter." Balas Bryan dengan cepat berlalu dari ruangan tersebut.
Beberapa menit kemudian, dokter dan Bryan masuk kembali ke dalam ruang perawatan Lusi. Mereka mendekati Ardian yang masih mencoba berbicara dan masih memegang tangan Lusi.
"Apa nyonya Lusi menunjukkan sebuah reaksi atau gerakan tubuh, tuan Ardian?" Tanya dokter setelah berada di dekat Ardian.
"Iya dokter. Setiap aku mengajaknya berbicara, ada gerakkan dari jemarinya dan air matanya keluar dari sudut matanya, dokter." Balas Ardian antusias. Dia berharap Lusi kembali siuman secepatnya.
"Permisi, saya coba periksa dulu." Ucap dokter. Ardian lalu menyingkir dari tempatnya, memberikan tempat untuk sang dokter.
Dokter itupun melakukan beberapa pemeriksaan, setelahnya dokter tersebut memerintahkan perawat yang bersama dengannya untuk melepaskan beberapa alat yang menempel di tubuh Lusi.
"Kenapa alatnya di lepas, dokter?" Tanya Ardian dengan wajah cemasnya. Dia cemas sesuatu terjadi terhadap Lusi. Ardian menatap serius dan intens wajah sang dokter yang juga melihatnya. Begitu juga Bryan, terlihat sama cemasnya seperti yang Ardian lakukan saat ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.