Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 113 Keputusan Lusi Dan Bryan.


__ADS_3

***Di Dalam Cafe***


Lusi telah memutuskan, bila hubungannya bersama Bryan tidak akan mungkin berlanjut terus, semua harus di akhiri sampai di sini. Lusi masih berharap bila mereka bisa berteman baik.


Walaupun keputusan itu berat, karena akan sangat menyakiti hati Bryan, tetapi tetap harus Lusi lakukan. Semua rasa sakit Bryan akan membuat hati Lusi merasa bersalah. Bila seandainya Bryan akan membencinya, Lusi akan terima dengan tulus, karena itu resiko yang memang harus Lusi dapatkan.


Selama makan mereka hanya berbicara santai, Lusi masih mencari celah untuk bisa membicarakan keinginannya tersebut.


Sedangkan Ardian dan asisten Gavin yang memang ada di dalam cafe tersebut, memiliki suatu cara untuk mengetahui semua pembicaraan mereka berdua. Semua itu ide gila dari asisten Gavin, yang terus mendapatkan ancaman dari sang atasan.


Gavin membayar mahal seseorang, yang kebetulan bisa duduk di belakang meja Lusi dan Bryan. Seseorang tersebut menyalakan ponselnya dan tersambung langsung pada ponsel Gavin, dengan melalui sambungan ponsel orang sewaan gavin, Ardian bisa dengan jelas mendengar apa pembicaraan Lusi dan Bryan? yang sesekali ada candaan dari Bryan untuk Lusi, terlihat seperti sepasang kekasih.


Ardian sesekali terlihat mengepalkan tangannya kuat, menahan rasa marah dan cemburu mendengar perbincangan manis Lusi dan Bryan. Ardian benar-benar ada di dalam mode cemburu buta, yang ingin rasanya Ardian mendekati mereka berdua, dan menarik Lusi ke dalam pelukannya.


Tapi Ardian terus mengingat janjinya pada Lusi, yang tidak akan ikut campur urusannya yang ingin menyelesaikan urusan asmaranya bersama Bryan. Ardian mencoba untuk menahan semua rasa marah dan cemburunya, Ardian mencoba percaya pada Lusi, kalau Lusi akan menepati janjinya, untuk lebih memilih mempertahankan rumah tangganya, demi kedua anak-anaknya.


'sabar Ardian…cobalah beri kepercayaan pada Lusi, ini juga sulit bagi Lusi untuk di jalani, semua jalan hidup Lusi saat ini lebih sulit dari jalan hidupmu.' gumam Ardian mencoba menghibur dirinya sendiri.


Ardian terus dengan diamnya mendengarkan, perbincangan antara Lusi dan Bryan. Ardian menganggap perbincangan mereka adalah perbincangan dari dua orang teman saja.


"Ryan…ada yang ingin aku bicarakan saat ini padamu." ungkap Lusi dengan tatapan seriusnya pada Bryan.


Bryan ikut menatap serius Lusi, sebenarnya Bryan sudah tahu maksud dari pembicaraan dan pertemuan mereka hari ini. Tetapi dia hanya ingin menghibur dirinya sendiri, agar tidak merasa terlalu sakit akan ucapan yang ingin di katakan oleh Lusi.


Bryan tahu Lusi ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka, walaupun hati Bryan belum siap untuk kehilangan Lusi dalam hubungan yang baru saja terjalin, tetapi kebahagiaan Lusi adalah kebahagiaan dia juga.


Pilihan masa depan Lusi, lebih penting dari perasaannya yang memang bertepuk sebelah tangan. Lusi yang memiliki sebuah ikatan hubungan yang lebih kuat antara anak-anak dan suami masa lalunya, akan lebih penting saat ini di pertahankan oleh Lusi, daripada hubungan asmara bertepuk sebelah tangan Bryan pada Lusi. Semua akan coba Bryan terima walaupun sakit yang dia rasakan.


"apa ini tentang hubungan kita?" tanya Bryan tepat pada sasaran maksud Lusi.


Lusi dapat melihat sorot kesedihan dan kekecewaan dari mata Bryan, perlahan Lusi menyentuh punggung tangan Bryan yang ada di atas meja. Lusi tahu Bryan sudah sadar apa yang akan mereka bicarakan? Lusi ingin membuat Bryan kuat dan bisa menerima keputusannya dengan keikhlasan.


"maafkan aku Ryan…jujur ini juga berat bagiku, selama ini kamu bisa mengerti aku, bisa membuat aku selalu nyaman berada di sisimu. Tapi hubungan ini tidak bisa kita lanjutkan lagi, ada ikatan hubungan dari anak-anak dan suami di masa laluku yang lebih berhak aku pertahankan." ungkap Lusi sangat berat sekali untuk di ucapkan.


Hatinya benar-benar merasa bersalah pada Bryan, yang selalu baik dan bisa mengerti dirinya selama ini.

__ADS_1


"Ryan…aku melakukan ini demi anak-anak ku yang tidak bersalah apapun? aku yang menjadi mama mereka, tidak ingin melihat anak-anak ku kekurangan kasih sayang kedua orang tua mereka, aku dan Ardian masih berusaha menjadi orang tua yang baik untuk kedua anak kami, aku harap kamu bisa mengerti posisi dan keadaan ku saat ini." ungkap Lusi mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya?


"Lusi…kau kejam…" balas Bryan dengan tatapan sedihnya.


Lusi hanya bisa diam menatap mata sedih Bryan, semua adalah salahnya dan resiko yang harus di terima Lusi saat ini. Takdir hidupnya memang selalu kejam, semua tidak pernah berjalan seperti yang Lusi inginkan.


"kamu menyakiti hati dan perasaan ku, kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu, kamu tahu sebesar apa perasaan cinta dan sayang ku padamu? dan kamu tega mengatakan keputusan itu padaku?" ungkap Bryan yang membuat Lusi bertambah merasa bersalah.


"Lusi…ini memang berat bagimu, tetapi sangat berat bagiku, kamu tahu bagaimana sakitnya aku saat ini?" tanya Bryan dengan tatapan yang terlihat sakit dan terluka.


"maaf…maafkan aku Ryan…" ucap Lusi, hanya kata-kata itu yang bisa Lusi katakan.


Air mata Lusi yang dia tahan, luluh juga ke atas pipinya. Lusi juga sakit dan bersalah melihat Bryan tersakiti oleh keputusannya. Lusi tidak bisa berbuat lebih baik lagi untuk pria yang selalu setia dan sabar menemaninya selama ini, pria yang selalu mengerti kondisinya di saat dia memiliki rasa trauma berdekatan dengan seorang pria. Pria yang selalu bisa bersikap sopan memperlakukan Lusi selama hubungan asmara mereka terjalin.


Kini Lusi hanya bisa memberikan balasan rasa sakit, dan tidak bisa memberikan balasan rasa cinta dan sayang untuk Bryan. Takdir cinta memang kejam pada hubungan Bryan dan Lusi.


Bryan yang tidak bisa melihat Lusi menangis, balas menggenggam tangan yang tadi menyentuh punggung tangannya. Bryan sakit melihat air mata kesedihan Lusi. Bryan tahu ini juga sangat berat bagi Lusi, walaupun Lusi tidak memiliki perasaan cinta dan sayang untuk Bryan. Tetapi Bryan tahu, ini sulit bagi Lusi yang memiliki perasaan hati yang lembut untuk menyakiti perasaan seseorang.


"apa kamu bahagia bersama keluarga kecilmu?" tanya Bryan ingin mencoba mengalah, dia tidak bisa menyakiti Lusi dengan setiap kata-kata sedih dan kecewanya pada Lusi.


Lusi menatap mata Bryan dengan mata yang penuh dengan air mata, yang terus keluar mengalir ke pipinya. Pertanyaan Bryan tentang kebahagiaannya bersama keluarga kecilnya, di luar perkiraannya.


Bryan yang dapat menangkap maksud jawaban Lusi, tahu dengan jelas kalau Lusi belum memiliki perasaan apapun pada Ardian? sehingga Lusi hanya menyebutkan nama anak-anaknya saja.


Ardian yang sedang menguping pembicaraan mereka pun tahu, Lusi berkata seolah Ardian belum bisa membuat Lusi bahagia dan nyaman berada di dekatnya, karena Lusi belum bisa merasakan perasaan apapun padanya? Ardian sadar dan bisa mengerti itu, perasaan hati seseorang tidak bisa di paksakan.


"bagaimana dengan Ardian Adhitama, pria yang berstatus suamimu saat ini?" tanya Bryan ingin tahu perasaan Lusi pada Ardian.


Ardian menajamkan matanya, mengepalkan erat tangannya, dan rahangnya mengeras menahan perasaan kuat akan hatinya yang resah, dengan pertanyaan dari Bryan, dan menunggu jawaban dari mulut Lusi.


Lusi menatap mata Bryan yang penasaran menunggu jawaban darinya. Lusi tahu dirinya belum ada merasakan perasaan apapun pada Ardian saat ini?


"aku juga bahagia dan mulai nyaman bersamanya." jawaban yang menurut Lusi bisa buat hati Bryan, agar bisa dan rela melepaskan dirinya.


Lusi tidak ingin, Bryan beranggapan kalau Lusi tidak bahagia bersama Ardian Adhitama, yang akan membuat Bryan terus berusaha mendapatkannya, dan tidak akan rela melepaskan Lusi untuk Ardian. Bryan pasti akan berusaha mengejar dirinya terus, karena di anggap Ardian Adhitama yang tidak bisa membuat Lusi bahagia, serta Ardian tidak pantas berada di sisi Lusi.

__ADS_1


Sehingga Lusi sedikit berbohong, agar semua bisa menjadi baik-baik saja, Lusi akan berusaha dan belajar agar bisa merasa nyaman berada di sisi Ardian Adhitama.


Terlihat jelas wajah yang tadi tegang dengan rahang yang mengeras, kini terlihat melunak kembali dengan senyum tipis di bibirnya, Ardian sangat lega dan senang mendengar jawaban Lusi tentang dirinya.


"kau bohong Lusi…" jawab Bryan yang buat mata Lusi menatap Bryan seketika.


Apa kebohongan yang dia buat tidak bisa mengelabui Bryan? itulah pertanyaan yang ada pada hati Lusi.


Ardian seketika membulatkan matanya, perkataan Bryan yang tidak percaya pada jawaban Lusi, seakan membuat Ardian tidak becus untuk membahagiakan Lusi, wanita yang sangat dia cintai.


"untuk apa aku bohong Ryan…hatiku memang belum bisa merasakan apapun perasaan untuk Ardian? tetapi rasa nyaman bersamanya sudah bisa aku rasakan, rasa nyaman bersama dengannya dan anak-anak, membuat hatiku bahagia." ungkap Lusi mencari aman.


Bryan menatap intens mata Lusi, mencari keraguan pada sorot mata Lusi. Terlihat jelas di mata Lusi hanya membela Ardian, agar Bryan bisa merelakan dirinya bersama dengan keluarga kecil yang ingin Lusi pertahankan.


Bryan menghela nafasnya, Bryan tahu Lusi tidak ingin membuat celah baginya untuk mengejar kembali cinta Lusi, Lusi mulai membuat batasan kuat untuk dirinya agar tidak mendekati Lusi lebih dekat lagi.


"bila kamu memang bahagia, aku bisa menahan rasa sakit ini untuk kebahagiaan yang kamu dapatkan saat ini. Aku bisa menahan rasa sakit dan kecewa ini, demi kebahagiaan mu walaupun kamu bersama pria lain." ungkap Bryan mencoba mengalah, karena percuma dia sendiri yang mempertahankan hubungan mereka, sedangkan Lusi sudah mengalah pada hubungan mereka berdua.


"terima kasih Ryan, aku sangat bersyukur bisa mengenalmu, apakah kita masih bisa berteman?" tanya Lusi ingin memperbaiki hubungan mereka berdua, sembari menghapus air mata di pipinya.


Lusi ingin setidaknya mereka berdua bisa berteman, bila hubungan asmara mereka tidak bisa di lanjutkan lagi.


Bryan menatap intens mata Lusi, ada ketulusan dari sorot mata Lusi untuk mereka berteman. walaupun berat baginya untuk berteman saja, setidaknya Bryan masih ada alasan kuat untuk selalu melihat Lusi dari dekat. Memastikan apakah Ardian benar-benar bisa membuat Lusi bahagia apa tidak? Bila Bryan melihat Lusi sedih dan menangis karena tertekan bersama Ardian, tentu di pastikan Bryan akan langsung merebut kembali Lusi dari sisi Ardian Adhitama.


Hanya itu janji yang bisa Bryan buat di dalam hatinya, agar dia bisa mengurangi rasa sakit yang saat ini hatinya rasakan.


"tentu saja, kita masih bisa berteman." balas Bryan yang membuat Lusi merasakan lega dalam hatinya.


Mereka sama-sama saling melempar senyum yang di paksakan, padahal di dalam hati masih ada rasa yang mengganjal. Takdir hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Takdir hidup selalu berjalan pada garis hidup yang sudah di tentukan, oleh Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa di dalam kehidupan ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2