
***Hotel Wirajaya***
…Di dalam kamar hotel…
Lusi memandang Ardian dengan tatapan tajamnya, dia benar-benar marah karena Ardian menuduh Lusi dengan apa yang tidak dia lakukan dan menghina serta merendahkan harga dirinya, menganggap Lusi wanita murahan yang hanya gila harta dan dapat dibeli dengan uang.
si kembar yang mendengar Lusi terteriak di hadapan Ardian pun menghentikan gerakannya bermain dan melihat ke arah mereka.
Lusi tidak peduli lagi akan keberadaan si kembar, itu urusan nanti dia akan menjelaskannya pada si kembar.
"tuan aku peringatkan pada anda, jangan menghina dan menuduhku yang bukan-bukan, aku sudah katakan aku tidak meniru istri anda dan tidak ada niat mendekati anda." tunjuk Lusi ke arah Ardian yang masih duduk santai bersandar di sofa, Ardian tersenyum tipis melihat Lusi yang mulai emosi.
"bila anda tidak tahan melihat keberadaan saya anda bisa menghindar dan pergi dari sini, saya juga dengan senang hati tidak akan menampakkan diri di depan anda." tunjuk Lusi dengan menekan amarahnya.
"kau berani melawan dan mengusirku?" balas Ardian yang bangun dari duduknya.
"iya saya akan berani melawan dan mengusir anda bila anda menghina, merendahkan dan menuduh saya sembarangan, tuan saya manusia yang juga punya hati dan perasaan." balas Lusi tak kalah emosi.
"manusia seperti mu masih punya hati dan perasaan ?" ucap Ardian berkacak pinggang dan tersenyum mengejek melihat Lusi dari bawah kaki sampai atas kepala.
"anda benar-benar arogan tuan..bila saja tidak ada anak-anak saya sudah menghajar anda sekarang juga."
"coba kalau kau berani." tantang Ardian.
Lusi menekan giginya, mengeratkan kepalan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, dia sudah ada di batas kesabaran.
"aku sangat membencimu tuan dan aku tidak akan pernah lupa akan penghinaan mu hari ini padaku, aku benar-benar sangat membenci mu tuan Ardian Adhitama." kata Lusi menunjuk ke arah Ardian yang sudah tidak mengucapkan panggilan sopan kepada Ardian.
"sampai kapan kau akan perpura- pura seperti ini ?" tanya Ardian yang mencengkram erat lengan kiri Lusi. " jangan pernah mengancam ku." tunjuk Ardian dengan tangan kirinya karena tangan kanannya mencengkram kuat lengan Lusi, sampai Lusi meringis karena kesakitan.
"aku tidak bersalah tuan, dan aku akan membuktikan itu pada mu, di saat semuanya jelas kau akan menyesalinya tuan."balas Lusi yang menahan sakit di lengannya yang merasakan cengkraman Ardian bertambah erat.
__ADS_1
"aku tidak akan pernah menyesalinya karena aku tidak pernah salah, kau ingat itu...di saat semua terungkap jangan harap kau lepas dariku...bahkan semua keluargamu akan menerima balasan dariku karena ulahmu." ancam Ardian, Lusi yang mendengar nama keluarganya di bawa-bawa pun semakin tidak terima.
"jangan pernah bawa-bawa nama keluargaku." balas Lusi yang mencengkram balik kerah jas Ardian.
"kau dan keluargamu akan mendapatkan hukuman dan balasan dari ku karena sudah berani mengusikku, dan kau ingat tidak ada yang pernah lepas dari cengkraman ku." balas Ardian yang berusaha melepaskan cengkraman Lusi padanya.
Lusi kalah kuat dari tenaga Ardian sehingga saat Ardian melepaskan cengkeramannya, Ardian menghempaskan keras tubuh Lusi kebelakang sampai tubuh Lusi jatuh ke lantai.
Lusi yang merasakan sakit di bokong dan sikunya yang mencium dinginnya lantai kamar hotel, memejamkan matanya untuk meredamkan rasa sakitnya, dia segera menoleh ke arah Ardian yang masih berdiri tegak di hadapannya, Lusi sudah tidak tahan lagi, Lusi bangkit dan mamandang benci serta tajam mata Ardian.
Lusi berbalik badan dan segera keluar dari kamar itu tidak peduli lagi akan panggilan si kembar padanya, dia berlari dengan sekuat tenaga hanya ingin pergi menenangkan diri.
Lusi turun ke lantai bawah dan berlari menuju taman belakang hotel di samping kolam renang, dia duduk di kursi taman yang ada di sana memandang ke arah pemandangan taman yang di penuhi aneka bunga, dengan sesekali menghembuskan nafasnya untuk melegakan dan menenangkan hatinya akan amarah.
"kau pikir siapa dirimu Ardian Adhitama, jangan karena kau kaya raya kau seenaknya menghina dan merendahkan ku, kau menuduhku dengan apa yang bukan aku lakukan, apalagi sekarang kau berani membawa serta kedua orang tuaku yang hanya mereka aku miliki, aku akan membalasmu dan membuatmu menyesal." kata Lusi dengan kuat mengepal tangannya.
"aku sangat membencimu dan tidak akan pernah aku memaafkanmu."
"dia benar-benar membuat aku Semarah ini, dia benar-benar membuat dadaku sesak sampai aku susah bernafas kerena emosi." kata Lusi sambil memukul dan mengelus pelan dadanya, sejak amarahnya terpancing nafasnya naik turun karena menahan emosinya agar tidak menghajar Ardian di hadapan si kembar.
"aaa...biarkan sajalah toh mereka aman bersama tuan sok kuasa dan kejam itu."
Lusi hanya duduk diam di kursi taman hotel, dia tidak ingin kembali ke kamar hotel entah sampai kapan, dia tidak ingin melihat Ardian, dan sialnya lagi dia tidak membawa apapun saat keluar dari kamar, Lusi terus menghela nafas sekedar untuk menenangkan hatinya.
......................
sedangkan di dalam kamar hotel Nathalia menangis karena Lusi pergi dan tidak mendengarkan panggilannya.
"papa jahat...kenapa buat mama pergi..." tangis Nathalia dalam pangkuan dan memukul dada Ardian.
"mama yang mau pergi." jelas Ardian yang tidak ingin di salahkan.
__ADS_1
"papa dorong mama sampai jatuh..." tangis Nathalia bertambah keras, sedangkan Nathan hanya melihat saja duduk manis di sofa sebelah Ardian.
Sebenarnya Nathan juga kecewa pada papanya, karena dia melihat semua adegan Lusi dan Ardian yang berselisih sejak masuk ke dalam kamar.
Nathan pun berpikir bila 'bila mamanya selalu pergi dan tidak ingin tinggal dengan dirinya dan Nathalia pasti ulah papanya yang selalu buat mamanya marah dan kecewa.' itu yang ada di dalam pikiranan dan hati Nathan.
Nathan anak yang cerdas dan cepat menangkap apa yang di pelajari dan di lihatnya, walaupun belum genap 6 tahun tetapi otaknya lebih cerdas di atas rata-rata anak seumuran dia, sedangkan Nathalia juga cerdas tetapi tidak secerdas kakak kembarnya, dia lebih banyak manja dan lebih perperasaan cepat menangis dan sedih.
"sudah lah Adek jangan nangis lagi, lebih baik kita pulang ya."
"ngak mau papa jahat, Adek mau di sini nungguin mama pulang." kata Nathalia yang berusaha turun dari pangkuan Ardian tetapi di cegah oleh tangan Ardian.
Ardian menarik nafasnya, dia selalu kalah kalau sudah berhadapan dengan si kembar apalagi saat Nathalia merajuk seperti saat ini.
"mama pasti lama pulangnya, kita pulang dulu besok kita ke sini lagi." ajak Ardian perlahan.
"ngak mau papa pulang sendiri, Adek mau nungguin mama di sini sama kakak." balasnya yang masih menangis dan membuang mukanya tidak ingin melihat Ardian.
"kakak kita tungguin mama di sini ya.." kata Nathalia melihat sang kakak duduk di samping Ardian, Nathalia berhasil turun dari pangkuan Ardian dan duduk disebelah kakaknya.
"iya " jawab singkat Nathan seraya melihat kearah adiknya yang duduk di sebelahnya.
'kau benar-benar licik Lusi, sudah mendapatkan sekutu untuk melawanku, dan itu anak-anak ku sendiri, kau benar-benar wanita licik.' gumam Ardian dalam hati yang memandang kedua anaknya tidak mau mendengarkan kata-kata nya.
Ardian terus merayu dan membujuk si kembar agar mau pulang karena sebentar lagi malam, tetapi semua bujuk rayu Ardian tidak berhasil, si kembar kukuh tidak ingin pulang dan tidak mendengarkan apa yang di katakan papa mereka, mereka seakan melakukan protes dan pembelaan untuk mama mereka Lusi.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.