Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 22 Terserang Alergi.


__ADS_3

*****Mansion Ardian Adhitama*****


Kamar tamu yang ditempati oleh Lusi seakan terasa habis akan oksigen padahal suhu dingin AC memenuhi ruangan, ada yang tidak beres pada tubuhnya saat dia sudah terlelap tidur, tiba-tiba dia terbangun merasakan nafasnya terasa sesak, kulitnya gatal dan pusing pada kepalanya seperti di serang pertigo.


Lusi berusaha mengatur nafasnya yang seakan tertahan di tenggorokan sesak yang melanda bertambah parah, ditambah pusing kepala yang berputar dan gatal di kulit yang sangat tidak nyaman, dia terasa ada di neraka.


Lusi dengan hati-hati turun dari ranjang,tapi terjatuh akibat kepalanya yang terasa berputar-putar, dia terus berusaha untuk mengatur nafasnya agar sesak yang dia rasakan berkurang tapi gagal.


Keringat dingin mulai keluar, jari-jarinya mulai menggaruk pelan kulit yang terasa gatal, dia coba bangun dari duduknya dengan tangan yang bertumpu pada lantai Lusi berusaha untuk berdiri, berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar sambil sempoyongan, pintu kamar yang tadi sore dia lihat dekat sekarang terasa berjarak sangat jauh.


"apa aku benar-benar alergi udang ?" tanyanya pada diri sendiri dengan suara serak karena sesak pada pernafasannya.


"aku harus mencari pertolongan, ini sangat menyakitkan, nafasku terasa habis." katanya tersengal-sengal.


Lusi dengan susah payah membuka pintu kamar, begitu dia berhasil keluar dari kamar dia menyandarkan tubuhnya pada tembok agar tidak jatuh karena kepalanya yang masih terasa berputar-putar, dia ingin teriak minta tolong tapi suaranya yang keluar sangatlah kecil karena sesaknya semakin parah.


Lusi terus berjalan sempoyongan sambil bersandar di tembok, sepi tidak ada siapapun yang dia lihat di sekitar lantai dua, 'siapa saja tolong aku' katanya dalam hati yang terus berjalan berusaha mendekati tangga untuk turun ke lantai bawah.


Sampai di depan tangga, dia dengan cepat meraih pegangan tangga agar tidak jatuh, saat dia berusaha melihat ke arah bawah malah tubuhnya yang gemetar karena tangga turun yang dia lihat ikut berkelok-kelok akibat kepalanya yang masih pusing berputar-putar, dengan sisa tenaganya dia berusaha menahan beban tubuhnya agar tidak jatuh.


Air mata yang sedari tadi ditahannya pun jatuh di pipi putih Lusi yang kini timbul bercak merah di sekitar wajahnya, Lusi benar-benar merasa dirinya sekarat, dengan masih berusaha dia terus turun perlahan.


......................


Ardian dan asisten Gavin keluar dari ruang kerja setelah menyelesaikan pembicaraan mereka, Ardian berjalan ke kamar lebih dulu dengan ponsel ditangannya untuk mencari nomer telpon mamanya, dia ingin memberitahukan kalau dia tidak pulang ke mansion mamanya malam ini, dengan alasan ada pekerjaan yang mendesak dan akan tidur di mansion nya agar lebih dekat dari kantor.


Ardian masih sibuk dengan ponselnya sedangkan Gavin mengikuti dari belakang, saat berada di ruang tengah Gavin melihat ke arah tangga atas di mana ada sosok wanita dengan kepala menunduk yang mengakibatkan rambut panjangnya tergerai ke depan menutupi wajahnya, yang berdiri bersandar dan berpegangan di pinggir pegangan tangga.


"tuan...!" panggil Gavin dengan masih berjalan dan melihat ke arah tangga atas.


"ada apa ?" tanya Ardian tanpa menoleh yang masih sibuk denga ponselnya.


"siapa itu tuan...?" tanya Gavin menunjuk ke arah tangga atas.


"aaa..itu siapa maksudmu ?" tanya Ardian yang berhenti dari jalannya dan menoleh ke arah belakang dimana Gavin yang ikut berhenti dari jalannya.


"itu...tuan !!" tunjuk Gavin lagi ke arah atas tangga.


Ardian yang penasaran pun mengikuti arah yang di tunjuk oleh gavin. Ardian juga melihat sosok wanita yang di lihat oleh Gavin yang sedang berusaha untuk turun dari tangga, dia mengerutkan alisnya berusaha menebak siapa sosok itu ? saat Lusi mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat sedikit.


"itu nona Lusi tuan." tebak Gavin.

__ADS_1


"benar Gavin...sedang apa dia disana ?" tanya Ardian.


"sepertinya nona Lusi sedang kesusahan untuk turun tangga tuan."


"bagaimana mungkin dia kesusahan untuk turun tangga ?" tanya Ardian heran.


"coba anda perhatikan...??"


Ardian pun melihat teliti Lusi yang mulai membenarkan rambut tergerainya kesamping kuping, sedangkan tangan yang satunya lagi masih saja berpegangan pada pinggiran pegangan tangga. Saat dia ingin melangkah turun dia seperti ingin terjatuh.


"coba kita dekati, apa lagi rencananya ?" kata Ardian curiga.


Mereka berjalan mendekati tangga dan berdiri melihat ke arah Lusi yang sedang berusaha turun, pandangan mata mereka melihat ke wajah Lusi yang kemerahan dan basah karena air mata serta keringat dingin yang terus keluar.


Lusi yang melihat ada orang yang berdiri di anak tangga bawah pun berusaha mengatakan 'tolong' tapi suaranya tidak bisa keluar, diapun berusaha melambaikan telapak tangannya agar yang melihat mengerti kalau Lusi sedang meminta bantuan mereka.


Ardian dan Gavin yang mulai curiga karena melihat wajah Lusi ada bercak merahnya pun segera berlari menaiki anak tangga agar lebih dekat dengan Lusi.


Begitu mereka berada tepat di hadapan Lusi, tiba-tiba baju depan Ardian di remas oleh Lusi, Ardian hanya diam membiarkan Lusi meremas bajunya, dengan susah payah Lusi mengangkat kepalanya dan mengeluarkan suaranya.


"to...loooo.....ng " kata Lusi pelan dan tersengal- sengal akibat sesaknya.


"tuan nona Lusi sepertinya terserang alergi sama seperti gejala alergi nyonya Lidya." kata Gavin yang memang tahu gejala alergi Lidya nyonya mudanya dulu, karena memang yang menolong Lidya dulu juga dia.


"apa dia tidak sedang bersandiwara ?" tanya Ardian masih tidak percaya.


Membuat Gavin dan juga Lusi yang mendengarnya terkejut, marah dan kecewa, karena Lusi yang merasa dirinya sedang sekarat di anggap hanya bersandiwara, sedangkan Gavin terkejut dan kecewa pada tuannya yang tidak percaya sama sekali dengan apa yang di alami Lusi, yang langsung di lihat tuannya dengan mata kepalanya sendiri di hadapannya sekarang.


"tuan anda lihat sendiri, kulitnya merah-merah dan nafasnya sesak, mungkin juga nona Lusi merasakan pusing pada kepalanya." Gavin berusaha membuat tuannya percaya.


Lusi melihat ke arah Gavin yang lebih peka dan paham dengan apa yang di alami Lusi sekarang, Lusi pun memindahkan remasan tangannya pada baju Gavin yang lebih mengerti dirinya saat ini untuk meminta tolong.


Kedua tangan Lusi meremas baju depan Gavin dan kepalanya yang menunduk pusing di tempelkan pada dada Gavin. Gavin pun dengan segera memegang kedua lengan Lusi untuk memastikan Lusi masih bisa berdiri atau tidak.


"nona Lusi anda masih bisa tahan, saya akan membawa anda ke rumah sakit sekarang ?" tanya Gavin yang hanya di jawab anggukkan kepala dari Lusi.


Saat tangan Gavin ingin merangkul pundak Lusi, Ardian malah mencegah tangan Gavin dengan memegang pergelangan tangan Gavin kuat dengan tatapan tajamnya, Gavin pun melihat heran tuannya.


'apa tuan tidak memperbolehkan ku menolong nona Lusi ?'


'tapi nona Lusi harus segera di tolong dan di bawa kerumah sakit.'

__ADS_1


'apa tuan masih tidak percaya dan Setega itu melihat nona Lusi yang sedang sekarat butuh pertolongan ?'


itu yang ada di dalam benak Gavin saat melihat tuannya mencegah tangannya yang akan merangkul pundak Nona Lusi untuk memapahnya berjalan.


Saat Gavin ingin bertanya pada tuannya, tiba-tiba tuannya langsung mengangkat dan menggendong tubuh Lusi ala bridal.


"cepat siapkan mobil." perintah Ardian yang berjalan cepat menuruni tangga sambil menggendong Lusi.


Gavin segera berlari membukakan pintu depan dan berlari ke arah garasi untuk mengambil mobil. Mobil berhenti tepat di depan tuannya berdiri di depan teras mansion, Gavin keluar dan membukakan pintu mobil untuk tuannya dan nona Lusi, Ardian memasukkan tubuh Lusi terlebih dahulu baru dia yang masuk ke dalam mobil.


Kepala Lusi di rebahkan pada pangkuan paha Ardian, mata Lusi sudah terpejam dengan nafas yang semakin sesak. Gavin mengemudikan mobil yang di kendarainya dengan kecepatan maksimal.


Ardian tampak mulai cemas melihat wajah Lusi yang mulai penuh dengan bercak merah, mata terpejam dan nafas yang sesak.


"Lusi...Lusi...!" panggil Ardian pada Lusi yang menepuk-nepuk pelan pipi Lusi, tapi tidak ada jawaban dari Lusi, Ardian mulai takut melihat keadaan Lusi.


"Lusi...Lusi...jawab aku ?" tanya Ardian lagi yang masih menepuk-nepuk pipi Lusi sedikit keras agar Lusi sadar, tapi tidak ada respon sama sekali dari Lusi, Ardian semakin takut apalagi sesak nafasnya mulai melemah dengan di iringi air mata yang keluar dari matanya.


Ardian mulai tegang dan ada rasa takut yang besar melanda di hatinya karena melihat Lusi seperti orang yang sekarat dan tidak merespon panggilannya Sama sekali, tanpa putus asa Ardian terus berusaha membuat Lusi merespon panggilannya, tapi usaha Ardian hanya sia-sia saja.


Ardian yang mulai putus asa karena tidak mendapat respon dari Lusi bertambah tegang dan rasa takut di dalam hatinya pun bertambah besar, sama besarnya saat dia merasakan rasa takut kehilangan Lidya dulu sewaktu Lidya diculik dan di bunuh, tanpa sadar Ardian memeluk tubuh Lusi dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Lusi aku mohon bertahanlah, aku mohon.." katanya yang memeluk erat tubuh Lusi , sedangkan Gavin hanya fokus mengemudikan mobil, yang sesekali melihat ke arah kaca spion depan karena mendengar kata-kata tuannya pada Lusi.


Ardian bertambah erat memeluk tubuh lusi karena takut terjadi apa-apa pada Lusi, apalagi ini semua ulahnya yang memaksa Lusi makan udang untuk membuktikan apakah Lusi juga memiliki alergi atau tidak sama seperti Lidya yang alergi dengan makanan seafood.


Lusi yang merasakan tubuhnya terhimpit yang membuatnya bertambah sesakpun berusaha melawan tapi kalah tenaga, Lusi hanya bisa meremas lengan baju Ardian dan sedikit mengerang, Ardian yang mendengarkan langsung melepaskan pelukannya dan bertanya pada Lusi.


"Lusi apa kau bisa mendengarku ? Lusi jawab aku !! aku mohon bertahanlah..!!" kata Ardian yang hanya di jawab sedikit erangan dari Lusi.


Ada rasa lega dan bersyukur bahwa Lusi masih bisa bertahan walau tidak ada perubahan pada kondisinya yang masih dengan bercak merah di seluruh badan, sesak pada nafasnya, dan mata yang masih terpejam.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2