
Episode sebelumnya…
Zia menganggukkan kepala ke arah Lusi setelah selesai memeriksa keadaan nyonya Meli dan menyatakan bahwa beliau masih hidup dan benar hanya tidak sadarkan diri saja.
Lusi mengamati ada 6 penjahat di dalam gudang termasuk ketua mereka, Lusi dengan perlahan melangkah begitu Zia juga melangkah dan mendorong kursi roda nyonya Meli, saat Lusi sudah masuk kedalam gudang mendekat pada Zia dan nyonya Meli, tiba-tiba pintu gerbang tertutup dengan cepat yang membuat Lusi dan Zia melihat ke arah pintu gerbang yang sudah tertutup rapat oleh dua anak buah si penculik yang ternyata bersembunyi di balik pintu gerbang agar tidak terlihat oleh Lusi dan Zia.
...----------------...
Lusi langsung menatap tajam ke arah si penculik yang tersenyum licik ke arahnya.
"kau licik…" ucap Lusi dengan nada yang sedikit tinggi.
"hahahaha…kau wanita yang sangat merepotkan sekali, menaklukkan mu harus dengan cara licik." balas si penculik.
"cukup aku yang berada di sini, lepaskan nyonya Meli dan juga temanku." ucap Lusi dengan tatapan tajamnya.
"hahahahhaa…siapa kau bisa mengaturku…?hahahaha…" gelak tawa mereka mengejek ke arah Lusi dan Zia.
Lusi mengepalkan tangannya kuat menahan amarahnya akan jebakan si penjahat.
"baiklah… sekarang apa mau mu? apa kau akan menahan kami bertiga?" tanya Lusi dengan berdiri santai di samping Zia yang masih memegang gagang kursi roda nyonya Meli.
"tentu saja, sampai kami mendapatkan apa yang kami inginkan." balas si penjahat dengan senyum kemenangannya.
"apa yang kau inginkan dan apa yang kau rencanakan? apa kalian hanya 8 orang saja atau masih ada lagi yang bersembunyi untuk menangkap kami 3 wanita? tidak bisakah kau bersikap jantan sedikit?" tanya Lusi ingin tahu dan memprovokasi sekaligus memberikan Isyarat pada tuan Erick dan yang lainnya, karena sambungan telpon mereka belum terputus.
"hahahaha…kau benar-benar wanita yang sangat arogan dan sangat merepotkan." balas si penjahat mulai tersulut emosinya mendengar kata-kata Lusi.
"katakan siapa bosmu? siapa yang memerintahkanmu?" ucapnya lagi.
Lusi sangat kesal dan marah saat ini, bila saja tidak ada nyonya Meli yang tidak sadarkan diri di sini, dia pasti akan langsung menyerang penjahat yang hanya bisa berbuat licik, tapi dia harus menahannya untuk keselamatan nyonya Meli.
"kau tidak perlu tahu tentang itu, ikuti saja apa yang aku perintahkan dan jangan membuatku bertambah repot."
"cepat ikat mereka…" perintahnya pada anak buahnya yang ada di sebelahnya.
Salah satu anak buah si penjahat pun melangkah mendekati Lusi dan Zia, Lusi melirik ada pilar besar dekat di sebelah kanan mereka, Lusi berniat membawa nyonya Meli berlindung pada pilar dan mencoba untuk menyerang mereka, karena mereka tidak ada pilihan lain dari pada harus di tahan oleh para penjahat.
__ADS_1
"Zia siaga dan lindungi nyonya Meli di balik pilar sebelah kananmu itu, aku akan menyerangnya dan berusaha melindungi mu." bisik Lusi pada Zia yang ada di sampingnya.
Zia tidak menjawab apa yang di perintahkan Lusi padanya, tetapi dia mengerti maksud Lusi dan harus berbuat apa?
Lusi melihat hanya satu yang baru menodongkan pistolnya pada mereka, dan yang lainnya masih kosongan termasuk 2 orang yang ada di belakang mereka yang berjaga di balik pintu gerbang, Lusi memperkirakan akan menembak si penodong baru akan menembak yang ada di gerbang, Lusi juga curiga kalau semua penjahat pasti memegang pistol atau senjata lainnya.
Yang Lusi inginkan hanya melindungi nyonya Meli dulu agar aman di balik pilar agar dia leluasa untuk menyerang, Lusi berharap apa yang dia rencanakan bisa berjalan lancar dan bantuan dari tuan Erick cepat datang.
Lusi berpura-pura melangkah ke samping Zia agar saat dia mengambil pistol di balik lengan jasnya tidak di lihat oleh para penjahat.
Lusi sudah memegang pistolnya di tangan kanan dan tidak ada yang melihatnya sama sekali. "sekarang Zia." perintah Lusi.
Dengan cepat Zia berlari mendorong kursi roda nyonya Meli ke arah pilar sebelah kanannya, sedangkan Lusi dengan cepat mengalihkan perhatian penjahat dengan tembakan dari pistol yang di pegangnya, Lusi menembak penjahat yang menodongkan pistol ke arahnya, dan mengenai bahu kanannya pistol yang di pegang sang penjahat pun terlepas dari pegangannya.
Lusi berlari menghindari tembakkan dari si penjahat dan bersembunyi di balik pilar dimana Zia membawa nyonya Meli bersembunyi, semua penjahat menyerang Lusi dan Zia secara bersamaan, mereka saling membalas tembakan dan menghindar.
Lusi berharap tuan Erick dan yang lainnya segera datang untuk membantu mereka, karena Lusi kalah jumlah apalagi harus melindungi nyonya Meli yang masih tidak sadarkan diri.
Tetapi tiba-tiba serangan mereka terhenti dan mereka semua lari dari sana, Lusi dan Zia heran melihat mereka melarikan diri.
Lusi dan Zia terus menembaki mereka, tapi sayang tidak ada yang terkena satu pun, mereka sudah menghilang keluar dari gudang tersebut, Lusi dan juga Zia saling memandang.
"aku juga tidak tahu, coba kau periksa nyonya Meli apa beliau baik-baik saja?" perintah Lusi pada Zia yang tepat berada di samping nyonya Meli.
"nyonya Meli baik-baik saja nona" jawab Zia setelah dia memeriksa keadaan nyonya Meli.
"kau tunggu di sini, aku akan memeriksanya." ucap Lusi seraya bangun dari duduknya.
Lusi melangkah maju untuk memeriksa kemana perginya semua penjahat itu, tetapi pintu gerbang terbuka lebar, Lusi dan Zia dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arah pintu gerbang yang terbuka.
Lusi dan Zia tidak langsung menembak mereka yang ada di depan pintu gerbang tetapi dia sedikit heran karena di sana ada Rania Kiandra berdiri bersama dengan ke dua temannya dan satu orang lagi, seorang sandra yang lusi tidak kenal.
"hentikan tembakkan…!" ucap si pria besar yang menodong pria yang lebih kecil darinya.
"jadi kau yang telah menculik tante Meli....?" tanya Rania Kiandra melihat pada Lusi.
Lusi dan Zia mengerutkan alis mereka heran dengan pertanyaan Rania pada mereka.
__ADS_1
"apa maksud nona Rania?" tanya Lusi yang masih menodongkan pistolnya ke arah Rania dan teman-temannya, Lusi takut bila ini hanyalah jebakkan.
"jangan berlagak polos kau...sudah jelas-jelas ketahuan kalau kau adalah dalang dari penculikkan tante Meli." ucapnya sedikit membentak Lusi.
"kau jangan sembarangan menuduhku, aku datang untuk menyelamatkan nyonya Meli." jawab Lusi membela dirinya.
"alah....sudah ketahuan untuk apa lagi kau mengelak?" tuduh Rania kembali.
"aku tidak mengelak karena itu adalah kenyataannya." jawab Lusi tidak mau terima akan tuduhan Rania padanya.
"buktinya kau bersama tante Meli dan teman wanitamu saja yang ada di sini, dan ini adalah saksi mata bahwa dia yang melihatmu membawa dan menyekap tante Meli di gudang ini." ucap Rania seraya menunjuk pada seorang laki-laki yang di sandra oleh teman pria Rania.
"nona…tolong selamatkan aku, aku tidak bersalah, aku tidak sengaja melihatmu datang bersama temanmu saat kau membawa masuk nyonya yang ada di kursi roda itu masuk ke dalam gudang, aku tidak tahu apa-apa." ucap si pria yang sedang di jadikan sandra.
Lusi mengerutkan alisnya heran pada si pria yang di jadikan sandra, Lusi tidak mengerti apa yang di katakan pria tersebut.
"apa maksudmu?" tanya heran Lusi pada si pria.
"aku tadi melihat anda turun dari mobil bersama teman wanitamu dan nyonya yang ada di atas kursi roda itu dan masuk ke dalam gudang ini, dan saat aku ingin melihatnya tuan dan nona ini datang dan membawaku ke dalam menemuimu, tolong maafkan aku nona...aku tidak sengaja melihat anda dan teman anda itu." ucap si pria menjelaskan seraya menyatukan kedua telapak tangannya memohon ampun.
Lusi semakin heran di buatnya dengan situasi ini, mengapa giliran dia yang menjadi penjahatnya?
Saat Lusi ingin menjawab pertanyaan si pria itu, sebuah mobil sedan hitam BMW mewah datang, Ardian dan asisten Gavin keluar dari dalam mobil, Rania yang melihat Ardian datang segera menghapirinya.
"Ardian ternyata dalang di balik penculikkan tante Meli adalah wanita itu." tunjuk Rania ke arah Lusi.
Lusi semakin mengerutkan alisnya mendengar aduan Rania pada Ardian yang menuduhnya dalang dari penculikkan ini.
Ardian melihat pada Lusi yang masih menodongkan pistolnya ke arah pintu gerbang, dimana ada dua teman Rania dan seorang sandra, Lusi pun melihat ke arah Ardian yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang Ardian lihat saat ini?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.