Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
EPISODE 44 Sakit Cinta Tak Terbalas.


__ADS_3

***Hotel Wirajaya***


…kamar Lusi…


Lusi baru saja selesai mandi pagi, saat ponselnya berdering.


"hallo selamat pagi !" sapa Lusi pada orang di seberang.


"hallo sayang, selamat pagi !" sapa balik Bryan si penelpon.


"iya Ryan ada apa?"


"apa kau sudah siap bekerja sayang?"


"ini lagi mau pakai baju."


"sebentar lagi aku jemput kita sarapan pagi bersama."


"baiklah 20 menit lagi aku sudah siap."


"oke bye sayang sampai jumpa nanti."


"bye Ryan sampai jumpa lagi." Lusi menutup telponnya.


Lusi tersenyum melihat ke arah ponselnya.


"kau memang tidak pernah berubah Ryan, selalu perhatian padaku, terima kasih kamu tidak pernah melupakanku." ucapnya mengingat Bryan.


......................


20 menit telah berlalu, Lusi pun telah selesai bersiap diri.


suara ketukan di pintu terdengar, Lusi yang memang sudah siap segera mengambil tas dan memakai sepatu kerjanya.


Lusi sangat cantik dengan hanya menggerai rambutnya dan memakai setelan jas dan rok hitam polos yang sangat pas di tubuhnya, dengan di lengkapi tas mini berwarna biru, Lusi akan membuat banyak mata pria melihat ke arahnya.


ini visual Lusi dengan penampilan kerjanya.



Lusi membuka pintu kamarnya.


"pagi sa....yang..!"sapa Bryan yang terpesona melihat penampilan Lusi pagi ini.


Nampak segar dan cantik di matanya, Bryan juga tak kalah tampan dengan setelan jas mahalnya yang berwarna putih dengan dalaman kemeja hitam.


ini visual Bryan dengan penampilan kerjanya.



(semua hanyalah bayangan Author dapat dari internet ya.)


"pagi Ryan !" sapa balik Lusi.


"kamu cantik sekali pagi ini." Bryan tersenyum melihat ke arah Lusi.


"terima kasih, kamu juga tampan pagi ini." balas Lusi dengan tersenyum manis kepada Bryan.


"ayo kita sarapan."

__ADS_1


Lusi segera menutup dan mengunci pintu kamarnya, Bryan mengulurkan tangannya yang di sambut langsung oleh Lusi.


Mereka berjalan bergandengan tangan, Lusi mulai terbiasa dengan perlakuan baik dan lembut Bryan padanya, dia sudah tidak terlalu kaku lagi seperti saat baru pertama kali dekat dengan Bryan.


Berkat Bryan yang salalu sabar, lembut dan hangat padanya, sedikit demi sedikit ketakutan Lusi yang takut bersentuhan dengan lawan jenis pun hilang secara perlahan.


Walaupun belum merasakan ada getaran di dalam hatinya, dia sudah nyaman bersama Bryan, dan Lusi berharap kalau rasa nyamannya akan berubah menjadi rasa sayang dan cinta pada Bryan agar bisa membalas perasaan Bryan padanya.


Lusi akan terus belajar untuk membalas semua perasaan Bryan padanya.


Sepanjang perjalanannya menuju restoran hotel, mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang yang berpapasan dengan mereka, dan semua yang ada di dalam restoran tak luput memandang melihat mereka.


Semua melihat kagum akan pasangan Bryan Lusi yang tampan dan cantik, banyak yang berbisik kalau mereka pasangan serasi.


Mereka sarapan pagi bersama dengan bahagia, Lusi bersyukur ada Bryan yang masih mau bersamanya, Lusi merasa tidak kesepian di kota besar ini.


Selesai sarapan Bryan mengantarkan Lusi ke kantor Wirajaya group, awalnya Lusi menolak tetapi Bryan terus memaksa dan mendesaknya sampai Lusi mau.


......................


Lusi minta di turunkan agak sedikit jauh di depan kantor supaya tidak menjadi pusat perhatian.


Awalnya Bryan menolak, tapi Lusi mengancam tidak akan mau ikut satu mobil lagi dengan Bryan, dengan terpaksa Bryan mengikuti keinginan Lusi.


Lusi juga meminta kalau mereka sedang ada di area perkantoran atau waktu kerja, mereka harus bersikap profesional dan Bryan menyetujuinya walau dengan berat hati.


......................


Lusi berjalan masuk ke area perkantoran dengan tatapan semua orang melihat ke arahnya, ada yang melihat suka dan kagum padanya, ada juga yang melihat tidak suka padanya.


Lusi hanya cuek akan komentar karyawan lain padanya, dia tidak ada waktu untuk meladeni komentar orang padanya.


"selamat pagi cantik !" sapa Dewi sedikit berteriak yang membuat Lusi kaget sampai badannya bergetar.


"iiiihhh mbak Dewi...copot jantungku..." ucap Lusi melihat horor ke arah Dewi seraya mengelus-elus dadanya, agar debaran pada jantungnya yang kaget berkurang.


Dewi hanya tersenyum nyengir sehingga deretan giginya yang putih bersih terlihat.


"maaf sayangku, aku kelewat senang karena kamu akhirnya masuk kerja lagi, sepi ngk ada teman." jawab Dewi masih tersenyum senang seraya berjalan menuju meja kerjanya.


Lusi menarik nafasnya untuk menetralkan debaran jantungnya. "pagi juga mbak Dewi, apa kabar?" sapa balik Lusi setelah tenang.


"aku baik,kamu sendiri bagaimana sudah sehat?" tanya Dewi yang memang tahu kemarin kalau Lusi di rawat inap selama sehari lebih, akibat alergi makanan seafood dan rawat luka di lengannya.


"aku sudah lebih baik."


"Oya... mbak Dewi ngak kasi tahu siapa siapakan kalau aku kemarin dirawat?" tanya Lusi memandang curiga Dewi.


Lusi meminta Dewi untuk merahasiakan kalau dirinya di rawat di rumah sakit, supaya tidak heboh beritanya.


Apalagi ada sesuatu yang Lusi rahasiakan yaitu satu ruangan dengan si kembar Nathalia yang memanggilnya 'mama' dan juga kehadiran Ardian Adhitama yang setiap hari disana.


Saat Dewi ingin menjenguk dirinya Lusi langsung melarang keras, dengan alasan kalau dia malu ada orang melihat kondisi nya yang mengenaskan dengan kulit yang penuh bintik-bintik merah, dan untungnya Dewi mengerti sehingga tidak jadi datang untuk menjenguknya.


"tenang saja sayangku...mulutku tertutup rapat." jawab Dewi seraya menggerakkan jepitan jari terlunjuk dan jempolnya ke arah mulut, tanda mengunci mulutnya.


"terima kasih." lega Lusi tersenyum pada Dewi.


"terus bagaimana pekerjaanmu dengan Ardian Adhitama?"

__ADS_1


"aku kan hanya sehari lebih di rawat." kata Lusi terpaksa berbohong karena tidak mungkin dia mengaku setiap hari bertemu dengan Ardian di ruang perawatan. "selama 2 hari aku sudah membereskan pekerjaanku dengannya." senyum Lusi ke arah Dewi.


'semoga mbak Dewi ngak curiga.' gumam Lusi dalam hati.


"enak dong selama 2 hari bertemu cogan."


"aahhh...enak ketemu cogan, apa mbak Dewi ngak salah?"


"emang salahnya dimana? tuan Ardian kan benar-benar cowok ganteng, tenar, kaya dan sukses." ucap Dewi antusias yang tersenyum girang membayangkan wajah ganteng Ardian.


'mbak Dewi tidak tahu saja kalau tuan sok kuasa itu kejam, dingin dan suka buat orang sakit hati akan kata-katanya.' gumam Lusi yang tersenyum kecut melihat Dewi membayangkan wajah Ardian Adhitama.


Lusi yang hanya diam tidak menjawab perkataan Dewi pun melihat ke arahnya.


"heeii..gimana?"


"gimana apanya?"


"rasanya kerja sama cogan tuan Ardian? selama 2 hari matamu di manjakan oleh wajah tuan Ardian yang tampan."


'uweekk' gumam Lusi muak mendengar nama Ardian yang di sebut tampan oleh Dewi.


"biasa saja." jawab Lusi mengalihkan pandangannya ke arah layar komputernya.


Lusi malas membahas tentang Ardian Adhitama.


"biasa aja??" Dewi terkejut dengan jawaban Lusi.


"iya biasa aja, emangnya harus istimewa?" tanya Lusi melihat Dewi yang mengerutkan keningnya melihat Lusi heran.


"apa menurutmu tuan Ardian bukan pria tampan?"


Lusi melihat Dewi, dia diam nampak berpikir sebelum menjawab Dewi.


Dalam pikiran Lusi kalau memperhatikan wajah Ardian dengan intens, Ardian memang pria yang tampan dan gagah dengan postur tubuh atletisnya di tambah kulitnya yang putih bersih, Ardian memang benar pria tampan dan ganteng.


Tapi karena Lusi tidak suka dan benci sikap sifat Ardian yang selalu mengancam dan menuduhnya sembarangan, nilai tampan Ardian di mata Lusi hilang.


"biasa saja mbak Dewi, lagian untuk apa sih kita membicarakannya." acuh Lusi yang langsung sibuk dengan layar komputernya.


"kamu memang aneh, awas Lo nanti malah kamu yang jatuh cinta padanya, sakit tahu mencintai seseorang tetapi tidak terbalas." ucap Dewi yang membuat pergerakkan tangan Lusi terhenti.


Lusi langsung mengingat Bryan yang mencintainya tapi tidak ada balasan darinya, 'apa Ryan juga merasakan sakit karena mencintaiku tetapi tidak aku balas?'


Lusi lama diam dengan tatapan menerawang ke depan layar komputer, dia masih meresapi kata-kata dari Dewi. 'sakit tahu mencintai seseorang tetapi tidak terbalas.' kata-kata ini terus mengingatkan dirinya pada Bryan.


'ya Tuhan apa yang harus hamba lakukan bila Ryan merasakan sakit itu? ya Tuhan berikanlah hamba mu ini jalan dan cara untuk membalas cinta dan kasih sayang Ryan pada hambamu ini.'


itu doa dalam hati Lusi yang berharap dia di berikan kesempatan untuk bisa membalas cinta dan kasih sayang Bryan padanya.


Akankah Lusi bisa membalas perasaan cinta Bryan padanya? akankah ada takdir yang baik pada percintaan Lusi di dalam hidupnya? semua orang sangat menginginkan takdir percintaan yang mulus dan baik di dalam kehidupan ini.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2