
Di sebuah apartemen mewah seorang wanita memandang tajam pada seorang laki-laki yang menjadi anak buahnya sekaligus rekan kerjanya.
"apa yang di katakan wanita itu?" tanya Rania menatap tajam Lukas seraya masih menikmati minuman anggur putih kesukaannya.
"dia setuju untuk bertemu dan menggantikan nyonya Meli menjadi sandra kita." jawab Lukas melihat pada Rania.
"bagus… kali ini aku tidak ingin kau gagal lagi, dan aku ingin wanita itu pergi dari hadapanku dengan cara apapun juga, bila perlu lenyapkan nyawanya." ucap Rania tegas dan tajam dengan masih menikmati minuman anggur putihnya.
"tentu saja kali ini dia tidak akan lepas lagi." balas Lukas tersenyum melihat Rania.
"bila kali ini kau gagal lagi… jangan pernah muncul lagi di hadapanku sampai kau bisa menyingkirkan wanita itu, bila tidak kau yang akan menggantikan posisi wanita itu, kau mengerti?" peringatan keras dari Rania sembari meletakkan minuman di atas meja kaca yang ada di hadapannya.
"baiklah aku mengerti…aku berangkat dulu untuk memantau bagaimana perkembangannya." balas Lukas melihat mimik wajah devil Rania menatapnya tajam dan dingin.
Rania hanya mengibaskan tangannya tanda memerintahkan Lukas untuk pergi dari hadapannya, Lukas yang mengertipun pergi dari sana dengan segera.
"Yani bagaimana dengan perkembangan penyerangan dari Black Lion pada saat pertemuan hari ini?" tanya Rania beralih memandang pada Yani yang duduk di hadapannya.
"mereka kalah nona." jawab Yani yang membuat Rania terkejut dan meletakkan kembali minuman yang baru saja di angkatnya.
"kalah?" tanya Rania tidak percaya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"iya nona mereka kalah dan banyak anak buah Black Lion mati dalam penyerangan ini?"
"bagaimana bisa mereka kalah?" tanya penasaran Rania dengan tatapan tajam pada Yani.
"mereka di serang oleh ke empat atasan perusahaan yang saling bekerjasama dan anak buahnya, nona Rania."
"sialan…bagaimana mungkin sekuat anggota mafia Black Lion bisa kalah?" tanya Rania yang masih belum percaya dengan kekalahan anggota mafia Black Lion yang terkenal akan kekejamannya saat menghabisi semua musuhnya.
"mereka kalah jumlah nona, dan ternyata mereka memiliki penembak jitu di sana, yang tidak di ketahui oleh ketua mafia Black Lion, dan juga dia pandai bersembunyi sampai mata-mata ku tidak bisa tahu yang mana orangnya."
"penembak jitu? siapa sebenarnya incaran dari ketua mafia Black Lion sampai dia mau turun tangan langsung untuk menyerang musuh?" tanya Rania masih penasaran.
"saya dapat informasi dari teman yang ikut dalam misi penyerangan tersebut, dia mengatakan bahwa ketua mafia Black Lion mengincar Presdir Faresta Group."
"Presdir Faresta Group?" tanya Rania terkejut.
__ADS_1
"apa dia memiliki misi untuk membunuh Presdir Faresta Group?"
"tidak nona, ini dendam lama yang belum selesai, Faresta Group dan Black Lion juga memiliki hubungan yang rumit dengan anggota mafia King Dragon."
"King Dragon? mafia musuh bebuyutan mafia Black Lion?"
"iya nona, Faresta Group dapat dukungan penuh dari ketua mafia King Dragon, entah itu karena Faresta Group yang memakai jasa King Dragon untuk menjaganya atau ada hubungan yang lain? pihak Black Lion tidak tahu jelas dan mereka masih menyelidikinya." jawab Yani apa adanya sesuai dengan informasi yang dia dapat.
"baiklah Yani, kau cari tahu terus informasinya, dan aku ingin tahu siapa yang lebih kuat antara kedua mafia? mafia Black Lion atau mafia King Dragon? aku ingin bekerjasama dengan yang lebih kuat, kau mengerti…?!?" peringatan mutlak Rania pada anak buahnya yang di jawab anggukkan kepala oleh Yani.
Rania menikmati kembali minumannya dengan tenang seraya menunggu keberhasilan dari rencana yang di buatnya untuk menyingkirkan Lusi sekaligus mendapatkan simpati dari Ardian.
...----------------...
***Hotel R.W.C***
Lusi berhasil masuk ke dalam kamarnya tanpa di ketahui oleh siapapun, dan ternyata di sana sudah ada Zia dan yang lainnya menunggu Lusi masuk ke dalam kamar.
Lusi menatap heran pada semuanya yang ada di ruang tamu kamar presiden suite yang di tempatinya bersama Zia, mereka pun menatap heran pada Lusi.
"kenapa kalian semua ada di sini?" tanya Lusi melihat pada mereka semua secara bergantian.
"apa yang aku sembunyikan? tidak ada yang aku sembunyikan sama sekali." balas Lusi menatap Nico.
"jujur saja…aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu." tanya Nico.
Lusi hanya bisa menatap Nico dan yang lainnya secara bergantian, sebenarnya Lusi hanya ingin cerita pada tuan Erick dan ingin meminta bantuannya, tetapi apa dia juga harus cerita pada Nico?
"aku tahu ada sesuatu yang terjadi padamu dan sepertinya aku tahu siapa dalang di balik semua yang terjadi ini? bila kamu mau bicara." ucap Nico masih menatap tajam pada Lusi.
Lusi menatap intens pada Nico untuk mencari kebenaran pada kata-katanya, apakah ini hanyalah pertanyaan menjebak atau yang sebenarnya telah di ketahui oleh Nico tentang apa yang sedang terjadi.
"bila benar aku menyembunyikan sesuatu? apa yang kak Nico tahu tentang itu?" tanya Lusi ingin tahu apakah Nico benar-benar tahu? atau hanya ingin memancingnya untuk berkata jujur.
"ada yang sedang mengincar mu dan ingin memcelakai mu, itu yang aku tahu, tetapi aku tidak tahu dengan cara apa mereka akan mencelakai atau menjebakmu? apa tebakkan ku salah?" kata Nico sembari duduk santai menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Lusi tersenyum tipis mendengar tebakkan Nico yang sangat benar dan tepat sasaran, Lusi lupa siapa Nico yang sebenarnya? apa yang tidak di tahu oleh Nico? semua tidak bisa di sembunyikan Lusi dari seorang Nicole Richie.
__ADS_1
"baiklah kau menang kak Nico…kau memang benar-benar hebat bisa tahu tentang apa yang sedang terjadi padaku." jawab Lusi tersenyum melihat Nico.
"katakan apa yang dia lakukan padamu? aku mencurigai seseorang adalah dalang di balik semua ini?" tanya Nico.
"apa kakak tahu siapa dalang di balik semua ini?" tanya Lusi ingin tahu.
"kami masih memperjelasnya, tapi Deo dan Zia mencurigai nona Rania Kiandra dan anak buahnya yang melakukan semua ini, karena saat pertemuan Deo dan Zia tepat duduk di belakang mereka lalu menangkap gerak gerik mencurigakan dengan menunjuk ke arah mu." jelas Nico.
Lusi lalu memandang Deo dan Zia secara bergantian, pandangannya lama menatap wajah Deo ingin bertanya apakah itu benar atau hanyalah tebakkan mereka saja.
"Deo apa itu benar?" tanya Lusi melihat Deo serius.
"iya nona… Zia juga mendengar dan melihat anak buah Rania Kiandra menunjuk dan membicarakan anda nona, apakah sebelumnya anda memiliki masalah dengan Rania Kiandra?" tanya Deo menatap balik wajah Lusi.
"tidak…aku tidak memiliki masalah apapun dengannya." ucap Lusi jujur menjawab.
"tetapi sepertinya dia tidak suka melihatku, setiap kali kami bertemu, tatapannya tajam dan sinis padaku, padahal aku baru dua kali bertemu dengannya." jelas Lusi dengan apa yang dia rasakan akan tatapan tajam dan sinis Rania padanya setiap kali mereka bertemu.
"mengapa begitu nona?" tanya Deo.
"entahlah aku juga tidak mengerti mengapa dia begitu? atau hanya perasaanku saja yang terlalu sensitif." ucapnya.
"mungkin kau salah lihat Deo, aku tidak ingin kau mencurigai atau menuduh seseorang sembarangan tanpa bukti yang jelas." ucap Lusi kembali.
"pirasat Deo tidak pernah salah." kali ini tuan Erick yang berbicara dan Lusi segera melihat padanya.
"tapi tuan Erick, nona Rania Kiandra adalah kakak perempuan dari istri tuan Ardian Adhitama, apa tidak terlalu berlebihan menuduhnya untuk mencelakai seseorang, apalagi orang yang paling dekat dengan tuan Ardian Adhitama." ucap Lusi tanpa sadar telah mengaku sedikit.
"apa maksud anda nona?" tanya tuan Erick mengerutkan keningnya melihat Lusi.
Lusi seketika sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan? dia sadar bahwa dirinya baru saja mengaku dan mengutarakan permasalahan yang dia hadapi, Lusi hanya bisa menggigit bibirnya dan menatap semuanya secara bergantian, mau tidak mau dia harus mengaku juga dengan masalah apa yang dia hadapi sekarang?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.