
…di dalam ruangan presdir…
"asisten Ari, apa menurutmu?" tanya Radhika pada asisten Ari yang berdiri di depannya.
"maaf tuan maksud anda?" tanya asisten Ari bingung, dia masih memikirkan Lusi yang ingin mengundurkan diri dari perusahaan Wirajaya Group.
"menurutmu bagaimana sekretaris Lusi? kau lebih dulu dan sudah lama mengenalnya?"
"maaf tuan kalau menurut saya pribadi, selama saya mengenalnya dia belum sakalipun pernah melakukan kesalahan, dia selalu bekerja dengan baik dan semua tugas atau perintah yang di berikan presdir Maria padanya selalu di laksanakan dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun." jawab asisten Ari apa adanya, karena memang begitulah lusi yang di kenal oleh asisten Ari.
"apa kau sudah menyelidiki, ada hubungan apa sekretaris Lusi dengan Presdir Ardian Adhitama? yang di perintahkan oleh presdir Maria?" tanya Radhika yang duduk menyilangkan tangannya di atas meja kerjanya.
"saya sudah berusaha menyelidikinya tuan, tetapi semua tentang tuan Ardian Adhitama tidak mudah untuk di ketahui, apalagi masalah pribadinya, tetapi satu yang saya tahu tuan..."ucap asisten Ari terdiam.
"apa itu?" tanya penasaran Radhika.
"saat tuan Ardian meminta izin Presdir Maria agar sekretaris Lusi membantunya, saat itu saya mendapatkan informasi bahwa Lusi yang pingsan di depan kantor karena sakit di tolong oleh tuan Ardian dan asisten pribadinya, dan di bawa ke mansionnya."
"kapan kejadian itu?"
"saat pertama kali pertemuan membahas kontrak kerjasama tuan."
"lalu kenapa Ardian membawa sekretaris Lusi ke mansionnya?"
"karena tuan Ardian tidak ingin ada rumor bila membawa sekretaris Lusi ke rumah sakit, anda tahu sendiri siapa dan bagaimana Ardian Adhitama." jawab asisten Ari dan Radhika hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"lalu apa lagi yang terjadi? coba kau jelaskan semuanya." perintah Radhika.
Asisten Ari pun menjelaskan semua apa saja yang di alami Lusi saat bersama Ardian, yang dia tahu selama ini, Lusi yang masuk ke rumah sakit karena alergi dengan makanan seafood selama 3 hari, tetapi tidak dengan kontrak perjanjian dan tes DNA yang di lakukan oleh Lusi bersama anak kembar Ardian, karena itu adalah rahasia Ardian dan Lusi.
Sampai halnya Lusi yang sudah pindah ke hotel R.W.C pun asisten Ari menjelaskannya ke Radhika, tetapi asisten Ari tidak tahu alasan Lusi pindah ke sana dan di kamar apa, bersama siapa? informasi itu tidak dia dapatkan sama sekali karena itu masih dia cari tahu.
__ADS_1
Radhika pun heran dan penasaran alasan apa dan mengapa Lusi pindah ke hotel R.W.C? dia akan mengeceknya sendiri.
"apa menurutmu? sekretaris Lusi benar-benar mengundurkan diri karena kecewa sebab aku sudah menuduhnya memiliki kerjasama dengan tuan Ardian dan dia kecewa aku sudah meragukan kesetiaannya pada perusahaan seperti yang dia bilang?" tanya Radhika dengan suara lesunya.
"mungkin tuan, karena setahu saya sekretaris Lusi sangat senang dan bangga bekerja bersama presdir Maria, dan saya yakin kalau sekretaris Lusi tidak ada niat sama sekali untuk membuat Wirajaya Group mendapatkan masalah ."
"apa kau seyakin itu?" tanya heran Radhika mengerutkan keningnya melihat asisten Ari.
"iya tuan anda bisa tanyakan langsung pada presdir Maria yang mengenal dekat sekretaris Lusi."
"baiklah asisten Ari, tolong tinggalkan aku sendiri, dan jangan biarkan ada yang menggangguku dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang tersisa, dan tolong kau cek ulang nanti sore ke hotel R.W.C, apa persiapan acaranya sudah selesai semua." perintah Radhika yang langsung sibuk membuka dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
"baik tuan, saya permisi." pamit asisten Ari dan berlalu pergi.
Setelah asisten Ari menghilang dari balik pintu, Radhika menghentikan gerakan tangannya membuka dokumen yang ada di atas meja, dia hanya melihat intens dokumen tersebut.
Radhika menghela nafasnya pasrah, dan dia mulai berpikir apa mungkin hanya karena tuduhannya yang takut Wirajaya Group mendapatkan masalah? dia jadi gegabah menuduh karyawan nya sembarangan dan tidak mencaritahu dulu kebenarannya.
Asisten Ari yang bertemu dan berpapasan dengan Lusi di depan meja kerjanya hanya saling memandang sejenak dan tidak ada yang berbicara sama sekali, mereka hanya diam dan kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
......................
Lusi pulang sendiri menggunakan taksi online yang dia pesan, pikiran dan tenaganya sangat lelah sekali, dia ingin istirahat sebentar sebelum akan melakukan latihan tanding dan menembak bersama tuan Erick.
Setengah jam Lusi mengistirahatkan tubuhnya di ranjang mewah dan empuk kamar hotel R.W.C, terdengar bunyi nada pesan masuk ke dalam ponselnya dan itu dari nomer tuan Erick yang dia dapatkan tadi malam saling bertukar nomer.
Lusi segera mengganti pakaiannya dengan baju santai yang cocok untuk olahraga, agar bisa bebas untuk bergerak, tuan Erick sudah menungguku di fitnes center yang berada di dekat lobby hotel, karena di sana ada juga arena untuk latihan tinju dan kebetulan katanya sudah ada Zia juga yang akan ikut latihan.
Lusi semakin bersemangat karena ada teman latihan bersama, lusi, Zia dan tuan Erick melakukan pemanasan untuk merenggangkan otot-otot yang kaku agar tidak keram.
Mereka bertiga benar benar latihan tanding secara bergantian, tuan Erick walaupun sudah berumur dia sangat energik dan memiliki stamina yang kuat, Zia tidak kalah energik karena usianya yang masih muda, gerakan dan serangannya lincah dan kuat, Lusi yang memang lama tidak latihan malah sempat kualahan menghadapi serangan Zia yang lincah.
__ADS_1
Zia benar benar kuat dan banyak akal dalam menyerang, dia memukul, meninju, menendang dan menangkis serangan dengan baik dan kuat, Lusi tambah bersemangat ditambah lagi Lusi harus jeli melihat tuan Erick yang juga tiba tiba ikut menyerang lusi jadilah Lusi satu lawan dua, Lusi terus melakukan gerakan pertahanan dan penyerangan pada Zia dan tuan Erick.
Setelah mereka bertiga puas latihan tanding, mereka pun beralih ke arena tempat menembak, di sana lebih seru lagi, karena ini yang Lusi tunggu tunggu, Lusi memperhatika tuan Erick yang lebih dulu menembak lalu Zia.
Zia pun bisa menembak walaupun tidak banyak yang tepat sasaran tetapi cara menembaknya bagus, sekarang giliran Lusi untuk menembak dan semua tepat sasaran, benar dugaan tuan Erick bila Lusi sangat tepat menjadi seorang penembak jitu, hanya harus banyak latihan menembak yang sesungguhnya yaitu menembak orang jahat yang pantas di bunuh.
Mereka selesai latihan dan duduk di mini bar yang ada di arena menembak untuk melepaskan dahaganya karena haus dan lelah latihan.
"nona Lusi...bisa nanti datang ke kamar saya bersama zia? ada yang ingin aku bicarakan dan berikan pada kalian berdua, dan ini rahasia kita bertiga." ucap tuan Erick memandang Lusi dan Zia secara bergantian.
"apa sangat penting sekali tuan Erick sehingga menjadi rahasia kita bertiga?" tanya Lusi heran melihat mimik wajah tuan Erick yang serius.
"ini untuk keselamatan kalian, aku ingin membahas sesuatu bersama kalian dan memeberikan barang yang mungkin bisa menjaga kalian dari bahaya." ungkap tuan Erick seraya bangkit dari duduknya.
"akan kutunggu kalian sebelum makan malam, karena aku tidak ingin Nico mengetahui rahasia kita, bisa-bisa dia akan marah padaku, ok sampai ketemu nanti dan usahakan jangan terlambat." kata tuan Erick yang langsung pergi berlalu meninggalkan Lusi dan Zia yang masih duduk bingung melihat tuan Erick semakin hilang dari pandangan mereka.
"ada apa Zia?" tanya Lusi pelan.
"aku juga tidak tahu nona."
"baiklah kalau begitu, mari kita kembali dan segera menemui tuan Erick, aku penasaran." ucap Lusi yang bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar.
Dari arah belakang Zia mengikuti Lusi kembali ke kamar mereka.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.