
***Perusahaan Kiandra Grup***
Rania dan Satrio Kiandra tidak percaya akan kenyataan baru yang mereka ketahui. Saham 30% yang awalnya milik keluarga Kiandra, kini sudah berkurang menjadi 15% saja.
Bagaimana bisa Kiandra grup mengalami kebangkrutan di depan mata mereka?
Semua mata memandang ke arah Seto yang berdiri dengan tubuh gemetar karena kenyataan yang ada di luar kendalinya. Lusi tahu apa yang kini di rasakan oleh Seto Kiandra.
Pria yang dulu begitu tegas dan kejam terhadap Lidya atau Lusi. Kini terlihat lemah dan rapuh, tidak dapat melakukan kekuasaannya lagi seperti dulu.
"Bagaimana tuan Seto, apa yang anda rasakan sekarang?" Tanya lusi dengan tatapan matanya dingin, sedingin es yang seakan tidak ingin mencair sama sekali.
Ardian terdiam memandang ke arah istrinya tersebut. Ardian seakan tidak mengenali sosok dingin Lusi yang ia kenal hangat dan terlihat lembut. Lusi yang sekarang ia lihat begitu tegas dan dingin, Lusi terlihat seperti orang lain baginya.
Ardian juga dapat mengerti bagaimana istrinya dapat berubah seperti itu? Kekejaman dan keserakahan dari keluarga Kiandra yang tidak pernah baik kepada Lusi, itulah akar dari sikap tegas, keras dan dingin Lusi terhadap mantan keluarganya tersebut.
"Kau begitu kejam dan dingin sekarang, Lidya. Tidak…tidak…namamu sekarang Lusi Arsinta Melviano. Putri kandung tuan R.M." Senyum Seto seakan tidak dapat percaya akan apa yang sekarang terjadi padanya dan keluarganya.
Semua mata memandang ke arah Seto yang seperti orang gila, Seto seakan kehilangan arah.
Rania memandang tajam dan benci ke arah Lusi. Begitu juga Lusi yang tidak kalah akan tatapan tajam dan bencinya ke arah Rania.
Saat Lusi mengingat bagaimana busuk dan kejamnya kelakuan Rania kepadanya 5 tahun yang lalu. Di saat itulah hatinya meradang dan ingin segera membalas Rania dengan hukuman yang setimpal, bahkan hukuman yang berat dua kali lipat. Namun ia masih menunggu untuk itu.
"Tuan Seto Kiandra. Anda tidak memiliki hal untuk berkomentar tentangku. Lihatlah bagaimana kondisi mu sekarang?" Kata Lusi dengan tenang dan dinginnya.
"Kau kacang lupa kulitnya. Kami telah mengasuhmu sejak bayi hingga tumbuh dewasa. Begini balasan yang kau berikan kepada kami?" Ucap Seto seakan dialah korban di sini.
Lusi tersenyum mendengar perkataan Seto yang seakan merasa dirinya adalah korban.
"Sepertinya anda sudah lupa, bagaimana caranya aku hidup di dalam keluarga mu itu?" Kata Lusi dengan senyuman yang terlihat meremehkan.
Rania dan Satrio begitu marah dan geram terhadap perkataan serta sikap arogan Lusi.
"Kau anak yang tidak tahu terima kasih. Kau hidup dan bisa seperti sekarang ini, berkat kami keluarga Kiandra yang telah susah payah membesarkan mu. Kau bahkan tidak tahu, berapa besar biaya yang sudah kami keluarkan untuk membesarkan mu." Celetuk Satrio yang tidak tahu menahu tentang transaksi yang telah di lakukan oleh Seto bersama pengacara Chico. Transaksi biaya hidup yang di berikan oleh papa angkat dari bayi Lidya.
Pengacara Chico yang tahu akan semua kebenarannya. Kini merasa marah akan perkataan Satrio, merekalah yang tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih. Jika bukan berkat dari mengasuh bayi Lidya, mereka tidak akan bisa bertahan hidup di saat kehancuran perusahaan Kiandra grup 30 tahun yang lalu.
"Sepertinya tuan Seto harus menjelaskan secara detail. Bagaimana cara membiayai hidup dari nona Lusi? Dari ia bayi hingga tumbuh dewasa." Tiba-tiba pengacara Chico masuk ke dalam perdebatan mereka.
Seto terdiam melihat ke arah pengacara Chico. Seto sadar dan tahu kemana arah pembicaraan pria itu. Tatapan tajam sang pengacara kini memandang Seto Kiandra.
__ADS_1
"Mengapa Anda diam saja, tuan Seto?" Tanya kembali pengacara Chico kepada Seto yang hanya diam saja.
"Apa perlu saya yang menjelaskan semuanya. Sekaligus menunjukkan bukti yang akurat mengenai biaya hidup dari nona Lusi, dari mana asalnya dan berapa biaya yang sudah di keluarkan atasan saya selama 25 tahun hidupnya."
Seto terlihat semakin pucat. Tubuhnya tegang dan akhirnya terduduk dengan lemas. Hancur sudah, semuanya hancur dalam sekejap mata.
Rania dan Satrio Kiandra tahu jika sang papa memiliki masalah serius tentang hal tersebut.
"Tuan Satrio yang terhormat. Anda mengenal saya dengan baik bukan, tahu saya bekerja untuk siapa? Tapi ternyata anda tidak banyak tahu tentang siapa saya." Ucap sang pengacara.
"Sedikit kebenaran yang harus anda dan keluarga Kiandra ketahui. Nona Lidya atau sekarang menjadi nona Lusi, adalah bayi yang di titipkan pada keluarga Kiandra. Adapun biaya hidupnya sejak datang hingga usianya 25 tahun adalah biaya yang di berikan oleh atasan saya. Jadi sepeserpun uang keluarga Kiandra tidak ada dalam membiayai hidup nona Lusi." Jelasnya singkat.
"Satu hal lagi. Selain biaya hidup, sekolah dan keperluan lainnya dari nona Lusi. Kami juga mengirimkan uang yang tidak sedikit setiap bulannya sebagai tanda terima kasih, dan itu di luar biaya hidup nona Lusi. Jadi bukannya nona Lusi yang seharusnya berterima kasih atau tidak tahu terima kasih. Tetapi keluarga Kiandra yang tidak tahu terima kasih kepada atasan saya." Ungkap pengacara Chico dengan tatapan tidak sukanya melihat ke arah tiga anggota keluarga Kiandra.
"Ingat tuan Seto Kiandra. Jika bukan bantuan dan uang yang di berikan oleh tuan saya terhadap keluarga dan perusahaan Kiandra. Mungkin sekarang anda bukanlah siapa-siapa? Bahkan hidup anda sudah lama masuk dalam keterpurukan. Ingat itu tuan Seto." Ungkap sang pengacara yang sudah sangat marah akan sikap dan perkataan keluarga Kiandra, terhadap nonanya yang ternyata tidak hidup dengan baik seperti yang di katakan oleh Seto selama ini.
"Jika kalian masih meragukan ucapan saya ini. Semua bukti akan segera saya kirimkan kepada kalian. Agar semuanya menjadi jelas."
"Pa…katakan sesuatu. Katakan jika semua itu tidak benar." Tuntut Rania berharap yang di katakan oleh pengacara Chico adalah salah.
Seto yang di panggil oleh Rania tidak menjawab apapun. Diam dengan tatapan nanarlah yang kini bisa ia lakukan.
Tidak mungkin keluarganya bangkrut dan hancur begitu saja. Rania tidak mungkin kalah melawan Lusi yang terlihat lemah di matanya. Rania menolak semua yang terjadi hari ini.
"Semua bohong. Kalian tidak bisa berbuat seperti ini kepada keluarga kami. Lusi kau tidak bisa berbuat seperti ini." Ucap Rania dengan suaranya yang tinggi. Dia menatap benci dan marah ke arah Lusi yang hanya diam dengan tatapan tidak peduli pada nasib keluarga Kiandra.
Lusi baru mengetahui jika hal itulah yang terjadi selama ini. Jadi hidupnya dulu yang kesusahan bukan karena kekurangan biaya. Namun semua ulah dari Seto Kiandra yang memang tidak peduli dan menginginkan hidupnya menderita.
Lusi menggenggam kuat tangannya dan mengeraskan rahangnya karena marah. Keluarga Kiandra sangat kejam kepadanya, dan itu tidak dapat di maafkan lagi.
"Pengacara Chico, apa saham yang saya miliki sekarang, bisa saya ambil alih?" Tanya Lusi melihat datar kepada pengacara Chico.
"Tentu saja, nona." Balasnya menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih."
"Tuan Nico." Panggil Lusi sembari menghembuskan nafasnya yang berat karena menahan amarahnya.
"Iya nona." Balas pria tampan itu.
"Sepertinya terlalu lama saya berada di ruangan ini, membuat saya semakin muak dan tidak akan bisa mengendalikan diri. Apakah anda bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik?" Tanya Lusi dengan raut wajah yang terlihat marah yang masih dapat ia kendalikan.
__ADS_1
"Tentu saja nona. Akan saya selesai seperti yang anda inginkan." Kata Nico menerima perintah.
Zia datang mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Lusi dapat tersenyum. Sebuah senyum kemenangan yang begitu cantik di wajahnya. Ardian mengenali senyuman tersebut.
"Tuan Nico. Saya harus segera pergi dari tempat ini." Ucapnya melihat ke arah Nico.
"Ardian. Ayo kita pulang." Ajak Lusi sembari bangkit dan menatap teduh ke arah Ardian yang sejak tadi hanya diam menyimak perdebatan mereka.
"Tentu sayang." Balas lembut Ardian yang semakin membuat Rania meradang.
Bukan seperti ini yang Rania inginkan. Bukan kehancuran dan kehilangan seperti ini yang Rania inginkan. Kehancuran dan kehilangan yang di rasakan oleh Lusi lah yang Rania harapkan. Namun semua berbalik ke arah Rania.
"Tuan Nico. Ambil alih perusahaan ini, dan singkirkan semua orang yang mencoba menjadi pengkhianat di dalam perusahaan ini." Ucap Lusi sembari berdiri menantang di hadapan mereka.
"Satu lagi. Ambil semua bukti dari pengacara Chico. Aku ingin memperkarakan masalah ini ke jalur hukum. Mereka telah mengambil hak dan uang yang seharusnya aku miliki dulu." Kata Lusi menatap tajam ke arah tiga anggota keluarga Kiandra.
Rania, Seto dan Satrio Kiandra terkejut akan keinginan Lusi yang ada di luar perkiraan mereka.
"Pengacara Chico, tolong kerja sama anda untuk kasus ini." Ucap Lusi melihat ke arah sang pengacara yang melihat ke arahnya.
"Baik nona, tentu saja. Saya siap membantu anda." Balas pria tersebut terlihat lega.
Lusi dan Ardian melangkah beriringan keluar dari ruangan yang terasa panas bagi Lusi. Ardian menggenggam erat tangan istrinya, dan membawa pulang wanita yang begitu penuh kejutan hari ini. Ardian menginginkan penjelasan dari istrinya tersebut.
Rania tentunya semakin meradang dan di bakar api cemburu akan sikap lembut Ardian terhadap Lusi. Wanita yang menjadi musuhnya sejak dulu, wanita yang sudah pernah ia singkirkan, tetapi kembali lagi.
Di dalam hatinya kini sudah bulat, akan menyingkirkan dan membunuh Lusi dengan tangannya sendiri, seperti yang dulu Rania lakukan 5 tahun yang lalu. Rania menginginkan semua yang Lusi miliki, Rania akan menggunakan cara yang sama seperti saat rencana pembunuh Lusi 5 tahun yang lalu. Itulah rencana selanjutnya untuk Lusi.
Senyuman tipis seorang iblis wanita terlihat samar pada bibirnya. Matanya penuh akan kebencian dan ingin segera menghilang nyawa Lusi untuk selamanya.
Rania dengan angkuh meninggalkan ruangan tersebut. Ia tidak peduli lagi, apakah ia sopan atau tidak. Dalam otaknya hanya menginginkan nyawa wanita terkutuk yang telah merampas semua yang seharusnya menjadi miliknya sejak dulu. Inilah dendam Rania yang ingin dia balaskan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1