Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 124. Lusi Terguncang.


__ADS_3

***Perusahaan Kiandra Group***


Sikap perhatian dan cinta kasih Lusi yang ia tunjukan untuk Ardian Adhitama, adalah sebuah acting yang sudah mereka sepakati. Agar semua yang melihatnya, tidak akan curiga jika Lusi Arsinta atau Lidya Kiandra sedang lupa ingatan.


Itu akan sangat membahayakan posisi Lusi, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Tetapi mengingat siapa yang mereka hadapi sekarang? Seorang wanita licik yang menggunakan segala cara untuk melancarkan apapun yang ia lakukan atau rencanakan? Wanita itu adalah Rania Kiandra.


"tidak sayang…tidak perlu kamu datang ke sini. Mungkin lain waktu saja." jawab Ardian dengan senyum yang sangat terlihat bahagia.


Rania dapat melihat sorot mata Ardian penuh akan cinta untuk Lusi. Rania terbakar api cemburu, dan kebencian yang ada di hatinya untuk Lusi semakin besar.


"baiklah, kalau begitu. Boleh aku tutup sambungan ini. Aku harus menjemput anak anak pulang dari les mereka." balas Lusi dengan bersikap seolah mereka adalah pasangan suami istri yang saling mencintai dan berbahagia.


"baiklah sayangku, hati hati di jalan. Sampai bertemu nanti di rumah. bye sayang." ungkap Ardian dengan penuh kasih di dalamnya.


"bye sayang." balas Lusi segera mematikan sambungan video call mereka.


Tidak ada yang tahu, setelah itu Lusi tengah melepaskan gejolak hati yang ia tahan sedari tadi. Dengan kuat Lusi meremas dadanya karena merasakan rasa sakit, sebuah sakit yang dia tidak tahu karena apa? Yang ia tahu, saat melihat Satrio dan juga Seto Kiandra, hatinya merasa sakit dan jatuh berkeping keping.


Air mata yang Lusi tahan dari tadi, kini luluh lantah ke pipinya. Dia tidak tahu, dia ingin menangis saat ini. Dengan rasa yang sangat sakit di hatinya, Lusi tidak bisa menahan tangisnya yang pecah memilukan. Asisten Zia yang kini bersamanya, seketika terkejut akan tangis Lusi yang terdengar memilukan.


"nona…anda baik baik saja?" tanya Zia khawatir melihat Lusi yang sedang duduk menangis di kursi belakang mobil.


Lusi mendengar perkataan asisten Zia, namun dirinya tidak bisa menjawab akan tangisannya yang menyesakkan hati. Lusi benar benar merasa terluka, tangisnya tidak dapat ia hentikan sendiri. Jantungnya berdetak cepat membuat kepalanya menjadi sakit.


Tatapan mata sedih penuh luka dapat di lihat oleh asisten Zia, Lusi penuh luka yang tidak dapat ia jabarkan dengan kata-kata.


"nona…katakan sesuatu…nona kenapa?" tanya khawatir asisten Zia.


"a…aku…ti…tidak…ta…tahu zia…sakit…sakit sekali…" jawab Lusi terbata bata sembari menepuk nepuk lembut dadanya yang sakit.


Asisten Zia merasa khawatir akan keadaan nonanya tersebut, dengan secepat kilat dia membuka pintu depan dan berpindah tempat ke belakang. Setidaknya yang ia lihat nonanya perlu tempat untuk bersandar.


Asisten Zia duduk tepat di samping Lusi yang belum bisa menghentikan tangisan pilunya. Asisten Zia segera memeluk tubuh Lusi dengan erat dan membelai lembut punggung Lusi. Berharap beban kesedihan yang Lusi rasakan dapat sedikit berkurang.


Lusi yang mendapatkan pelukan hangat dari asisten Zia, bukannya sedikit tenang tetapi tangisnya semakin pilu bahkan saat ini meledak dengan guncangan hebat pada tubuhnya yang terus bergetar akan tangisan yang Lusi keluarkan. Hati Lusi benar benar sakit seperti di tusuk oleh sebilah pisau yang tajam.


Sakit yang tidak ia mengerti karena apa? hanya melihat dua sosok pria yang berbeda usia Lusi dapat seperti sekarang ini. Ada apa dengan kedua pria paruh baya yang berbeda usia tersebut? sungguh hebat dapat membuat Lusi terluka dan bersedih hingga seperti ini.

__ADS_1


Karena guncangan hebat yang tidak dapat Lusi kendalikan sendiri, tubuhnya tiba-tiba menegang lalu menjadi lemas tidak sadarkan diri. Asisten Zia dan supir pribadi yang mengantar mereka terkejut bukan main. Asisten Zia yang berusaha membangunkan Lusi, hanya melakukan hal yang sia sia saja karena Lusi sudah semakin lemas dan tidak sadarkan diri.


"pak…cepat ke rumah sakit." perintah cepat asisten Zia kepada supir pribadi mereka.


Dengan menganggukkan kepalanya mengerti, sang supir dengan cepat menginjak gas mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Sedangkan asisten Zia langsung menghubungi sang kakak yang saat ini sedang bersama dengan Nico.


"hallo…!" sapa pelan Deo sang kakak yang saat ini menjadi asisten dari tuan Nico.


"hallo kak, tolong katakan pada tuan Nico, saat ini nona Lusi pingsan dan sedang aku bawa ke rumah sakit."


"pingsan, bagaimana bisa? apa yang terjadi Zia?" tanya beruntun Deo karena terkejut. Sontak membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan tersebut melihat ke arah Deo yang ada di belakang Nico.


"aku tidak tahu kak, setelah video call tadi. Nona Lusi langsung menangis pilu sembari meremas dan menepuk nepuk dadanya. Saat aku peluk untuk menenangkannya, nona Lusi malah bertambah histeris dan akhirnya jatuh pingsan." ungkap asisten Zia menceritakan apa yang terjadi.


"baiklah, kirimkan alamatnya setelah kau sampai pada tempatnya."


"baik kak." ucap Zia mengerti.


Sambungan mereka pun terputus, Deo segera memberitahukan kabar tersebut kepada tuan Nico dengan cara berbisik. Nico yang terkejut tetap mengontrol emosinya saat ini. Nico dengan segera meminta untuk pamit dari rapat itu, karena ada urusan mendesak.


Justru menambah peluang waktu bagi keluarga Kiandra untuk berpikir, apa yang selanjutnya mereka lakukan?


Ardian pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada mereka, yang masih tinggal di dalam ruang rapat perusahaan Kiandra Group. Sikap Ardian dari luar mungkin bisa tenang, tidak dengan hatinya yang sudah berdetak hebat karena terkejut akan berita pingsannya Lusi.


Ardian dan Nico yang membawa mobil sendiri, mereka segera melaju ke rumah sakit di mana alamatnya sudah di kirimkan oleh Zia. Nico juga tidak lupa memberitahukan kabar tersebut kepada tuan dan nyonya Melviano. Kedua orang tua Lusi Arsinta.


...--------------------------------...


…UGD Rumah Sakit…


Menunggu di depan ruang UGD bagian khusus dengan perasaan yang tidak menentu, adalah sesuatu yang tidak akan di inginkan oleh setiap orang. Menunggu kabar dari seseorang yang ada di dalamnya adalah pekerjaan yang sungguh melelahkan dan menguras emosi.


Itulah yang sedang di lakukan oleh keluarga dan sahabat dari Lusi Arsinta. Mereka sudah berkumpul di depan ruangan yang tertutup rapat, mereka tidak di izinkan masuk karena Lusi sedang dalam tindakan serius oleh dokter yang menanganinya.


Nyonya Melviano, ibunda dari Lusi hanya bisa menangis tersedu di pelukan sang suami yang menenangkannya. Mereka takut terjadi sesuatu pada putri satu-satunya yang ia miliki. Ardian tidak kalah berantakan pada penampilannya yang tadi terlihat rapi. Dasi yang sudah di longgarkan, kancing jas sudah tidak terkait, dia duduk dengan menopang kepalanya, dan rambutnya tidak rapi sama sekali.


Semua orang terdiam dan terlihat kacau, dengan raut wajah yang sedih serta khawatir akan keadaan Lusi saat ini. Ada apa dengan Lusi? Apa yang sebenarnya terjadi setelah video call tadi siang? mengapa tiba-tiba Lusi jadi seperti ini?

__ADS_1


Banyak pertanyaan di benak mereka yang ingin jawabannya, hanya Lusi yang bisa untuk menjawabnya. Namun orang yang di harapkan untuk menjawab terkapar lemah tidak sadarkan diri, dan mereka tidak tahu karena apa?


Setelah hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang perawatan Lusi. Sontak semuanya mendekati sang dokter ingin tahu bagaimana keadaan Lusi saat ini?


"bagaimana keadaan putri kami dokter?" tanya tuan Melviano mewakili semuanya.


Dokter menghela nafasnya perlahan, sebelum menjawab pertanyaan dari tuan Melviano.


"putri anda mendapatkan guncangan hebat yang tidak dapat di terima oleh otaknya, dan itu berdampak pada tubuhnya yang mengakibatkan dia tidak sadarkan diri."


Semua terkejut akan kebenaran itu.


"lalu bagaimana keadaan istri saya sekarang dokter?" kini giliran Ardian yang bertanya karena merasa penasaran akan keadaan Lusi.


"dia mulai tenang sekarang, tetapi kalau dia mengalami guncangan ini lagi, tidak akan baik untuk otaknya yang pernah mendapatkan benturan dan pendarahan hebat. Itu terlihat dari pemeriksaan yang saya lakukan tadi." ungkap dokter yang benar-benar membuat semua orang terkejut dan tidak bisa berkata apapun?


"saya harap untuk saat ini, tolong jangan berikan pasien berita yang bisa mengguncang emosinya, dan akan berdampak pada kesehatan kepalanya yang pernah pendarahan karena benturan, itu akan sangat berbahaya bagi pasien. Maaf lebih parahnya lagi akan mengakibatkan kematian bagi pasien." ungkap sang dokter dengan harapan yang tinggi pada keluarga pasien untuk bekerjasama dalam kesembuhan pasien.


"baik dokter terima kasih." kini Nico yang berbicara, karena tuan Melviano ataupun Ardian tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.


Mereka cukup terguncang dan terkejut akan apa yang di sampaikan oleh dokter? Benturan dan pendarahan hebat pada kepala Lusi, sangat berbahaya bagi kesehatan Lusi yang tidak boleh mengalami atau mendapat guncangan apapun?


"satu jam setelah observasi pasien baru bisa di pindahkan ke ruangan. Kalau begitu saya permisi." pamit sang dokter yang langsung pergi dari tempat itu untuk masuk lagi ke dalam ruang perawatan Lusi.


Ardian yang bersandar pada tembok rumah sakit, tubuhnya luluh jatuh ke lantai dengan kepalan kuat kedua tangannya menjambak rambutnya. Perasaan hancur dan takut kehilangan Lusi menjadi satu di hati Ardian saat ini. Untuk kedua kalinya dia merasakan perasaan seperti ini, pertama saat Kecelakaan Lusi yang tidak dapat di temukan jasadnya, dan Kedua hari ini.


Ardian sungguh tidak sanggup kalau harus kehilangan istri untuk kedua kalinya. Baru saja mereka di pertemukan dan mulai dari awal lagi, mengapa kini harus di uji dengan kenyataan seperti ini? Kebahagiaan seakan sangat susah untuk mereka raih, apakah ini memang benar takdir atau hidup mereka seperti ini?


Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Mereka hanya dapat menjalani semua takdir yang terjadi dengan sebaik mungkin, kesempatan kedua di dalam hidup mungkin saja masih ada. Kemungkinan itu sangat langka dan mungkin tidak akan bisa di dapatkan oleh semua orang.


Begitu juga kesempatan hidup bersama kembali bagi Lusi dan Ardian yang telah mengalami banyaknya penderitaan dan halangan, di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Kebahagiaan seakan enggan untuk datang menyapa mereka. Mereka hanya bisa berdoa, terus berharap dan berusaha agar dapat yang terbaik.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2