Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 77 Pengakuan Dan Pelacakkan.


__ADS_3

Episode sebelumnya…


"pirasat Deo tidak pernah salah." kali ini tuan Erick yang berbicara dan Lusi segera melihat padanya.


"tapi tuan Erick, nona Rania Kiandra adalah kakak perempuan dari istri tuan Ardian Adhitama, apa tidak terlalu berlebihan menuduhnya untuk mencelakai seseorang, apalagi orang yang paling dekat dengan tuan Ardian Adhitama." ucap Lusi tanpa sadar telah mengaku sedikit.


"apa maksud anda nona?" tanya tuan Erick mengerutkan keningnya melihat Lusi.


Lusi seketika sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan? dia sadar bahwa dirinya baru saja mengaku dan mengutarakan permasalahan yang dia hadapi, Lusi hanya bisa menggigit bibirnya dan menatap semuanya secara bergantian, mau tidak mau dia harus mengaku juga dengan masalah apa yang dia hadapi sekarang?


...----------------...


Perlahan Lusi menarik dan menghembuskan nafasnya dan melihat mereka secara bergantian, Lusi harus cepet menceritakan apa yang baru saja dia alami, dan segera mencari solusinya agar cepat bisa menyelamatkan nyonya Meli.


Lusi mengambil ponsel yang ada di dalam saku jas hitamnya, dia memperlihatkan kiriman video yang dia dapatkan pada semua yang ada di sana.


Mereka semua melihat video yang sedang berputar di dalam ponsel Lusi yang di letakkan berdiri di atas meja kaca.


"siapa itu?" tanya tuan Erick setelah selesai menonton video tersebut.


"ini nyonya Meli, mamanya tuan Ardian Adhitama dari perusahaan Adhitama Group." jawab Lusi.


"terus apa hubungannya video penculikan nyonya ini dengan anda nona?" tanya tuan Erick lagi.


"si pengirim video menghubungi saya dan meminta saya untuk bertukar tempat dengan nyonya Meli bila ingin melihat nyonya Meli selamat." jawab Lusi apa adanya.


"lalu hubungan anda dengan nyonya ini apa? sehingga harus anda yang di minta bertukar tempat agar dia selamat?" tanya Deo bertambah bingung.


"apa anda kenal baik dengan nyonya ini nona lusi?" kali ini Zia yang ada di sampingnya lah yang bertanya.


"tidak aku tidak ada hubungan sama sekali dengan nyonya ini, kami juga baru beberapa kali bertemu secara kebetulan." jawab Lusi apa adanya dan yang sebenarnya.


"lalu bagaimana mereka bisa memaksa meminta anda untuk bertukar tempat dengannya?" tanya Zia kembali.


"entahlah aku juga tidak mengerti mengapa mereka menghubungi ku, bukannya mereka seharusnya menghubungi tuan Ardian Adhitama putra dari nyonya Meli." jawab Lusi, dan itu juga yang ada di pikiran Lusi saat menerima video dan telpon dari si penculik.


"lalu anda menjawab apa pada si penelpon?" tanya tuan Erick.


"saya terpaksa menjawab setuju datang dan bertukar dengan nyonya Meli untuk menyelamatkan nyonya Meli." jawab Lusi apa adanya.

__ADS_1


"apa kau gila…" kali ini nada bentakkan dari Nico yang menjawab kata-kata Lusi.


"lalu aku harus apa kak, apa aku harus diam saja tidak melakukan apapun dan membiarkan nyonya Meli tewas di tangan mereka setelah aku menolak permintaan mereka?" tanya Lusi terus terang, karena dia juga bingung harus bertindak untuk selanjutnya.


"kau bisa saja menolak dan memberitahu dia kalau kau tidak ada hubungannya dengan keluarga Adhitama dan kalau tidak kau bisa beritahukan pada Ardian Adhitama tentang video dan telpon tersebut agar kau tidak perlu ikut campur urusan mereka." jelas keras Nico dengan mimik wajah kesalnya akan keputusan Lusi yang menerima tawaran si penculik.


"aku sempat akan menolak karena aku merasa kalau si penculik salah mengirimkan videonya dan salah menghubungi seseorang, aku juga sempat berpikir kalau aku akan memberitahukan video ini pada Ardian, tetapi seperti si penculik bisa membaca pikiranku, dia pun memperingati ku agar aku tidak memberitahukannya pada siapa saja dan hanya aku yang tahu serta datang sendiri ke lokasi tersebut." jelas Lusi.


"jadi setelah kau menjawab akan menggantikan nyonya Meli, kau bisa dengan mudah selamat dan menyelamatkan nyonya itu?" tanya Nico masih dengan nada tidak sukanya.


"aku terpaksa menyanggupinya, agar si penculik tidak melakukan sesuatu pada nyonya Meli, dan setelah itu aku berniat meminta bantuan tuan Erick untuk membantuku mencari solusinya, agar aku bisa dengan mudah menyelamatkan nyonya Meli dan aku juga selamat." jelas Lusi perlahan dan tahu bila Nico sangat marah akan keputusan berbahayanya.


Nico masih menatap Lusi tajam seraya menghembuskan nafasnya perlahan, dia menyandarkan kembali tubuhnya yang tadi dia majukan karena menegur keras Lusi akan tindakan dan keputusannya.


"bagaimana menurut anda tuan Erick?" tanya Nico seraya beralih memandang ke arah tuan Erick.


"menurutku ini ada sedikit keganjalan tuan Nico, si penculik sangat mengenal nona Lusi sehingga dengan mudah mereka mendapatkan nomer ponsel nona Lusi, dan sepertinya sudah sangat di rencanakan secara rapi, ini seperti sebuah jebakan sekaligus ada maksud yang tersembunyi mereka kepada nona Lusi." jawab jelas tuan Erick.


"apa maksudmu ada perkiraan dalang lain selain nona Rania Kiandra?" tanya Nico.


"sepertinya bisa kita ambil kesimpulan sementara seperti itu tuan Nico, kita bisa saja mencurigai yang lainnya selain nona Rania Kiandra." jelas tuan Erick.


"orang yang ingin mendekati nona Lusi dengan memanfaatkan nyonya Meli mamanya tuan Ardian."


"maksudmu apa mungkin Ardian Adhitama sengaja melakukan ini untuk menjebak Lusi yang sedang dia dekati agar dengan mudah mendapatkan lusi?"


"bisa tidak bisa juga iya." jawaban mengambang tuan Erick.


"tidak mungkin tuan Ardian melakukan hal kotor seperti ini hanya untuk mendapatkan ku." kali ini Lusi yang menjawab.


"lalu apa anda ada curiga pada yang lainnya? yang tahu akan keberadaan anda saat ini?" tanya tuan Erick melihat ke arah Lusi.


"tidak, aku juga tidak berani curiga pada seseorang tanpa bukti yang jelas." jawab Lusi sedikit sedih akan masalah yang dia hadapi.


Karena selama ini tidak pernah mengalami permasalahan yang serumit ini, tetapi saat berada di kota ini, masalah datang secara bertubi-tubi padanya.


"nona Lusi… karena hati anda yang sangat peka dan baik inilah anda selalu gampang untuk di manfaatkan oleh seseorang yang ingin mengambil keuntungan dari anda." jawab tuan Erick.


Lusi hanya memandang nanar pada tuan Erick dan bergantian pada yang lainnya.

__ADS_1


"terus apa aku harus diam saja tanpa harus berbuat apa-apa?" tanyaku yang sudah frustasi akan masalah ini.


"anda sangat baik hati sehingga kami juga tidak akan rela anda untuk di manfaatkan oleh seseorang yang jahat, kami akan membantu anda mengungkap siapa dalang dibalik penculikan ini dan kita akan tahu apa motifnya." jawab tuan Erick menenangkan Lusi yang mulai murung.


"terima kasih tuan Erick dan terima kasih untuk kalian semua yang mau membantuku untuk menyelesaikan masalah ku ini." ucap tulus dan lega Lusi karena masih ada yang mau mengerti dan membantu dirinya.


"Deo dan kau juga Zia, coba kalian lacak di mana lokasi dan nomer yang mengirimkan video tersebut berada, dan siagakan semua anak buah kita untuk bersiap-siap." perintah Nico pada Deo dan juga Zia.


"baik tuan…" jawab serempak Deo dan Zia menerima perintah dari Nico.


Mereka berdua segera bangkit dari duduk mereka, Deo menuju keluar kamar sedangkan Zia masuk ke dalam ruang tidur untuk mengambil laptop dan peralatan yang ia butuhkan untuk melacak.


Deo kembali lagi ke dalam kamar dan membawa dua buah laptop dan satu koper yang berisi peralatan yang sama seperti milik Zia.


Mereka berdua meletakkan semua peralatan yang mereka bawa ke atas meja makan yang lumayan besar, yang berada di sebelah ruang tamu, lalu Deo melangkah kembali kehadapan Nico.


"tuan saya sudah beritahukan pada semua anak buah kita agar siaga dan bersiap menerima perintah." ucap Deo setelah meletakkan kedua laptopnya dan sekoper peralatan untuk melacak di atas meja makan.


"bagus… segera kalian lacak semua dan kalau bisa cari tahu siapa yang memiliki nomer tersebut, selesaikan misi ini sekarang juga." perintah Nico pada Deo dan Zia.


"apa aku boleh membantu kalian untuk melacaknya?" tanya Lusi yang tidak ingin hanya diam saja menunggu.


Deo dan Zia tidak menjawab pertanyaan Lusi, mereka berdua hanya memandang ke arah Nico dan tuan Erick secara bergantian.


Tuan Erick yang di pandang malah ikut melihat ke arah Nico, dan akhirnya Nico pun memberikan jawabannya.


"baiklah…kau bisa membantu mereka, kau juga ahli di bidang ini, aku yakin lebih banyak yang melacak lebih cepat kita menyelesaikan misi ini." jawab Nico yang membuat Lusi senang dan bahagia akan keputusan Nico mengizinkannya ikut serta.


Mereka segera melakukan apa yang di perintahkan Nico untuk melacak lokasi dan nomer telpon si penculik, dengan sangat senang hati dan serius Lusi, Deo dan Zia melacak menggunakan laptop dan peralatan canggih yang di buat khusus oleh anggota mafia King Dragon dan karyawan khusus perusahaan rahasia Faresta Group.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2