Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 97 Saling Membutuhkan.


__ADS_3

Lusi semakin merasakan tubuhnya terasa tidak nyaman dan suhu tubuhnya semakin memanas, Lusi memerlukan sesuatu yang terasa dingin dan pelepasan agar tubuhnya kembali normal, Lusi berusaha menahannya tetapi membuat rasa di tubuhnya semua sakit, tidak nyaman, dan panas yang semakin menjalar.


Lusi tidak tahu siapa yang telah menolongnya? yang dia tahu dan samar dalam ingatannya, aroma parfum tubuh dari pria yang menggendongnya yang membuat rasa nyaman Lusi berada dalam pelukkan pria tersebut.


Apa yang Lusi alami saat ini adalah rencana dari Rania? Rania membayar mahal salah satu pelayan restoran yang akan membawa minuman mereka, agar memasukkan obat perangsang dengan kwalitas yang bagus ke dalam minuman Lusi, yang cepat larut tanpa tercium sama sekali, dan akan membuat Lusi mengalami rangsangan di dalam tubuhnya beberapa kali lipat dari obat biasanya.


Rania berencana membuat Lusi terangsang dan tidur bersama Bryan Aldevaro, agar bisa Rania tunjukkan pada Ardian Adhitama dan juga nyonya Meli, Rania ingin membuat nama Lusi rusak dan jelek di mata Ardian Adhitama dan mamanya, karena sudah berani tidur bersama Bryan Aldevaro yang membuat kesan Lusi sebagai wanita murahan, dan apa yang di rencanakannya berhasil?


Di dalam mobil Lusi berusaha membuka jas luaran yang dia pakai, karena sudah tidak tahan akan hawa panas yang menyiksa sekujur tubuhnya, setelah berhasil Lusi membuka jas luarannya, rasa panas pada tubuhnya pun tidak ada perubahan sama sekali.


Lusipun berusaha membuka kancing atas kemeja putih yang dia pakai, dan berniat untuk melepaskan pakaiannya yang terasa menempel pada kulitnya, yang membuat dua pria di dalam mobil terkejut akan tindakan Lusi.


"apa yang kau lakukan…?" tanya Ardian terkejut akan tindakan Lusi yang sudah membuka dua kancing atas kemeja putihnya, sembari menahan tangan Lusi.


"lepaskan…" ucap Lusi pelan sembari menepis tangan Ardian yang menahan tangannya saat membuka kancing kemejanya.


Ardian Adhitama lah yang di hubungi oleh Lusi, saat dia mulai merasakan tubuhnya tidak beres dan kesadarannya mulai berkurang. Ardian yang mendengar suara Lusi bermasalah saat menghubunginya langsung datang, dengan melacak keberadaan nomer ponsel Lusi dan mencocokkan dengan alamat yang di sebutkan Lusi padanya saat di telpon.


Kebetulan Ardian saat itu berada dekat dengan hotel yang di sebutkan oleh Lusi, saat dia akan melakukan pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya, Ardian langsung memerintahkan Gavin untuk meluncur cepat ke hotel dimana Lusi berada? dan langsung membatalkan pertemuannya.


"Gavin…cepat bawa kami ke apartemen ku…!!" perintah Ardian pada Gavin yang masih terkejut melihat perilaku Lusi, dan keadaannya yang sangat kacau melalui kaca spion depan mobil.


"diamlah…jangan lepaskan bajumu di sini…!!" balas Ardian berusaha menahan tangan Lusi yang terus ingin melepaskan kancing kemejanya, dan tangan yang satunya lagi berusaha menutupi tubuh Lusi dengan jas luaran yang Lusi tadi lepaskan.


"Gavin cepat…sepertinya ada yang memberikannya obat perangsang." perintah Ardian memberitahukan.


"baik tuan." jawab singkat Gavin dengan memacu kencang mobilnya, karena dia sudah tahu apa maksud dari tuannya.


Ardian terus berusaha menahan pergerakan tangan Lusi agar tidak melepaskan kancing kemejanya, tetapi Lusi malah memegang kedua pipinya dan berkata.


"dingin…ini dingin…"ucapnya dengan mata yang tertutup dan wajah yang sudah memerah seperti orang mabuk berat.


Ardian tidak menjawab apa yang di ucapkan oleh Lusi, dia masih berusaha menutupi bagian atas tubuh Lusi, karena di mobil bukan dia pria satu-satunya, masih ada Gavin yang tidak berani melirik sama sekali ke arah belakang.


"tolong aku…badanku panas sekali…tetapi yang ini dingin dan terasa nyaman aku sentuh.…" gumam Lusi masih memegang kedua pipi Ardian dan mengelus-elusnya lembut.


Ardian masih tetap diam dan membiarkan tangan Lusi terus membelai lembut kedua pipinya, karena Lusi terlihat nyaman melakukannya saat ini. Ardian pun berpikir kalau Lusi benar-benar terkena obat perangsang, Lusi harus mendapatkan pelepasannya kalau tidak? akan bermasalah pada kesehatan tubuh dan otaknya, dan satu-satunya cara yaitu melakukan hubungan badan.


Ardian pun berkali-kali menarik dan menghembuskan nafasnya yang frustasi, sembari terus menutupi tubuh Lusi bagian atas yang kancingnya sudah lepas hilang entah kemana? Ardian pun berpikir keras untuk membantu Lusi menghilangkan efek dari obat perangsang tersebut, Ardian masih tidak tahu apakah dia bisa membantu Lusi apa tidak? karena menghilangkan efek obat perangsang hanya ada satu cara yaitu, berhubungan badan agar Lusi mendapatkan pelepasannya.

__ADS_1


Mereka pun telah sampai di apartemen mewah Ardian yang lama tidak dia kunjungi, Ardian dengan susah payah menggendong Lusi yang terus tidak bisa diam dan memeluknya erat dan sesekali mencium dan mengendus-endus curuk lehernya, membuat Gavin malu melihat tingkah laku Lusi yang terlihat sangat fulgar dan liar.


Setelah mereka sampai di dalam apartemen, Ardian memerintahkan Gavin untuk pergi dari sana karena sudah tidak ada yang bisa dia lakukan.


Perlahan Ardian meletakkan tubuh lusi di atas ranjang dan saat dia ingin beranjak pergi, tangan Lusi memeluk erat lehernya, yang membuat wajah mereka sangat dekat hingga hidung mereka bersentuhan.


"mau kemana jangan pergi…!" ucap bisik Lusi yang terus berusaha menekan leher Ardian untuk mendekat.


Ardian melihat intens wajah Lusi yang sangat dekat dengannya, wajah sang istri yang sangat dia cintai dan mencintainya dulu, wajah yang sudah sangat lama dia rindukan dan ingin dia sentuh dan lihat dari dekat serta intim seperti saat ini.


"bantu aku…tubuhku perlu sesuatu untuk melepaskan rasa tidak nyaman ini…!"


"tapi…itu harus di lakukan atas dasar suka sama suka untuk melakukannya." jawab Ardian.


"aku tidak peduli…buat apa saja yang bisa membuat tubuhku nyaman dan lepas dari penderitaan ini." balas Lusi sembari membuka matanya dan melihat Ardian nanar.


Ardian seketika terhipnotis dengan tatapan lembut Lusi padanya, sedangkan Lusi masih bisa melihat samar siapa yang ada di hadapannya saat ini, dan masih bisa mencium aroma kuat farpum maskulin yang terasa segar di penciuman hidungnya, yang membuat dirinya nyaman berada dekat dengan Ardian.


"ar…Ardian…" ucapnya terputus melihat samar wajah Ardian, Lusi berusaha mengkedip-kedipkan matanya untuk mengenali jelas wajah siapa yang ada di hadapannya.


"Ardian…" panggil Lusi pelan karena wajah Ardian lah yang saat ini nyata dia lihat dan berada dekat dengannya.


"maukah kau menolong ku?" tanya Lusi.


"apakah kau tahu apa yang harus aku lakukan untuk membantumu lepas dari efek obat perangsang ini?" tanya Ardian ingin memperjelas agar Lusi tidak menyesal kemudian.


"aku tidak peduli, lakukan karena tubuhku benar-benar tidak nyaman, Ardian tolong…" balas Lusi sedikit meringis dan memeluk erat leher Ardian karena tidak tahan akan tubuhnya yang terasa benar-benar panas dan tidak nyaman.


Ardian tidak kuasa melihat penderita Lusi, dengan lembut dia membelai pucuk kepala Lusi, dan menatapnya kembali.


"apa kau yakin…?" tanya Ardian lagi.


"iya…aku yakin, setidaknya saat ini kita memiliki hubungan yang jelas." jawab Lusi yang masih bisa membuka matanya.


"Lusi…!!"


"lakukan ardian…ku mohon…" balas Lusi melihat memelas padanya.


"Lusi…" panggil Ardian dan Lusi hanya mengangguk dan perlahan mereka pun mendekatkan wajah mereka, Ardian dengan lembut mencium bibir Lusi, yang mendapatkan balasan dari Lusi.

__ADS_1


Di dalam pikiran dan benak mereka berdua saat ini sama-sama saling membutuhkan, Lusi yang butuh akan pelepasan dari rasa tidak nyaman dan panas pada tubuhnya, sedangkan Ardian yang merasakan sangat rindu yang teramat pada sang istri yang sudah lama dia tunggu. Keduanya sama-sama sadar bahwa mereka saling membutuhkan dan melakukannya dalam ikatan yang sah, dan itu tidak akan membuat keduanya merasa berdosa dan saling menyalahkan.


Ardian memperdalam ciumannya pada Lusi dengan lembut dan menikmati serta meresapi balasan dari Lusi yang juga melakukannya dengan lembut, Ardian sudah lepas kendali akan ciuman lembut mereka yang saling ******* dan menyambut satu sama lain.


Perlahan Ardian melepaskan ciumannya, yang membuat Lusi menatapnya kecewa karena belum merasa kan kepuasan pada hasratnya yang tertahan saat ini, Ardian menatap mesra mata sang istri yang saat ini mau menerimanya walaupun berada di bawah pengaruh obat perangsang.


"Ardian…" panggil kecewa Lusi melihat pada Ardian.


"Lusi…panggil aku sayang…!!" balas Ardian menatap mesra dan penuh kerinduan pada sang istri.


"Ardian …sayang…" balas Lusi repleks dari mulutnya, yang membuat Ardian terseyum senang mendengar panggilan sayang dari Lusi.


"sayang…" ucapnya mengecup sayang kening Lusi, yang sangat di nikmati oleh Lusi.


Ardian mengecupi semua bagian wajah Lusi, ingin mengabsen setiap inci wajah sang istri yang sangat di rindukannya, perlahan Lusi membantu Ardian melepaskan jas luaran yang Ardian pakai saat ini.


Dengan lembut tetapi pasti ciuman dan ******* bibir keduanya menjadi semakin panas dan memburu, bagaikan dua insan yang dahaga dan ingin memuaskan keinginan mereka berdua, kini Ardian dan Lusi telah melepaskan semua apa yang mereka gunakan, dan sama-sama terlihat polos tanpa sehelai benangpun.


Tanpa merasa malu Lusi merapatkan tubuhnya yang polos pada tubuh Ardian, karena merasakan kulit tubuhnya yang terasa panas nyaman bersentuhan dengan kulit tubuh Ardian yang terasa dingin, Ardian yang sudah terbakar api asmara dan merasa panas karena pergerakkan serta sentuhan lembut Lusi pada tubuhnya.


Ardian mencium setiap inci pada tubuh polos Lusi yang terasa nikmat baginya, Ardian menikmati kedua benda yang terasa lembut dan penuh pada kedua tangannya, perlahan dia mencium dan menikmati setiap inci kedua benda kenyal yang Lusi miliki, yang membuat Lusi semakin terbakar akan rangsangan yang luar bisa nikmat.


"aaahhhh…sayang…lakukan sekarang…" gumam Lusi lembut di sela-sela tubuhnya yang menggeliat, merasakan kenikmatan yang di berikan oleh Ardian pada kedua benda kenyal miliknya.


Ardian yang mendengar ucapan dan desahan lembut Lusi dan remasan jari-jari Lusi pada rambutnya, membuat dirinya semakin terbakar dan tegang yang memuncak, tidak sabar rasanya mengarungi kenikmatan yang mereka dambakan dan inginkan saat ini.


"sayang …panggil namaku…" bisik Ardian lembut dan mesra seraya mengecupi telinga Lusi.


"Ardian…sayang…ooohhh…sayangku…" balas bisik Lusi yang merinding dengan kecupan dan bisikkan dari Ardian.


Keduanya sudah sama-sama merasakan terbakar api asmara dan ingin mendapatkan kenikmatan, yang bisa membuat keduanya merasa terpuaskan.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2