Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 53 Perasaan Ardian.


__ADS_3

***Cafe Asmara***


Wanita cantik duduk sendiri di meja pojok dekat kaca pembatas cafe yang mengarah ke luar pemandangan taman kota.


Matanya yang sedikit sembab melihat jauh menerawang ke arah taman yang di penuhi aneka bunga warna warni, tatapannya seakan kosong tak memiliki aura semangat sama sekali, dia duduk melamun sejak baru tiba di cafe tersebut.


wanita itu adalah Lusi Arsinta, wanita yang tetap terlihat cantik walaupun matanya sembab karena habis menangis, dia tersadar karena panggilan seseorang padanya.


"maaf mbak permisi...!" sapa seorang pelayan wanita di cafe tersebut setelah beberapa kali memanggilnya, baru Lusi tersadar dari lamunannya.


"aaahhh...iya..!"jawab Lusi yang tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah pelayan yang memanggilnya.


"ini pesanannya mbak." kata pelayan tersebut seraya meletakkan minuman milk shake coklat yang dia pesan.


"terima kasih." jawab Lusi tersenyum tipis.


"sama-sama mbak, di tunggu makanannya sebentar lagi datang."


"iya." jawab singkat Lusi dengan anggukkan kepalanya.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Lusi, Lusi melihat ke arah minuman segarnya, dia meraih gelas dan mengarahkan pipet sedotan ke dalam mulutnya, di sedotnya perlahan minuman milk shake coklat tersebut, tenggorokan yang tadinya kering terasa basah dan segar.


Lusi mengaduk-aduk minumannya, matanya menatap kosong ke arah gelas yang masih penuh berisi milk shake coklatnya, dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini padanya.


Lusi tidak ingin mengingat dan percaya dengan apa yang hari ini terjadi, dia pun menarik dan menghembuskan nafasnya yang berat tetapi itu sama sekali tidak bisa merubah apapun.


"apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumamnya pelan.


"apa semuanya benar terjadi seperti yang aku dengar?"


"apa mereka tidak berbohong padaku?"


"aaahhh...ibu Lusi kangen..." gumamnya sedih dengan air mata yang jatuh ke pipi putihnya, Lusi tidak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.


Lusi merasa sedih dan rindu sang ibu yang selalu ada di saat dirinya merasa sedih dan perlu teman untuk curhat.

__ADS_1


"ibu..ibu Lusi harus gimana? Lusi butuh ibu." ucapnya pelan dan menahan Isak tangisnya agar tidak di dengar oleh orang-orang di dalam cafe, segera Lusi menghapus air mata yang jatuh sembari menarik nafas agar dadanya sedikit lega.


"aku harus kuat aku tidak bisa begini, semua pasti ada jawabannya." ucapnya menghibur diri.


Lusi bangkit dan berjalan menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya yang habis menangis agar sedikit segar, dia ingin menikmati makan siangnya dan akan segera kembali ke kantor karena jam istirahat sudah hampir selesai.


......................


Di sisi lain Ardian dan asisten Gavin sibuk mencari Lusi, yang tidak tahu Lusi pergi ke mana setelah keluar dari rumah sakit Sinar Mulia, mereka kehilangan jejak Lusi yang pergi dengan cepat menggunakan ojek online yang kebetulan ada di depan rumah sakit.


Mereka mencari Lusi ke hotel Wirajaya tetapi tidak ada, mereka ingin mencari Lusi ke kantor wirajaya tetapi tidak ingin membuat masalah untuk Lusi, Ardian terus berusaha menghubungi nomer telpon Lusi dari tadi tetap tidak aktif.


Ardian mulai cemas akan keberadaan dan keadaan Lusi, dia menyesal telah menyakiti Lusi selama ini, Ardian ingin meminta maaf pada Lusi, semua salahnya yang terus membuat Lusi tidak suka dan mungkin membenci dirinya.


apapun Ardian akan lakukan untuk mendapatkan maaf dari Lusi.


"Gavin cari alasan untuk berkunjung ke perusahaan Wirajaya, aku ingin segera bertemu Lusi, aku ingin memastikan dia baik baik saja." perintah Ardian yang duduk di kursi belakang mobil dengan pandangan melihat keluar jendela.


"baik tuan." jawab Gavin yang langsung berpikir untuk mencari alasan datang ke kantor wirajaya.


"baiklah kita ke sana sekarang." perintahnya.


'tuan sekarang anda pasti menyesal karena tidak pernah bersikap dan berpikir baik tentang nona Lusi?' gumam Gavin melihat tuannya yang diam memandang keluar jendela dari kaca spion depan mobil.


......................


***Perusahaan Wirajaya Group***


Lusi kembali ke kantor sebelum jam istirahat siang habis, dia membasuh dan memperbaiki riasan wajahnya untuk menyamarkan sembab di matanya, walau hati dan pikirannya resah tetapi dia harus tetap profesional dalam bekerja.


Di meja kerjanya Lusi masih berusaha fokus dengan apa yang di kerjakannya, sedangkan Dewi giliran untuk istirahat makan siang, dia bersyukur karena hari ini tidak terlalu sibuk, jadi Lusi tidak terlalu menguras isi kepalanya untuk berpikir.


Setiap saat Lusi selalu menghela nafasnya untuk melegakan hati dan pikirannya karena kejadian tadi saat di rumah sakit selalu terniang di otaknya.


flashback on…

__ADS_1


Setelah perdebatan di lorong rumah sakit, Ardian dan Lusi masih saling memandang dengan perasaan dan pikiran mereka masing-masing.


Lusi dengan perasaan dan pikiran kesal, sedih, dan lelah terhadap sikap Ardian padanya, sedangkan Ardian dengan perasaan dan pikiran yang sudah luluh dan kalah karena melihat sorot kesedihan dan kelelahan di mata Lusi ke arahnya.


"kalian sudah datang?!" tanya sapa dokter Rio pada mereka.


Ardian dan Gavin melihat ke arah dokter Rio yang menyapa mereka, sedangkan Lusi memalingkan wajahnya ke arah lain sembari mengusap halus matanya yang panas dan berkaca karena menahan tangisnya.


"mari ke ruanganku, ini hasil yang baru saja aku terima, kita lihat di dalam ruanganku saja !" ajak dokter Rio sembari menunjukkan amplop berkas yang masih tersegel rapi di tangannya.


Mereka hanya menganggukkan kepala tanda setuju, Ardian melihat Lusi sekilas dengan tatapan khawatir melihat ke arah Lusi, sedangkan Lusi tidak mengerti akan tatapan khawatir Ardian padanya, Lusi hanya bisa diam tanpa komentar apapun dan melangkah mengikuti dokter Rio ke ruangannya.


Mereka duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, mereka duduk dengan saling berhadapan, Ardian dan Lusi saling berhadapan, sedangan dokter Rio dan Gavin saling berhadapan.


Tanpa menunggu lama dokter Rio memperlihatkan amplop yang masih di segel, agar kami pastikan itu belum terbuka sama sekali.


"aku akan langsung membukanya." ucap dokter Rio sekaligus sepupu Ardian selaku direktur rumah sakit Sinar Mulia.


Lusi dan Ardian hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Jantung Lusi semakin berdebar melihat dokter Rio membuka amplop tersebut, sedangkan Ardian melihat Lusi dan dokter Rio secara bergantian.


'apapun hasilnya? aku tidak akan melepaskanmu Lusi, dan kali ini aku dan perasaan ku sudah kalah, kau sudah meruntuhkan benteng pertahanan yang selama ini aku bangun di dalam hatiku agar tidak luluh padamu, ku pastikan walau hasil tesnya negatif tidak cocok dan kau tidak ada hubungan darah sekalipun, aku tetap harus mendapatkanmu.' gumam Ardian dalam hati sembari memandang lembut ke arah Lusi yang melihat ke arah dokter Rio.


Ardian berjanji pada dirinya sendiri dia akan merubah sikapnya pada Lusi, sekalipun Lusi tidak ada hubungan darah apapun dengan Lidya dan anak kembarnya, siapapun Lusi? dan apapun yang Lusi lakukan untuk mendekatinya? Ardian akan menerima Lusi karena dia sudah tidak bisa memendam rasa suka yang dia rasakan selama bersama Lusi, sikap arogan, benci dan kasar Ardian pada Lusi hanya kedoknya agar tidak dengan jelas menunjukkan rasa suka dan nyamannya pada Lusi.


Ardian telah merasakan perasaan yang sama pada dua wanita dengan wajah yang sama, Ardian merasa jatuh hati dan takut kehilangan seseorang untuk kedua kalinya yaitu pada Lidya sang istri yang sudah meninggal dan pada Lusi yang sekarang ada di depannya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya.....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2