
… Apartemen Rania Kiandra…
Plak…plak…plak… suara tamparan keras pada pipi.
"apa saja kerja kalian…aaahhh…apa? mengawasi satu orang wanita jalang saja kalian tidak becus." murka Rania pada anak buahnya yang di perintahkan untuk mengawasi Lusi.
"ampun…nona… kami benar-benar melihat dia di jemput oleh dua orang pria…!!" jawab salah satu anak buahnya.
"apa buktinya…? pria yang mana kau maksudkan?" tanya Rania menatap tajam dan dingin anak buahnya.
Dalam hatinya dia ingin membunuh pria yang ada di hadapannya ini anak buah yang tidak becus menjalankan perintahnya.
"pria yang yang selalu bersamanya, dan pria itu juga pernah bersama nyonya yang tadi datang ke apartemen mencari anda." balas anak buahnya.
"maksudmu…?" tanya ragu Rania.
'deg' detak jantung Rania tidak beraturan, bayangan pria yang di maksudkan anak buahnya, membuat Rania tidak sanggup membayangkannya…?
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Rania dengan tangan yang gemetar membuka ponselnya, dan mencari sebuah photo yang terdapat pria yang dia curigai.
Rania menyerahkan ponselnya pada anak buahnya, untuk mengenali siapa pria yang ada di ponselnya? apakah pria yang mereka lihat sama dengan pria yang ada di dalam ponselnya?
"iya nona… ini pria yang datang menjemput wanita itu…!!" jawab serempak anak buahnya yang mengenali photo pria tersebut.
"brengsek kalian…!" plak…plak…plak… suara tamparan dari Rania yang sangat murka.
"kalian semua bodoh…dia priaku… bukan pria yang harus terjebak bersama wanita jalang itu…!!" murka Rania sudah menggila.
Tubuh Rania bergetar hebat mengetahui, Ardian lah pria tersebut. Ardian yang telah datang menjemput Lusi di depan lobby hotel, Rania tidak bisa menerima kenyataan bahwa, saat ini Lusi sedang asyik bercinta bersama Ardian, pria yang sangat dia dambakan dan cintai.
"Lukas…bunuh mereka…!" perintah Rania murka akan tindakan anak buahnya yang tidak becus.
Rania Kiandra saat ini menjadi gila, gila akan bayangan Ardian dan Lusi yang sedang bercinta, sedangkan dia tidak mendapatkan apapun? bahkan semua rencana untuk menjebak Lusi, berubah menjadi kenikmatan untuk Lusi. Rencana membuat Lusi malu di hadapan Ardian, berubah menjadi kesempatan bersatunya mereka.
"aaaahhhh…!" teriak Rania menggila seraya merampas pistol dari tangan Lukas.
"mati kalian…" teriak Rania seraya menembak ketiga anak buahnya.
'door door door' suara tembakan yang membuat tiga nyawa mati di tangan Rania.
Rania yang sudah menggila, menatap tajam dan devil pada semua anak buahnya yang tersisa. Lukas maupun Yani menatap ngeri dan takut akan Rania, yang bisa melakukan apapun saat ini? mereka tidak boleh membuat selentingan sedikit saja, kalau tidak nyawa mereka juga bisa melayang.
Semua tidak ada yang bersuara ataupun membuat pergerakkan, suasana di dalam apartemen tersebut mencekam bagaikan suasana di dalam neraka, yang siap kapan saja mengambil nyawa mereka.
"cari wanita jalang itu, bagaimana pun caranya…aku ingin dia mati secepatnya, kalian mengerti…?" teriak Rania pada anak buahnya.
"jangan sampai kalian gagal lagi…kalau tidak kalian akan berakhir seperti mereka…" ungkap Rania menunjuk tiga mayat yang terkapar akibat tembakan darinya.
"baik nona…!"dengan segera semua anak buahnya pergi melakukan apa yang di perintahkan atasan mereka.
tepatnya sih kabur menyelamatkan diri, daripada terus diam di sana? bisa-bisa mereka yang menjadi samsak ataupun papan tembak Rania.
Masih tersisa Andi sang bodyguard, Lukas ,Yani dan 3 anak buah Lukas, yang tidak berani meninggalkan tempat itu, karena belum ada perintah dari sang atasan. Dalam hati mereka sudah merasa takut akan tatapan tajam dan membunuh Rania saat ini, di tambah lagi depresinya kambuh kembali, yang membuat akal sehat Rania hilang.
__ADS_1
"Lukas bereskan mereka semua…dan perintahkan anak buah mu dengan cepat menghabisi nyawa wanita jalang itu, jangan kembali tanpa membawa hasil yang membuatku puas, kau mengerti…??" ungkap Rania yang sudah duduk di atas sofa dan menegak segelas anggur merah yang sangat dia sukai.
"baik nona…" balas singkat Lukas, segera dia melakukan apa yang di perintahkan oleh Rania.
Lukas tidak berani terlalu banyak berbicara saat ini, bahaya karena Rania masih memegang pistol yang di pakai membunuh tiga anak buahnya tadi.
"Yani…kau harus segera menghubungi mafia Black Lion, minta mereka menghabisi nyawa wanita jalang itu, berapa pun akan aku bayar…!!" perintah Rania lagi.
"baik nona…!!" ungkap Yani patuh agar selamat dari amarah sang ratu.
Yani dengan cepat berlalu dari sana, dan dengan cepat dia berusaha menghubungi mafia Black Lion, untuk menggunakan jasa mereka.
"Andi…!!" panggil Rania menatap tajam pada sang bodyguard.
"iya nona…!!" jawab Andi dengan menatap sang atasan.
"ikut aku ke dalam…aku perlu merilekskan tubuh ku…aku harap kau tidak akan mengecewakanku, seperti mereka…" ungkap Rania menatap dingin pada sang bodyguard.
Sang bodyguard yang mengerti maksud dari Rania pun, melakukan apa yang di inginkan olehnya? dengan segera Andi mengangkat tubuh Rania ala bridal, dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Mereka berdua tidak memperdulikan tatapan heran Lukas dan sisa anak buahnya, yang sedang membereskan tiga mayat di sana.
Rania Kiandra sudah terbiasa melakukan apapun yang dia inginkan dihadapan semua anak buahnya? bahkan mereka juga tahu akan kebiasaan Rania bila setelah marah dan terkena serangan depresinya. Rania akan melakukan hubungan badan bersama sang bodyguard, agar mendapatkan pelepasan dan kepuasan, untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.
Bahkan kegilaan Rania adalah, bisa menyewa beberapa pria untuk memuaskan nafsunya, dan bisa melakukan hubungan tersebut berkali-kali hingga dia puas, hanya anak buahnya saja yang tahu akan kegilaan ini.
Mereka dengan cepat membereskan tiga mayat tersebut dan sisa darah mereka, karena tidak tahan mendengar suara desahan dua insan yang sama-sama gila, saat melakukan hubungan tersebut. Suara yang menikmati setiap permainan mereka, yang membuat telinga yang mendengarnya terasa panas dan tidak nyaman.
......................
Saat ini aku merasakan tubuhku lelah sekali, tenagaku habis akibat serangan Ardian, dan efek dari obat perangsang, yang di berikan oleh Rania Kiandra padaku.
Aku marah akan tindakan Rania padaku, aku bersumpah akan membalas perbuatan Rania. Dia harus membayarnya dengan mahal. Aku masih bisa bersyukur, Ardian yang aku hubungi dan cepat datang untuk menolongku, bila saja orang lain? aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku saat ini?
Kini aku duduk manis di ruang tengah menunggu Ardian yang sedang membersihkan dirinya, aku merebahkan tubuhku karena pusing pada kepalaku masih terasa. Aku tidak tahu jenis obat perangsang apa yang Rania berikan padaku? hingga setiap mendapatkan sentuhan dari Ardian, tubuhku kembali bereaksi menjadi panas dan segera ingin di tuntaskan.
"aaahhh…brengsek kau Rania…lihat saja akan aku balas kau…!!!" gerutuku seraya memukul sofa yang aku tiduri.
"ya Tuhan…tubuhku terasa remuk redam…seperti selesai berlatih bela diri, bahkan ini membuat tubuhku melemas karena tenaga yang habis terkuras." gerutuku kembali.
"tapi kamu juga menikmatinya kan…?" tanya Ardian yang tiba-tiba datang dan ada di sampingku.
Aku langsung waspada pada Ardian.
"jangan mendekat, menjauh dariku…" jawabku memperingatkan Ardian.
"ada apa sayang…?" tanya Ardian mencoba menyentuhku.
"aku bilang jangan mendekat…" balasku dengan cepat melompat dari sofa sebelah, dan berdiri sedikit menjauh dari Ardian.
Aku takut akan sentuhannya, walaupun sentuhan tangannya. Aku takut efek obat perangsang itu masih ada, aku tidak ingin melakukannya lagi, karena badanku saat ini sudah tidak kuat.
Ardian melihatku bingung dengan tingkah lakuku yang menjauh darinya.
__ADS_1
"ada apa sayang…?" tanya Ardian bingung.
"aku takut kau sentuh, aku takut kalau efek obat perangsangnya masih ada. Jadi kau jangan menyentuhku dulu, tolong Ardian…badanku sudah terasa remuk." ungkapku apa adanya agar Ardian mengerti.
Ardian tersenyum geli padaku, dia melihatku dengan tatapan lembutnya.
"baiklah…baik aku tidak akan menyentuh mu, duduklah…aku akan menjaga jarakku."
"benar…kamu tidak bohong…?" tanya selidik Lusi.
"benar sayang…aku juga tidak tega melihatmu kelelahan begitu." ungkap Ardian seraya duduk di sofa agak jauh dari jarak sofa tempatku duduk.
Aku coba mempercayai ucapan Ardian, dan perlahan aku mendudukkan tubuhku pada sofa tempat di mana aku duduk tadi, dengan kewaspadaan tingkat tinggi aku terus melirik curiga Ardian, yang sedang asyik dengan ponselnya. Kami masih menunggu makan malam yang telat untuk kami, karena permainan tambahan saat mandi bersama.
Aku tidak habis pikir tenaga Ardian, sangat kuat dan tidak ada habis-habisnya, sampai aku yang habis di buatnya. Aku tidak ingin di sentuh sedikitpun, hari ini cukup sekian permainan kami berdua, dan aku tidak ingin ada tambahan lagi.
"sudahlah…aku tidak akan menyentuhmu." ungkap Ardian melihatku, aku masih tetap memakai mode kecurigaan tingkat tinggi.
"siapa yang akan tahu, kamu bisa menepati janji apa tidak, setelah makan malam, aku ingin pulang." balasku yang membuat Ardian melihat datar padaku.
"tidak bisa…kau tidur di sini semalam bersama ku." balas Ardian dengan tatapan tajamnya.
"tidak mau…aku mau pulang." tolakku padanya.
"bila kamu memaksa pulang, aku akan melakukannya lagi, aku akan memaksamu." ancam Ardian padaku dengan tatapan dingin dan tajamnya padaku.
"tidak mau…ayah dan ibu pasti mencariku."
"tidak akan."
"dari mana kamu tahu?"
"karena aku sudah menghubungi mereka, dan meminta izin tidur bersama mu malam ini." ungkapnya santai dengan tatapan lembutnya padaku.
"apa katamu…?" tanyaku terkejut sampai mataku membulat sempurna akan ucapan Ardian.
"aku sudah meminta izin ayah dan ibumu, agar kau tidur di sini bersamaku, dan mereka mengizinkan, karena wajar bagi kita berdua saling mendekatkan diri dan harus sering-sering bersama." ungkap penjelasan Ardian padaku.
"kamu tidak malu apa sama ayah ibu meminta izin pada mereka untuk tidur bersama ku." ungkapku terbata-bata, karena aku merasa malu akan pengakuan Ardian yang ingin tidur bersamaku malam ini.
Aku merasa pipiku memanas karena malu, dan pasti sekarang sudah memerah.
'sialan kenapa harus pakai malu segala sih…' gumam ku dalam hati
Ardian hanya tersenyum bahagia melihat wajahku yang sudah memerah karena malu padanya, dia tertawa ringan ketika terus melihatku, hingga membuatku kesal padanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.