Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 83 Perdebatan Lusi Dan Rania.


__ADS_3

***Mansion Ardian Adhitama***


Setelah perdebatan mereka di dalam mobil, Lusi berpura-pura untuk memejamkan matanya agar tidak perlu menjawab pertanyaan dari Ardian, dan Ardian pun tahu kalau Lusi enggan melanjutkan pembicaraan di antara mereka, mereka hanya diam hingga akhirnya sampai di mansion Ardian.


Saat mobil berhenti di depan lobby mansion Ardian, Lusi dengan segera membuka matanya agar tidak perlu Ardian repot-repot untuk membangunkannya.


Ardian dan Lusi bekerjasama mengeluarkan tubuh nyonya Meli dari dalam mobil, Ardian sendiri yang menggendong tubuh sang mama sampai ke dalam kamar tamu, karena kamar nyonya Meli ada di lantai atas.


Dengan perlahan Ardian meletakkan nyonya Meli dia atas ranjang setelah Lusi membantu untuk menyibakkan selimut.


Tidak menunggu lama dokter Rio datang bersama seorang perawat untuk memeriksa keadaan nyonya Meli yang belum sadarkan diri.


"aku akan menunggu di ruang tamu." ucap Lusi yang tidak ingin mengganggu pekerjaan dokter Rio.


dokter Rio melihat Lusi dengan tatapan tanda tanya saat tahu Lusi ada di sana, tetapi Lusi hanya cuek dan tidak ingin menjawab apapun, Lusi hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya sekilas menyapa dokter Rio dan segera berlalu keluar dari kamar.


Ardian hanya bisa melihat punggung Lusi sampai menghilang dari kamar, tetapi dia merasa dirinya pun tidak di perlukan di dalam kamar tersebut, Ardian merasa dokter Rio yang lebih tahu untuk menangani mamanya, dia pun menyusul Lusi keluar dari kamar tanpa pamit dengan dokter Rio terlebih dahalu, dokter Rio hanya berdecak heran karena merasa di cuekin oleh Lusi dan Ardian.


Nampak Lusi dan Zia duduk di sofa ruang tamu dan Ardian pun ikut menyusul duduk di sebelah Lusi tetapi di lain sofa, Ardian memerintahkan pelayan nya untuk membawakan minuman beserta kue untuk Lusi dan Zia, nampak jelas Lusi hanya ingin diam tidak ingin berbicara sepatah katapun.


"untuk sementara kalian berdua akan tinggal di mansion ini sampai kasus penculikkan ini menemukan dalang yang sebenarnya." ungkap Ardian mengutarakan keinginannya untuk Lusi tinggal di mansion nya agar dapat pengawasan langsung darinya.


"kenapa mesti mereka tinggal di sini? sudah jelas mereka adalah dalangnya !! Ardian…" jawab Rania yang baru masuk ke ruang tamu dan mendengar perkataan Ardian yang ingin Lusi tinggal di mansionnya.


Rania tidak suka itu karena dia saja tidak pernah sekalipun di izinkan menginap di mansion tersebut, tetapi kini dia mendengar kalau Ardian mengizinkan Lusi tinggal di mansion nya.


"ini adalah urusanku, dalangnya dia ataupun orang lain, aku akan tetap menyelidikinya dan sampai dalangnya ketemu dia akan tinggal di sini agar aku bisa mengawasinya, dan ku harap kau jangan ikut campur dalam urusan ini." balas Ardian menatap tajam ke arah Rania yang berdiri tepat di sampingnya.


Rania sangat kesal mendengar perkataan Ardian yang terus mengabaikan perkataannya, dan di tambah lagi sekarang Lusi tinggal di mansion Ardian yang artinya mereka akan bertemu setiap saat, dan Rania sangat tidak suka itu, Rania menahan amarahnya dengan mengepalkan sebelah tangannya kuat.


"dan kau mengapa kau bisa ada di gudang itu?" tanya Ardian pada Rania curiga.


"aku mendapatkan kiriman video Penyekapan tante Meli dan penculiknya meminta uang tebusan untuk keselamatan Tante Meli padaku." jawab Rania tanpa ragu.


Rania sangat ahli dalam bersandiwara, dan semua sudah dia rencanakan bersama semua anak buahnya, kalau penculikkan nyonya Meli memang untuk menjebak Lusi dan juga menarik simpati dan perhatian Ardian padanya bila Rania bisa menyelamatkan nyonya Meli, tetapi semuanya malah gagal di luar rencananya, Lusi ternyata bisa melawan dengan senjata.


Rania bertambah kesal dan benci pada Lusi yang merusak semua rencananya dan malah menguntungkan dia yang bisa tinggal di mansion Ardian.


Ardian hanya diam mendengar jawaban Rania, dia memalingkan wajahnya melihat kedua teman Rania secara bergantian.


"di mana sandra kalian tadi? kenapa tidak ada di sini?" tanya Ardian curiga.

__ADS_1


"aku melepaskannya karena dia orang yang kebetulan lewat dan aku kira pria itu teman dari mereka berdua." jawab Rania seraya menunjuk Lusi dan Zia secara bergantian.


"seharusnya nona membawa dia kesini juga untuk menjadi saksi mata." kali ini Lusi yang menjawab karena merasa Rania menyembunyikan sesuatu.


"seharusnya kau senang aku melepaskan saksi mata yang bisa saja memberatkan mu." jawab Rania tidak suka Lusi ikut menyela pembicaraan antara dirinya dan Ardian.


"aku lebih senang lagi bila pria itu ada di sini karena aku ingin bertanya apa saja yang dia lihat di dalam gudang itu." balas Lusi tidak mau kalah seraya berdiri melihat tajam pada Rania.


"kalau kau mau kau saja yang mencarinya, untuk apa aku harus repot-repot membawa pria itu, tidak ada urusannya denganku." balas Rania tidak mau kalah seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"kalau ini tidak ada urusannya dengan anda, jangan pernah ikut campur dalam urusan kasus penculikkan ini lagi, jangan membuat anda repot mengurusi dalangnya siapa?" balas Lusi seraya duduk santai kembali di atas sofa.


"kau takut aku ikut campur dan akan tahu kaulah dalang dari penculikkan ini?" balas Rania seraya tersenyum mengejek pada Lusi.


"aku tidak takut sama sekali, bila tidak membuatmu repot silahkan cari bukti sebanyak mungkin untuk menuduhku akulah dalangnya, agar kau puas dan kita akan tahu siapa dalang yang sebenarnya?" tantang Lusi melihat mengejek Rania.


"tentu saja aku akan membuktikan bahwa kaulah dalangnya." balas Rania dengan tantangan Lusi.


"silahkan aku akan menunggunya."


Rania bertambah ingin menghancurkan Lusi yang semakin dia kenal semakin bersikap arogan padanya, Rania sangat ingin membunuh dan menyingkirkan Lusi agar tidak ada penghalang lagi untuknya mendekati Ardian.


"Ardian bisakah aku merawat tante Meli di sini, aku sedih melihat tante Meli yang telah di bius." ucap Rania manja dengan tatapan lembut melihat ke arah Ardian.


Lusi pun mengerutkan keningnya melihat tatapan lembut penuh kagum dan suara manja Rania pada Ardian, Lusi berpikir kalau Rania pasti memiliki rasa pada Ardian, dan dia tahu akan tatapan mata Rania terhadap Ardian.


"tidak perlu aku sudah menyewa perawat untuk merawat mama, aku tidak ingin merepotkan mu." balas Ardian dengan santai melihat sekilas pada Rania.


"tidak apa-apa aku senang bisa merawat tante Meli, dan tidak merepotkan ku sama sekali, karena aku sudah menganggap tante Meli seperti mama ku sendiri." balas Rania yang tidak ingin gagal untuk mendekati Ardian.


Rania tersenyum manis pada Ardian agar Ardian luluh dan mengizinkannya untuk tinggal, Rania masih tidak sudi dan rela kalau Lusi saja yang di izinkan tinggal di mansion nya.


"apa kau bisa merawat seseorang nona Rania? kau adalah nona besar dari keluarga Kiandra." cela Lusi tersenyum mengejek ke arah Rania.


"apa maksudmu? tentu saja aku bisa, apapun bisa aku lakukan untuk keluarga ini." balas Rania tidak suka karena Lusi lagi-lagi menyela pembicaraannya dengan Ardian.


"oya…wah anda memang nona baik hati ya…apa jangan-jangan anda mempunyai maksud tertentu? setahu ku kalau tidak salah andakan kakak ipar tuan Ardian?" ungkap Lusi memprovokasi Rania dan ingin tahu reaksi Rania bila di ingatkan akan posisinya.


"apa maksudmu aku mempunyai maksud tertentu? kau jangan sembarang bicara, justru aku kakak ipar nya, maka dari itu aku perhatian terhadap keluarga ini, apa lagi di sini ada kedua keponakan ku yang aku sayangi dan perlu perhatian dari ku." jawab Rania tidak suka dengan perkataan Lusi seakan ingin dia pergi dari mansion ini.


"wah anda memang tante yang baik hati, sangat bagus sekali kalau seorang Tante sangat sayang terhadap keponakannya, asal jangan sayang pada yang lainnya…" ucap Lusi mengambang seraya melirik ke arah Ardian yang juga melihat dirinya.

__ADS_1


Ardian hanya melihat perdebatan dua wanita di depannya, dan dia ingin tahu sampai mana Lusi ingin berbicara pada Rania, karena Ardian sadar sedari tadi Lusi sengaja selalu berusaha menyela pembicaraan antara dirinya dan Rania.


"apa maksudmu…?" tanya Rania sedikit mengeraskan nada bicaranya.


"aku tidak ada maksud apapun, kau pasti sudah tahu apa yang aku maksudkan? apa aku harus bicara terus terang di sini nona Rania? bila anda menyukai seseorang di sini selain keponakan anda?" balas Lusi santai melihat Rania dan ingin tahu reaksi Rania.


Rania mulai gelagapan akan pernyataan Lusi, Rania berpikir apa Lusi tahu kalau dia menyukai Ardian dan sedang berusaha untuk dekat pada Ardian?


Lusi yang tahu gelagat Rania yang gugup hanya tersenyum dan semakin yakin kalau Rania Memang menyukai Ardian, Lusi tersenyum melihat Rania dan Ardian secara bergantian.


"tuan Ardian…" ucap Lusi terpotong.


"nona lusi…" panggil Rania yang memotong perkataan Lusi.


Lusi yang di panggil pun melihat ke arah Rania, sedangkan Ardian melihat Rania dan Lusi secara bergantian seraya mengerutkan keningnya melihat kedua wanita yang ada di depannya, dia melihat ada aura saling menjatuhkan antara Lusi dan Rania.


"iya nona Rania?" balas Lusi karena merasa dia di panggil.


"aku hanya ingin tahu, apa kau tidak tahu malu untuk tinggal di sini sedangkan kau tidak ada hubungannya dengan keluarga ini?" tanya Rania ingin membalas Lusi agar dia sadar dan cepat pergi dari mansion.


Lusi sangat terkejut akan perkataan Rania padanya yang terselip maksud mengusirnya secara halus, tetapi Lusi dengan cepat merubah mimik terkejutnya, dan akan membalas Rania.


Ardian pun tidak kalah tercengang dengan perkataan Rania pada Lusi, Ardian sangat tahu kalau Rania berusaha membuat Lusi pergi dari mansion, saat dia ingin membalas perkataan Rania malah tertahan akan jawaban Lusi.


"maaf ya nona Rania, bukannya aku tidak tahu malu, aku hanya menerima tawaran sang tuan rumah padaku yang menawarkan nya langsung padaku, bukannya sengaja aku yang memintanya." jawab Lusi tepat sasaran menyindir serta membuat kesal Rania.


Rania yang merasa tersindir oleh Lusi mengepalkan tangannya kuat dan menahan malu dan amarahnya.


Lusi tersenyum senang bisa membalas Rania, Lusi sebenarnya malas berurusan dengan Rania tetapi apa boleh buat, Lusi hanya membelan diri karena terus di usik dan di sindir Rania terlebih dahulu.


Ardian pun diam-diam tersenyum dengan jawaban Lusi yang bisa membuat Rania tersindir dan juga kalah talak dari Lusi.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2