Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 20 Membuktikan Sesuatu...?


__ADS_3

*****mansion Ardian Adhitama*****


Di dalam kamar tamu lantai dua mansion Ardian Adhitama, Lusi baru selesai melakukan rutinitas mandinya, dia juga sudah menggunakan pakaian beserta lengkap dengan dalaman yang sudah di bawakan oleh pelayan, semua sama dengan ukurannya yang biasa dia pakai.


"waaahh...mereka tahu dengan ukuran yang aku pakai." gumam Lusi melihat pantulan dirinya di balik kaca, dia memakai minidress berwarna pink muda tanpa lengan, wajahnya hanya memakai sedikit pelembab wajah, bedak dan lipstik yang biasa dia bawa di dalam tasnya.


ini visual Lusi.



hanya bayangan author saja ya, bisa bayangin yang lain menurut selera.


Beberapa menit kemudian suara pintu kamar di ketuk seseorang, yang ternyata adalah pelayan sita.


"nona...anda di tunggu oleh tuan untuk makan malam." kata sita dari balik pintu.


"tunggu sebentar sita." jawabku yang langsung berjalan menuju pintu kamar, saat pintu sudah terbuka sita terpesona melihat diriku.


"anda cantik sekali nona...baju itu sangat pas dan cocok untuk anda, seakan bajunya dibuat special untuk anda." kata sita memuji yang terpesona melihat dirinya.


"bajunya yang cantik sita." jawabku malu.


"tidak nona, anda sangat cantik seperti Dewi, anda sangat cocok menjadi artis atau model."


"aaahhh kau terlalu memuji ku sita.."


"tidak nona sungguh anda sangat cantik, siapa saja yang melihat pasti akan terpesona."


"sudahlah sita....ayo nanti tuan mu marah karena lama menunggu."


"tidak mungkin nona...saya berani bertaruh kalau tuan pasti juga akan terpesona melihat anda, dan marahnya pasti reda."


"ayo kita buktikan, kita lihat reaksi tuanmu yang dingin dan datar itu ?!" ajakku karena mana mungkin pria arogan, kasar, egois, datar dan dingin seperti Ardian Adhitama akan bisa baik apalagi terpesona melihatku.


Di luar sana pasti masih banyak lagi wanita yang lebih cantik, baik dan anggun dari dirinya yang akan suka rela mengantri menjadi pasangan seorang Ardian Adhitama, yang akan lebih di sukai oleh Ardian sebagai tipe kriteria wanita idaman seorang Ardian Adhitama, mana bisa dia bersaing dengan wanita-wanita cantik di luar sana.


Di dalam hidup Lusi tidak pernah menginginkan pasangan seperti Ardian Adhitama yang tidak bisa tersenyum, hanya bisa memasang wajah seram, dingin dan datar, mana sifatnya yang egois dan sok berkuasa, Lusi tidak ada niat untuk memiliki pasangan sepertinya atau pun seseorang yang menyukainya yang seperti Ardian Adhitama.


Lusi berjalan menuruni anak tangga, dia melangkah ke ruang makan di mana di sana sudah ada Ardian yang duduk di kursi utama meja makan, dan di sebelahnya ada asisten Gavin yang masih berdiri berbicara sesuatu pada tuannya.


Begitu mereka mendengar suara langkah kaki, Ardian dan asisten Gavin menoleh ke arah Lusi dan pelayan sita yang baru tiba di ruang makan, Ardian dan asisten Gavin terpesona melihat Lusi yang sangat cantik dan anggun cuma hanya memakai make-up tipis dan baju minidress pink muda yang sederhana menurut mereka, karena mereka biasa melihat semua wanita yang mendekati Ardian pasti menggunakan baju yang super mewah, ketat dan limited edition dengan make-up yang menor dan tebal.


Sedangkan dalam benak Ardian 'terpesona seakan melihat istrinya yang datang dan berdiri disana, bukannya Lusi.' benar-benar tidak ada perbedaan sama sekali.

__ADS_1


Lusi yang dipandang tanpa berkedip oleh mereka hanya bisa heran dan memandang ke arah sita minta jawaban, sita yang mengerti pun tersenyum.


"benarkan nona kataku...tuan dan asisten Gavin terpesona tidak berkedip melihat nona." kata sita berbisik sambil tersenyum.


"belum tentu mereka terpesona sita, tunggu reaksi selanjutnya." jawab Lusi dengan berbisik.


"eemmm....selamat malam tuan Ardian, asisten Gavin.!!" sapaku membuyarkan keterpesonaan mereka padaku.


"selamat malam...silahkan duduk." jawab datar Ardian menyembunyikan ke terpesonaan nya kepada Lusi.


Lusi melangkah ke kursi yang sudah ditarik kan oleh sita, Lusi duduk dengan anggunnya, sedangkan Ardian dan asisten Gavin mencuri pandang pada Lusi.


"silahkan di makan !" ajak Ardian yang sekalian mengisyaratkan asisten Gavin duduk untuk makan malam juga.


"terima kasih tuan." jawabku singkat dan dengan segera aku mengambil nasi dan lauk pauk yang menurutku enak.


"silahkan di makan semua boleh di cicipi."kata Ardian menatap Lusi yang mulai mengunyah makanannya.


"ini saja sudah cukup tuan." tunjuk Lusi pada piringnya yang berisi makanan.


"ini cobalah cicip, masakan udang asam manis ini sangatlah enak." kata Ardian yang menyendokkan dua buah udang ke piring Lusi.


"aaahhh...jangan tuan..." kata Lusi terkejut.


"saya tidak suka udang."


"coba lah, rasanya enak kamu pasti suka." paksa Ardian dengan mimik wajah yang masih datar.


Lusi hanya menghela nafas berat, yang tidak luput dari pandangan Ardian.


"ada apa, udang ini tidak beracun...ini sangat enak." katanya sambil memasukkan udang itu ke dalam mulutnya."lihat tidak terjadi apa-apa padaku." katanya lagi untuk meyakinkan Lusi.


"bukan masalah beracun tuan...tapi..."


"tapi kenapa ? atau kau tidak Sudi makan makanan yang aku ambilkan ke dalam piringmu ?" tanya cepat Ardian.


"maaf bukannya begitu tuan..."katanya menghela nafas panjang, Lusi hanya memandang udang yang ada di piringnya, dia berpikir sejenak dengan pelan dan ragu dia memasukkan udang itu ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan terpaksa.


"bagaimana enak bukan...?" tanya selidik Ardian.


"iya tuan enak..." jawabnya pasrah dengan masih mengunyah udang di dalam mulutnya.


Lusi bergumam dalam hati 'tidak akan terjadi apa-apa'.

__ADS_1


dengan cepat dia meneguk air putih, Ardian tidak sampai disitu, dia lagi-lagi mengambilkan udang yang harus Lusi makan dengan terpaksa. 'ini awal dari siksaannya untukku' gumamnya lagi.


......................


Selesai makan malam, dengan segera dia menuju kamar dan masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, berharap udang yang dia makan bisa keluar semua, tapi tidak ada yang keluar sama sekali, Lusi mulai ketakutan karena setahu dia dari pesan ibunya Lusi tidak boleh makan udang, Lusi ada alergi dengan makanan seafood, sehingga ibunya tidak pernah sekalipun memasak makanan seafood di rumah, lusipun belum pernah membuktikannya, kalau dia memang benar alergi atau tidak dengan seafood.


Lusi hanya takut kalau benar dia alergi seafood, apa yang akan terjadi padanya ? ibunya hanya bilang, akibat alergi seafood yang pernah di alami Lusi bisa mengakibatkan semua kulitnya jadi gatal dan lebih parahnya lagi kepalanya bisa pusing juga terkadang sesak pada pernafasannya, tergantung dari jumlah seafood yang di makan banyak atau sedikit.


Kata ibunya kejadian Lusi alergi dengan seafood sudah lama sekali terjadi sehingga Lusi tidak lagi mengingat kejadian tersebut, jadi Lusi tidak tahu lagi bagaimana rasanya sakit dari alergi itu, dan dia berdoa semoga dia baik-baik saja.


Dalam hati dia bergumam 'kalau terjadi apa-apa pada dirinya, dia tidak akan mau memaafkan Ardian karena dia yang sudah memaksa lusi'.


"ini baru awal dari penyiksaan secara halusnya yang tidak bisa di bantah, dasar egois, muka datar, muka dingin, awas saja kalau benar-benar aku sakit akibat alergi udang yang kau paksakan untuk aku makan." katanya duduk di atas ranjangnya.


......................


Lain halnya dengan pikiran Ardian yang berada di dalam ruang kerjanya.


"dia berani makan udang dan tidak terjadi apa apa padanya seperti Lidya, berarti dia bukanlah Lidya seperti apa yang aku pikirkan." gumamnya duduk di balik meja kerjanya yang ditemani oleh asisten Gavin yang duduk di depan menghadap pada tuannya.


"apa tidak apa-apa tuan, bagaimana kalau dia benar-benar ada alergi karena makan udang seperti nyonya Lidya?" tanya asisten Gavin.


"tidak mungkin...kalau memang dia ada alergi pasti reaksinya langsung seperti yang di alami Lidya, tapi buktinya dia baik-baik saja."


"Gavin apa yang sudah aku pikirkan ? apa yang aku harapkan padanya ? dan apa yang ingin aku buktikan padanya ? aku seperti hilang akal sehatku karena wajahnya yang sangat mirip dengan Lidya." tanya Ardian heran karena mengapa dia terlalu terobsesi dengan Lusi, yang nyata-nyata bukanlah Lidya yang sudah 5 tahun lalu meninggal, dan orang yang sudah lama meninggal tidak mungkin hidup kembali.


asisten Gavin yang di tanya hanya diam tidak berani menjawab masalah hati yang di alami tuannya.


"Gavin aku hanya tidak rela ada yang mirip dengan Lidya, tidak ada yang boleh menyamainya, aku akan sangat buat dia tersiksa yang berusaha untuk meniru istriku, siapapun dia, aku akan buat hidupnya menderita." katanya dengan pandangan mata tajam, wajah datar dan dinginnya, yang membuat asisten Gavin bergidik ngeri.


'tuan anda terlalu tidak suka dan membenci dia hanya karena nona Lusi wajahnya mirip dengan wajah nyonya Lidya, jangan sampai anda yang malah jatuh hati pada nona Lusi, seperti kejadian anda dengan nyonya Lidya dulu, dari sangat membenci akhirnya sangat mencintai nyonya Lidya.' gumam asisten Gavin di dalam hatinya.


Asisten Gavin hanya berharap tuannya tidak terlalu kejam pada nona Lusi yang tidak bersalah pada tuannya, bukan keinginan nona Lusi yang memiliki wajah mirip dengan wajah nyonya Lidya, semoga tuannya bisa cepat sadar dari obsesi ketidak sukaannya pada nona Lusi, dan semoga ada takdir yang baik untuk mereka masing-masing.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2