Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 18 Kuasa Ardian Adhitama.


__ADS_3

*****Mansion Ardian Adhitama*****


Sore hari Lusi sadar dari pingsannya, dia melihat ke sekeliling ruangan yang asing baginya, dia bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di sandaran ranjang, tangannya memegang kepala yang masih terasa pusing, dia melihat tangan kirinya terpasang selang infus dan bajunya sudah terganti, dari baju kantoran terganti menjadi baju tidur terusan berwarna putih.


Dia terus melihat sekeliling ruangan, kalau ruangan itu bukan rumah sakit ataupun kamar hotel tempatnya tinggal, Lusi berpikir sejenak untuk mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya jatuh pingsan.


Yang dia ingat hanya saat dirinya berdiri di pinggir jalan menunggu takxi untuk pergi ke klinik, karena kepalanya pusing sehingga dia agak oleng dan tanpa sengaja ada yang menyenggol lukanya, luka yang sudah terasa sakit bertambah sakit sehingga dia tidak tahan akan sakitnya, dan jatuh pingsan akibat badannya juga lemas, meriang panas dingin dan sekujur tubuhnya keluar keringat dingin.


sebelum matanya menggelap tak sadarkan diri, dia sempat mendengar suara seorang wanita bertanya dia kenapa ? dan suara seorang pria memanggil namanya yang juga merangkul saat dia akan jatuh ke trotoar, tapi dia sama sekali tidak tahu siapa mereka berdua.


Diapun dengan cepat mencabut selang infus, dengan perlahan karena masih sedikit pusing dan lemas dia turun dari ranjang, Lusi melihat ke sekitar kamar mencari sesuatu, dan dia mendapatkannya, dia mendapatkan sepatu dan juga tasnya ada di meja kaca dekat sofa yang berada di sudut kamar.


Tanpa berpikir panjang dia raih tas dan melihat isi dalam tasnya masih lengkap, dia ambil tas dan dengan segera mengenakan sepatunya, dengan pelan dia putar gagang pintu, ternyata tidak terkunci, pelan Lusi melangkah keluar kamar menuju tangga dan turun kelantai bawah.


"rumah siapa ini?" gumamnya pelan bertanya pada dirinya sendiri.


"besar tapi ngk ada penghuninya." gumamnya lagi melihat sekeliling rumah mewah tersebut.


" mumpung sepi, penghuni rumah ini belum ada, aku harus keluar dari sini, aku takut lama-lama di sini, kalau-kalau yang punya rumah orang jahat ." gumamnya bergidik ngeri karena dia membayangkan bahwa dia di bawa ke rumah mewah orang jahat.


Melangkah cepat tak bersuara karena dia bersyukur kalau dia memakai sepatu kantor yang tak memiliki hak tinggi sehingga tidak bersuara saat melangkah, Lusi mendekati pintu besar yang dia yakini adalah pintu depan rumah ini.


Begitu dia membuka pintu dia melihat ada 3 orang penjaga yang memakai jas hitam.


"aduh bagaimana ini ? ada penjaga..." gumamnya dalam hati, Lusi berpikir sejenak, dia menghela nafas berat, dia harus nekat daripada dia harus terkurung terus di rumah mewah yang entah milik siapa?


Akhirnya dengan memberanikan diri dia keluar dari balik pintu besar itu, dan benar saja ketiga penjaga langsung menoleh melihatnya yang berdiri di ambang pintu.


Dengan sikap siaga dia siap untuk hal-hal yang akan terjadi, tetapi tak satupun penjaga yang bergerak sehingga Lusi mulai melangkah menuju teras, belum setengah teras penjaga sudah melangkah mendekatinya.


"siapa kalian ?" tanya Lusi pada para penjaga.


"maaf nona silahkan kembali kedalam." jawab penjaga yang paling depan.


"aku tidak mau, aku mau pergi dari sini." jawab Lusi masih tenang, dan mulai melangkah.


"stop nona, kami minta baik-baik, silahkan nona masuk ke dalam rumah." jawab penjaga yang tadi menghalangi langkah Lusi dengan rentangan tangannya.


"aku tidak mau, ini bukan tempatku."jawab Lusi mulai geram, dalam pikirannya apa boleh buat dia akan melawan sampai dia bisa keluar dari rumah mewah tersebut.


"maaf nona, terpaksa kami memaksa anda."jawab penjaga itu dan dengan cepat dia memegang lengan kiri Lusi untuk menggiring dirinya masuk.


Lusi segera memegang lengan penjaga dan memutar tubuhnya dengan cepat dia mengangkat dan membanting tubuh penjaga itu dari belakang punggungnya, tubuh penjaga tersebut tergeletak kesakitan karena bokong dan punggungnya jatuh ke lantai dengan keras.


Lusi siap siaga menghadap sisa kedua penjaga yang mulai mengarahkan pukulan tinju ke arahnya, Lusi dengan cepat menghindar, dan menendang keras perut penjaga yang menyarangnya dari samping, sehingga penjaga itu mundur kesakitan sambil memegang perutnya.


Penjaga yang satunya siap melayangkan tendangannya, lagi-lagi Lusi dapat menghindar dan dengan cepat dia melayangkan pukulan ke arah penjaga, tapi tidak kena, Lusi tak habis akal dia layangkan tas yang dia bawa ke arah wajah penjaga tersebut, dan akhirnya kena dengan cepat dia menendang perut sang penjaga sampai penjaga jatuh tersungkur ke belakang.


lagi-lagi para penjaga yang sudah jatuh bangun kembali dan terus menyerang Lusi, dengan bela diri yang pernah di ajarkan ayahnya, Lusi terus menghindar dan melawan, dengan gerakan yang lincah dan cepat kuat, dia bertahan melawan ketiga penjaga, yang satu-satu bisa Lusi lumpuhkan.


Dengan memukul, meninju dan menendang Lusi terus melawan, dan dia bersyukur bahwa dia menggunakan baju tidur yang nyaman dan leluasa buat dia bergerak.


Ketiga penjaga sudah Lusi lumpuhkan, tapi tiba-tiba datang dua penjaga lagi dan siap untuk menyerang Lusi.

__ADS_1


belum sempat mereka bertarung, suara berat bariton dan berteriak keras terdengar dari arah belakang Lusi.


"hentikan, apa yang kalian lakukan ?" tanya suara bariton dan teriak keras Ardian dari ambang pintu utama.


Lusi menghentikan gerakannya dan berbalik badan, dia terkejut melihat Presdir Ardian Adhitama yang tadi pagi dia lihat di ruang meeting kantor Wirajaya group, sekarang ada di hadapannya.


Ardian melihat ke sekeliling yang di mana terdapat tiga anak buahnya sudah di lumpuhkan oleh Lusi, dan beralih melihat ke arah Lusi yang memandang dirinya terkejut.


"anda Presdir Ardian Adhitama ??" tanya Lusi heran mengapa Ardian ada dihadapannya.


"apa yang kau lakukan ?" tanya balik Ardian pada Lusi dengan wajah yang dingin dan datar menahan emosinya.


"seharusnya saya yang bertanya, kenapa saya ada di sini, dan mengapa penjaga anda tidak mengizinkan saya pergi ?" tanya Lusi dengan sedikit nada tinggi, dia sama sekali tidak takut dengan Ardian.


"begini caranya kau berterima kasih pada orang yang sudah menolongmu ?" tanya Ardian dengan masih memasang wajah dinginnya.


"menolongku...?!" kata Lusi dengan senyum mengejek "seharusnya anda cukup membawa ke rumah sakit saja untuk menolong saya, bukannya membawa saya ke rumah anda ini." jawab Lusi tegas.


"aku tidak mau ada rumor hanya untuk membawa kau ke rumah sakit, kau mengerti ?!"


Lusi berpikir sejenak, Lusi ingat berita yang pernah dia dengar, kalau Ardian Adhitama tidak suka ada rumor apapun tentangnya.


"baiklah, terima kasih karena sudah mau menolong saya.." kata Lusi melunak tapi tetap dengan wajah yang datar juga.


"jadi boleh saya pergi sekarang ?" tanya Lusi .


"lukamu masih basah kau harus dirawat beberapa hari agar tidak semakin parah, di dalam sudah ada perawat yang akan mengurusmu, jadi masuk dan istirahatlah beberapa hari disini."jawab Ardian masih dengan wajah dingin dan datar.


"jangan terlalu banyak melawan."kata Ardian tegas karena dia paling tidak suka perkataannya di bantah, tapi Lusi masih saja besikeras untuk pergi.


"anda tidak bisa memaksa saya tuan."kata Lusi yang mulai kesal karena terus di paksa dan tidak di perbolehkan pergi.


"saya bisa, apapun yang saya inginkan dan saya katakan semua bisa terjadi, kau paham?"


"apa hakmu tuan ? aku bukan bawahanmu yang harus menuruti keinginanmu ?!" tanya Lusi benar-benar kesal dengan sikap keras kepala dan sok kuasa Ardian.


Dalam benak Ardian tahu bahwa Lusi juga keras kepala untuk tidak mau tinggal.


Dengan cepat dia memerintahkan asisten Gavin untuk menghubungi seseorang yang membuat Lusi mengerutkan alisnya heran, 'mau apa lagi yang akan di lakukan tuan Ardian pada nya ?' gumam Lusi dalam hati.


Setelah asisten Gavin selesai menghubungi seseorang melalui ponselnya, sekarang malah ponselnya yang berdering.


"cepat angkat ponselmu !" perintah Ardian.


Lusi mengerutkan alisnya heran dengan perintah Ardian, tapi gerakan tangannya mengambil ponsel di dalam tasnya yang masih berdering, dia lihat nomer asisten Ari yang menelpon, segera dia mengangkatnya.


"hallo selamat sore asisten Ari !" sapa Lusi yang masih memandang ke arah Ardian.


"selamat sore sekretaris Lusi ! Presdir Maria ingin bicara." jawab asisten Ari dari seberang telpon.


"selamat sore sekretaris Lusi !" sapa Presdir Maria dari seberang telpon.


"selamat sore Presdir Maria !"

__ADS_1


"Lusi kamu ada dimana sekarang ?" tanya Presdir Maria yang membuat mata Lusi memandang ke arah Ardian, dan Ardian memandang datar dan tajam ke arah lusi.


'apa yang akan aku katakan? masa iya aku akan bilang berada di rumah Presdir Ardian Adhitama ?! tidak aku tidak mau Presdir Maria berpikir yang tidak-tidak tentangku.' gumamnya dalam hati yang berperang bathin dengan hati dan otaknya.


"saya sedang di kamar hotel istirahat Presdir, maaf saya tidak bisa izin pada anda langsung." jawabku bohong, yang di sertai tarikan nafas panjang.


"kamu baik-baik saja Lusi ? bagaimana apa kata dokter ?" tanya Presdir Maria yang tahu kalau Lusi izin pergi ke rumah sakit karena tidak enak badan.


"saya sudah membaik Presdir, hanya butuh istirahat saja sebentar." jawab Lusi agar Presdir Maria tidak khawatir.


"maaf Lusi kalau kamu sudah mulai membaik, saya ada pekerjaan penting buat kamu ?!"


"iya Presdir pekerjaan apa ?"


"tolong kamu beberapa hari membantu Presdir Ardian Adhitama untuk menjelaskan tentang berkas dan laporan bisnis yang tadi pagi kita rapatkan, yang sudah kamu kirim ke email perusahaan Adhitama group."


"maksud anda ?" tanya Lusi tidak mengerti dan melihat ke arah Ardian yang masih berdiri di depan dan menatapnya tajam.


"jadilah sekretaris perwakilan dari Wirajaya group untuk menghubungkan Wirajaya group dengan Adhitama group, agar bisnis ini dapat di terima oleh Presdir Adhitama group."


"kamu cerdas Lusi dan saya percaya kamu bisa meyakinkan Presdir Ardian Adhitama untuk menerima dan ikut bergabung dalam bisnis ini, bisa Lusi..??" tanya Presdir Maria yang membuat Lusi menatap tajam dan geram pada Ardian, tangan kirinya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih, Ardian melihatnya dan tahu bahwa saat ini Lusi pasti sedang kesal padanya.


"baik Presdir, akan saya laksanakan semampu saya."


"terima kasih Lusi, nanti ada yang akan menjemputmu untuk langsung tinggal ditempatnya karena Presdir Ardian mau hari ini juga kamu mulai bekerjasama dengannya beberapa hari, semoga kamu berhasil meyakinkan Presdir Ardian."


"baik Presdir Maria."


"baiklah Lusi, selamat sore."


"selamat sore Presdir Maria."


Sambungan telpon pun putus, Lusi benar-benar tidak habis pikir dengan kuasa Presdir Ardian Adhitama, sampai-sampai Presdir Maria bisa luluh dan mengikuti kemauannya yang licik.


"anda sangat licik tuan Ardian Adhitama." kata Lusi memicingkan matanya ke arah Ardian.


"sudah kukatakan, apa yang aku mau ? apa yang aku katakan ? dan apa yang aku perintahkan ? adalah mutlak tidak bisa di bantah dan pasti akan terjadi." katanya tegas dengan wajah yang dingin dan datar seperti awal bertemu.


"jadi ikuti saja arus dan jangan melawan, bekerjasama lah agar bisnis yang di ajukan oleh perusahaan Wirajaya group bisa aku terima, jangan sampai Wirajaya group kehilangan investor pentingnya." ancamnya yang membuat Lusi tertawa mengejek, inilah kuasa seorang Ardian Adhitama yang tidak bisa aku lawan.


Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dan tidak tahu akan nasibnya hari ini dan beberapa hari ke depan yang akan bekerjasama dengan Ardian.


Dengan angkuhnya Lusi melangkah masuk ke dalam rumah melewati Ardian dan asisten Gavin, Lusi melangkah sampai di ruang tengah dan duduk di sofa, dia benar-benar kalah talak dari Ardian Adhitama.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2