
***** Ruang Meeting Hotel Rose *****
"kita akan mencari solusi dari masalah ini !" kata Presdir Maria.
"mungkin ada yang memiliki ide atau pemikiran untuk menaikkan penjualan Hotel Rose kita ini ? kalian bisa mengeluarkan pendapat kalian !" tanya Presdir Maria yang di sertai saling pandang oleh semua kepala Devisi di ruang meeting.
"asisten Ari, kamu cari tahu mengenai Cahaya group ?! yang bertanggung jawab dari kontrak kerjasama ini bernama Melani Fredella, saya mau tahu perusahaan mana Cahaya group ini ? apa ada hubungannya dengan Fredella group ? karena nama belakang Presdir Cahaya group sama dengan Presdir Roger Fredella, dari perusahaan Fredella group !" perintah Presdir Maria yang di dengar oleh semuanya.
"baik Presdir..!" jawab singkat asisten Ari.
"sekretaris Lusi, kamu buat perubahan di peraturan kontrak kerjasama Wirajaya group, tambahkan pasal bahwa di dalam kontrak kerjasama tidak boleh merubah atau menaikkan harga kamar yang sudah di tentukan, yang bisa merugikan dan merusak nama baik pihak Hotel !" perintah Presdir Maria, aku hanya menjawab "baik Presdir" seraya mengetik apa yang di perintahkan.
"dan pastikan kamu hubungi dan berikan informasi ini ke semua Direktur Hotel Wirajaya group untuk tidak melakukan perjanjian kontrak kerjasama apapun dulu sampai kontrak di perbaharui, asisten Ari dan sekretaris Dewi akan membantu kamu menghubungi mereka !"
"baik Presdir.".
"sekalian saya mau kamu cek dan baca ulang semua isi kontrak kerjasama Wirajaya group, bila perlu lakukan perubahan semua isi kontrak kerjasama agar kita tidak kecolongan lagi seperti ini, nanti saya akan cek ulang isi kontrak kerjasama nya juga dan perubahan apa yang harus dilakukan."
"baik Presdir." jawabku sopan dan singkat, sedangkan jari-jari ku terus mengetik apa yang di perintahkan oleh Presdir Maria dan sesekali aku menulis hal-hal penting di buku agenda pribadi ku, agar mempermudahkan aku untuk mengingat dan mengecek ulang segala perintah dan hasil materi yang dibahas, agar laporan ku nanti hasilnya rapi.
"apakah ada pendapat dan ide yang akan kalian utarakan untuk perkembangan Hotel Rose ?" tanya Presdir Maria.
"maaf Presdir Maria ?!" kataku ragu-ragu.
"iya sekretaris Lusi ?"
"saya mempunyai sedikit saran, Hotel Rose mendapat masalah karena voucher perjalanan, sehingga penjualan kamar sedikit menurun, kenapa kita tidak mencoba untuk menjual voucher menginap atau voucher makan di restoran Hotel ?" jawabku memberikan ide.
"maksud nya ?"
"kita bisa membuat voucher menginap atau makan, dengan harga yang menarik dan terjangkau bagi semua tamu, contohnya voucher menginap semalam + dengan makan malam di restoran hotel dengan harga menari dan terjangkau, atau voucher menginap beberapa hari dengan potongan harga beberapa persen ?"kataku memberikan ide yang tidak tahu akan di terima apa tidak ?.
"bagaimana menurut kalian ?"tanya Presdir Maria kepada yang lain.
"menurut saya itu bisa dicoba untuk menarik minat para tamu !" dukungan dari kepala dapur.
"saya dan teman dapur yang lainnya kan coba membuat paket makan malam yang enak, menarik, tapi tidak terlalu menggunakan bahan mahal, tapi tidak akan terlihat murahan." jawab kepala dapur memberikan saran untuk mendukung ideku, aku tersenyum senang karena ide dan saranku ada yang mendukung.
"bagaimana menurut anda Direktur Radit ?" tanya Presdir Maria.
"menurut saya itu bisa kita coba Presdir, saya akan coba membuat voucher murah tapi tidak membuat kita rugi, semoga ini bisa membantu menarik minat tamu untuk datang lagi menginap di Hotel Rose !" jawab Direktur Radit tersenyum kearah ku dan Presdir Maria yang di sertai anggukkan setuju dari yang lainnya.
"bagus kalau begitu kita bisa mulai membuat rencana ini secepat mungkin, kalau sudah pasti saya akan datang lagi untuk melihat perkembangan ide ini." kata Presdir Maria semangat.
"terima kasih sekretaris Lusi yang sudah memberikan ide ini." puji Presdir Maria tersenyum padaku.
"sama-sama Presdir Maria." balasku dengan tersenyum.
"kalau begitu rapat hari ini kita akhiri sampai disini, selamat siang dan sampai jumpa lagi pada saat peluncuran vouchernya." kata Presdir Maria menutup rapat hari ini.
kami meninggalkan ruang Meeting dan kembali ke pekerjaan kami masing-masing, aku berjalan beriringan dengan asisten Ari tepat dibelakang Presdir Maria, begitu kami tiba di lobby hotel Presdir Maria berhenti sejenak.
"kalian bisa kembali duluan ke kantor !" perintah Presdir Maria berbalik menghadap pada kami.
"maaf Presdir, maksudnya ?" tanya asisten Ari.
__ADS_1
"asisten Bayu belum datang, dia masih nganterin Nadia ke rumah sakit Wirajaya untuk melihat kondisi rumah sakitnya, supaya Nadia juga tahu alamat rumah sakit nya dimana ? karena mulai besok dia akan bekerja di rumah sakit Wirajaya." Presdir Maria menjelaskan, aku yang tidak tahu siapa yang mereka bicarakan hanya bisa diam.
"saya bisa antar Presdir ke rumah sakit Wirajaya." kata asisten Ari.
"tidak usah, saya sudah janji tunggu disini, jadi kalian duluan saja ke kantor !" perintah Presdir Maria.
"maaf Presdir, saya tidak bisa meninggalkan anda tanpa pengawasan."
"asisten Ari jangan mulai lagi."
"setidaknya saya akan menunggu asisten Bayu dan nona Nadia sampai datang kesini."
"tidak apa-apa asisten Ari disini banyak karyawan hotel yang bisa mengawasi dan melihat saya, tidak akan terjadi apa-apa sama saya ?"
"maaf Presdir Maria saya tidak bisa, saya akan tetap menunggu disini sampai asisten Bayu datang." paksa asisten Ari, Presdir Maria akhirnya menghela nafas frustasi karena tidak mungkin menang argumen melawan asisten Ari.
"baik-baiklah, kalian bisa ikut menunggu disini sampai asisten Bayu dan Nadia datang." ucap Presdir Maria mengalah.
"tunggulah duduk dulu disana !" perintahnya menunjuk ke arah sofa tunggu yang ada di lobby, "saya ke toilet dulu."
"perlu saya temani Presdir Maria ?" kali ini aku yang bicara.
"kalau kamu mau ke toilet juga, ayo ikut denganku, tapi kalau hanya akan mengawasi ku, lebih baik diam disini ?!" curiga Presdir Maria, aku melirik sejenak ke arah asisten Ari, dia hanya menjawab dengan anggukan kepala tanda untuk aku ikut dengan Presdir Maria.
"tentu saja Presdir Maria, saya juga mau ke toilet karena dari tadi menahan ingin buang air kecil." jawabku cepat kerena keduanya adalah alasanku, ingin buang air kecil dan juga ingin mengawasi Presdir Maria.
"ayo cepat !!" ajak Presdir Maria berjalan ke arah toilet, sedangkan asisten Ari berjalan ke arah sofa lobby untuk duduk menunggu di sana.
Aku dan Presdir Maria masuk ke toilet yang sama, aku dengan cepat buang air kecil agar bisa menunggu dan mengawasi Presdir Maria.
Aku menunggu Presdir Maria di depan bilik yang di masuki oleh Presdir Maria, aku mengetuk pelan pintu bilik memanggil namanya, beliau masih di dalam, dengan setia aku menungguinya.
Kami kembali ke lobby hotel, begitu Presdir Maria tiba, asisten Ari bangun dari duduknya, isyarat tangan Presdir Maria menyuruhnya kembali duduk.
"Presdir apa anda ingin minum sesuatu ?" tanya asisten Ari.
"tidak terima kasih, sebentar lagi mungkin mereka datang." jawab Presdir Maria sambil bermain ponselnya.
Tiba-tiba ponselku yang bergetar didalam saku jasku, aku melihat ibu yang menelpon, tapi tidak enak hati untuk mengangkat panggilan ibu karena ada Presdir Maria, rasanya kurang sopan. ku masukkan kembali ponselku ke dalam saku jasku.
Tanpa kusadari Presdir Maria melihat tingkahku yang gelisah dan terlanjur mendengar getaran ponselku.
"angkat Lusi tidak apa-apa mungkin penting !" perintah Presdir Maria.
"tidak apa-apa Presdir Maria, nanti bisa saya telpon balik."
"tidak apa diangkat sebentar ini perintah dari saya."
"mmm...baiklah Presdir Maria,terima kasih, saya permisi dulu." pamitku bangun dan berjalan menjauh dari sofa yang di ikuti oleh pandangan mata asisten Ari.
"hallo ibu ?!" sapaku setelah mengangkat panggilan.
"hallo nak...! apa kabar ? apa Lusi baik-baik saja ? sudah makan nak...?" tanya beruntun dari ibu.
" ibu satu satu tanyanya !"
__ADS_1
"ibu kangen nak...!"
"belum satu hari ibu.!"
"Lusi ngak kangen ibu ?"
"Lusi selalu kangen ibu dan ayah."
"Lusi baik-baik saja kan di Jakarta ?"
"Lusi baik buk...ibu dan ayah baik ?"
"ibu dan ayah baik-baik saja nak..."
"sudah makan nak..?" tanya ibu lagi.
"sudah ibu...ibu sudah makan ?"
"sudah...ibu sudah makan."
"Lusi jangan sampai lupain ibu disini ya nak...?!" kata ibu dengan isak tangisnya yang mulai terdengar.
"ibu ngomong apa sih ? ngak mungkinlah Lusi bisa lupa sama ibu dan ayah." jawabku untuk menenangkan ibu.
"ibu takut kamu ngak akan pulang nak...!!" jawab ibu dengan suara bergetar karena Isak tangisnya.
"ngak mungkin ibu, kalau ngak pulang kerumah ibu dan ayah, Lusi akan pulang kemana ?" tanyaku balik agar ibu tenang, tapi isak tangisnya masih terdengar.
"ibu jangan menangis, Lusi hanya sebentar disini, ngak akan lama kok buk...Lusi pasti cepat pulang." kataku berusaha menghibur ibu.
"Lusi jaga diri yang baik ya nak disana, dan jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal."
"iya ibu pasti...ibu mau Lusi bawain oleh-oleh apa dari Jakarta ?" tanyaku untuk menghibur lagi.
"ibu ngak perlu oleh-oleh nak...Lusi pulang cepat ibu sudah senang !" jawab ibu dengan nada kasih sayang, dan hatiku selalu terasa menghangat dengan perkataan ibu yang penuh kasih sayang.
"sudah ya ibu....nanti Lusi telpon lagi, sekarang Lusi masih kerja, ngk enak sama atasan."
"iya nak...jangan lupa makan dan selalu ingat telpon ibu."
"iya ibu...salam buat ayah, Lusi sayang ibu dan ayah."
"ibu dan ayah juga selalu sayang Lusi."
sambungan telpon pun putus.
Begitulah kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah lupa dengan anak-anak nya, tidak pernah berharap balasan, selalu tulus ikhlas menyayangi kita walupun kita sudah tumbuh dewasa. Semoga aku juga bisa menjadi seorang ibu yang baik,hebat dan penuh kasih sayang seperti ibuku.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya....
...sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya yang baik ya....
__ADS_1
jangan lupa vote dan like nya.