Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 79 Gudang Tua Penyekapan.


__ADS_3

***Gudang Tua Penyekapan***


Sebuah mobil sedan hitam mewah yang di kendarai oleh Zia dan Lusi berhenti tepat di depan gudang tua, dimana aplikasi share lokasi menunjukkan tujuan perjalanan mereka telah sampai, Lusi dan Zia mengamati gudang tua yang ada di depan mereka.


"apa ini tempatnya nona?" tanya Zia pada Lusi yang sedang mengamati gudang itu.


"aku juga tidak tahu…" jawab Lusi seraya melihat ke sekeliling gudang yang sepi.


"tetapi kenapa sepi, seperti tidak ada kendaraan atau penjagaan ketat di sini?" tanya Zia kembali yang curiga akan sesuatu.


"kau benar Zia...gudang ini mencurigakan, tetaplah waspada." ucap Lusi memperingatkan Zia.


Lusi kembali menghubungi nomer tuan Erick melalui ponsel yang di berikan Deo padanya, dia menggunakan earphone kecil seperti giwang di telinganya agar tidak ada yang tahu.


"hallo tuan Erick!" sapa Lusi pada tuan Erick yang menerima panggilannya.


"bagaimana nona lusi?" tanya tuan Erick melalui sambungan telpon.


"suasana di luar gudang sepi dan sangat mencurigakan, jagalah jarak kalian tuan Erick, bila kami mendapatkan masalah kami akan segera menghubungi kalian." ucap Lusi memeberitahukan apa yang terlihat.


"sambungan tidak perlu di matikan, biarkan kami mendengar dan tahu apa yang terjadi pada kalian untuk antisipasi." perintah tuan Erick.


"baiklah tuan Erick." balas Lusi yang membiarkan sambungan telpon tetap hidup.


Lusi meraih ponselnya untuk menghubungi nomer yang menelponnya untuk mencaritahu dia harus apa? Lusipun menghubungi nomer tersebut.


"hallo…!" sapa dari seberang telpon.


"kami sudah ada di depan gerbang." jawab Lusi segera.


"kami.…kau bersama seseorang?" tanya si penculik.


"aku hanya membawa teman perempuanku untuk membawa nyonya Meli pergi dari sini." balas Lusi.


"kau tidak mendengarkan peringatanku rupanya…aku memintamu untuk datang seorang diri kenapa malah kau nekat membawa temanmu?"


"apa kau pikir aku bodoh…jika aku tidak membawa teman datang bagaimana nyonya Meli bisa kembali ke rumahnya? apa kau yang ingin menipuku? bila kau ingin menipuku aku juga tidak akan peduli pada pertukaran ini dan aku tidak akan ikut dengan permainanmu ini, silahkan kau lakukan apapun kepada nyonya Meli, aku tinggal mengirim video ini pada polisi dan juga tuan Ardian Adhitama, semua akan beres karena aku tidak ada hubungan apapun dengan mereka." ungkap Lusi yang mulai kesal karena dia merasa di permainkan oleh si penculik, dan Lusi bertambah curiga akan sesuatu tentang penculikkan ini.


"apa kau pikir mereka akan percaya pada semua yang kau katakan?"


"apa kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak merekam semua yang kau bicarakan dari pertama kau menghubungiku?"

__ADS_1


"kau berani mengancamku?"


"siapa dirimu sehingga aku harus takut untuk mengancammu?"


"kau berani melawanku, jangan salahkan aku membunuh nyonya ini." bentak keras si penculik yang mulai murka.


"silahkan dan aku akan pergi dari sini, silahkan lakukan apapun yang ingin kau lakukan." balas Lusi tidak kalah membentak pada si penculik.


Semua orang mendengar perdebatan Lusi dengan si penculik, karena sambungan telpon dengan tuan Erick tidak terputus, Zia pun menatap Lusi ngeri dengan sikap tegas Lusi yang tidak takut sama sekali dengan si penculik.


"baiklah....kau memang cerdik dan berani, silahkan masuk untuk melakukan pertukaran dan pastikan temanmu untuk cepat membawa nyonya ini lalu pergi dari sini." balas si penculik mengalah, karena dia tidak ingin kehilangan mangsa besarnya hanya karena masalah sepele.


Yang si penculik inginkan bukanlah nyonya besar Adhitama tetapi Lusi Arsinta, karena yang Rania inginkan bukanlah nyawa Nyonya Meli tetapi nyawa Lusi.


"cepat buka pintu gudangnya dan aku tidak ingin kecolongan dari mu, karena aku tidak percaya pada penjahat sepertimu akan bisa menepati janjinya." balas sengit Lusi yang tidak percaya sama sekali dengan si penculik.


"hahahaha......kau memang wanita yang sangat merepotkan...." tawa di penculik karena menghadapi wanita yang sangat cerdik bahkan licik seperti Lusi saat melakukan negosiasi.


"masuklah bersama temanmu beserta mobilmu setelah pintu gudang terbuka, agar semuanya cepat selesai."


Lusi hanya diam tidak menjawab dan sambungan pun terputus, beberapa saat kemudian terlihat pintu gudang terbuka lebar oleh kedua anak buah si penculik yang segera berdiri siaga di sisi kiri dan kanan gerbang yang terbuka.


"ini sangat mencurigakan Zia, mereka seolah-olah tidak takut sama sekali bila ada yang melihat mereka melakukan penculikkan ini, hati-hati Zia." ucap Lusi memberi peringatan pada Zia.


Zia mengemudikan mobilnya perlahan mendekati pintu gerbang.


"stop Zia…" ucap Lusi seketika dan mendadak pula Zia menghentikan mobilnya.


"ada apa nona?" tanya heran Zia melihat ke arah Lusi.


Lusi tidak menjawab pertanyaan Zia, dia malah menghubungi nomer si penjahat.


"ada apa lagi? kenapa malah kau hanya diam di depan dan tidak masuk sama sekali?"


"kita lakukan pertukaran dari tempat kita masing-masing, dan perintahkan kedua anak buahmu menjauh dari depan gerbang." ucap Lusi menjelaskan.


"kau memang wanita yang sangat merepotkan, baiklah turun kau dari mobil." perintah si penculik.


Nampak dari kejauhan si penculik yang menelpon Lusi memanggil kedua anak buahnya yang ada di depan gerbang untuk masuk kembali mendekati bos mereka.


"ayo turun Zia, biarkan pintu mobil terbuka dan jangan matikan mesin mobil agar kau mudah untuk lari." bisik pelan Lusi pada Zia agar si penjahat tidak bisa mendengar ucapannya karena sambungan telponnya tidak di matikan oleh mereka berdua.

__ADS_1


Zia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan maksud dari Lusi, mereka berdua pun keluar dari mobil dan berdiri di samping kap mobil dengan pintu mobil di belakang mereka yang masih terbuka dan mesin mobil masih menyala.


"tunjukkan dimana nyonya Meli?"ucap Lusi pada sambungan telpon seraya menatap tajam pada si penculik yang jauh ada di dalam gudang.


Si penculik memberikan isyarat pada anak buahnya, dan sesaat kemudian muncullah anak buah si penculik mendorong nyonya Meli yang duduk di kursi roda dengan mata yang terpejam.


"apa yang kau lakukan pada nyonya Meli?" tanya bentak Lusi melihat keadaan nyonya Meli yang duduk di kursi roda dengan mata terpejam.


"dia hanya tidak sadarkan diri karena kami bius." balas si penculik yang terus menatap tajam Lusi dari jauh.


"kenapa kau lakukan itu?"


"agar semua menjadi mudah, aku tidak ingin terlalu repot harus mengurus wanita tua ini." balas si penculik tersenyum mengejek melihat ke arah Lusi dan nyonya Meli secara bergantian.


Lusi menahan amarahnya melihat keadaan nyonya Meli yang tak sadarkan diri duduk di atas kursi roda, Lusi mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya terlihat memutih karena amarahnya, Lusi memandang tajam ke arah pria yang telah menculik nyonya Meli.


"bawa nyonya Meli ketengah agar temanku bisa dengan mudah memeriksa dan memastikan nyonya Meli masih hidup, aku tidak ingin masuk ke dalam jebakkanmu."


"kau benar-benar wanita yang banyak maunya dan sangat merepotkan, jangan coba-coba menipuku kalau tidak kalian akan aku habisi." ucap si penculik.


"apa kau lihat kami bisa melawan, bagaimana cara aku menipu dan mengalahkan mu, janganlah menjadi penakut apalagi takut pada kami yang hanya dua wanita yang lemah." balas Lusi seraya tersenyum mengejek untuk memprovokasi si penculik.


"hahahaha..... tidak ada yang aku takuti, apalagi wanita seperti kalian." ucap si penjahat dengan gelak tawanya.


Dia pun memberikan isyarat pada anak buahnya agar membawa nyonya Meli ke tengah-tengah gudang di antara posisi Lusi dan posisi si penjahat.


"Zia aku hanya bisa berharap padamu untuk membawa nyonya Meli keluar dengan selamat dari sini." ucap Lusi melihat ke arah Zia yang juga menatapnya dan menjawab dengan anggukkan kepala tanda mengerti.


"begitu temanmu sudah memastikan nyonya Meli baik-baik saja, kau maju masuk untuk bertukar, jangan macam-macam padaku." perintahnya seraya memeberikan isyarat pada anak buahnya untuk menodongkan pistol ke arah kami.


Aku tidak menjawab apapun yang di ucapkan si penculik dan mematikan sambungan telpon kami, Zia dengan langkah tanpa takut mendekat pada nyonya Meli dan segera memeriksa keadaan nyonya Meli.


Zia menganggukkan kepala ke arah Lusi setelah selesai memeriksa keadaan nyonya Meli dan menyatakan bahwa beliau masih hidup dan benar hanya tidak sadarkan diri saja.


Lusi mengamati ada 6 penjahat di dalam gudang termasuk ketua mereka, Lusi dengan perlahan melangkah begitu Zia juga melangkah dan mendorong kursi roda nyonya Meli, saat Lusi sudah masuk kedalam gudang mendekat pada Zia dan nyonya Meli, tiba-tiba pintu gerbang tertutup dengan cepat yang membuat Lusi dan Zia melihat ke arah pintu gerbang yang sudah tertutup rapat oleh dua anak buah si penculik yang ternyata bersembunyi di balik pintu gerbang agar tidak terlihat oleh Lusi dan Zia.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2