Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 52 Ardian Kalah.


__ADS_3

…Ardian…


Aku duduk tenang di dalam mobil yang meluncur ke arah rumah sakit Sinar Mulia, karena tadi pagi dokter Rio menelponku dan mengatakan bahwa hari ini hasil tes DNA nya keluar.


"Gavin...hari ini semua penyamarannya akan terbuka dan semuanya akan jelas, semua pertanyaan ku akan terjawab." ucapku.


Gavin hanya diam dan melihat ku dari kaca spion depan mobil.


"hari ini kita akan tahu semua kedok dan tujuan dari wanita licik itu, yang hanya ingin mendekatiku dengan meniru wajah Lidya, aku tidak akan melepaskannya begitu saja? wanita itu akan tahu siapa aku sebenarnya? dia sudah berani menyinggungku dan artinya dia sudah berani menantang ku." ucapku dengan menggertak kan gigiku kesal mengingat Lusi, wanita licik yang berharap aku bisa menerimanya dengan mudah dengan meniru wajah istriku.


"maaf tuan apa anda tidak terlalu keras pada nona Lusi, yang belum tentu salah tuan." tanya Gavin padaku, yang membuatku terkejut kalau Gavin malah membela Lusi wanita licik itu.


"apa maksudmu gavin? kau membelanya untuk menentangku?" tanyaku marah yang langsung refleks menendang kursi belakang yang Gavin duduki saat menyetir mobil.


"bukan saya membelanya tuan, saya hanya takut tuan salah menuduhnya."


"Gavin aku menuduhnya karena banyak fakta yang mengarah kesana, aku menuduhnya meniru wajah istriku dengan fakta yang sudah jelas." jelasku.


"1. Lidya tidak memiliki saudari kembar dan kau tahu sendiri kan Lidya hanya memiliki satu saudari yaitu Rania."


"2. Lusi wanita licik itu mengatakan bahwa dia juga tidak memiliki saudari kembar, bahkan dia sendiri yang mengatakan kalau dia putri semata wayang kedua orang tuanya."


"3. aku mengira kalau dia adalah Lidya yang masih hidup karena sampai saat ini jejak mayat Lidya tidak kita ketahui, tetapi dia tidak sama sekali mengingatku dan si kembar, bahkan sifat dan sikapnya jauh berbeda dari Lidya yang ku kenal."


"4. Lusi bisa beladiri sedangkan Lidya tidak, bahkan dia bisa mengendarai mobil, tidak seperti Lidya, itu membuktikan bahwa dugaan ku kalau dia adalah Lidya salah besar."


"5.dia sangat profesional dalam pekerjaannya menjadi sekretaris dan cerdas tidak pernah sekalipun dia melakukan kesalahan saat bekerja, walaupun aku berusaha untuk mengetesnya dengan berbagai cara, sedangkan Lidya kau tahu sendiri bahkan dia tidak lulus kuliah karena terpaksa menikah denganku."


Ucapku menjelaskan alasan mengapa aku menganggap Lusi wanita licik dan menuduhnya yang hanya ingin mendekatiku dengan meniru wajah Lidya?


"makanya dengan alasan tes DNA ini aku akan menguatkan bukti kalau dia benar-benar wanita licik, kau mengerti Gavin?"


"iya tuan." jawab Gavin yang mangagukkan kepalanya.


Tidak terasa kami sudah sampai di depan loby rumah sakit Sinar Mulia karena perdebatan kami di dalam mobil.

__ADS_1


Aku segera turun setelah gavin membukakan pintu belakang mobil, aku berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan di ikuti oleh Gavin dari belakang.


Aku langsung masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan mendekati lift untuk menuju ke ruangan dokter Rio selaku direktur rumah sakit, aku meminta padanya agar diam dan tidak ada penyambutan sama sekali, karena aku tidak ingin menjadi pusat perhatian.


Aku melangkah menyusuri lorong menuju ke ruangan dokter Rio, saat mendekati ruangan dokter Rio dari kejauhan aku melihat Lusi yang sedang duduk tertunduk di kursi tunggu yang ada di lorong.


Aku diam sejenak melihat Lusi dari kejauhan yang duduk tertunduk.


'aku pikir wanita licik itu tidak akan berani datang, tetapi dia berani datang ke sini, dia terlihat lemas dan lemah pasti karena sebentar lagi kedoknya terungkap.' gumamku dalam hati melihat tajam ke arah Lusi.


Akupun melanjutkan langkahku mendekati dan berhenti sejenak di hadapannya yang masih menundukkan kepalanya.


Aku masih menatapnya tajam dan dingin, akupun bertanya padanya karena dia sama sekali tidak mengangkat kepalanya saat tahu aku berhenti di hadapannya.


"apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku ketus.


Diapun mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku dengan tajam dan heran mengerutkan alisnya.


Dia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku, hanya tetap diam melihatku dengan pandangannya yang tidak suka bertemu denganku.


"apa kau tidak lihat tuan? aku sedang duduk menunggu di sini."jawabnya ketus, saat aku akan menjawab dia lebih dulu berucap.


"seharusnya kau menyapa dengan sopan tuan, bukannya menyapa dengan pertanyaan ketus, tatapan tajam dan dingin." jawabnya menghalangi ku yang ingin menjawab.


tatapannya langsung kesal melihat ku dengan suara jawaban yang ketus.


"kau berharap aku akan ramah padamu?" tanya ku dengan masih memasang mimik dingin di wajahku.


terlihat dia diam duduk melihatku, terdengar juga olehku dia menarik dan menghembuskan nafasnya yang berat.


"kau benar tuan, aku tidak butuh keramahanmu, tetaplah seperti ini, dingin, angkuh dan bertampang sangar kejam lebih pantas untukmu." ucapnya sembari bangun dari duduknya.


"apa kau bilang? berani-beraninya kau mengataiku !" tunjukku padanya, aku mulai kesal lagi oleh kata-katanya.


"aku tidak mengataimu tuan, karena itu memang kenyataannya." ucapnya dengan pandangan angkuhnya padaku.

__ADS_1


"kau...." tunjukku.


"tuan sudah, ingat ini rumah sakit." cegah asisten Gavin yang refleks memegang lengan ku.


Aku melihat tajam sekilas pada asisten pribadiku itu, dan segera menarik lengan yang di tarik Gavin lalu merapikan jasku yang sedikit berantakan.


"tuan...begitu bencinya kau melihat wajahku yang mirip dengan wajah nyonya Lidya? sampai-sampai kau tidak pernah sekalipun berkata halus padaku." ucapnya dengan suara lirih.


Aku melihat matanya yang mulai memerah melihat ke arahku.


"kau harus ingat tuan ini untuk terakhir kalinya kita bertemu dan aku harap kau menepati janjimu tidak akan mengusikku lagi, karena hari ini juga kesepakatan perjanjian kita berakhir." ucapnya yang membuat hatiku merasa tidak rela dia berkata seolah ingin berpisah dan lepas dariku.


Aku juga tidak mengerti dengan hatiku sendiri, saat dia mulai melawan dengan kata-kata kerasnya padaku, akupun mulai kesal dan mudah emosi dibuatnya, sedangkan di saat dia mengucapkan kata untuk pergi dan ingin lepas dariku, aku merasa tidak rela dia pergi meninggalkanku.


Apa yang sudah terjadi padaku? kenapa hatiku bisa merasakan tidak rela bila dia akan pergi dan tidak ingin bertemu denganku lagi? apakah aku ingin selalu dekat dengannya? apakah tanpa sadar aku sudah mulai terbiasa akan kehadirannya walaupun membuatku kesal dan emosi?


Aku merasa kesal pada hati dan diriku sendiri karena merasakan mulai terbiasa akan kehadirannya, aku kesal akan diriku yang tidak rela bila dia pergi.


Tidak mungkin aku mulai menyukainya ?!?


Aku melihat matanya yang sudah mulai memerah dan berkaca-kaca seperti ingin menangis.


Hatiku sedih dan sakit melihat sorot matanya yang seakan menyiratkan rasa lelah dan sakit yang dia tahan, ingin rasanya aku mendekapnya masuk ke dalam pelukkanku, aku ingin membuatnya tenang dan menumpahkan semua rasa sakit dan lelahnya dalam pelukkanku.


Apakah aku bisa? apakah aku boleh berbuat itu padanya? sorot mata lelah dan sakitnya memandang padaku seakan menghancurkan benteng pertahanan ku yang aku bangun selama ini, aku kalah akan tatapan mata sedihnya padaku seakan tatapan Lidya yang dulu pernah aku sakiti.


Aku kalah akan pesona kuat Lusi, sorot matanya yang mengingatkanku pada Lidya membuat hatiku ikut sakit merasakan apa yang Lusi rasakan?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya....


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2