
***Perusahaan Aldevaro Group***
Lusi dan Asisten Ari berjalan memasuki lobby perusahaan Aldevaro Group yang begitu besar dan megah, mereka berdua menjadi pusat perhatian dari karyawan yang kebetulan ada di lobby kantor, banyak komentar karyawan yang berbisik kagum pada mereka berdua, wanita cantik dan anggun, serta pria tampan dan gagah walaupun wajah dari keduanya terlihat datar dan dingin.
Mereka berdua di sambut langsung oleh asisten Leo, asisten pribadi dari Bryan Aldevaro Presdir perusahaan Aldevaro Group, yang membuat semua perhatian karyawan bertambah heboh dan terkejut tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, dalam benak mereka berkata!!
siapakah wanita dan pria ini? sampai membuat seorang asisten pribadi Presdir perusahaan tempat mereka bekerja menyambutnya langsung, mereka terlihat tamu yang sangat penting bagi Presdir mereka.
Lusi dan asisten Ari hanya bersikap ramah sewajarnya pada penyambutan yang di lakukan langsung oleh asisten Leo, mereka berdua hanya bisa mengikuti kemana asisten Leo menuntun mereka sampai ke ruang presdir yang terlihat dari papan nama di depan pintu.
Hati Lusi semakin berdebar saat sudah berada di depan pintu presdir, dia masih belum siap untuk bertemu dengan Bryan setelah mengetahui jati dirinya.
Apakah Lusi harus jujur pada Bryan dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Apakah Lusi sanggup menceritakan pada Bryan bahwa dia adalah istri sah dari Ardian Adhitama?
Tetapi bila Lusi memikirkannya lagi, semua itu tidak bisa dia sembunyikan begitu lama, karena suatu saat nanti pasti akan terungkap juga, lebih baik jujur sekarang dari pada nanti akan membuat Bryan kecewa padanya.
Lusi tidak ingin membuat Bryan yang tulus mencintainya kecewa karena dia tidak jujur pada Bryan, walaupun Lusi belum memastikan hatinya pada Bryan seperti apa? tapi Bryan lah pria yang selama ini membuatnya nyaman di saat ingatannya hilang dan tidak berani berdekatan dengan seorang pria satupun.
Pria yang dengan tulus mencintai, menyukai, dan menyayangi Lusi, pria yang selalu bisa mengerti kondisi dan keadaan Lusi, pria yang selalu sabar menunggu Lusi untuk membalas cintanya, pria yang selalu membuat Lusi nyaman berada di dekatnya.
Bagaimana pun juga Lusi harus tetap menghargai Bryan? Bryan pria baik yang pantas untuk bahagia, Bryan berhak untuk mendapatkan wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya, jadi Lusi akan berkata jujur pada Bryan, dia tidak ingin merahasiakan apapun dari Bryan?
Mereka berdua di persilahkan duduk di sofa yang ada di ruang kerja Bryan, ruang yang besar dan mewah dengan semua furniture yang terlihat mahal.
Bryan Aldevaro masih dalam perjalanan menuju ke kantor, Lusi dan asisten Ari di suruh untuk menunggu sampai Bryan datang ke kantor, tidak ada pilihan lain bila sudah ada perintah dari atasan tertinggi, Lusi dan asisten Ari pun tidak bisa menolak dengan alasan apapun?
Terdengar suara sapaan seorang wanita yang ada di depan ruangan presdir, yang menyambut kedatangan sang presdir yang telah di tunggu-tunggu, dengan cepat pintu ruangan tersebut terbuka oleh Bryan.
Seketika tatapan Lusi dan Bryan bertemu, terlihat sorot mata penuh kerinduan pada tatapan lembut mata Bryan memandang Lusi, sang pujaan hati yang sangat di rindukannya.
Lusi hanya bisa menatapnya sebentar lalu mengalihkan pandangannya, hati Lusi benar-benar gelisah akan tatapan lembut Bryan padanya, Lusi seakan merasa melakukan kesalahan pada Bryan dan perasaan itu sangat tidak nyaman untuk Lusi.
"selamat siang presdir Bryan Aldevaro !" sapa asisten Ari berdiri lalu berjabat tangan dengan Bryan.
"selamat siang…apa kalian sudah lama menunggu?" tanya basa-basi Bryan melihat sekilas pada asisten Ari, tetapi pendangannya lama pada Lusi.
"tidak presdir…kami baru saja tiba." balas asisten Ari.
"selamat siang presdir Bryan Aldevaro !!" sapa Lusi untuk kesopanan, seraya mereka berjabat tangan.
"selamat siang sekretaris Lusi.!" balas Bryan tersenyum bahagia melihat Lusi yang sangat di rindukannya, kini ada di depannya.
__ADS_1
Lama tangan Lusi di pegang oleh Bryan dengan masih memandang Lusi, membuat semua yang melihatnya heran, dan Lusi merasa salah tingkah akan tatapan mata dan pegangan lama tangan Bryan padanya.
"eemmmm…" Lusi berdehem untuk menyadarkan Bryan bahwa mereka tidak lah hanya berdua saja di dalam ruang tersebut.
"silahkan duduk." perintah Bryan yang tersadar akibat deheman Lusi.
Bryan dengan segera mengambil tempat duduk tepat di hadapan Lusi, agar bisa dengan mudah dan puas memandang wajah cantik Lusi yang saat ini bertambah cantik di mata Bryan.
Bryan benar-benar sudah tergila-gila pada pesona Lusi, dia sudah menjadi bucin dari wanita cantik yang ada di hadapannya, yang membuatnya beberapa hari ini menjadi uring-uringan.
"begini presdir…kemarin sekretaris Dewi lupa mengirimkan satu proposal yang harus anda tinjau kembali, dan kami datang kesini untuk membantu anda bila ada yang salah dari proposal tersebut." ungkap asisten Ari memulai tujuan mereka datang ke kantor Bryan.
"tentu saja, saya sangat senang kalian bisa datang kesini dan berkunjung." balas Bryan tetapi tatapan matanya masih melihat Lusi yang ada di depannya.
Lusi merasa bertambah kikuk dan grogi karena pandangan mata Bryan tidak lepas darinya, Lusi merasa tidak nyaman akan kondisinya saat ini.
'kenapa terus melihatku? apa Ryan tidak sadar ya, ada orang lain yang melihat tingkahnya itu?' gumam Lusi yang merasa grogi karena tatapan lembut Bryan padanya.
Bryan terlihat aneh dengan tingkahnya saat ini, itulah pikiran dari mereka yang melihatnya, bagaimana tidak terlihat aneh? asisten Ari yang di ajak bicara oleh Bryan? tetapi malah Lusi yang Bryan pandang terus.
"presdir…presdir Bryan…!" panggil asisten Ari pada Bryan yang hanya fokus pada Lusi.
"tuan…tuan…"bisik panggilan asisten Leo di samping kupingnya, yang akhirnya membuat Bryan sadar dari lamunan pandangan Bryan pada Lusi.
"tuan asisten Ari memanggil anda.!" bisik pelan asisten Leo pada tuannya.
Leo sangat tahu apa yang terjadi pada atasannya tersebut, yang tidak bisa lepas untuk memandang Lusi, karena Lusi lah alasan tuannya tidak dapat fokus untuk bekerja beberapa hari ini, karena tidak bisa menemukan Lusi dimanapun? tuannya sampai membuat dirinya bekerja lembur beberapa hari ini.
"iya , asisten Ari…?" balasnya dan kali ini melihat pada asisten Ari.
Lusi menghela nafas lega karena dapat terlepas dari pandangan Bryan yang terus intens melihtnya, dia seakan sulit bernafas akan tatapan lembut Bryan padanya karena tidak pada tempatnya, di tambah lagi di ruangan tersebut ada asisten Ari dan asisten Leo bersama mereka.
"silahkan di lihat proposalnya, dan kami akan membantu anda bila ada yang tidak anda mengerti." ucap asisten Ari.
Bryan melihat Lusi kembali tetapi kali ini, hanya sekilas saja lalu mengambil proposal yang ada di atas meja kaca dan membacanya teliti.
Lusi melihat Bryan sangat terlihat berkharisma saat sedang serius bekerja, sesaat Lusi terpana akan pesona Bryan hari ini, Bryan terlihat tampan dengan wajah segar dan putih mulusnya, dan setelan jas mahal yang di gunakan oleh Bryan, sangat pas di tubuhnya yang terlihat atletis menambah kesan pria sukses berkharisma.
Lusi menelan salivanya karena melihat dan mengangumi Bryan yang ada di hadapannya tersebut, Lusi merasakan degup jantungnya berdetak dan berdebar saat melihat Bryan, dia merasa kan hatinya teduh dan menghangat saat melihat Bryan, dengan tidak sadar Lusi membelai lembut dadanya, yang membuat asisten Ari melihat padanya.
"ada apa sekretaris lusi…?" tanya pelan asisten Ari pada Lusi yang duduk di sampingnya.
Lusi tersentak kaget karena teguran dari asisten Ari, seketika Lusi salah tingkah karena merasa ketahuan telah memperhatikan Bryan.
__ADS_1
"iya…" ucap gugup Lusi dengan melihat malu pada asisten Ari.
Wajah Lusi sedikit memerah karena malu, Lusi merasa telah ketahuan melihat dan diam-diam mengagumi Bryan.
"apa kamu baik-baik saja?" tanya asisten Ari yang heran melihat wajah Lusi memerah.
Bryan yang mendengar pertanyaan asisten Ari pada Lusi pun melihat pada mereka, dan benar wajah Lusi terlihat memerah, semua yang ada di ruangan tersebut mengira kalau wajah Lusi memerah karena Lusi kurang sehat, tetapi tidak dengan Lusi, yang sangat tahu kenapa wajahnya memerah? itu karena dia malu diam-diam memperhatikan Bryan.
"iya…ada apa asisten Ari?" tanya Lusi gugup seraya melirik sekilas pada Bryan, apakah Bryan juga melihat padanya saat ini? dan benar Bryan melihat padanya.
"kamu kurang sehat? kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?" tanya asisten Ari yang membuat Bryan sedikit khawatir melihat pada Lusi, apakah Lusi sedang sakit?
"ti…tidak asisten Ari, aku baik-baik saja kok." balas Lusi semakin gugup karena merah di wajahnya ketahuan oleh mereka semua.
Lusi dengan perlahan menggosok-gosok kedua pipinya yang terasa menghangat karena malu. Tiba-tiba asisten Ari menyentuh keningnya dengan punggung tangannya, yang membuat Lusi terkejut, terlebih lagi Bryan yang langsung melototkan matanya melihat tindakan intim asisten Ari pada Lusi.
Lusi diam-diam melirik pada Bryan yang merubah mimik wajahnya menjadi garang, dengan tatapan tajamnya melihat pada asisten Ari.
"keningmu sedikit hangat Lusi, apanya yang baik-baik saja? kalau kau kurang sehat kenapa tidak bilang dari tadi?" ucap asisten Ari cemas seraya menurunkan tangannya dari kening Lusi.
Bryan masih menajamkan tatapannya pada asisten Ari, yang berani-beraninya menyentuh kening Lusi di hadapannya, Bryan cemburu pada asisten Ari yang memberikan perhatian dan berani menyentuh kening Lusi.
Sedangkan asisten Ari, tidak merasa sama sekali akan tatapan tajam Bryan padanya, yang mulai khawatir adalah asisten Leo dan Lusi, yang melihat tatapan tajam Bryan tertuju pada asisten Ari.
'aduh, gawat kalau sudah begini…?' gumam asisten Leo mulai cemas akan tatapan tajam tuannya pada asisten Ari, karena dia tahu kalau tuannya mulai kesal dengan perbuatan asisten Ari tadi pada Lusi.
"aku baik-baik saja asisten Ari." jawab Lusi gugup dan bertambah gugup, ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Bryan yang masih menatap tajam pada asisten Ari.
'kenapa tatapannya sangat tajam pada asisten Ari? apa dia marah karena asisten Ari menyentuh keningku? aduh gawat…jangan sampai Bryan sedang cemburu pada asisten ari.' gumam Lusi yang khawatir, karena Lusi sangat mengenal Bryan yang sedikit pencemburu.
'kenapa juga ini wajah harus merah karena malu sih…!!" runtuk Lusi menyalahkan dirinya sendiri, karena dirinyalah asisten Ari cemas dan jadi mendapatkan tatapan tajam dari Bryan.
Asisten Ari yang mendapatkan tatapan tajam dari Bryan masih bersikap baik dan biasa saja, seperti tidak ada terjadi apapun? sedangkan Lusi dan asisten Leo yang tahu, kenapa Bryan seperti itu? merasa khawatir pada asisten Ari? apa yang akan di lakukan Bryan pada asisten Ari?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1