
*****Apartemen Royal Queen*****
Pria tampan berdiri di depan jendela apartemen mewah yang ada di kota tersebut, dia berusaha menghubungi seseorang melalui ponselnya, tapi yang di hubungi dari kemarin sampai sekarang tidak kunjung mengangkat panggilannya.
Pria itu sedikit cemas dan gelisah memikirkan orang yang di telponnya.
"kemana kamu Lusi, apa begitu tidak sukanya kamu bertemu denganku ? sampai tidak ingin mengangkat telpon dariku ?" gumam pria tersebut yang tidak lain adalah Bryan Aldevaro.
Dari kemarin selesai makan siang, saat Lusi tidak kunjung datang untuk makan siang bersama di Perusahaan Wirajaya Group, dia menghubungi lusi di nomer yang dia dapatkan dari asisten Ari, tapi Lusi tak kunjung mengangkat panggilan darinya, karena alasan lusi yang tidak di tahu oleh Bryan.
Bryan sangat cemas dan beranggapan kalau Lusi tidak senang dengan pertemuan mereka, tapi Bryan ingin menjelaskan sesuatu pada Lusi.
Bryan ingin menjelaskan mengapa dia mendadak menghilang tanpa ada kabar yang jelas darinya untuk Lusi, Bryan ingin Lusi tahu bahwa hati dan perasaannya untuk Lusi masih tetap sama, cuma ada alasan yang Lusi harus tahu mengapa Bryan pergi tanpa kabar.
Dia tidak putus asa, dia mengerti bila Lusi saat ini marah dan kecewa padanya, sehingga dia terus berusaha akan meyakinkan Lusi agar percaya padanya lagi.
Bryan terus menghubungi Lusi Sampai ratusan kali, Bryan juga memerintahkan asisten pribadinya untuk mencari tahu kabar dari Lusi, kabar terakhir yang dia dengar dari teman baiknya yaitu Radhika, Lusi sekarang menjadi sekretaris penghubung antara perusahaan Wirajaya group dengan Adhitama group, untuk menjelaskan bisnis yang akan mereka lakukan agar dapat diterima baik oleh Ardian Adhitama.
Tempat tinggal Lusi di hotel Wirajaya Bryan juga sudah tahu, info itu dia dapat juga dari Radhika, kemarin sore Bryan sudah datang untuk mengunjungi Lusi di kamar hotel nya, tapi Lusi tidak ada kembali ke hotel sampai malam hari,dari sana Bryan mulai cemas dan dia memerintahkan anak buahnya untuk memantau terus di dalam hotel, bila nanti Lusi sudah pulang ke hotel.
sampai tengah malam anak buahnya tidak kunjung melihat Lusi kembali ke hotel, Bryan bertambah cemas, dia segera menghubungi semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Lusi.
"selamat siang tuan !" sapa asisten Leo, asisten pribadi Bryan.
"siang Leo, kabar apa yang kamu dapat ?" tanya Bryan berjalan menuju sofa dan duduk di sana, Bryan juga memerintahkan asisten Leo untuk duduk di seberang sofa.
"kemarin siang nona Lusi pingsan di depan kantor Wirajaya tuan." kata asisten Leo yang membuat Bryan terkejut dan memajukan badannya.
"pingsan kenapa Leo ?"
"nona Lusi tidak enak badan tuan, dan kemarin siang izin untuk pergi ke klinik, tapi saat akan menunggu taksi di depan kantor Wirajaya nona Lusi pingsan, dia di tolong oleh tuan Ardian Adhitama dan asisten pribadinya, tapi mereka tidak membawa nona Lusi kerumah sakit atau ke klinik, mereka membawa nona Lusi ke mansion tuan Ardian Adhitama."
"apa ?" Bryan terkejut.
"iya tuan, saya sudah kirim seseorang untuk memantau ke mansion tuan Ardian Adhitama dari tadi pagi, orang suruhan saya mendapatkan informasi kalau semalam nona Lusi di larikan kerumah sakit Sinar Mulia, karena terkena alergi makanan dan Sampai sekarang masih berada di rumah sakit untuk perawatan, tapi saya tidak mendapatkan nomer kamarnya." kata asisten Leo menjelaskan.
"apa pihak Wirajaya group tahu kabar ini ?"
"sepertinya tidak tuan."
"rahasiakan, aku tidak ingin berita ini tersebar, aku ingin kamu pantau terus pergerakkan Ardian dan asisten pribadinya, cari tahu juga nomer kamar perawatan Lusi."
"baik tuan, saya permisi." kata asisten Leo yang berdiri menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat dan pergi berlalu dari sana.
Asisten leo diperintahkan tuannya mengurus segala pekerjaan di kantor yang bisa dia tangani, karena tuannya ingin istirahat tanpa di ganggu siapapun, terkecuali ada kabar dari nona Lusi baru tuannya akan merespon.
Bryan bertambah cemas mendapatkan kabar kalau Lusi masuk ke rumah sakit karena terkena alergi makanan, dia terus berusaha untuk menghubungi nomer telpon Lusi.
"bagaimana kabarmu sayang ? semoga kamu baik-baik saja, maaf kan aku karena pergi tanpa kabar, aku sangat mencintaimu sayang." gumam Bryan yang memandang photo lama Lusi dinponselnya yang masih dia simpan saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.
......................
__ADS_1
Di dalam kamar VIP Rumah Sakit Sinar Mulia, Lusi tengah asyik makan siang bersama Nathalia Putri Ardian Adhitama, mereka menikmati makanan yang di sediakan oleh pihak rumah sakit diatas ranjang duduk bersila berdua.
Lusi menikmati makanannya sesekali menyuapi Nathalia makan, karena Putri Ardian hanya mau makan bersama Lusi, dengan senyum bahagia mereka makan bersama dengan canda tawa mereka.
Ardian dan asisten Gavin yang duduk di sofa, melihat kebersamaan Lusi dan Nathalia yang sangat akrab dan bahagia, sudah seperti anak dan ibunya, Ardian terkadang tanpa sadar tersenyum ke arah mereka.
Lusi dan Nathalia selesai makan, perawat sudah selesai membersihkan sisa makanan mereka dan memberikan obat untuk di minum oleh Lusi dan Nathalia, beberapa menit kemudian Nathalia sudah tertidur lagi karena pengaruh obat dan lelah bercanda gurau dengan Lusi.
Lusi turun dari ranjangnya dan berjalan menggeret besi gantungan infusnya, dia berjalan mendekati sofa, dan duduk di sebelah asisten Gavin, Ardian dan asisten Gavin pun melihat ke arahnya.
"kenapa tidak istirahat ?" tanya Ardian tapi Lusi tidak menjawab dia malah melihat ke arah Gavin.
"asisten Gavin apa tas saya ada anda bawa kesini ?"tanya Lusi kepada Gavin dan tidak menghiraukan pandangan mata tajam Ardian ke arahnya dan Gavin.
"ada nona, sebentar saya ambilkan, saya menaruhnya di dalam lemari." jawab Gavin yang gugup karena melihat tatapan tajam tuannya melihat dirinya dan Lusi.
Gavin berjalan menuju lemari dan mengambilkan tas milik Lusi yang tadi pagi sempat dia ambil di dalam kamar Lusi atas perintah tuannya.
"terima kasih asisten Gavin." kata Lusi setelah menerima tas miliknya dari Gavin.
"sama sama nona Lusi." jawab Gavin yang duduk agak jauh dari Lusi.
"kenapa panggilnya pakai nona lagi asisten Gavin ?" tanya Lusi dengan mengerutkan alisnya karena tidak suka dengan panggilan nona dari Gavin.
"tidak enak nona karena...!" kata Gavin menggantung melihat ke arah Ardian sekilas yang memandang dirinya tajam, Lusi pun mengerti apa yang di maksudkan oleh Gavin.
Lusi hanya menganggukkan kepala tanda mengerti dan tidak ingin memperpanjang masalah panggilan lagi, Lusi tidak ingin Gavin mendapatkan masalah dari tuannya yang sok kuasa, angkuh, dingin dan tajam itu.
"banyak sekali panggilan tak terjawabnya nomer siapa ini ?" katanya yang masih bisa di dengar oleh Ardian dan Gavin yang sedang bekerja di dekatnya.
Lusi pun menelpon balik ke nomer tersebut, baru nada sambung pertama sudah diangkat oleh orang yang di telpon.
"hallo siapa ini...!" jawab Lusi setelah mendengar orang di seberang telpon memanggil namanya.
"Lusi ini aku Ryan."jawab orang di seberang yang membuat Lusi kaget karena yang menelpon dirinya adalah Bryan Aldevaro mantan kekasihnya dan Presdir Aldevaro group.
Dia lebih terkejut lagi karena Bryan tahu nomer telponnya dari siapa ?
"Ryan maksudnya tuan Bryan Aldevaro ?" tanya Lusi yang membuat Ardian dan Gavin melihat ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa di tebak.
Lusi yang melihat tatapan Ardian dan Gavin pun hanya cuek.
"iya Lusi, ini aku Ryan... Bryan Aldevaro."
"ada apa tuan anda menelpon saya ?" tanya sopan Lusi karena saat ini Ryan dalam posisi teman bisnis tempatnya bekerja dan dia harus sopan dan menghormati teman bisnis atasannya, seperti halnya kepada Ardian Adhitama.
"Lusi kenapa kamu formal sekali, kamu benar-benar marah padaku karena menghilang tanpa kabar ?" tanya Bryan tanpa basa basi lagi.
"maaf tuan saya sedang bekerja ada yang bisa saya bantu ?"
"jangan bohong Lusi, aku tahu kamu sedang di rawat di rumah sakit Sinar Mulia karena terkena alergi." jawab Bryan yang membuat Lusi sangat terkejut dan seketika melihat ke arah Ardian dan Gavin.
__ADS_1
'dari mana Ryan tahu kalau dirinya dirawat dirumah sakit ?pasti tuan Ardian yang memberitahukan Ryan bahwa dirinya dirawat.' itu yang ada di dalam benak dan pikiran Lusi.
"darimana anda tahu kalau saya di rawat di rumah sakit tuan ?" tanya Lusi yang malah membuat Ardian dan Gavin terkejut dan heran darimana Bryan Aldevaro tahu kalau Lusi di rawat di rumah sakit.
"itu tidak penting, aku ingin kita bertemu, tolonglah Lusi katakan nomer kamarmu, mari kita bicara."
"kalau anda tahu saya di rawat di rumah sakit kenapa malah tidak tahu saya di rawat di kamar nomer berapa ?"
"karena aku belum mendapatkan info tentang nomer kamarmu, tolonglah Lusi ada yang ingin aku bicarakan padamu, katakan nomer kamarmu berapa ? aku akan datang kesana."
"maaf tuan saya juga tidak tahu nomer kamar saya, karena saya dibawa kesini saat saya tidak sadar, dan sampai saat ini saya belum keluar dari ruang perawatan, jadi saya tidak tahu tuan." kata Lusi yang terus mendapatkan tatapan mata tajam dari Ardian.
"tolonglah Lusi beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya karena aku masih sayang padamu."
"maaf tuan sepertinya kita selesaikan pembicaraan ini sampai disini, selamat siang tuan Bryan Aldevaro." kata Lusi yang langsung memutuskan hubungan teleponnya.
Lusi melihat ponselnya kembali karena nomer Bryan menelpon lagi, tapi hanya di biarkan saja oleh Lusi.
"kenapa tidak di angkat ?" tanya Ardian yang curiga akan hubungan Bryan sang rival dengan Lusi.
Ardian pun mengingat kejadian kemarin saat di ruang meeting Wirajaya group, Bryan memeluk Lusi ketika baru mereka bertemu dan mengingat perkataan dari mereka berdua 'teman dekat yang lama tidak bertemu'.
"pertanyaan tuan Bryan tidak jelas jadi saya tidak bisa menjawabnya,"
"Oya tuan Ardian, apa anda yang memberitahukan tuan Bryan kalau saya di rawat di rumah sakit ?" tanya Lusi lagi.
"bukan...aku juga heran darimana dia tahu kalau kau di rawat di rumah sakit."jawab Ardian heran.
Lusi pun mengerutkan keningnya, kalau bukan tuan Ardian yang memberitahukannya, 'lalu siapa yang kasih tahu Ryan kalau dia di rawat di rumah sakit ?' kata Lusi berpikir.
"ada hubungan apa kau dengannya, sepertinya kalian sangat dekat ?" tanya curiga pada Lusi.
Ardian tahu benar siap Bryan Aldevaro, dia tidak akan sembarangan mau dekat dengan seorang wanita kalau bukan dia menyukainya.
"kami hanya teman lama yang baru bertemu." jawab Lusi tanpa ragu.
"teman lama yang baru bertemu ? tapi teman yang sangat dekat Sampai saling memeluk ?"
"itu urusan pribadi saya, tidak ada hubungannya dengan tuan." kata Lusi yang langsung bangun dan berjalan menuju ke ranjangnya, Ardian pun melihat heran ke beranian Lusi melawan menjawabnya dan menghindari pembicaraan mereka.
Lusi berpikir tidak akan ada habisnya bila bicara dengan Ardian yang tidak akan pernah mau kalah dan puas dengan apa yang dia bicarakan, Lusi akan berakhir selalu salah dan kalah, lebih baik istirahat agar cepat pulih ketimbang berdebat dengan Ardian.
Ardian benar-benar kesel atas sikap tidak sopan Lusi padanya, sedangkan Lusi hanya cuek langsung tidur karena dia mengantuk pengaruh obat, asisten Gavin diam-diam tersenyum melihat tingkah laku tuannya dan juga Lusi, ternyata masih ada yang berani melawan tuan Ardian Adhitama.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya.....
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.