
***Mansion Ardian Adhitama***
Lusi berada di kamar si kembar untuk menemani mereka bermain, dia masih berpikir dan tidak percaya akan keberadaan si kembar dalam hidupnya, dia perlu bukti nyata dan kebenaran yang hanya kedua orang tuanya yang tahu akan penjelasan ini, Lusi pun memantapkan hatinya untuk bertanya pada kedua orang tuanya.
Lusi mengambil ponsel dan segera menghubungi nomer sang ibu.
"hallo sayang…!" sapa ibu Lusi.
"hallo ibu, apa kabar?" balas Lusi.
"ibu baik sayang, kamu apa kabar?"
"aku baik ibu…!"
"apa kamu masih bekerja nak…?"
"masih ibu, hanya menunggu surat pengunduran diriku di setujui ibu, Oya ibu apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"iya nak apa itu…?"
Seketika hati Lusi berdebar akan pertanyaan yang akan di utarakannya pada sang ibu, apa tidak apa-apa dia bertanya ini pada sang ibu? tetapi ini demi kebenaran apakah si kembar benar anak-anaknya?
"ibu…aku…apakah aku anak ibu…?" pertanyaan yang sangat menusuk hati Lusi, dan membuat ibu terdiam di balik sambungan telpon.
"ibu maafkan Lusi ibu…Lusi tidak bermaksud…" ucap Lusi merasa bersalah akan pertanyaannya pada sang ibu, tetapi langsung di potong oleh sang ibu.
"kamu adalah putri ibu nak…kamu adalah putri kesayangan ibu dan ayah, apa kamu ragu…?" tanya ibu yang membuat Lusi merasa bersalah.
"maafkan Lusi ibu…" ungkap Lusi dengan air mata yang tidak bisa ditahannya, dia sedih sudah melukai hati sang ibu
"tidak nak…kamu tidak salah."
"maafkan Lusi ibu…! Lusi tidak akan bertanya begitu lagi." sudah mulai terdengar isak tangis Lusi yang tidak dapat ditahannya, Lusi benar-benar merasa bersalah akan pertanyaannya yang membuat sang ibu sedih.
Lusi semakin bingung mana yang benar dan mana yang harus dia terima kebenarannya?
"sayang ibu mengerti posisi mu…seorang ibu tidak akan tega melukai anak-anaknya, seorang ibu hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia, begitu juga ibu nak…ibu selalu ingin Lusi bahagia, kebahagiaan Lusi adalah kebahagiaan ibu dan ayah juga…" ungkap sang ibu lirih, terdengar isak tangis yang di tahan oleh sang ibu dari seberang telpon.
"maksud ibu…?" tanya Lusi masih tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata sang ibu.
"sayang kamu ada di mana? apa kita bisa bertemu? ibu sudah ada di kota ini, bisa kah kau kesini bersama mereka, ada yang ingin ibu dan ayah jelaskan pada kalian."
"ibu ada di kota ini, kapan ibu datang…?" tanya Lusi terkejut.
"tadi siang sayang, Lusi datang ya nak…ajak lah si kembar dan papanya, ada yang ingin ibu dan ayah jelaskan pada kalian, agar kalian semua tahu dan mengerti, dan tidak ada kesalah pahaman lagi antara kalian, nanti Deo akan menjemput kalian."
"ibu tahu semua…" tanya Lusi tidak percaya.
Ibunya selalu tahu apapun yang Lusi alami dan ibunya selalu miliki firasat yang tidak pernah salah, sekarang hati Lusi lah yang merasa terbebani, kebenaran apa yang ingin ibunya utarakan? Lusi merasa hatinya takut akan kebenaran yang akan terungkap.
Suka tidak suka dan mau tidak mau, semua kebanaran akan terungkap juga, bagaimana pun kita mencoba untuk menyembunyikannya? bagaimana pun kita tidak bisa menghindar? karena semua sudah takdir dari hidup yang kita jalani, kita hanya bisa menerimanya walaupun dengan berat hati.
__ADS_1
"iya nak ibu tahu masalah apa yang coba kamu sembunyikan dari ibu dan ayah? ibu tidak ingin kamu membebani dirimu sendiri nak…coba lah berbagi dan cerita semua masalah yang kamu hadapi, agar hatimu tidak terlalu berat untuk menanggung semuanya sendiri." ungkap sang ibu dengan suara lirih penuh perhatian dan kasih sayang di balik kata-katanya.
"terima kasih ibu…ibu selalu ada untuk lusi…" balas Lusi dengan suara lirih dan air mata yang terus mengalir di pipinya yang putih.
"baiklah…kau bersiaplah, Deo sudah ada di perjalanan."
"mengapa Deo yang jemput ibu?" tanya Lusi ingin tahu.
"ibu dan ayah meminta bantuan Nico untuk menemuimu nak…dan Nico memerintahkan Deo menghubungi Zia , agar Deo bisa menjemput kalian." ucap sang ibu menjelaskan.
"baik ibu…Lusi sayang ibu…I love you my Angel…" balas Lusi tulus dari hatinya dan terharu oleh sang ibu, yang selalu tahu keadaannya dan akan selalu ada untuk nya di saat dia membutuhkan dan berada di jalan yang tidak bisa dia lalui seorang diri.
"Ibu juga sayang Lusi… I love you too my Princess…" ungkap ibu Lusi terharu dengan air mata yang mengalir di pipinya dan tidak terlihat oleh Lusi, tetapi Lusi dapat merasakan tangis haru sang ibu.
Sambungan telpon pun terputus dan Lusi dengan segera menemui sang baby sister si kembar, untuk meminta bantuannya menyiapkan si kembar ikut pergi bersamanya.
Setelah itu, Lusi bergegas menemui Ardian di dalam kamarnya yang sedang beristirahat, karena ini masih sore Lusi berharap Ardian tidak sedang tidur di dalam kamarnya, dia takut mengganggu istirahat Ardian.
Perlahan Lusi mengetuk pintu kamar Ardian, dan tidak ada jawaban apapun dari dalam, Lusi mencoba sekali lagi, tetapi baru saja dia ingin kembali mengetuk, pintupun terbuka.
Tangan Lusi yang ingin mengetuk pintu kamar Ardian masih melayang dan hampir mengenai dada bidang Ardian, Ardian nampak segar dengan wajahnya yang selesai mandi dengan rambut yang masih basah belum kering sempurna, tubuh Ardian terlihat gagah walaupun hanya berbalut kaos putih dan celana panjang kain rumahan.
Lusi menelan Saliva nya melihat sosok pria tampan di depannya, Lusi terpesona melihat wajah tampan dan segar Ardian, dengan segera Lusi menyadarkan dirinya agar tidak ketahuan oleh Ardian kalau dia terpesona dan menikmati ketampanan wajah Ardian.
"ada apa?" tanya Ardian menyadarkan Lusi dengan senyum dibibir, Ardian melihat Lusi menatap wajahnya.
"ah…itu…" ucap Lusi tergagap. "bisakah anda pergi denganku sebentar?" ungkap Lusi terbata-bata.
"ikut kesuatu tempat yang tidak bisa aku beri tahukan, anak-anak juga ikut." jawab Lusi masih melihat pada Ardian.
"kalau tempatnya tidak jelas aku tidak mau ikut...!" ucap Ardian sedikit menggoda Lusi, dia ingin tahu reaksi Lusi ? marah atau tidak.
"kalau anda tidak mau ikut juga tidak apa-apa, aku akan pergi bersama anak-anak saja." ucap Lusi mulai kesal karena Ardian tidak bisa di ajak kerja sama.
"tinggal kau katakan akan pergi kemana? baru aku dan anak-anak akan ikut." balas Ardian seraya menyandarkan badannya pada pintu dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"bertemu dengan ayah dan ibuku." ucap Lusi terus terang.
"makaudmu…?" tanya Ardian dengan mengerutkan keningnya melihat Lusi.
"ayah dan ibu tahu masalah kita dan mereka ingin bertemu dengan anda tuan Ardian Adhitama, mereka ingin menjelaskan kesalah pahaman di antara kita agar semuanya jelas."
"apa sekarang kita harus ke kotamu?"
"tidak, kedua orang tuaku ada di kota ini, dan mereka ingin menemuimu."
"bila mereka ada di kota ini, kenapa tidak kau ajak tinggal di sini saja?" ucap Ardian langsung berdiri tegak karena tidak menyangka bila kedua orang tua Lusi ada di kota ini.
"mereka tidak mau, mereka sudah mendapatkan tempat tinggal."
"apa kau mempunyai keluarga di kota ini?"
__ADS_1
"tidak ada …kami tidak punya keluarga sama sekali di kota ini."
"lalu mereka tinggal dimana?"
"bersama salah satu teman kenalan ayah."
"jadi kita akan berkunjung ke sana?" tanya Ardian antusias.
Kedua orang tua Lusi sangat membuat Ardian penasaran karena Ardian sudah menyelidikinya, tetapi tidak mempunyai hasil apapun, semua data tentang Lusi dan keluarganya sangat terlindungi oleh seseorang, dan sampai sekarang informasi mengenai Lusi dan kedua orang tuanya tidak Ardian dapatkan.
"iya kalau anda mau…"
"tentu aku akan ikut…aku akan siap-siap dulu…" balas Ardian antusias dan semangat, yang membuat Lusi pun heran.
"baiklah aku tunggu di depan, mungkin jemputan nya sudah datang."
"ok aku akan siap segera." ucap Ardian dengan segera menutup pintu kamar.
Lusi terdiam bengong saat dengan cepat Ardian masuk kamar dan menutup pintu, di saat Lusi masih berdiri di depan pintu kamarnya, Lusi pun ingin beranjak dari sana, tetapi pintu kembali terbuka.
"maaf aku menutupnya tiba-tiba." ucap Ardian dengan mimik wajah menyesalnya karena sudah tidak sopan pada Lusi.
"tidak apa-apa, aku akan tunggu di bawah." ucap Lusi segera melangkah pergi dari sana.
Ardian hanya melihat punggung Lusi berlalu menuruni tangga mansion, dengan segera Ardian mengganti pakaiannya dengan pakaian semi formal, agar sopan tapi terlihat santai.
Lusi, Zia, anak-anak dan Baby sister sudah menunggu di depan lobby mansion, nampak mobil Ardian yang di kemudikan oleh Gavin berhenti di depan lobby, Gavin pun keluar dari dalam mobil.
"Nona silahkan anda dan anak-anak akan satu mobil dengan tuan." ucap Gavin memeberitahukan Lusi perintah dari Ardian.
Saat Ardian berganti baju di dalam kamarnya, dia juga segera menghubungi Gavin untuk menyiapkan mobil untuknya pergi bersama Lusi dan juga si kembar.
Ardian juga meminta Gavin untuk membawa mobil yang di pakai Lusi dan Zia saat pergi ke gudang tua, dan Gavin di perintahkan ikut menemani mereka.
"lalu Zia ? " tanya Lusi melihat ke arah Gavin dan Zia secara bergantian.
"tuan memerintahkan saya untuk ikut mengantar Zia dan juga kedua baby sister." jawab Gavin apa adanya yang di perintahkan oleh Ardian.
"oooo… baiklah." balas Lusi mengerti.
Beberapa menit kemudian, Ardian datang dengan pakaian santainya yang sopan, terlihat tampan dan gagah yang membuat Lusi tidak berkedip melihatnya, untuk pertama kalinya Lusi melihat Ardian dengan pakaian bebas, karena biasanya Lusi bertemu Ardian yang selalu memakai pakaian setelah jas mahalnya.
Dengan segera Lusi menyadarkan dirinya karena deheman dari Ardian. Ardian tersenyum bahagia karena berhasil membuat Lusi terpesona padanya, dan dia suka melihat itu ! Ardian akan terus berusaha membuat Lusi luluh padanya dan bisa menerima dirinya, karena Ardian tidak ingin kehilangan Lusi atau siapapun wanita yang ada di hadapannya ini, yang Ardian yakini yaitu wanita ini adalah istrinya, ibu dari anak-anaknya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.