
…Rania Kiandra Dan Lusi Arsinta…
Rania Kiandra telah berhasil memprovokasi kedua orang tuanya dan sang kakek agar mau mendukungnya untuk mendapatkan Ardian Adhitama, Rania akan melakukan apapun agar semua apa yang dia inginkan tercapai? sekalipun harus menyingkirkan ataupun membunuh seseorang yang ingin menghalangi jalannya.
Kini rencana pertama Rania adalah ingin membuat jelek nama Lusi di mata nyonya Meli dan juga Ardian Adhitama, dengan menjebak Lusi yang sering terlihat jalan berdua dengan Bryan Aldevaro, dan Rania tahu akan hubungan asmara keduanya, karena mereka berdua lah yang sudah memperjelas hubungan mereka, di hadapanku sewaktu pertama kali bertemu di mansion nyonya Meli.
Hubungan asmara Lusi dan Bryan Aldevaro akan Rania manfaatkan menjadi boomerang untuk menyerang Lusi, dan semua rencananya tidak akan berjalan kalau dia tidak berpura-pura mendekati Lusi terlebih dahulu.
Seperti saat ini Rania mendapat nomer telpon Lusi dari anak buah yang mengawasai Lusi di dalam perusahaan Wirajaya Group, Rania berani membayar mahal salah satu karyawan perusahaan Wirajaya Group hanya untuk sebuah nomer telpon, dan upaya Rania tidak sia-sia karena dia berhasil mendapatkan nomer telpon Lusi dan juga menghubungi Lusi.
Rania berhasil membuat janji bertemu dengan Lusi di salah satu restoran hotel besar yang ada di kota tersebut, dengan dalih membicarakan tentang dirinya yang mirip dengan Lidya sang adik dan juga siapa sebenarnya Lidya, Rania berusaha membuat Lusi mau bertemu dengannya.
Sedangkan Lusi yang memang penasaran tentang jati diri Lidya yang sebenarnya adalah dirinya, setuju untuk bertemu dengan Rania yang ingin membicarakan siapa sebenarnya jati diri Lidya sebenarnya, mengapa bisa Lidya ada di dalam keluarga Kiandra? Lusi ingin mencari informasi tentang itu semua.
Mereka bertemu di sebuah restoran yang memang memiliki ruangan khusus dan Rania telah menyewa tempat tersebut dengan biaya yang tidak sedikit, Rania akan melakukan apapun untuk melancarkan semua rencana penjebakkannya terhadap Lusi.
Lusi dan Rania saling menatap saat mereka sudah duduk di meja yang sama di sebuah ruangan khusus yang telah Rania sewa, Lusi tidak mencurigai Rania sama sekali, karena Lusi mengira pembicaraan mereka adalah sangat rahasia dan pribadi yang tidak bisa dan tidak boleh di dengarkan oleh siapapun, jadi wajar kalau mereka menggunakan ruangan khusus.
"apa yang ingin kau bicarakan mengenai Lidya? apa hubungannya dengan diriku?" tanya Lusi berusaha menyembunyikan bahwa dirinyalah Lidya yang sesungguhnya.
Lusi masih harus berhati-hati pada Rania, yang di katakan pernah memakai jasa sebuah mafia yang menjadi musuh bebuyutan mafia yang di pimpin oleh tuan Erick Richard.
"apa kau tidak curiga atau merasa tidakkah kau penasaran dengan kemiripan kalian berdua?" tanya balik Rania dengan santai menyesap minuman hangat yang ada di cangkirnya.
"apa maksud dari perkataan mu, katakan langsung jangan berbelat- belit?"
"kau harus tahu Lidya adalah adik perempuan ku satu-satunya, dan tidak ada yang bisa menggantikan posisinya, dan kau harus tahu bila Lidya tidak memiliki kembaran sama sekali, jadi jangan pikir kau bisa menjadi Lidya ataupun kembarannya." ungkap Rania dengan menatap tajam Lusi.
Lusi tersenyum lucu mendengar apa yang di katakan Rania, yang sebenarnya Lusi tahu Rania tidak mengetahui apapun tentang sang adik, atau Rania berusaha menyembunyikan sesuatu tentang Lidya.
"aku tidak ada niat menjadi Lidya ataupun menjadi kembaran Lidya, karena aku adalah diriku sendiri, dan tidak perlu menggantikan dan menjadi orang lain." jawab Lusi dengan senyum mengejeknya, seraya menyesap minuman coklat hangat yang selalu membuat hatinya tenang.
Lusi perlu ketenangan hati dan pikiran yang jernih untuk menghadapi seorang Rania Kiandra.
"apa kau pikir aku akan percaya dengan mudah perkataan mu? berpikir lah dengan logika… bila memang kau tidak ada niat menggantikan posisinya? untuk apa kau mendekati si kembar dan keluarga Ardian Adhitama? apa kau masih akan mengelak tidak memiliki maksud pada mereka?" tanya Rania dengan tatapan curiga yang menahan rasa kesalnya yang mulai timbul.
__ADS_1
"kau dengar dengan baik perkataan ku…!! bukan aku yang mendekati mereka, mereka lah yang selalu mencari ku, bila kau tidak percaya coba saja kau cari tahu sendiri." ungkap Lusi dengan tatapan dinginnya.
"bukankah semua anak buahmu selalu mengawasi ku selama ini?" ungkap Lusi tepat sasaran yang membuat Rania menahan rasa kesal di hatinya karena Lusi tahu kalau dirinya di awasi selama ini.
Lusi tahu dirinya di awasi oleh beberapa orang karena bantuan dari tuan Erick dan Nico, yang mengerahkan bebarapa anak buahnya untuk menjaga dan mengawasi Lusi selama ini.
"kau memang pandai dan tahu akan pergerakan ku, bila memang kau tidak ada niat untuk merebut posisi Lidya, buktikan ucapanmu…menghindarlah dari pandangan si kembar dan keluarga Adhitama, jangan pernah menemuinya lagi, karena kau tidak ada hubungan apapun dengan mereka." ungkap Rania yang membuat Lusi merasa lucu, Rania benar-benar bodoh tetapi licik di matanya.
"apa kau yakin membuatku menyingkir dari hadapan keluarga Adhitama hanya untuk mempertahankan posisi adikmu? bukan memiliki maksud dari itu?" tanya Lusi dengan memicingkan matanya menatap dingin pada Rania.
"tentu saja, karena tidak ada yang boleh dan bisa menggantikan posisi adikku, sekalipun kau yang wajahnya mirip dengannya" tunjuk Rania ke arah Lusi, Rania mulai terpancing emosi.
"apa kau yakin…? bukan karena kau yang ingin menggantikan posisi adikmu sendiri?" ungkap Lusi yang membuat Rania sedikit terkejut karena Lusi tahu keinginannya, tetapi bukan Rania Kiandra namanya bila Rania tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.
"apa maksudmu?" tanya pura-pura Rania.
"hahahaha…aku sangat tahu tatapan cintamu pada Ardian Adhitama, apa kau akan mengelaknya?"
"bila kau sudah tahu menyingkirlah dan jangan mengahalangi jalanku, karena hanya aku yang pantas menggantikan posisi Lidya menjadi mama pengganti si kembar dan istri Ardian Adhitama, jadi kau jangan berharap bisa bersaing denganku." tunjuk Rania geram ke arah Lusi.
"bila kau memang mampu mendapatkan mereka silahkan…!!"
"tentu saja aku mampu mendapatkan mereka, dan akan aku buktikan hanya aku yang pantas pada posisi itu." ungkap Rania yang masih berusaha menahan amarahnya yang mulai tidak bisa terkendali.
"silahkan lakukan apapun yang kau mau…selama itu tidak menyakiti mereka, tetapi bila kau menyakiti mereka sedikitpun, aku sendiri yang akan mencarimu…" ancam Lusi dengan tatapan tajamnya ke arah Rania yang juga menatapnya tajam.
Rania tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berkata.
"jangan pernah mengancamku, camkan itu…" tunjuk Rania pada Lusi yang lalu pergi meninggalkan Lusi begitu saja keluar dari ruangan khusus tersebut.
Lusi masih duduk santai pada kursinya melihat Rania keluar begitu saja dari dalam ruangan khusus tersebut, Lusi pun ingin keluar dari dalam ruangan tersebut karena sudah tidak ada urusan apapun, walaupun informasi yang Lusi inginkan tidak dia dapatkan.
Saat Lusi akan beranjak dari duduknya, kepalanya terasa berat tiba-tiba, pusing dan berkunang-kunang, pandangannya mulai samar, dengan perlahan Lusi menggelengkan kepalanya dan perpegangan di atas meja untuk menahan tubuhnya yang melemas.
Lusi merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya, dia berusaha duduk kembali, dengan sisa kekuatan dan kesadaran tubuhnya dengan cepat dia mengaktifkan kembali ponselnya dan menghubungi nomer seseorang yang mungkin bisa membantunya.
__ADS_1
Lusi tidak tahu nomer siapa yang dia hubungi? Lusi hanya bisa mendengar suara dari seberang telpon, Lusi dengan cepat meminta tolong untuk di jemput di mana tempat dia berada saat ini, Lusi curiga ada yang tidak beres dengan minumannya, Lusi berusaha melawan tubuhnya yang tiba-tiba memanas, dan beranjak dari duduknya.
Lusi masih mengingat di dalam ruang tersebut dia melihat ada pintu penghubung yang tersembunyi karena samar dengan wallpaper dindingnya, Lusi berusaha menuju ke pintu penghubung tersebut dengan menahan rasa panas dan rasa tidak nyaman yang di rasakan pada tubuhnya.
"apa yang terjadi pada tubuhku…? kenapa panas dan terasa tidak nyaman begini?" gumam Lusi seraya memeluk tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut melalui pintu penghubung yang dia temukan.
Dan dugaan Lusi benar, pintu penghubung yang tersembunyi itu adalah pintu penghubung ke ruangan sebelahnya lagi, Lusi dengan langkah yang berat dan oleng berusaha mencari pintu keluar dari ruangan tersebut, karena Lusi mulai curiga ada yang ingin menjebaknya dan satu nama yang Lusi ingat yaitu Rania Kiandra.
Lusi berusaha menghindari Rania yang ingin menjebaknya atau mencelakainya, dia harus bisa keluar dengan cepat dari restauran hotel ini, terlihat dari setiap orang yang dia lewati menatap jijik pada Lusi dengan dugaan mereka kalau Lusi sedang mabuk berat, terlihat jelas pada langkah Lusi yang oleng tidak tegak berjalan, beberapa karyawan hotel ingin membantunya tetapi di tolak oleh Lusi.
Lusi tidak bisa mempercayai siapapun saat ini, dia takut semua yang ingin membantunya adalah anak buah Rania yang tersembunyi, Lusi terus berusaha keluar dari loby hotel ingin mencari taksi atau kendaraan lainnya, Lusi juga berharap ada salah satu anak buah tuan Erick atau Nico melihat kondisinya yang akan segera membantunya.
Terasa lama dan lambat waktu berlalu bagi Lusi saat ini, dia masih berusaha menahan tubuhnya yang semakin panas dan tidak enak dia rasakan, air mata yang dari tadi dia tahan pun luruh juga ke pipinya, Lusi seketika mengingat Ardian dan Bryan yang selalu ada di saat dia mengalami kesulitan.
"siapa saja tolong aku…?" gumamnya dengan masih memeluk tubuhnya yang semakin panas dan tidak nyaman, Lusi merasa perlu sesuatu yang terasa dingin dan pelepasan untuk hawa panas tubuhnya.
Salah satu security hotel ingin membantunya, tetapi di tolak oleh Lusi, dia masih takut akan pertolongan oarang yang tidak dia kenal saat ini, dan saat perdebatan Lusi dengan security tersebut yang ingin mengamankan Lusi, tiba-tiba ada tangan yang menopang bahunya dan berkata pada sang security untuk tidak menyentuh Lusi.
Dengan cepat pula tubuh Lusi berada dalam gendongan seseorang yang membuat nyaman tubuhnya, Lusi merasa sangat mengenal aroma tubuh yang menggendongnya.
"tolong aku…" gumam lirih Lusi yang semakin meringkuk masuk kedalam pelukan gendongan seseorang yang telah menolongnya.
"iya sayang…ini aku, bertahanlah…" balasan yang Lusi dengar dengan samar, Lusi merasakan kecupan pada keningnya yang terasa nyaman dan dingin karena hawa panas tubuhnya semakin meningkat.
Mereka pergi berlalu dari tempat itu dengan sedikit keributan yang di timbulkan, dan menjadi perhatian dari banyak orang yang ada di sana.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1