Takdir Atau Hidupku

Takdir Atau Hidupku
Episode 103. Berusaha Mengerti Dan Bersabar.


__ADS_3

***Apartemen Mewah Ardian Adhitama***


Lusi masih terlihat kesal pada Ardian, karena terus tertawa melihat wajah Lusi yang memerah. Lusi dengan cepat melemparkan bantal sofa pada Ardian, tetapi masih bisa di hindari oleh Ardian, Lusi semakin geram di buatnya, dia terus melempari Ardian dengan bantal sofa yang ada di dekatnya sampai habis.


Saat Lusi asyik mencari sesuatu yang bisa di pakai melempar Ardian, dia tidak tahu kalau Ardian dengan cepat sudah ada di dekatnya. Ardian dengan cepat merebahkan tubuh Lusi ke atas sofa, dan menahan tubuh Lusi agar tidak bergerak.


"Ardian…lepaskan…" berontak Lusi berusaha melepaskan dekapan Ardian darinya.


"kenapa kau marah-marah? apa salahku?" tanya Ardian memandang mata Lusi.


"kau menertawai ku, apa ada yang lucu pada diriku?"


"ada …pipimu yang merona karena malu." ucap Ardian dengan tatapan mata menggodanya.


"malu…aku tidak malu…!" kilah Lusi.


"kalau tidak malu…lalu kenapa pipi ini memerah…? cup… cup…!" tanya Ardian dengan mengecup kedua pipi Lusi.


Mata Lusi membulat sempurna akan tindakan Ardian, yang mengecup kedua pipinya.


"Ardian…lepaskan…kau bilang tidak akan menyentuh ku…"


"tidak mau…kau yang mulai duluan memancingku."


"aku tidak pernah memancingmu…kau saja yang mau sendiri…"


"oya…cup… cup…" balas Ardian seraya mengecup dua kali bibir Lusi.


"Ardian…!!" teriak Lusi tidak terima Ardian mencuri kecupan pada bibirnya.


"apa…aduh jangan teriak teriak, kuping ku sakit."


"biarin…makanya lepasin…!!" teriak Lusi kembali.


"aduh…di bilangin jangan teriak teriak, nanti aku cium lama kau…!" ancam Ardian.


"aaahhhh…"teriak Lusi yang langsung diam karena bungkaman bibir Ardian padanya.


Lusi melototkan matanya akan tindakan Ardian padanya, tetapi Ardian tidak peduli karena saat ini…!! Ardian sedang menikmati sesuatu yang sangat manis baginya, bibir lembut Lusi sudah menjadi candu baginya.


Dengan lembut Ardian mengecupi bibir Lusi sesekali meresapi manisnya bibir tersebut, Lusi yang memang tidak bisa bergerak akan dekapan Ardian di atas tubuhnya, hanya bisa pasrah tetapi ikut membalas ciuman Ardian padanya, ciuman yang tadinya ringan kini telah beralih menjadi pagutan-pagutan nikmat bagi mereka berdua. Saling membalas dan memeberikan rasa manis pada setiap pagutan bibir mereka.


Tanpa sadar kedua tangan Lusi yang sudah lepas dari dekapan Ardian pun, melingkar pada leher Ardian, Lusi tanpa sadar menekan tengkuk Ardian agar ciuman mereka lebih dalam lagi, Lusi seakan ingin minta lebih, sehingga nafas mereka terengah-engah karena kehabisan nafas akan ciuman dalam dan manis mereka berdua.


"Ardian…!" panggil Lusi dengan nafas terengahnya, kini kening mereka saling menempel.


"sayang…!" balas Ardian yang juga dengan nafas terengahnya.


"sudah Ardian."


"sayang…jangan pernah pergi dariku." ucap Ardian membelai pipi Lusi, seraya menatap lembut mata Lusi.


"Ardian aku…" ucap Lusi terdiam karena kecupan ringan dari Ardian pada bibirnya.


"jangan ucapkan apapun, aku hanya ingin kita seperti ini, sampai kamu bisa merasakan apa yang dulu pernah kamu rasakan."


"apa kita tidak bisa belajar dari awal lagi? apa kamu tidak ingin memberikan aku kesempatan lagi…?" tanya Ardian ingin meyakinkan Lusi.

__ADS_1


"baiklah…kita coba dari awal, tetapi aku tidak ingin di paksa." balas Lusi pasrah.


"terima kasih sayang…!!" balas Ardian dengan senyum bahagianya.


Ardian pun mencium lembut bibir Lusi kembali, lalu Lusi dengan perlahan melepaskannya, kali ini tidak akan terjadi lagi ciuman panjang dan dalam pada mereka. Bahaya bagi Lusi saat ini, karena dia takut pengaruh obat perangsangnya masih ada di dalam tubuhnya.


"Ardian…sudah…aku lelah." ucap Lusi memelas.


"baiklah sayang…maaf karena bibirmu ini rasanya manis bagiku, dan aku sudah kecanduan."


"sudah…ayo bangun Ardian, kamu berat."


"panggil aku sayang dulu…baru aku mau bangun." perintahnya dengan senyum dan tatapan mesranya


"ayo sayang cepat bangun, kamu berat."


"lagi sekali…"


"sayang ayo bangun." ucap Lusi lembut seraya menekan kata sayang pada ucapannya.


Ardian pun bangun dari atas tubuh Lusi, lalu mereka berdua duduk berdampingan. Sesaat kemudian terdengar suara bel apartemen. Lusi ingin bangkit tetapi di cegah oleh Ardian.


"biar aku saja." ungkapnya dengan cepat bangun.


Lusi hanya bisa pasrah dan duduk kembali, dari ruang tengah Lusi bisa melihat di depan pintu ada Gavin membawa beberapa paper bag di tangannya, lalu Gavin pergi setelah memberikan semua barang bawaannya pada Ardian.


"sayang ayo kita makan." ajak Ardian seraya meletakkan paper bag di atas meja makan.


"biar aku siapkan." ucap Lusi segera masuk ke dapur dan mencari piring serta peralatan makan lainnya.


Karena mereka memang lapar, mereka langsung makan tanpa basa basi lagi


"waahh ini enak…Oya kenapa Gavin tidak kamu suruh masuk?" tanya Lusi di sela-sela makannya.


"untuk apa? ini sudah malam, biarkan dia cepat pulang karena ini sudah malam." balas Ardian dengan santai seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"oooo iya kasihan Gavin, sudah malam begini masih harus membawakan makanan untuk kita." balas Lusi yang membuat Ardian melihat padanya.


"kamu terlihat akrab sekali sama Gavin?" tanya curiga Ardian, dia mulai tidak suka kalau Lusi dekat dengan asistennya.


"iya…karena kami sudah berteman."


"sejak kapan?" tanya Ardian menghentikan makannya.


"sejak di rumah sakit."


.


"jangan terlalu dekat padanya, aku tidak suka." ucap Ardian dengan tatapan tidak sukanya.


"kenapa…kami hanya berteman." tanya Lusi heran.


"karena dia laki-laki, aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain." ungkap Ardian dengan nada tidak sukanya, Ardian merasa cemburu dan tidak suka kalau Lusi dekat dan akrab dengan pria lain, selain dirinya.


"Ardian kamu mulai lagi ingin mengaturku? aku tahu batasan orang berteman." ucap Lusi sedikit menekan kata-katanya, dengan meletakkan kasar sendoknya di atas piring.


Terlihat jelas Lusi marah dan tidak suka dengan batasan, yang di buat oleh Ardian pada pergaulannya.

__ADS_1


Ardian dapat melihat tatapan marah Lusi padanya.


'aduh gawat sang ratu marah.' gumam Ardian dalam hatinya, melihat aura marah Lusi dan tatapan tajam Lusi padanya.


"tidak sayang…bukan begitu…maksudku boleh berteman tetapi jangan terlalu dekat, tidak baik di lihat karena kamu masih punya suami." ucap lembut Ardian berusaha meredam marah Lusi.


"bilang saja kalau kamu cemburu." tebakkan Lusi yang tepat sasaran.


"wajar kan aku cemburu, aku kan suamimu dan tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria lain." jawab pelan Ardian.


"tapi masa iya cemburu pada asisten sendiri sih? memangnya kamu tidak percaya padaku apa? baru saja ingin belajar ulang dari awal, ini sudah cemburu tidak jelas." gerutu Lusi masih menatap tajam Ardian.


"maklumin lah sayang… kita kan baru kembali lagi, sekian lama bertahun tahun berpisah, wajar kalau aku tidak ingin berbagi perhatianmu pada orang lain."


"kamu egois, mau menang sendiri." balas Lusi dengan tatapan sudut matanya yang tajam.


"apa kamu pikir cemburu yang berlebihan dan ngk jelas begini? baik untuk suatu hubungan?" tanya Lusi menatap intens Ardian.


"tidak sih…ini kan baru awal, besok juga sudah terbiasa. kamu marah ya…?" rayu Ardian dengan menyentuh telapak tangan Lusi yang ada di sampingnya.


"ya marah…aku tidak suka kamu mulai membatasi pergaulanku, karena aku masih tahu batasanku di mana."


"iya maaf…jangan marah lagi ya… aku tidak akan begini lagi, masa baru baikkan udah marahan lagi?" rayu Ardian dengan meremas telapak tangan Lusi lembut.


"janji…?"


"janji…tapi kamu juga harus janji satu hal padaku…?" ucap Ardian yang ingin membahas tentang hubungan Lusi dengan Bryan.


"satu hal apa lagi?" tanya Lusi dengan memicingkan matanya.


"hubungan mu dengan Bryan bagaimana? apa kamu bisa mengakhirinya?" tanya Ardian yang mmebuat Lusi baru mengingat hubungannya dengan Bryan.


Hubungan asmara Lusi dan Bryan sebenarnya baik-baik saja sampai detik ini, tidak ada masalah apapun, karena Bryan adalah sosok pria yang paling mengerti keadaannya saat ini.


Lusi baru ingat, apa yang akan dia katakan pada Bryan? tidak mungkin dia masih berhubungan dengan Bryan setelah ada kenyataan ini. Kenyataan kalau Lusi akhirnya tidur bersama dengan Ardian, Lusi sudah melakukan hubungan layaknya suami-istri dengan Ardian.


Lusi menatap makanannya dengan nanar, Lusi sangat tahu akan cinta tulus dan besar Bryan padanya, cinta Bryan yang tidak bisa dia balas sampai detik ini, karena Lusi belum dapat merasakan getaran cinta untuk Bryan. Lusi bertahan bersama Bryan karena memang merasa nyaman bersamanya.


Tetapi Lusi juga berpikir, keadaannya saat ini lebih penting untuk hubungan keluarga kecilnya, untuk memberikan kebahagian dan keutuhan keluarga untuk anak-anaknya, walaupun Lusi juga belum bisa merasakan getaran cinta untuk Ardian. Karena tidak bisa di pungkiri mereka terikat akan suatu hubungan yang sudah sah dan sakral.


Lusi harus cepat menentukan pilihan hatinya, agar tidak banyak hati yang tersakiti. Lusi tidak ingin banyak orang akan menderita dan sakit akan dirinya.


"Ardian…berikan aku waktu untuk hubungan ini, aku harus benar-benar tahu perasaan hatiku, aku tidak ingin menyakiti hati siapapun? Jujur hubunganku dan Bryan baik-baik saja saat ini, walaupun hatiku tidak merasakan perasaan apapun untuknya? tetapi aku nyaman bersama Bryan, aku harap kau juga bisa mengerti aku harus bisa merasakan dan menentukan apa yang membuatku nyaman, aku tidak ingin menjalani hubungan dengan terpaksa." ungkap Lusi melihat tulus mata Ardian.


Dalam hati Ardian sebenarnya menolak keras hubungan Bryan dan Lusi berlanjut, tapi Ardian juga tidak mau di anggap egois karena terlalu memaksakan kehendak dan kemauannya. Yang Ardian ingin kan cinta dan ketulusan hati Lusi untuknya dan anak-anak seperti dulu, Ardian akan coba mengerti bagaimana posisi dan hati Lusi saat ini?


Ardian akan mencoba untuk bersabar menunggu, dan terus berusaha meluluhkan hati serta mendapatkan cinta Lusi kembali untuknya, tanpa harus memaksa Lusi dan menyakiti hatinya karena harus terpaksa menerima cintanya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2